
" Hai... " Sapa Shera dengan lembutnya pada pria yang ada di layar ponselnya.
" Lagi ngapain ?? gimana hasil pemeriksaan bulan ini ?? baik ?? "
" Baik. Tapi kenapa abang susah banget dihubungi. Aku kangen tau udah lama gak videocall " Shera memanyunkan bibir dengan imutnya.
" Maaf ya.. Akhir - akhir ini lagi banyak banget tugas kuliah " Alvin tersenyum mencoba menenangkan tunangannya yang ngambek.
" Gimana kabar yang lain ?? baik kan ?? "
" Kabar yang lain apa kabar Shevi ?? " Dibelakang Shera dengan jarak yang lumayan jauh Shevi lewat menuju dapur. Tapi Alvin menampik pemikirannya.
" Nggak mungkin perut Shevi sebesar itu. Mungkin efek kangen gadis itu aja jadi ngebayangin ada Shevi." ucap Alvin dalam hati.
" Bang... Bang Al.... !! " Seru Shera karena sejak tadi Alvin tidak menjawab malah melamun.
" Ehh kenapa ?? Tanya apa tadi ?? "
" Abang tanya kabar yang lain apa kabar Shevi ?? " Shera masih kesel karena dicuekin tadi.
" Diiiihhh masih cemburu aja sama Shevi " Goda Alvin.
" Tau ahh udah gak jadi kangen aku.. Kuliah aja yang bener biar cepet pulang biar kita cepet nikah jadi abang cuma milik aku " Telefonnya dimatikan oleh Shera.
Deg. Alvin masih mematung dengan ponsel didepan wajahnya.
" Menikah ?? Benarkah dia akan menikah dengan Shera ?? Kakak dari gadis yang dia cintai ?? Bisakah dia merubah cintanya ke Shera ?? Akkkh Sial !!" Alvin meremas ponselnya.
Niatnya dulu untuk bertunangan dengan Shera hanyalah untuk menuruti keinginan Shevi. Dan tak ada niat sedikitpun untuk menikahi gadis itu. Apa lagi cintanya masih utuh untuk Shevi tak berkurang sedikitpun. Meskipun sekarang Shevi menghilang dari hidupnya dan masih memblokir nomornya tapi tak mengurangi rasa cintanya.
Mungkin sekarang Alvin memang mencoba menjalani pertunangannya dengan Shera. Mencoba membahagiakan gadis itu. Memberinya semangat untuk sehat. Tapi menikah ? Alvin belum siap untuk itu.
***
Shevi merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasanya lelah setelah ikut kelas hamil tadi. Tapi tiba - tiba dia merindukan Alvin. Dan rasa itu tak bisa ditahan lagi. Sperti kehausan ditengah padang pasir. Begitulah rasanya.
Shevi mengambil ponselnya dan menghubingi sahabatnya Nurin.
" Hai viii " Pada dering pertama Nurin langsung mengangkatnya.
" Lo bisa ke sini gak riin ? "
__ADS_1
" Bisa emangnya kenapa ? " Nurin tidak mengalihkan pandangannya yang sedang nonton drama korea.
" Gue.. Guee kangen Alvin " Cicitnya pelan. Karena Shevi tahu Nurin sangat membenci Alvin setelah apa yang menimpa Sahabatnya itu.
" APA ??!! LO GILA YA "
Bisa - bisanya Shevi kangen manusia lucknut itu. Desisnya dalam hati.
" Lo kok marah si rin.. Gue kan cuma kangen.. Dan rasanya gak bisa ditahan sama kaya kalo gue ngidam.. Kalo lo gak mau bantu gak papa gak usah marah dong. hiks " Shevi memang jadi sensitif semenjak hamil.
" Bu-bukan.. bukannya gue gak mau kok. Ya udah gue ke situ biar tar gue videocall'in si bapak ******** itu !! " Nurin yang sudah mau berdiri untuk bersiap ke rumah Shevi terhenti dengan kata - kata Shevi selanjutnya.
" Lo ngatain anak gue ******** ? Huaaa Bundaaa " Shevu tambah kencang nangisnya.
" Aduuuhhh bukan begitu... !! Udah tunggu aja bentar lagi gue sampe." Nurin menjambak rambutnya sendiri jika sedang menghadapi kesensitifan Shevi memang bikin frustasi.
