
Pagi hari di hari yang sudah Shevi tunggu suaminya masih tidur dengan nyenyak di bawah selimut. Hari ini memang hari libur yang biasanya Alvin akan bangun sedikit lebih siang. Apa lagi semalam pulang sudah larut. Bahkan Shevi tidak sadar kapan suaminya pulang.
Mengusap rambut tebal sang suami dan mendaratkan ciuman di sana. Berpindah ke pipi kemudian bibir dan berbisik di telinga Alvin yang mulai menggeliat merasa terganggu dengan apa yang di lakukan istrinya. " Happy birthday sayang.. My husban.. My friend.. My someone.. You mean the world to me.. " Melabuhkan kecupan - kecupan kecil di bibir suaminya yang langsung di lahap habis oleh Alvin. Cukup lama mereka saling menukar saliva. Menikmati pagutan bibir mereka. Menikmati cinta yang mereka rasakan satu sama lain.
" Makasih sayang.. " Mengecup dahi Shevi dan membawa wajah itu untuk ia dekap di dadanya.
" Aku yang harusnya bilang makasih mas. Makasih udah mau menjemput aku dan Tiara di New York dulu.. Makasih untuk bertanggung jawab dan menyayangi kita.. Makasih mau menjaga hidup aku dan Tiara. Menjadi tempat ternyaman untuk kami berlindung.. Dan terimakasih untuk.. " Shevi bangun dari atas tubuh Alvin untuk mengambil kotak silver berpita yang ada di atas nakas samping tempat tidur. " Ini.. " Lanjutnya seraya memberika kotak itu kepada Alvin.
Alvin duduk dan bersandar di kepala ranjang lalu membuka kotak hadiah dari istrinya. Awalnya Alvin tidak paham dengan sebuah benda pipih di dalamnya. Tapi setelah membaca surat yang tertera di dalamnya Alvin langsung berkaca - kaca. Menatap Shevi dan kertas itu bergantian dengan binar bahagia yang tidak bisa ia ungkapin dengan kata - kata. Surat yang dikeluarkan rumah sakit yang menyatakan jika istrinya tengah hamil satu bulan.
" I-ini beneran yank.. ?? " Alvin membaca ulang surat itu dengan tangan yang bergetar.
" Ka-kamu beneran..?? beneran hamil lagi ?? " Alvin menatap istrinya yang tersenyum kepadanya dengan mata yang juga ikut berkaca - kaca melihat betapa bahagianya Alvin atas kabar ini.
" Iya mas.. Aku hamil. Bahkan kemungkinan kembar. Dilihat dari hasil USG yang menunjukkan ada dua kantung di dalam rahim aku. " Alvin langsung memeluk istrinya erat saking bahagianya. Hingga tak lama kemudian Alvin langsung melepaskan pelukannya dan menunduk sejajar dengan perut istrinya yang masih datar.
" Maaf tadi daddy peluknya kekencengan ya..?? Kalian gak kesakitan kan daddy peluk seperti itu ?? daddy terlalu bahagia." Tanya Alvin sembari mengusap dan mencium perut Shevi yang ia singkap piama tidurnya.
" Gak papa daddy.. Kita baik - baik aja. " Shevi menjawab dengan suara yang di buat seperti anak kecil. Mengusap rambut suaminya yang masih menempel pada perutnya untuk mendengar pergerakan anaknya.
" Ini masih sebulan dad.. Mereka belum bergerak. Mereka baru sedang berkembang. Bahkan ukurannya masih sekecil bulir beras. "
" Ooh ya ?? Tapi mereka sehat kan ?? " Tanya Alvin antusias. Ini adalah kehamilan pertama dalam hidupnya. Dia akan memperlakukan Shevi dengan sebaik - baiknya. Dia akan menjaga ekstra dan menuruti semua keinginannya.
" Mereka sehat kok. Tapi kita belum bisa pastiin ini beneran kembar mas.. Takutnya yang satu kosong. Nanti usia sepuluh minggu baru bisa di lihat pasti. "
__ADS_1
" Gak papa. Mau kembar mau satu aku tetep bahagia. " Mengecup perut rata Shevi berkali - kali sebelum akhirnya berpindah mengecup bibir ranum istrinya.
" Bolehkan walaupun lagi hamil..?? Aku janji mainnya pelan. " Wajah Shevi masih saja merona setiap Alvin mengajaknya berhubungan.
