DEMI DIA

DEMI DIA
Cita - Cita Beda Benua


__ADS_3

Masalah Luna terlupakan. Luna sudah tidak pernah lagi mengnganggu Shevi maupun Alvin semenjak kejadian di rooftop saat itu. Luna masih ingin melanjutkan sekolah dengan tenang. Tinggal setengah semester lagi dia lulus. Dia tak mau mempermalukan dirinya sendiri jika dia masih menggangun Alvin maupun Shevi. Luna takut Alvin akan benar - benar menjalankan ancamannya. Bahkan yang paling menyedihkan lagi kemungkinan dia akan dijauhi anak - anak disekolah. Jadi lebih baik dia belajar saja untuk persiapan ujian yang tinggal beberapa bulan lagi.


Alvin senang dengan perubahan sifat Luna begitu juga dengan Gio, dia senang Luna tak banyak berulah lagi sekarang. Walaupun dia tak mungkin menjadikan Luna seorang kekasih tapi setidaknya dia ingin Luna menjadi lebih baik agar nantinya dia masih punya sisi positif saat orang - orang tahu tentang ayahnya. Dan bagaimanapun juga gadis itu sudah cinta akut dengan Alvin.


Ini adalah hari terakhir ulangan semester dilaksanakan. Rencananya Alvin akan mengajak Shevi untuk jalan. Dan supaya gadis nakal itu tak menolak dia juga akan mengajak Gio juga Nurin untuk pergi bersama. Hitung - hitung refreshing setelah sibuk belajar untuk ulangan.


Dan disinilah mereka berempat berada. Disalah satu Mall terbesar di jakarta. Tujuan pertama mereka adalah Bioskop.


" Mau nonton apa nih ?? " Alvin bertanya sambil memandang ketiga wajah disampingnya satu persatu.


" Komedi aja deh bang " Shevi mengusulkan sambil tersenyum manis agar pilihannya yang terpilih.


" Romantis aja kak Al. Kan ada film baru dan gue belum sempet nonton " Protes Nurin tak terima.


" Apaan si kalian berdua tontonanya cewek banget. Sekali kali kalian harus nonton Action biar seru " Gio melipat kedua tangannya didepan dada sambil menyunggingkan senyum jenaka dan menaik turunkan kedua alisnya.


" HUUUU " kedua gadis itu berseru heboh tak terima.


Setelah melewati perdebatan panjang akhirnya jatuhlah pada film horor. Alvin duduk dipaling pinggir dengan Shevi disebelah kirinya dan Nurin disebelah kiri Shevi, Gio tentu saja disebelah Nurin.


***


Sepanjang film dimulai Shevi tak pernah membuka matanya, dengan telinga yang memakai headphone mendengarkan musik instrumental favorit nya dan mulutnya sibuk mengunyah pocorn yang tadi Alvin belikan untuknya. Alvin tersenyum geli melihat tingkah gadis disebelahnya, sebenarnya Alvin tahu kalau Shevi paling tidak suka dengan film horor karena gadis itu amat penakut. Beda dengan Nurin yang tetap serius menonton tapi tangannya memeluk lengan Gio kuat dan saat hantunya muncul dia akan menyembunyikan wajahnya dibelakang lengan Gio.


Setelah selesai nonton berhubung mereka sudah pada lapar jadi tujuan mereka berikutnya adalah ke restoran jepang yang ada di mall tersebut.


Mereka memesan beraneka makanan dan minuman untuk makan siang.


" Sebenernya hubungan lo berdua apa si?? dibilang pacaran katanya kakak adek. dibilang kakak adek tapi mesra begitu !! " Gio mulai bertanya karena sedari tadi dia memperhatikan Alvin yang begitu perhatiannya terhadap Shevi, dan Shevi yang begitu manja kepada Alvin.

__ADS_1


" Kita kan cuma sebatas kakak adek ya kan bang ? " Shevi menoleh kesamping untuk meminta dukungan akan pernyataanya.


" Dan akan selalu begitu sampai kapanpun. Karena gak ada bekas abang atau adek sekalipun ! " lanjutnya serius


Sebenarnya hati Alvin sakit mendengarnya. Belum juga ngungkapin perasaannya udah di tolak aja. Alvin menghembuskan nafasnya kasar sebelum merubah ekspresinya seceria mungkin.


" Iya dong. Dia kan adek gue yang paling manja " Alvin mengusap kepala Shevi dengan sayang.