***
Alvin yang sedang berada di cafe bersama Alex dan Sisil sehabis dari kampus dikejutkan dengan panggilan videocall dari Nurin.
Tumben sekali sahabat dari gadisnya itu Videocall sedangkan telefon saja tidak pernah kecuali makian yang dia dapat sewaktu dirumah Nurin dulu.
" Haii Riiin tumben " Alvin bersikap ramah seperti biasanya ketika bersama orang yang sudah ia kenal dekat.
Shevi tersenyum kelayar yang menampilkan wajah Alvin tanpa membuka suaranya sama sekali. Ada rasa lega yang membuncah didadanya.
" Kamu kangen daddy ya sayang.. kamu lihat, daddy'mu baik - baik aja " gumam Shevi dalam hati sambil mengelus perutnya dengan sayang dan air matanya pun jatuh membanjiri pipinya.
" Kok nangis.. Katanya pengen liat abang " Kata Alvin dengan suara bergetar. Sebenarnya dia juga ingin menangis saking senangnya bisa melihat Shevi lagi. Tapi dia malu apa lagi ini tempat umum.
" Gue minta maaf - " Belum sempat Alvin menyelesaikan kata - katanya Shevi sudah memotong.
" Gue kan udah bilang gue maafin lo kalo lo bisa jaga rahasia itu. Dan gue juga gak mau itu kejadian dibahas lagi " Tandas Shevi kemudian.
" Oke.. Oke.. Lo sekarang jadi Chubby ya dek ?? " Niatnya Alvin hanya ingin menggoda. Tapi dia mendapatkan reaksi yanag tak terduga.
" APA ??!! CHUBBY ??!! Riiinnn gue gendutan sekarang ??!! " Nurin yang ada disebelah Shevi bingung harus menjawab apa.
" Jadi bener gue gendut. Huaaaa Bundaaaa " Shevi menangis kencang.
" Lho.. lho.. dek.. abang cuma bercanda.. " Alvin kalang kabut sendiri menghadapi Shevi. Biasanya gadis itu hanya akan cemberut tapi kenapa sekarang bisa begini.
__ADS_1
" Aaahh Kak Alvin sih.. " Runtuk Nurin dan langsung memutuskan sambungan.
Alvin bingung dan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi cengonya.
" Siapa yang nangis vin ?? " Tanya Sisil yang hanya mendengar suara Shevi saat menangis.
" Cewek yang gue suka. Padahal gue cuma bilang dia chubby tapi langsung histeris gitu " Alvin masih mengerjap - erjapkan matanya tak percaya dengan perubahan sifat Shevi.
Dan Alvin tidak melihat perubahan perut Shevi yang sudah membesar karena tadi yang terlihat hanya sebatas bahu keatas saja.
" Hahahaha... Ya iya lah bege.. Cewek dibilang chubby ya pasti marah lah.. cewek kan paling peduli sama penampilan " Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat kebodohan sahabatnya itu.
***
Sementara dikamar, Shevi sedang ditenangkan oleh Nurin.
" Udah dong viii.. Kak Alvin cuma bercanda kok yaaahh ?? " Nurin memeluk Shevi dari samping dan mengusap lengan Shevi.
" Tapi dia bilang gue tambah chubby.. berarti gue tambah gendut kan riinn " Shevi melonggarkan pelukannya untuk menatap sahabatnya melihat kejujuran.
" Kata siapa lo tambah gendut.. orang cantik begini " Shevi memang tidak gendut, ya walupun benar kata Alvin pipi Shevi sedikit berisi. Tapi hanya pipinya saja kecuali perut itu sudah jangan ditanya.
" Jangan nangis mulu dong.. Tar princess gue juga ikutan sedih tuhh "
Shevi melepaskan pelukannya dan mengusap perutnya dengan lembut. Anaknya merespon dengan menggeliat didalam sama.
" Jangan sedih ya sayang.. Mommy masih tetep cantik kok gak gendut.. Jadi kamu gak akan malu punya ibu kaya mommy.. Oke "
Nurin menepuk jidatnya melihat kelakuan Shevi yang makin aneh. Dan akhirnya ketawa juga.
" Lo udah gak ngidam kangen Alvin kan Vii.. Jangan minta ketemu dia langsung.. Berat !! "
" Gak lah riinn.. Itu udah cukup.. gue juga gak tau kenapa pengen liat Alvin.. Makasih yaaaa " Shevi kembali memeluk Nurin.
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading 💕