
...Hadapi segala rintangan dan jangan hialng harapan. Karena ketika kamu masih memiliki harapan. Disitulah kamu memiliki masa depan - Merry Riana...
***
" Abang nyesel ya tunangan sama aku ?? " Shera duduk bersebelahan dengan Alvin disamping kolam renang rumahnya.
" Siapa bilang ? Abang gak nyesel kok " Alvin tersenyum kepada gadis yang bersedih disebelahnya itu.
" Kalo gitu kenapa abang kabur ?? "
" Abang gak kabur. Abang cuma mau ngabisin waktu sama temen - temen abang aja. Dan Hp abang lowbat. Besok kan aku udah mau berangkat kamu yang sehat ya.. Jangan bikin Bunda sama adik - adik kamu sedih " Alvin mengusap kepala Shera dengan perasaan hampa.
Jujur Alvin masih memikirkan Shevi. Merasa bersalah atas apa yang terjadi tiga hari yang lalu. Tapi gadis itu tidak mau lagi berhubungan dengan Alvin bahkan nomor telfon Alvin saja di block.
" Bang.. Bang Allll " Shera mengguncang tangan Alvin karena pemuda itu melamun.
" Eh.. Kenapa Ra ??? " Alvin menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal.
" Abang tuh ngelamunin apa si ?? Masih mikirin Shevi ya ?? Tadi tuh aku tanya besok aku boleh ikut nganter gak ?? " Shera cemberut dan melipat kedua tangannya didada.
" Enggak kok gak lagi ngelamunin Shevi. Dan besok kamu juga gak perlu nganter. Besok aku berangkat sendiri gak ada yang anterin kok "
" Kalo gitu aku boleh peluh abang gak ?? Kan kita bakal lama gak ketemu " Sebenarnya Shera malu mengatakannya tapi dia juga berat jauh lagi dari Alvin.
" Boleh dong. Sini peluk abang " Alvin berdiri dan menyambut Shera dengan kedua tangannya. Dan gadis itu langsung menghamburkan tubuhnya memeluk erat Alvin.
" Maaf Ra kalo gue gak bisa mencintai lo. Maaf kalo suatu hari nanti gue ngecewain atau nyakitin lo. Sekali lagi maaf Ra.. " Alvin hanya mampu mengungkapkannya didalam hati.
Diatas mereka dibalkon kamarnya Shevi menangis tanpa suara mendengar percakapan mereka berdua.
" Maaf Kak Shera.. Maaf gue udah khianatin lo "
__ADS_1
***
Sebulan setelah kejadian itu aktifitas kembali normal. Shevi juga sudah tidak terlalu memikirkan kejadian itu lagi. Dia sudah tidak bersedih lagi. Shevi sadar yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diperbaiki. Jadi dari pada terus bersedih lebih baik dia mengisi aktifitasnya dengan hal yang lebih bermanfaat.
Selama sebulan hampir setiap hari Shevi nggak ada dirumah. Dia selalu pergi les atau main bersama teman - temannya. Berangkat pagi pulang sore kadang habis makan malam baru dia pulang.
Tapi hari ini Shevi belum juga keluar kamar. Bahkan sampai melewatkan sarapan paginya. Bunda Karina yang memang libur karena hari ini hari sabtu, membawa makanan untuk anak gadisnya.
Bunda langsung masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Dilihatnya Shevi masih tidur dibawah selimutnya.
Bunda meletakan nampan berisi makanan dinakas samping tempat tidur. Kemudian berjalan kejendela membuka tirai serta pintu menuju balkon agar udara dikamar ini bisa terganti dengan yang segar.
" Bangun sayang udah siang " Bunda duduk disebelah Shevi dan mengusap lembut kepala anak gadisnya.
" Shevi masih ngantuk bunnn.. Dan kayaknya Shevi gak enak badan perut Shevi mual banget tadi pagi " Bukannya bangun Shevi malah semakin mengeratkan selimutnya.
" Kamu pusing sayang ?? kita kedokter ya ?? Atau mau Dokter Sinta aja yang kesini ?? " Bunda cemas mendengar anaknya tidak enak badan. Dia merasa bersalah karena selalu memantau kesehatan Shera tapi Shevi terabaikan.
