
Brangkar di dorong menuju UGD. Di atasnya, Alvaro sudah tidak sadarkan diri. Tiara hanya mampu berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan nyawa suaminya. Memberinya kesempatan untuk lebih lama lagi menjalani hari dengan pemuda yang sudah berhasil merebut hatinya.
Tiara menangis tergugu saat suster melarangnya ikut masuk ke ruang UGD. Menunggu Alvaro di tangani rasanya seperti menunggu kematiannya sendiri.
Tak lama, Pricilla datang dan langsung memeluk tubuh sahabatnya yang terduduk di lantai, menatap pintu ruang UGD yang tertutup rapat.
"Sabar Ra.. Lo musti kuat." ucap Pricilla mencoba menguatkan. Meski suaranya sendiri bergetar. Ikut merasakan takut yang sahabatnya rasakan. Air mata juga tak mampu gadis itu bendung. Tidak tahan melihat sahabatnya terpuruk seperti ini.
"Alvaro.. Sil! dia celaka gara-gara gue!" jeritnya. Banyak orang yang berlalu lalang melihat ke arah dua gadis yang sedang berpelukan sambil menangis itu. "Kalau aja gue mau dengerin dia. Pasti semua ini gak akan terjadi! ini semua salah gue!"
Pricilla menangkap pergelangan Tiara yang sedang memukul-mukul kepalanya sendiri. "Ini bukan salah lo! ini udah jalan Tuhan untuk menguatkan cinta kalian! biar lo bisa nunjukin kalo lo bisa jadi istri yang baik dengan merawat suami lo yang lagi sakit. Biar lo juga bisa lebih percaya sama suami lo kedepannya nanti!" seru Pricilla. Memegang lengan atas Tiara erat.
"Tapi kalo Al gak bangun lagi gimana Sil? gue gak bakal bisa maafin diri gue sendiri! gue pasti bakal di salahin sama keluarganya Al! dan gue gak akan bisa hidup tanpa dia!" tangisan Tiara masih memilukan. Siapa saja yang mendengar dapat ikut merasakan sesakit apa perasaan gadis itu.
"Lo udah hidup sekian tahun tanpa Alvaro. Dan lo bisa! jadi jangan bilang lo gak bisa hidup tanpa dia." memeluk tubuh yang masih bergetar karena tangis itu. "Dan lo gak boleh mikir yang enggak-enggak. Alvaro bakal baik-baik aja. Dia bakal kembali sama lo lagi. Lo harus berdoa untuk itu. Dan lo harus percaya dengan doa yang lo panjatin."
Tiara tidak lagi menjawab. Gadis itu larut dalam kesedihan. Memilih untuk melantunkan doa-doa yang dia bisa, dari pada berkata yang tidak-tidak. Mengisi pikirannya tentang Alvaro yang sebentar lagi akan sadar dan menyambutnya dengan senyuman. Membayangkan masa-masa bahagia yang mereka lewati bersama.
Membayangkan masa depan yang akan mereka raih. Alvaro mempunyai perusahaan sendiri. Dirinya menjadi dokter yang hebat. Memiliki anak-anak yang lucu dan rupawan seperti duplikat dirinya dan sang suami.
Hingga suara langkah kaki dan panggilan dari kedua orang tuanya membuyarkan lamunannya.
"Kakak."
"Mommy..." Tiara langsung berdiri dan memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya. Akan selalu ada kehangatan di setiap pelukan yang mommy-nya berikan. Rasa cinta yang tidak terukur itu lah yang membawa kehangatan.
__ADS_1
"Kenapa anak ibu bisa seperti ini?" suara ibu mertuanya membuat Tiara melepaskan pelukan sang mommy.
Tiara menceritakan semuanya. Dari dirinya datang ke cafe dan mendapati Alvaro berciuman dengan gadis bernama Lala yang katanya sahabat masa kecil suaminya. Hingga terjadi kecelakaan saat Alvaro mencoba menjelaskan.
"Maafin Tiara, bu, yah." ucap Tiara lirih sembari menunduk. "Kalau aja Tiara mau dengar penjelasan abang."
Ibu mertuanya mendekat. Memeluk menantu yang sama sedih dan khawatir seperti dirinya. "Ini bukan salah kamu sayang. Siapa pun yang ada di posisi kamu saat itu pasti akan melakukan hal yang sama. Ini hanya ketidak beruntungan abang saja. Abang yang kurang hati-hati, tidak memikirkan keselamatannya. Kamu percaya kan sama takdir Tuhan?" Tiara mengangguk sebagai jawaban.
