
Benar kata orang. Untuk yang pertama itu rasanya menyakitkan. Seperti di sayat benda tajam. Tapi jika ini lah bentuk baktinya, kewajibannya, maka Tiara akan menerimanya.
Tadi saat suaminya mencium dan membaringkannya. Membuatnya basah dengan setiap sentuhannya. Tiara seakan lupa dengan hal selanjutnya yang membuatnya sakit. Dia hanya menikamti rasa meledak yang baru pertama kali gadis itu rasakan.
Alvaro berhenti bergerak saat dirinya berhasil menyatukan tubuh mereka. Tidak tega mendengar pekikan sang istri dan air mata yang menetes.
"Sakit Al." rengek Tiara lagi. Dia seperti benar-benar menikahi anak kecil. Membuatnya merasa serba salah. Jika tidak di lanjutkan dirinya yang sakit. Tapi di lanjutkan, apa kah dia tega?
"Sabar ya sayang. Sebentar lagi gak sakit kok." ucapnya mencoba menenangkan. Padahal dia sendiri juga tidak tau benar atau tidak ucapannya barusan.
Alvaro kembali menyatukan bibirnya. Mencium dengan lembut bibir istrinya yang selalu terasa manis. Mencoba mengalihkan rasa sakit yang istrinya rasakan dengan ciuman dan sentuhannya lagi. Mengulangi riual di awal yang membuat istrinya mendesah.
Desahan di awal yang membuat dirinya semakin panas dan semakin tidak bisa menahan gejolak rasa ingin adanya penyatuan. Dan kini saat suara itu kembali terdengar, pemuda yang sudah di kuasai hasrat itu mulai menggerakkan tubuhnya. Menikmati rasa yang membawanya melayang hingga merasakan ledakan dengan Tiara yang juga meledak bersama di bawahnya.
Hujan ciuman Alvaro daratkan sebelum dirinya tumbang di sebelah sang istri. "Makasih sayang. Maaf kalo sakit." mendekap istri yang masih memburu napasnya.
***
Pagi hari ketika bangun, Alvaro merasa tidak enak badan. Sekujur tubuhnya terasa remuk dan tenggorokan serta kepalanya terasa sakit. Sepertinya karena kelamaan bermain es kemarin, membuatnya masuk angin dan seperti akan flu.
Padahal pagi ini ada presentasi tugas yang minggu lalu dosen berikan. Dirinya tidak bisa kembali bolos jika ingin lulus mata kuliah tersebut.
Hal yang sama di rasakan Tiara dengan alasan berbeda. Jika suaminya sepertinya menunjukan gejala flu. Tiara merasa badannya remuk dan sakit di pusat tubuhnya karena aktifitas panas mereka tadi malam.
Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku saat lengannya mengenai wajah sang suami yang sedang tersenyum menatapnya. Ketika Tiara berhasil membuka mata, gadis itu terkesiap dan langsusng menyembunyikan wajahnya di bawah selimut. Malu jika mengingat suaranya sendiri tadi malam yang tak terkendali.
"Pagi sayang." sapa Alvaro dengan suara lembut dan teramat manis.
"Pagi." sahut Tiara dengan suara yang tertahan selimut.
"Mandi yank! Gue ada kuliah pagi lho."
Langsung menyingkap selimut tapi tetap menjaga agar selimut menutupi tubuh polosnya. "Emang muka kamu udah sembuh?" memegang dan mengamati setiap sisi wajah suaminya yang hanya menyisakan bekas lebam yang mulai kekuningan di berapa tempat dan yang lain sudah hilang sempurna.
__ADS_1
"Gue ada presentasi pagi ini. Kalo gue gak masuk lagi, nilai gue bakal jelek."
"Tapi masih sakit." cicit Tiara.
"Apanya?" tanya Alvaro bingung. Dirinya sudah tidak merasa sakit lagi dengan luka-luka di wajahnya. Hanya sedikit tidak enak badan yang ia yakin akan terserang flu. Dan berharap setelah terkena paparan matahari nanti, sakitnya akan hilang. Jadi tidak merasa perlu memberi tahu istrinya dengan keadaannya saat ini.
"Iihh.. Gue-nya yang sakit." Alvaro semakin mengerutkan dahinya bingung. Karena kemarin istrinya baik-baik saja.
