DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Tapi Gue Gak Hamil!


__ADS_3

Senyum Alvaro terkembang begitu sampai di rumah mobil istrinya sudah ada di carport rumah mereka.


Dengan setengah berlari pria itu menaiki anak tangga dan langsung berteriak memanggil istrinya ketika sudah berada dalam rumah.


"Sayang... Ra..." tak ada jawaban apa pun, kecuali si mbok yang mendekat.


"Ibu belum pulang, Tuan." lapor si mbok. Anak dari mbok Nah yang ikut mereka sejak mereka pindah.


"Tapi mobilnya di depan?"


"Ibu di anter mamang tadi pagi. Pulangnya juga minta di jemput."


"Minta di jemput jam berapa?"


"Jam 3, tuan."


Alvaro mengangguk. "Anak-anak dimana?"


"Den Fari sama den Vindra di jemput nyonya tadi pagi tuan."


"Di jemput mommy?"


Asisten rumah tangganya mengangguk. "Iya. Nyonya juga bilang, nanti malam ibu suruh ke rumah. Katanya temen-temen nyonya mau pada kumpul di rumah ajak anak-anaknya. Jadi ibu sama tuan muda juga suruh hadir."


***


Tiara bersorak ketika hasil ujiannya mendapat nilai nyaris sempurna. Membuat Ika menggeleng.


"Tadi nangis-nagis. Sekarang sumringah benerrrr." cibir Ika. Meski dalam hati ia bersyukur sahabatnya sudah kembali ceria. Setidaknya untuk saat ini.


"Iyaa doooong.. Kurang happy apa coba dapet nilai bagus. Dari dosen yang pelit nilai lagi."


"Lho. Gak ke parkiran?" tanya Ika bingung ketika Tiara bukanya berbelok ke arah parkiran, justru lurus ke arah gerbang.


"Gue gak bawa mobil."


"Terus pulang sama siapa? mau gue anter?"


"Gak usah. Gue udah bilang suruh di jemput kok."


"Dijemput laki lo?"


"Ck. Bukan! di jemput sopir."


"Sejak kapan, sopir lo jadi ganteng banget begitu?"


Tiara mengernyit bingung. Sejak kapan mamang memenuhi standar cowok gantengnya Ika?


Wanita itu mengikuti arah pandang yang di tunjuk Ika dengan dagunya.


Disana Alvaro tengah duduk di dalam mobil dengan atap yang terbuka. Masih lengkap dengan pakaian kerja plus dasi.

__ADS_1


Membuat istrinya memutar bola matanya malas. Untuk apa pula suaminya bergaya seperti itu? untuk menarik perhatian wanita-wanita disini?


Karena tak jauh dari Alvaro memarkir mobil, sudah bergerombol wanita-wanita yang tengah membicarakan pria itu.


"Pantes aja banyak bibit pelakorr deketin laki lo. Ternyata setampan itu." bisik Ika dengan terkekeh.


Ika memang belum pernah bertemu langsung dengan suami sahabatnya itu. Ia hanya melihat pria itu di layar ponsel Tiara.


Dan ternyata Alvaro lebih tampan dan menggoda dari yang ia kira.


"Kalau lakinya gak kegatelan juga gak bakal ada pelakorr berani mendekat." cibir Tiara.


Matanya tak lepas dari pergerakan sang suami yang turun dari mobil mewahnya.


"Pulang bareng sayang?"


Ika masih menatap Alvaro tak berkedip. Tak percaya pria seperti Alvaro bisa berpaling.


Wajah kalem dan seadem kebun teh begini, bisa selingkuh? batin Ika tak percaya.


"Emangnya, mau jemput siapa lo, kalau bukan gue?"


Ika mengulum senyum agar tak menyembur menjadi tawa begitu mendengar suara jutek sahabatnya.


"Sabar, Al. Lo harus berjuang." tetap memasang wajah penuh senyuman.


"Ya udah, yuk pulang. Aku laper lho yank. Belum makan siang, baru selesai meeting." wajah memelas Alvaro tak mempan untuk meluluhkan Tiara.


"Siapa juga yang nyuruh lo jemput?! emang mamang udah bosen kerja, sampai makan gaji buta?"


Sumpah. Rasanya sangat tidak sopan menertawakan penderitaan Alvaro.


"Apa salahnya sesekali pulang bareng suami?" tanya Alvaro dengan wajah menggoda. Memainkan alis dan senyum mengembangnya.


"Salahnya. Lo lakuin ini setelah lo ngelakuin kesalahan! dari dulu kemana aja, bro?!"