"Apa yang abang alami juga takdir Tuhan. Jadi kita berdoa saja untuk keselamatan abang."
Tiara semakin menangis mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari mertuanya. Hal yang tidak pantas dia dapatkan. Tapi gadis itu mensyukurinya. Bersyukur mendapat ibu mertua yang sangat baik.
***
Setelah melakukan berbagai penanganan hingga operasi. Alvaro di pindahkan ke ruang ICU karena kondisinya yang masih kritis. Cedera di kepala dan tulang belakangnya cukup serius. Dokter telah menyampaikan beberapa kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi saat Alvaro sadar nanti.
Doa ia lantunkan tanpa henti dalam hati. Begitu juga air mata yang seakan tidak ada habisnya keluar dari kedua matanya. Orang yang dulu sangat di bencinya, kini menjadi orang yang sangat berarti baginya.
Rasa bersalah yang sangat besar masih bersarang di dadanya. Ini semua karenanya. Ini semua salahnya. Istri bodoh yang cemburu buta. Istri egois yang tidak mau memberi kesempatan suaminya untuk menjelaskan. Begitu makinya dalam hati. Dan banyak lagi makian yang gadis itu tujukan untuk dirinya sendiri sebagai pelampiasan rasa bersalahnya.
"Makan dulu sayang." ibu mertunya menyodorkan sendok yang sudah berisi makanan di atasnya. Makanan yang satu jam lalu mommy Shevi belikan dan tak tersentuh bahkan dilirik pun tidak.
"Tiara gak laper bu." tolak gadis itu dengan suara serak yang hampir tak terdengar.
"Kalau kamu gak mau makan, nanti kamu sakit. Kalo abang sadar terus tau kamu sakit, pasti abang akan marah sama ibu karena gak bisa jagain istrinya."
__ADS_1
"Al pasti bakal marah banget sama aku ya bu? gara-gara aku, dia jadi sakit begini."
"Kamu percaya kan sama cinta abang untuk kamu?" tanya ibu yang di jawab anggukan oleh menantunya. "Kalau kamu percaya, berarti kamu tau kalau abang gak mungkin bisa marah sama gadis yang di cintainya setengah mati ini."
"Tapi aku takut bu.." tangisnya kembali pecah.
Ibu Alvaro meletakan makanan di bangku sampingnya. Memeluk dan mengusap punggung menantunya dengan sayang.
"Mau denger cerita abang pas kalian mau nikah?" Ibu mengingat malam di mana ia mendatangi kamar Alvaro.
"Abang cerita, katanya kamu gadis yang kuat. Meski sering dia usilin sampai kamu nangis, tapi kamu akan kembali tersenyum ceria seperti tidak terjadi apa-apa. Membuat abang semakin tertantang untuk mengerjai kamu. Ibu pukul dia waktu itu." ibu terkekeh di tengah rasa khawatirnya.
"Anak nakal itu kemudian cerita. Betapa cantiknya kamu saat sedang marah, sedang tersenyum, sedang cemberut, sedang mikir, sedang tertawa. Terus ibu tanya. Berarti kapan dia gak keliatan cantiknya? kata abang. 'Tiara itu gak pernah keliatan jelek bu. Dia itu gadis tercantik yang pernah abang liat.' segitunya lho dia cinta sama kamu."
"Tapi dulu abang nyebelin tau bu." adu Tiara yang bersandar di dada ibu mertuanya. Ada rasa bahagia dari cerita yang di sampaikan mertuanya. Terutama kata-kata suaminya.
"Abang cuma mencoba deket sama kamu dengan cara yang berbeda aja sayang. Dia cuma bisa deket sama kamu dengan cara itu. Karena dia gak ada kesempatan untuk deketin kamu lebih saat itu."
Tiara mengangguk. Dia sudah dengar alasan dari mulut Alvaro sendiri.
Mommy Shevi yang duduk tidak jauh dari mereka tersenyum bahagia. Merasa bersyukur anaknya mendapat mertua yang baik, meskipun cara mendapatkannya tidak baik.
*
*
__ADS_1
*
Beneran semalem gak bisa up lho 😁 aku kalo pergi suka males nulis. Maaf ya 🤗