Setelah istrinya mengangguk Alvin langsung melahap lagi bibir yang selalu membuatnya candu. Membagi rasa bahagia yang dia rasakan. Ciuman berpindah ke leher jenjang istrinya. Shevi mendongakkan kepalanya untuk memudahkan Alvin mengeksplor lehernya. Dan baru saja Alvin membuka kancing piamanya, Shevi sudah membekap mulutnya dan langsung lari ke kamar mandi.
Alvin yang panik mengikuti istrinya yang sedah memuntahkan isi perutnya pada wastafel. Menyatukan rambut panjang Shevi ke belakang dan membantu memijat tengkuk Shevi. Rasa mual yang Shevi rasakan kali ini lebih parah dari biasanya.
" Kamu gak papa yank ?? " Shevi terlihat lemas dan hampir jatuh jika saja Alvin tidak sigap menopang tubuh istrinya.
" Gak papa mas.. Cuma aku lemes banget.. Kaki aku kaya jelly rasanya.. huuuhhuuu " Shevi menangis seperti anak kecil.
Alvin langsung membawa tubuh Shevi dan membaringkannya setengah duduk di ranjang setelah sebelumnya sudah ia bantu membersihkan mulut istrinya.
Mengambil air diatas nakas dan membantu istrinya minum. " Perasaan biasanya kamu gak penah kaya gini yank ?? "
" Anak - anak daddy gak boleh rewel ya.. Gak boleh nyusahin mommy.. Kasihan mommy kalau muntah seperti tadi.. Nanti nuntrisi buat kalian gimana kalo mommy'nya muntah - muntah ?? " Usapan dan ciuman Alvin berikan untuk menenangkan anak - anaknya.
" Kamu pengen sarapan apa ?? Biar aku suruh bibi bawain kesini. " Shevi berfikir sebentar sebelum menjawab tawaran Alvin.
" Aku pengen sarapan pancake atau omelet isi keju sama daging yang banyak. Tapi maunya daddy yang bikinin bukan bibi. " Alvin berfikir mana yang lebih mudah di buat.
" Baiklah buat anak - anak daddy, daddy bikinin omelet aja ya.. ?? Tunggu disini sebentar. " Alvin sudah akan beranjak keluar kamar tapi tangannya di tahan Shevi.
" Aku mau ikut daddd.. " Rengek Shevi manja membuat Alvin terkekeh gemas.
__ADS_1
" Ya udah ayo.. " Di genggamnya tangan istrinya tapi Shevi masih mematung di tempat tidak bergerak sedikitpun. " Ayo katanya mau ikut.. " Ajak Alvin heran.
" Gendong.. " Shevi memanyunkan bibirnya membuat Alvin semakin gemas.
" Pantesan beberapa hari ini kamu manja banget. Ternyata ini alasannya. " Alvin menggeleng tapi tangannya bergerak menggendong istrinya ala bridal style.
" Mommy kenapa di gendong ?? Mommy sakit ?? " Tanya Tiara yang sudah rapi dan duduk di meja makan.
" Mami lagi manja. " Alvin mendudukan istrinya diseberang Tiara dan berlalu menuju dapur yang sebelumnya mengecup dahi anaknya terlebih dahulu.
" Ada yang bisa saya bantu tuan ?? " Tanya salah satu asisten rumah tangganya yang heran saat melihat tuannya untuk pertama kali memasuki dapur dan sibuk membuka lemari es yang berisi bahan masakan.
" Gak papa bi.. Biar saya saja. Ini permintaan anak saya untuk pertama kali. Dan hanya ingin saya yang membuat. Oh iya mana Reva ?? " Asisten yang tadi menawari bantuan berlalu memanggil Reva, kepala asisten rumah tangganya.
" Saya tuan.. " Reva mendekat ke arah tuannya.
" Istri saya sedang hamil. Tolong kamu pastikan rumah ini bersih dari debu. Dan pastikan yang mengepel lantai benar - benar bersih. Jangan sampai lantai licin dan berbahaya untuk istri saya. Dan kamu tolong layani dia dengan baik. Kalau pagi dia muntah - muntah hebat. Kamu kan sudah berpengalaman jadi kamu pasti tau kan apa yang istri saya butuhkan. "
Reva menunduk hormat. " Baik tuan. Saya akan memastikan keselamatan dan kebutuhan ibu dengan baik. "
Alvin kembali menyibukkan diri dengan bahan yang akan dia masak.
*
*
__ADS_1
*
Yuk tinggalin jejak komen, Like, dan Vote biar authornya semangat 💕