DEMI DIA

DEMI DIA
Ekstra Part 4 (Dika's Wedding)


__ADS_3

Pesta pernikahan Dika di gelar di hotel mewah. Tempat yang Alvaro sewakan sebagai hadiah pernikahan. Sebagai rasa terimakasihnya atas dedikasi Dika selama ini.


Selain sewa gedung. Dika tanggung semuanya sendiri. Tidak ingin melibatkan pihak istrinya, meski Sheril dari kalangan berada.


Baginya, laki-laki harus memiliki harga diri yang tinggi. Dan itu Dika buktikan dari biaya pernikahan yang tidak sedikit dengan uangnya sendiri. Hasil kerja kerasnya selama sembilan tahun menjadi asisten Alvaro.


Dari kantor yang hanya tiga lantai, hingga kini puluhan lantai. Dari gaji jutaan hingga puluhan juta bahkan kadang bisa ratusan jika bosnya tengah banyak proyek.


Gadis yang sejak SMA sudah mengejar-ngejarnya.


Gadis yang tak pernah ia lirik.


Kini justru menjadi belahan jiwanya.


Wanita yang sudah bertahun-tahun menghangatkan ranjangnya.


Kini ia putuskan untuk memilih wanita itu menjadi teman seumur hidupnya.


Ibu dari anak-anaknya.


Teman suka mau pun duka.


Beruntungnya Dika, Sheril yang dari keluarga berada mau di ajak hidup seadanya. Sesuai gaji yang ia peroleh.


Bertahun-tahun tinggal di apartemen yang sama. Membuat Sheril menuruti permintaan Dika untuk tidak menggunakan uang pemberian orang tuanya.


Terlebih kebencian Sheril pada ibu tiri dan rasa kecewa pada papanya, membuat Sheril lebih memilih menuruti Dika yang selalu memberikan kasih sayang untuknya.


Senyum merekah terukir di kedua wajah pengantin baru itu. Siapa saja bisa melihat betapa bahagia keduanya.


Mata yang berbinar dengan sesekali saling melempar senyum. Membuat Papa Sheril merasa lega.


Setidaknya ia bisa melepas anak gadisnya kepada orang yang tepat.


Pria yang bisa membahagiakan putri yang sudah sejak lama ia kecewakan.


Berkali-kali pria paruh baya itu menyusut air matanya. Merasa bahagia sekaligus bersalah pada putri satu-satunya dari pernikahan pertamanya.


Putri yang menatapnya benci ketika ia membawa pulang wanita lain yang tengah mengandung anak keduanya.


Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan di depan nisan istri pertamanya ketika ia menyampaikan kabar bahwa putri mereka akan menikah.


Maaf karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk putri mereka. Serta maaf karena telah melukai hati istrinya di saat terakhir.


***


Alvaro tak hanya datang bersama istri dan juga anak-anaknya. Ia membawa serta kedua mertuanya yang juga sudah mengenal dekat Dika.

__ADS_1


Kehebohan terjadi di rumah mereka. Menunggu Tiara yang tak juga selesai berhias diri. Sedangkan mommy Shevi dan daddy Alvin sudah datang sejak satu jam yang lalu.


"Mama lama deh. Kan abang udah gerah tau!" sungut Fari saat ibunya keluar kamar. Tak ada raut terpesona meski penampilan Tiara malam itu luar biasa cantik.


"Putri daddy cantik sekali." pujian daddy Alvin mengalihkan Alvaro yang sebelumnya sibuk dengan gadget di tangannya. "Orang yang lihat pasti gak bakal nyangka kalo kakak udah punya anak."


Alvaro mengangguk setuju di tengah keterpanaannya.


"Tutup mulutmu Al. Sebelum air liurmu menetes kemana-mana." goda mommy Shevi yang tak tahan melihat menantunya tak berkedip dengan mulut menganga.


"Kalau kaya gini sih, aku yang gak rela bawa kamu ke pesta yank." ucap Alvaro mengamit lengan istrinya.


"Kenapa? ayoo katanya udah telat."


"Kenapa harus dandan secantik ini. Nanti kalau banyak yang ngelirik kan aku gak rela." protes Alvaro berganti memeluk istrinya dari samping.


Kedua putra mereka sudah memutar kedua bola matanya jengah. Tak hanya sekali mereka melihat orang tuanya bermesraan. Meski tak sampai melihat adegan yang tak pantas seperti ciuman.


"Apaa sih, Al. Gak usah lebay deh. Aku udah ada bodyguard-nya dua begitu. Siap yang berani ngelirik." tunjuk Tiara pada dua putra mereka yang sudah siap dengan style semi formal mereka.


***


"Mas!" bisik mommy Shevi begitu sampai di ballroom hotel dan melihat mempelai yang di dampingi kedua orang tua masing-masing.