"bfftt." hampir saja Ika tak kuasa menahan tawanya.


Ia acungi jempol pada sahabatnya ini dalam hati. Sukses berat memerankan cewek-cewek jutek yang di gangguin cowok. Tidak ingatkah tadi siang nangis-nangis bilang tidak akan sanggup hidup tanpa suaminya ini?


"Iya, maaf yaaank. Emang gak kangen apa marahan mulu? udah berapa hari coba?"


"Dih. Males amat ngitungin!"


Meskipun ia juga merindukan suaminya. Tapi tak segampang itu untuk ia menyerahkan dirinya suka rela.


"Ayoo pulang. Temen kamu juga pasti udah cape pengen pulang."


Ika yang merasa tersindir, nyengir. "Eh. Iya. Iya. Gue pulang dulu ya Ra.. Bisa-bisa nyokap gue neror telfonin gue, belum pulang-pulang. Duluan ya bang."


Alvaro mengangguk dan tersenyum sarat rasa terimakasih.

__ADS_1


Tiara menghela napas. Mau tak mau ia mengikuti suaminya juga.


Alvaro sudah membuka pintu samping kemudi untuk istrinya naik. "Silahkan tuan putri." plus gaya sebagai pelayan kerajaan dengan membungkukan badan dengan satu tangan di atas perutnya.


Tiara hanya mencibir dan lagi-lagi memutar bola matanya malas.


Sepanjang perjalanan Tiara memilih memejamkan matanya. Tak peduli suaminya yang cerita tentang segala hal, baik masalah kerjaan dan persiapan sebentar lagi untuk wisuda.


"Nanti, sehabis wisuda. Gimana kalau kita jalan-jalan?" Alvaro menoleh menatap istrinya. Berharap mendapatkan tanggapan.


"Kayaknya seru kalau kita ajak anak-anak ke NY. biar mereka tau dimana tempat mamanya saat kecil dulu. Aku juga penasaran juga."


"Terus kata mommy kamu juga punya uncle yang udah kaya ayah kamu sendiri di sana, ya? kok kemaren pas kita nikah dia gak dateng?"


"Gimana mau dateng, orang nikah aja dadakan! di rumah pula!" gumam Tiara dengan nada malas. Tapi masih bisa di dengar sang suami yang kini bisa kembali tersenyum. Tahu kalau istrinya tetap mendengarkan meski pura-pura acuh.


"Kamu pengen ngadain pesta buat nikahan kita, yank? kalau sekarang aku udah mampu buat biayain pesta nikahan kita. Gimana kalau pas anniversary kita yang ke 5 nanti?"


"Gak perlu. Biarin aja pada gak tau kalau kita udah nikah. Lo seneng kan?"


Alvaro menghela napas. "Tunggu sebentar disini."


Tiara membuka mata dan bingung menatap sekeliling.


Alvaro menghentikan mobil mereka di pelataran kedai es krim yang cukup terkenal. Dan entah bagaimana caranya Alvaro bisa mendapatkan es krim secepat itu padahal antriannya terlihat mengular.


"Nih. Rasa coklat strawberry kesukaan tuan putri." Alvaro menyerahkan satu cone es skrim ukuran cukup besar untuk Tiara habiskan seorang diri.


"Tadi orang-orangnya pada baik banget. Aku bilang istriku lagi ngidam es krim. Eh langsung di suruh duluan."


Tiara langsung tersedak es krim yang belum lama masuk ke dalam mulutnya. Dia memang tidak tahan menganggurkan es krim begitu saja.


"Pelan-pelan dong yank!" mengulurkan air minum yang tersedia di pintu mobil untuk sang istri. Dan membantu mengelap bibir istrinya yang belepotan akibat tersedak tadi.


"Kok lo jahat banget sih?! kasihan tau mereka! udah antri lama-lama malah lo serobot gitu aja!"


"Aku gak nyerobot antrian sayaaang." sangkal Alvaro. "Aku cuma bilang. 'Orang hamil emang gitu ya, bu? suka aneh-aneh mintanya. Udah gitu harus cepet lagi. Kalau nunggu entar besok katanya udah gak jadi kepengen' udah gitu sama ibunya di kasih duluan." Alvaro mengedik dengan santai dan mengarahkan kemudi meninggalkan kedai dan kembali berbelok ke jalan raya.


Dengan mulut membuka tak percaya, Tiara menyalak. "Tapi gue gak hamil!"


*


Alvaro pas jemput



wajah acuhnya Tiara



*

__ADS_1


*


*


__ADS_2