
"Yuuhuuuu...." Tiara meluncur dan berputar di arena ice skating.
Sedangkan Alvaro, yang baru pertama kali mencoba permainan seperti ini, masih mencoba menyeimbangkan tubuh. Merentangkan tangan dengan badan yang sedikit membungkuk.
Dari kecil dia berbeda dengan kakak dan adiknya yang suka bermain sepatu roda atau bermain ice skating seperti ini. Alvaro lebih suka bermain sepeda atau skateboard.
Melihat betapa senangnya Tiara meluncur di atas es. Betapa anggunnya gadis itu saat berputar, saat mengangkat satu kaki ke belakang dan meluncur dengan merentangkan tangan. Melihat betapa bahagia gadisnya. Kini Alvaro menyesal, kenapa dulu ia tidak pernah mau di ajak bermain di tempat seperti ini. Jika saja dulu dia mau, pasti saat ini dia bisa menggenggam tangan Tiara dan meluncur bersama.
Tiara tersenyum dan mendekat ke arahnya. "Kenapa Al? jangan bilang lo gak bisa main?" todong Tiara dengan menyipitkan matanya.
Alvaro menggeleng dengan lemah. Lebih baik jujur dari pada berlagak bisa yang nantinya akan malu sendiri.
"Lo juga gak bisa sepatu roda?"
Lagi. Alvaro menggeleng.
Tiara terkekeh. "Kenapa gak bilang. Ya udah. Sekarang pegang tangan gue. Biar gue tunjukin, betapa menyenangkannya meluncur di atas es."
Alvaro menyambut uluran tangan Tiara, dan menggenggam kedua telapak tangan yang lebih kecil darinya itu.
"Tekuk lutut lo sedikit, tumpuin berat badan di depan." Alvaro mengikuti instruksi dari istruktur dadakan dan pribadinya tanpa membantah.
"Sekarang coba meluncur perlahan." Tiara menarik Alvaro perlahan, agar suaminya itu bisa mengikutinya. Tapi bukannya menggerakan kedua kakinya bergantian, tapi Alvaro lebih mirip patung yang di tarik oleh Tiara. Pria itu hanya diam saja.
"Gerakin dong Al, kakinya satu persatu."
"Gue takut jatoh Ra!"
"Mana ada sih, orang belajar gak jatoh dulu. Semua hasil yang pengen kita capai, harus di awali dengan usaha kan? Lo juga dulu pertama kali belajar jalan banyak jatohnya. Dan sekarang lo bisa lari!"
"Tetep aja jatoh di es mah sakit!"
"Perasaan kemaren ada yang bilang, babak belur mah bukan apa-apa kalo buat gue. Tapi gini doang takut."
Tiara mencoba menahan tawanya saat melihat betapa kakunya tubuh Alvaro saat mencoba menggerakkan kakinya satu persatu.
Mengajari dengan sabar meski berulang kali terjatuh. Setiap melihat wajah cemberut Alvaro, Tiara tidak dapat menahan tawanya. Gadis itu sangat bahagia saat mengetahui ternyata ada yang suaminya ini tidak bisa.
Lagi, menarik perlahan dan sedikit demi sedikit melepaskan. Di saat Alvaro akan terjatuh, Tiara dengan sigap menangkap tubuh yang lebih besar itu dari depan.
"Modus lo! bilang aja pengen gue peluk-peluk mulu."
"Ngapain juga gue jatoh-jatoh cuma buat meluk lo. Gue bisa peluk lo kapan aja, dimana aja yang gue mau!" sungut Alvaro. Dia memang benar-benar tidak bisa. Bukan hanya pura-pura.
__ADS_1
"Diihhh sewot." Tiara tergelak. "Gue tau sayang. Sekarang coba jalan sendiri." lanjutnya dengan nada yang lebih lembut.
Tiara meluncur memutari Alvaro dengan mengaitkan tangan di belakang punggung. Mengulurkan tangan saat Alvaro akan terjatuh.
Alvaro dengan kegigihannya akhirnya bisa meluncur. Meski belum sehebat Tiara, tapi kini pemuda itu bisa menemani istrinya untuk bermain.
"Yeeeiii... Suami gue emang the best!" seru Tiara memegang sebelah tangan Alvaro dan mengajaknya berputar.
