DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Butuh Waktu Berdua


__ADS_3

Hidup siapa yang tahu. Menikah muda tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Tiara.


Apalagi menikah dengan Alvaro. Teman satu SMP yang sangat ia benci karena sering mengganggu dan mengoloknya.


Tapi kini pria itu justru menjadi semangat hidupnya. Memberinya dua anak lucu dan pintar yang selalu bisa membuatnya tersenyum meski dalam keadaan mood seperti apa pun.


Pernikahan yang dulu ia benci tapi saat ini sangat berarti


Tiara tengah menyusui Vindra ketika suaminya masuk dalam kamar. Abang Fari sudah lebih dulu di susui dan tertidur pulas di sisi lain adiknya.


Karena tidak ada kamar kosong di sebelah kamar mereka, membuat Tiara memilih untuk menambah tempat tidur untuk di satukan pada tempat tidurnya.


Kamar luas Tiara kini berisi dua tempat tidur untuk mereka berempat. Meskipun sebenarnya satu tempat tidur saja cukup untuk mereka berempat. Tapi Tiara tetap ingin memberikan tempat tidur sendiri untuk anak-anaknya.


"Abang sudah tidur?" tanya Alvaro yang sudah berganti dengan piyama dan merebahkan dirinya di belakang sang istri. Memeluk Tiara dari belakang menyangga dengan satu tangan dan tangan lain mengusap lembut pipi bulat anaknya.


"Baru aja. Ini tinggal Vindra. Dia mah kebiasaan nenennya buat mainan."


Jika Fari menyusu hanya butuh waktu sebentar dan tertidur. Karena anak itu jika sedang meraih sumber kehidupannya akan fokus dan semangat. Membuat batita itu cepat kenyang.


Sedangkan Vindra sebaliknya. Anak kedua mereka itu jika menyusu sering kali di buat mainan. Dilepas untuk berceloteh yang kemudian diraih kembali. Begitu seterusnya hingga anak itu lelah.


"Orang ade belum ngantuk ya sayang ya?" ucap Alvaro mengajak anaknya berbicara.


"Pa-pa..papapa.." sahut anak itu seakan tahu apa yang ayahnya ucapkan, kemudian tertawa dan kembali menyusu.


"Tapi aku cape Al.. Mana besok kuliah pagi." keluh Tiara.


Mama muda itu sudah kembali kuliah sejak dua bulan lalu. Masih berusaha meraih cita-citanya sebagai seorang dokter anak. Apa lagi keadaan Vindra saat itu membuat ia semakin bersemangat untuk meraih cita-citanya.


Dan sejauh ini mereka masih bisa membagi waktu. Karena jadwal kuliah Tiara yang belum begitu padat dan belum terlalu banyak tugas.


"Padahal baru ngelonin anak-anak. Aku belum.. udah ngomong cape aja!" ujar Alvaro pura-pura merajuk.


Tiara tersipu. Mengelus wajah suaminya yang bersih dari bulu-bulu halus karena baru di cukur itu. "Makanya ade biar bobo dulu. Biar mama bisa boboin papa." kerling Tiara pada suaminya di akhiri dengan kedipan sebelah mata.


Alvaro tersenyum lebar. Semangat mendengar penuturan istrinya. Angin segar untuknya malam ini. Untuk melepas rindu dengan pujaan hati.


"Ayoo Ndra, bobo. Biar papa bisa gantian enen ini.." goda Alvaro pada anaknya yang langsung mendapat sikutan di perut dari istrinya.

__ADS_1


"Jangan ngomong macem-macem sama anak!" tukas Tiara.


Alvaro mengecup bibir istrinya dan berucap. "Enggak sayaaanng. Dia juga belum ngerti."


"Tapi bisa aja sekarang dia udah mulai nyerap apa yang di dengar."


Alvaro tidak menanggapi. Lebih memilih memeluk erat istrinya dan bermain di ceruk leher sang istri.


"Geser.. Di ranjang kita aja." bisik Tiara ketika berhasil menidurkan Vindra.


***


Seminggu tak bertemu rasanya seperti berabad-abad bagi Alvaro. Dan semoga seiring berjalannya waktu akan tetap terasa seperti ini.


Saling mencintai, merindukan dan membutuhkan. Semoga segala kesibukan yang mereka jalani semakin membuat waktu yang mereka miliki untuk bersama semakin berkualitas.


Alvaro mendekap tubuh hangat istrinya. Menciumi wajah dari mulai dahi yang turun ke kedua mata dan berlanjut kehidung serta berpindah ke kedua pipi yang kini semakin terlihat segar. Tidak sekurus enam bulan lalu ketika mereka masih sama-sama beradaptasi dengan keadaan. Belajar menjadi orang tua di usia belia mereka. Belajar membagi waktu yang sebelumnya hanya mereka bagi berdua.