" Ya udah kalo gitu ayo makan dulu nanti istirahat gak usah kemana - mana dulu. Kamu tuh jadi jarang banget dirumah bahkan weekend sekalipun " Bunda membantu Shevi duduk dan menyuapinya sarapan.
" Kan Shevi belajar buat persiapan kuliah nanti bun.. " walaupun gak tiap hari si lesnya. Imbuhnya dalam hati.
***
Sedangakan di Belanda Alvin semakin tak tersentuh. Alvin yang sekarang tidak dapat lagi mengendalikan emosinya. Siapa saja yang menyinggungnya walaupun niatnya hanya bercanda langsung terkena bogeman mentah darinya.
Sisil dan Alex bahkan sampai tak berani lagi berbuat mesum di apartemen Alvin. Pernah sekali Alvin mendapati mereka sedang bercinta dan Alvin langsung membuka pintu kamar mereka dan memarahi mereka dengan berteriak mengumpat mengeluarkan segala macam emosinya.
Tapi di lain waktu Alvin bisa menangis dan terpuruk dikamarnya sendirian. Alex yang sudah tidak tahan melihat sahabatnya lost control seperti itu memberanikan diri mendekati Alvin yang sedang duduk dilantai menenggelamkam wajahnya diantara dua lututnya sambil menangis.
" Broo sebenernya lo kenapa ?? " Alex menepuk pundak Alvin dan ikut duduk disebelah sahabatnya itu.
__ADS_1
Alvin mengangkat wajahnya. Wajah frustasi dan penuh penyesalan.
" Gue udah tunangan kemarin di Indonesia. Tunangan sama kakak kembar gadis yang gue cintai. Tapi brengseknya lagi gue malah merawanin gadis gue alih - alih tunangan gue sendiri " Alvin tersenyum getir.
" Gue emang brengsek. Gue emang gak mau tunangan sama dia. Tapi bukannya nolak gue malah minta pertanggung jawaban sama Shevi gadis yang gue cintai. Pertanggung jawaban atas rasa sakit hati gue. Walau gue dibawah pengaruh alkohol tetep aja gue brengsek. Gak ada pembenaran apapun atas apa yang udah gue lakuin. Dan gue nyesel.. nyesel udah ngerusak Shevi " Alex hanya diam mendengarkan semua yang Alvin pendam selama ini sendirian.
" Gue gak boleh cerita sama keluarga kita karena dia takut kita bakal dinikahin dan malah nyakitin kakaknya. Dia bahkan sekarang blokir nomor gue. Gue emang brengsek.. gue emang gak pantes dapetin maaf dari dia.. ARRRGGHH " Alvin berdiri dan menghancurkan semua barang yang ada didekatnya.
" Stop Vin " Alex mencengkeram bahu Alvin kuat saat Alvin semakin menjadi dan mengajaknya duduk di sofa kamar Alvin.
" Lo boleh aja kecewa karen gadis lo nyuruh lo tunangan sama kakaknya. Lo boleh aja nyesel karena lo udah ngerusak gadis lo itu. Tapi lo jangan sampai gecewain orang tua lo karena kuliah lo berantakan. Lo jangan sampai menyesal kalo nanti lo gak bisa lulus. " Alvin terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
" Yang udah terjadi gak akan bisa balik lagi. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Meski kadang lo gak ngerti alasannya. Tapi dia selalu bawa sebuah pelajaran. Jadi jangan disesali dan ambil hikmahnya dan jangan diulangi lagi." Alex menepuk bahu Alvin beberapa kali.
" Come on Vin.. Gue aja gak nyesel merawanin Sisil malah kita menikmatinya.hahaha " Tampolan melayang dikepala Alex.
" Gue bukan lo ya pasangan mesum !! "
" Ngatain gue mesum tapi lo lebih mesum dan pemaksaan. Kalo gue si suka rela ya tanpa paksaan. Sory sory nih Vin.. pesona gue tinggi " Alex menyisir rambutnya kebelakang dengan gaya sombongnya.
" Sialan lo " Mereka tergelak bersama.
Benar kata Alex, yang udah terjadi mau gimana lagi. Mending sekarang menata masa depan yang lebih baik. Gue gak mau ngecewain orang tua gue. Karena gue satu - satunya harapan mereka. - Alvin
*
*
*
Happy Reading 💕
__ADS_1