"Astaga Al.." seru Tiara dengan memukul dada suaminya yang juga masih polos. "Yang semalem." imbuhnya lirih dengan wajah memerah. Kenapa suaminya ini menyebalkan sekali, tidak ingat dengan apa yang mereka lakukan semalam. Apa hanya dirinya saja yang mendapatkan kesan dengan aktifitas mereka tadi malam. Apa Alvaro hanya menganggap itu hanya angin lalu.
"Ooh.." seru Alvaro sembari terkekeh. "Maaf ya sayang. Masih sakit emang?" tanya Alvaro yang langsung di jawab anggukan dengan wajah di tekuk milik istrinya.
"Ya udah. Lo di rumah aja ya? Gue cuma masuk jam pertama aja tar. Abis presentasi, gue pulang lagi."
"Tapi gue bosen dong Al, di rumah sendirian?" rengeknya tidak rela suaminya pergi sendiri ke kampus.
"Kan cuma sebentar sayang."
"Tetep aja!" balas Tiara cepat dengan wajah melengos masam.
Tiara kembali menatap sang suami dan mengangguk yakin.
"Bisa jalan emang?"
"Bisa lah Al." sebenarnya Tiara juga ragu bisa berjalan dengan normal. Sekarang saja hanya di gerakan sedikit rasanya sudah sangat perih.
"Ya udah kalo lo mau masuk juga. Siap-siap gih! biar gue mandi di ruang kerja. Udah siang soalnya. Kita sarapan di kampus aja ya?"
Tiara mengangguk setuju. Setelah Alvaro meninggalkan kamar hanya dengan menggunakan bokser yang semalam suaminya itu pakai, Tiara mencoba berdiri dan langsung mendesis saat merasakan perih dan panas di area intinya.
"Yakin gak ya gue masuk?" dengan susah payah dan gerakan kaku. Gadis yang baru saja menyerahkan kesuciannya untuk sang suami itu berhasil masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan kilat. Tidak ingin di tinggal sang suami sendirian di apartemen.
***
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Alvaro yang kasihan melihat cara jalan Tiara, memutuskan untuk menggunakan mobil saja. Dia tidak yakin istrinya bisa melangkahkan kakinya menaiki motornya yang tinggi. Dan agar istrinya juga bisa beristirahat sejenak di perjalanan.
Semalam adalah malam yang panjang bagi keduanya. Jadi pasti Tiara merasa lelah.
"Gue tunggu di kantin aja deh Al." ucap Tiara saat mereka sudah sampai di parkiran.
Alvaro menatapnya dengan kerutan di dahi. Hingga akhirnya tau keresahan hati istrinya dan mengangguk tersenyum.
Gadis itu tidak yakin akan mengikuti kelas tanpa mengundang perhatian dari teman-temannya yang jelas akan membuat dirinya malu.
"Mau gue anter?" tawar Alvaro. Tidak ingin meninggalkan istrinya begitu saja.
"Gak usah. Lo ke kelas aja dulu. Tar telat lagi." ucap Tiara dengan menggerakan tangannya mengusir suaminya keluar dari mobil. Dan melanjutkan "Gue lagi nunggu Pricilla. Tinggal aja kuncinya."
Berbohong masalah Pricilla. Gadis itu bahkan belum bilang kepada sahabatnya itu jika hari ini dirinya mulai masuk kuliah lagi.
Tiara hanya ingin menunggu keadaan parkiran sedikit sepi, hingga meminimalisir mata yang mungkin akan menatapnya.
"Ya udah. Gue masuk dulu." meraih wajah Tiara dan mencium sekilas bibirnya serta memperdalam ciuman di dahi wanitanya.
"Dan makasih buat yang semalem. Gue suka." bisiknya saat mendaratkan ciuman terakhir pada pipi sang istri. Membuat pipi itu merona bukan karena ciuman, tapi karena ucapan suaminya.
Alvaro membelai pipi istrinya yang memerah dengan punggung tangannya. "Gue juga suka liat lo yang merona begini."
"Gue harap. Satu-satunya alasan lo buat tersipu dan merona hanya gue. Gak ada yang lain." masih membelai pipi sang istri dan menambahkan. "Karena lo juga satu-satunya alasan jantung gue berdetak hebat."
Pagi-pagi sudah di suguhkan wajah suaminya yang tampan dan ucapannya yang memabukan. Siapa yang tidak akan melayang coba.
*
*
*
__ADS_1
Yuuhuuu... Bisa up 2 ya. Tapi Like-nya gak boelh dikit. Biar semangat akunya 😁