" Tapi kalo abang adek berarti abang boleh peluk cium dong dek ?? ya minimal cium kening atau pipi gitu. Iya kan yo ?? abang ke adeknya suka begitu kan ya ?? kaya lo sama adek lo ?? " Alvin mendinginkan hatinya dengan menggoda Shevi sambil mengedipkan matanya kepada Gio meminta pembelaan.


" Yoi mannn.. Gue juga suka peluk dan cium kening adek gue. Apa lagi kalo dia lagi sedih atau takut " Ujarnya jujur, karena Gio sangat menyayangi adik perempuannya.


" Iiihhhh ogah ya bang. Kalo peluk boleh lah kalo gue lagi sedih atau takut kaya kak Gio. Tapi kalo cium BIG NOOOOOO " Shevi menggelengkan kepalanya dan telunjuknya tegas.


" Yaaahhh kok gitu si dek ? atau mau jadi pacar abang aja biar abang boleh cium ?? " Alvin berkata dengan gaya bercanda walau dalam hati dia sedikit berharap.


" ABAAAAANGGG " Cubitan keras dipinggang Alvin dari Shevi.


" Ya abis abang gitu " Shevi mengambil minumnya dan mememinum jus jeruk yang dia pesan tadi.


" Gitu gimana si sayanggggg " Alvin mencolek hidung Shevi untuk semakin menggodanya. Apalagi pipi Shevi yang mualai memerah.


" IIIHHH " Shevi menepis tangan jahil Alvin dan memanyunkan bibirnya.


" Ehemmm Kak Alvin yakin nih cuma nganggep Shevi adek ?? kok gue liatanya beda ya ?? " Nurin yang sedari tadi diam menonton perdebatan mereka akhirnya angkat suara ikut menggoda Alvin.


Nurin geregetan sama dua mahluk dihadapannya. Yang cowok nggak berani jujur padahal semua orang yang lihat saja tahu kalau Alvin udah cinta banget sama Shevi. Dan Shevi jangan ditanya lagi, dia manusia paling nggak peka yang pernah Nurin kenal. Nurin ingin menggoda Alvin siapa tahu Alvin mau mengakuinnya biar makhluk tidak peka itu bisa membuka mata dan hatinya.


" I-iya kok ya dek ? " Alvin menoleh ke Shevi dan mendapat anggukan dari gadis yang mulai sibuk memakan makanannya kembali.

__ADS_1


" Ya udah lah terserah kalian aja. Yang satu mentalnya cemen yang satunya ga peka " Nurin ikut melanjutkan makannya lagi sambil menggeleng pasrah.


" Lo mau lanjut kuliah dimana Vin ? " Gio membuka kembali obrolan yang sempat terhenti lama karena sibuk dengan makanan dan fikiran masing - masing.


" Gue si pengennya disini aja. Tapi kayaknya gue harus ngikitin perintah bokap gue buat kuliah dibelanda. " Alvin menghela nafas mengingat percakapannya bersama papinya beberapa hari yang lalu.


Alvin sebenernya masih kepingin disini. Dimana dia bisa setiap hari bertemu dengan Shevi dan teman - temannya yang lain.


" Yaahhhh bang Alvin mau ke belanda ?? " entah kenapa Shevi sedih mendengarnya.


" Iya. Kenapa ? Takut kangen ?? " Alvin mencubit gemas sebelah pipi Shevi yang menggemaskan dengan ekspresi sedih seperti itu.


" Nanti bakalan lama gak ketemu dong bang? Ya tapi gak papa si. Gue juga mau ke New York. " Shevi tersenyum ke arah Alvin dan Nurin.


" Ngapain lo jauh - jauh ke NY. Lo tega ninggalin gue " protes Nurin sambil meletakan sumpitnya kasar.


" Ck gak usah lebay deh lo rin. Gue kan kesana juga buat belajar. Juilliard target gue biar bisa jadi pianis hebat " Shevi memandang langit - langit sambil membayangkan betapa bahagiannya jika dia bisa masuk Universitas musik terbaik dunia itu.


" Ngapain si dek jauh - jauh. Lo kan anak perempuan, gak baik tinggal dinegara orang sendirian !! apalagi Amerika negara bebas gak kaya disini. " Protes Alvin tak terima jika Shevi kuliah diluar negeri sendirian.


" Abang apaan si kok jadi marah. Itukan udah jadi cita - cita Shevi dari dulu !! " Shevi ikutan marah tak terima cita - citanya dihalangi Alvin.


" Terserah lah !! " Alvin beranjak ke kasir dan pulang.


*


*


*

__ADS_1


Happy Reading 💕


__ADS_2