Sore itu, mereka bermain dengan bahagia. Jatuh bersama, meluncur bahkan berpelukan dan tertawa bersama. Membingkai satu lagi kenangan manis yang akan mereka ingat di hari tua nanti. Merangkai cerita untuk di ceritakan kepada anak cucu suatu hari nanti.
***
Tiara kaget saat tubuhnya di selubungi jaket dari belakang.
"Lo gak bawa jaket. Ini udah malem, dingin. Apa lagi abis main es berjam-jam." Alvaro menjelaskan, melihat tanda tanya yang tersirat di wajah istrinya.
"Terus lo gimana, kan lo yang di depan?"
"Gue kan udah dapet kehangatan dari pelukan lo." jawab Alvaro dengan mengerlingkan matanya.
"Ya udah. Jalannya gak usah cepet-cepet, biar anginnya juga gak kenceng."
"Bilang aja, pengen lebih lamaan meluk gue-nya."
"Gue raja. Jadi percaya diri itu di butuhkan."
Tiara menepuk punggung suaminya. "Udah ayo jalan! makin malem, tar makin dingin."
Tanpa menjawab, Alvaro menarik kedua tangan Tiara untuk di lingkarkan di perutnya. Mereka menembus jalanan yang masih ramai meski malam semakin larut.
Mampir membeli makan malam untuk di makan di rumah, karena tubuh mereka yang sudah sama-sama lelah, enggan untuk makan di luar.
"Seru ya Al hari ini? coba lo sering-sering ngajak gue main, pasti gue gak akan bosen."
"Gue kan kerja! main juga butuh duit. Kalo gue gak kerja mau main pake apa?"
"Seminggu sekali mah gak ganggu waktu kerja lo kali Al. Mentang-mentang nikah muda. Masa gue juga gak bisa nikmatin masa muda buat pacaran sama lo."
"Ya gimana ya? gue lebih suka meluk lo di rumah dari pada jalan sih?" goda Alvaro yang sudah kembali melajukan motornya setelah mendapat makan malam pesanan istrinya.
"Iiiih Alvaro mah." memukul punggung suaminya pelan dengan wajah merona.
"Jangan di pukul dong yank. Di peluk aja. Dingin nih."
__ADS_1
Tiara semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di punggung sang suami. "Salah siapa jaketnya di kasih gue."
"Karena gue lebih rela gue yang sakit, dari pada bidadari gue yang sakit."
Untung posisi Tiara di belakang Alvaro. Jadi pemuda itu tidak tahu seberapa merahnya wajahnya kini.
"Kenapa gak di bales? malu ya?" goda Alvaro.
"Jangan nyebelin deh Al!"
"Gue kan emang selalu menyebalkan buat lo dari jaman SMP juga."
"Iya sih. Nyebelin banget emang." membenarkan kata Alvaro. "Tapi gue suka." imbuhnya lirih yang masih bisa tertangkap di indra pendengaran Alvaro.
"Cieee yang mulai bucin sama gue."
"Diihh.. mana ada gue bucin! Suka. Sayang. Bukan berarti bucin juga kali." sahutnya dengan memutar kedua matanya.
"Halah jujur aja kenapa Ra? gengsian banget lo jadi orang!"
"Tau Ah. Buruan deh Al, gue laper."
Perjalanan yang memang tidak terlalu jauh membawa mereka ke apartemen dengan cepat.
Seperti biasa, mereka bergantian untuk mandi.
Tiara membiarkan Alvaro untuk mandi terlebih dahulu, sedangkan dirinya memindahkan makanan yang tadi mereka beli ke atas piring untuk bisa mereka makan setelah mandi nanti.
Tak lupa membuatkan teh hangat untuk Alvaro. Tubuh suaminya itu tadi memang dingin terkena angin malam.
Saat menunggu, ponsel suaminya berbunyi. Mereka yang saling berbagi kata sandi ponsel, memudahkan Tiara untuk membuka pesan yang masuk.
Pesan dari Bobi teman mereka saat SMA dulu yang duduk satu meja dengan Alvaro. Temannya itu mengirimkan sebuah tautan yang tanpa curiga langsung Tiara buka.
Matanya membulat dan langsung melempar ponsel suaminya.
*
*
*
Holahooo... Datang lagi. Jangan lupa Like, Komen sama Vote-nya yang kakak-kakak 💕
__ADS_1