Alvaro menyisakan bibir yang begitu di damba. Bibir yang selalu tersenyum manis untuknya. Bibir yang selalu menyemangatinya baik dengan perkataan maupun dengan sentuhan.


Rasanya ia tidak sabar untuk langsung melahap habis bibir manis itu. Menyesapnya lembut. Membuat Tiara ikut menikmati permainannya.


Tangan Alvaro baru berhasil menanggalkan pakaian sang istri dengan kepala yang berlama-lama bermain di ceruk leher Tiara ketika terdengar tangisan Fari.


Pria itu seketika menghembuskan napasnya dan menjatuhkan diri di samping Tiara.


"Anakmu ganggu banget!"


Tiara terkekeh sembari mengambil jubah tidurnya. Mendekati sang anak yang ternyata bangun karena ulah adiknya yang kebiasaan saat tidur tangan dan kakinya tidak bisa diam.


Saat ini kaki Vindra sudah berada di atas perut sang kakak. Mungkin Fari kaget hingga membuat anak itu bangun.


"Cup cup cup.. Ade gak sengaja abang.. Jangan marah ya.. Ayo kita bobo lagi."


Tiara kembali menyusui anak pertamanya hingga kembali tidur.


Situasi itu terulang hingga beberapa kali. Sehingga kegiatan panas yang biasa mereka lakukan satu hingga dua jam. Malam itu baru berakhir hingga waktu mendekati pagi.


Rasa timbul tenggelam yang di rasakan Alvaro membuat pria itu tidak mudah puas dengan yang ia dapatkan malam itu Hingga membutuhkan waktu lama untuknya mencapai surga dunia yang ia cari diwaktu dini hari.

__ADS_1


"Kita kayaknya bener-bener butuh rumah deh yank." ucap Alvaro.


Rumah mertuanya ini sangat besar. Hanya saja tidak banyak kamar yang ada. Karena daddy Alvin lebih mengutamakan keluarga. Mendesain setiap ruangan bahkan kamar dengan ukuran super besar. Membuat rumah sebesar itu hanya berisi beberapa kamar saja.


"Kata kamu udah dapet tempat buat bangun rumah." balas Tiara yang memiringkan tubuhnya menatap sang suami yang hanya berbalut selimut berdua. Mama muda itu ingat ketika suaminya bercerita telah membeli sebidang tanah.


Alvaro mengangguk. "Emang udah dapet. Aku juga udah ada tabungan untuk buat rumah impian kita."


"Terus nunggu apa lagi?"


"Apa nanti kamu sama anak-anak di bolehin buat keluar dari rumah ini?"


"Al.. Kita sudah pernah tinggal berdua. Dan daddy sama mommy ngijinin kan? bahkan saat aku belum terima untuk keluar dari rumah ini."


"Masalahnya sekarang ada anak-anak yank.. pasti pikiran mereka semakin berat. Apa lagi kamu kuliah. Siapa yang mau jaga anak-anak."


Iya juga sih. Tiara juga berat meninggalkan kedua anaknya tanpa pengawasan orang yang dapat di percaya.


Jika di rumah ini, meskipun kedua anaknya di rawat oleh babysitter tapi masih ada mommy Shevi yang mengawasi. Ada juga pelayan rumah ini yang sudah seperti keluarga sendiri. Jadi Tiara tidak perlu merasa khawatir dan ragu untuk meninggalkan kedua buah hatinya untuk kuliah.


Tapi jika ia harus pindah dari rumah ini, itu artinya mereka harus percaya sepenuhnya pada babysitter yang baru dua bulan ini ia kenal.


Meski selama ini terlihat baik. Tapi hati dan niat orang siapa yang tahu bukan.


"Kita ajak aja anaknya mbok Nah buat ikut ke rumah baru kita. Buat beberes sekaligus ngawasin nenny-nya anak-anak."


Alvaro mengangguk pelan. Bukan menyetujui tapi mempertimbangkan.


"Sudahlah, kita pikirkan nanti saja ketika rumahnya sudah jadi."


Malam semakin larut. Tiara terlelap dalam dekap hangat snag suami. Semakin menyurukan dalam dada bidang dengan aroma khas yang membuatnya sulit tidur jika belum menghirup aromanya.


*


*


*


Aku datang nepatin janji hihihi..

__ADS_1


Meski Like masih di bawah batas normal 😑


Tapi aku tetap sayang kalian pembaca setia 🤗🤗


__ADS_2