Daddy Alvin yang tau arti ucapan istrinya dengan pandangan yang menatap satu titik pun balas berbisik. "Aku juga baru tahu kalau Dika nikah sama anak tirinya Tania."


Mereka selingkuh di saat mama Sheril tengah sakit keras. Sebelumnya Tania adalah sekretaris papa Sheril.


"Pulang aja apa gimana?" mommy Shevi kembali berbisik.


Daddy Alvin mengerutkan dahinya tak setuju. "Ngapain? emang kita salah apa?"


"Tapi aku males mas, ketemu wanita itu."


"Itu udah berapa puluh tahun berlalu sih sayang. Kalau kita menghindar, nanti dia kira kita takut."


Mommy Shevi masih mempertimbangkan apakah ia akan memberi selamat pada Dika dan istrinya yang berarti juga akan bertatap muka langsung dengan Tania.


"Ayo mom, dad." seru Tiara yang sudah beberapa langkah di depan mereka.


"Udah ayoo." daddy Alvin memeluk erat pinggang istrinya dan mengajaknya mendekati pelaminan.


Mulai bersalaman dari kedua orang tua Dika, di lanjut ke pengantin.


"Selamat menempuh hidup baru anak muda!" tepukan pelan daddy berikan di bahu Dika.


"Makasih Om sama tante udah mau nyempetin datang."

__ADS_1


"Ooh iya dong. Masa partner bisnis anak sendiri yang udah kaya keluarga, nikah, Om gak datang." Dika dan Sheril tersenyum senang.


"Jadi istri harus belajar sabar ya Sheril. Kadang banyak hal yang kita gak tahu sebelumnya baru kita tahu setelah menikah. Bukan hal yang menyenangkan saja. Tapi juga banyak hal ngeselin yang butuh kesabaran ekstra untuk kita sebagai seorang istri." wejangan mommy Shevi pada Sheril. Ditanggapi senyum malu-malu ratu sehari itu.


"Dia mah udah tau luar dalamnya Dika mom. Udah gak ada yang spesial lagi." celetuk Alvaro yang mengantri di belakang orang tua istrinya. Menggoda pasangan pengantin baru.


"Sialan lo, Al." maki Dika ditengah kekehan.


Karena brengseknya Dika, hanya Alvaro dan Tiara serta Bobby saja yang tahu. Selain mereka bertiga tidak ada yang tahu jika selama bertahun-tahun Dika sudah selayaknya suami istri yang tinggal di satu atap dengan Sheril.


Terlebih keluarga Sheril yang tidak peduli membuat keadaan keduanya selama ini lancar.


Sheril menunduk malu. Membuat Dika memeluk dari samping dan berbisik. "Alvaro gak udah di dengerin. Aku bakal bikin setiap hari kita terasa spesial mulai malam nanti."


Sheril mendongak menatap suaminya penuh cinta. Bersyukur cinta yang dulu ia mustahilkan, kini jadi nyata. Dicintai dengan tulus dan begitu besar oleh lelaki yang ia cintai sejak lama.


"Udah. Gak usah di lihatin Sher. Nanti malam aja lo puas-puasin." seloroh Tiara yang menarik dan memeluk Sheril dalam pelukan.


"Selamat ya Sheril.. Gue turut bahagia dengan kebahagiaan lo. Semoga yang lo rasakan hari ini, akan selalu lo rasain sampai nanti lo dan Dika menua bersama."


Sheril mengaminkan sungguh-sungguh doa dari mantan musuhnya. Rivalnya untuk mendapatkan suaminya kini.


Sheril juga tak menyangka Tiara dan Alvaro akan menerimanya dengan begitu baiknya. Tak ada dendam di antara mereka.


"Maaf ya Ra.. Rasanya gue masih gak pantas dapat perlakuan baik dari lo juga Alvaro. Mengingat dulu gue jahat banget."


"Sstt. Gue udah lupain itu semua. Dan gue makasih malah. Berkat lo, gue dapat suami yang luar biasa tampan dan juga bertanggungjawab." ujar Tiara memeluk lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di sana.


Dika berdecih. "Bertanggungjawab juga gue. Gak pernah bikin Sheril nangis."


"Sialan lo!" Alvaro tahu maksud Dika adalah Pita.


Keempat anak muda itu tertawa bersama. Tak tahu jika di samping mereka ada suasana yang berbeda antara orang tua Tiara dan Sheril.


*


*


*


Maafkan author yang satu ini yang sering mager dan galau antara nulis atau rebahan 😂


Dulu yang nebak ibu tirinya Sheril itu orang yang ngejebak daddy Alvin bener ya..


Tapi btw bukan sasa namanya. Tapi Tania 😂😂


Kita lanjut di part berikutnya aja oke..

__ADS_1


__ADS_2