
Tiara dan Alvaro memilih makan siang yang juga sekaligus sarapan mereka yang teramat terlambat, di luar.
Keduanya bangun kesiangan setelah pergumulan panas mereka yang memakan waktu cukup lama.
Bahkan mungkin belum akan bangun, jika saja Fari tidak menghubungi mereka. Anak itu bersama kembarannya dan keluarga uncle Ray mengajak makan siang tidak jauh dari apartemen mereka.
"Kemana aja sih, mah? dari tadi di telfonin juga!" seru Fari di seberang sana yang terdengar jengkel karena orang tuanya tidak ada yang mengangkat satupun panggilan darinya.
"Maaf sayang. Mama baru bangun. Gak tau kalau abang telfon."
Fari diseberang mengernyit heran. Tidak biasanya sekali mamanya bangun siang. Padahal jika di Jakarta, wanita itu sudah bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk mereka sebelum berangkat ke rumah sakit tempatnya mengabdi.
"Mama sakit, baru bangun?" otak Fari hanya otak anak kecil yang hanya dua pikiran yang terlintas. Begadang karena bekerja atau sakit. Tapi mengingat mereka sedang berlibur, tidak mungkin mamanya bergadang karena bekerja.
"Tidak sayang. Mama sehat. Sudah, kalian tunggu saja di restoran. Nanti mama sama papa ke sana."
Matahari terbit lebih siang, pukul setengah tujuh pagi. Dan baru tenggelam pukul delapan malam.
Jadi mereka tidak akan terlalu rugi karena bangun lebih siang. Toh hari masih panjang untuk mereka nikmati. Begiu pikir Tiara.
Restoran yang di pilih anak-anak ternyata restoran itali. Dan di meja sudah terhidang banyak makanan.
"Tepat sekali sayang. Makanannya baru saja di antar." ucap Juli saat Tiara menyapa mereka.
"Kau sudah memesankan untuk kami juga mom?" tanya Tiara yang duduk di kursi yang di tarik ke belakang oleh suaminya.
"Tentu saja. Anak-anak sudah kelaparan. Mereka hanya sarapan sereal dan sudah lelah berkeliling museum."
Alvaro tersenyum dan mengacak gemas kepala anak-anaknya. "Kalian senang jagoan?"
"Iya dong pah. Tadi di ajak keliling naik sightseeing bus. Itu lho pah, bus tingkat yang buat wisata. Tapi tadi gak ikut tour sampe habis. Kata uncle Ray, mama sama papa udah nunggu di sini." Fari memang lebih semangat jika di minta untuk bercerita. Bahkan tanpa di minta pun, pemuda kecil itu tak pernah absen menceritakan kesehariannya kepada Tiara atau Alvaro. Siapa saja yang di temui sebelum tidur. Dan itu membuat Alvaro juga Tiara sebagai orang tua merasa bersyukur. Karena tidak ada yang di tutupi oleh anak-anaknya.
"Kalian bisa naik lagi nanti." hibur Tiara.
"Gak mau mah. Aku mau langsung naik sightseeing ferry aja. Gak mau naik busnya lagi."
__ADS_1
"Iya. Iya. Sekarang makan dulu makan siang kalian."
Dimeja sudah terhidang pasta, lasagna, steak, chiken parmesan dan banyak lagi menu utama. Tak lupa mereka juga sudah memesan dessert seperti cheesecake, chocolate torte, rico tiramisu, juga es krim yang cukup besar bisa untuk dua atau tiga orang dengan taburan potongan storberi segar.
***
Tiara dan Alvaro menggantikan uncle Ray untuk mengajak anak-anak mereka jalan. Karena uncle Ray ada pekerjaan.
Juli karena suaminya tak ikut, juga memilih pulang untuk membereskan rumah katanya. Tapi kedua anak-anaknya mereka tinggal bersama pasangan muda itu.
"Baiklah anak-anak. Kalian ingin kemana sekarang?"
"Coney Island!" seru ke empat bocah itu bersamaan. Sepertinya mereka memang sudah memiliki agenda sendiri.
Satu jam perjalanan menggunakan mobil dari Manhattan ke Coney Island yang berada di Brooklyn.
Mereka di antar oleh sopir uncle Ray. Karena pasangan muda itu masih awam dengan jalanan New York.
Tujuan utama anak-anak adalah Luna Park, taman hiburan yang memiliki roller coaster Cyclone yang terkenal.
Empat jam mereka habiskan di dalam Luna Park. Dari permainan yang membawa keceriaan hingga permainan yang memacu adrenalin semua anak-anak coba.
Hanya beberapa permainan yang putri uncle Ray takut dan tak berani mencoba. Dan saat itu Tiara akan menemani dengan menunggu saudara mereka yang tengah berteriak di atas sana. Duduk tak jauh dari pintu wahana.
Pukul enam sore, mereka putuskan untuk bermain di pantai. Menikmati sang surya yang kembali keperaduan. Beristirahat untuk esok kembali memberikan sinar yang membawa harapan. Harapan untuk hari yang lebih baik lagi dari hari ini.
"Kamu gak pengen punya anak lagi yank?" keduanya tengah duduk di tepi pantai dengan mata mereka yang tak lepas mengawasi anak-anak yang tengah bermain air. Tertawa lepas bersama. Saling menjaga dan saling menyayangi. Melihat banyak anak seperti itu, Alvari jadi rindu memiliki bayi.
"Sebenernya pengen sih. Kita kan belum ngerasaian gimana punya anak perempuan." duduk bersandar di bahu suaminya yang memeluknya dari samping.
"Terus?" selama ini Tiara selalu menolak jika Alvaro ajak untuk kembali memiliki momongan. Dan alasannya apa, Tiara tidak pernah mengatakannya. Istrinya hanya bilang jika belum ingin saja.
"Pengalaman hamil dan melahirkan Fari sama Vindra bukan pengalaman yang baik buat aku. Meskipun aku menikmati setiap prosesnya dengan hati yang berbunga saat itu. Tapi rasanya aku masih kebayang bagaimana beratnya beban yang aku bawa. Bagaimana sedihnya saat aku gak bisa jalan di usia kehamilan tujuh bulan. Dan gimana sedihnya saat Vindra harus di rawat intensif karena berat badannya yang kurang."
Ya. Alvaro tahu itu semua bukan pengalaman yang baik untuk mereka. Bukan hanya untuk Tiara. Tapi untuknya juga.
__ADS_1
Ia bahkan kadang malam-malam menangis ketika semua orang sudah tertidur. Menangis karena sakit melihat istrinya berjuang begitu berat demi bayi dalam kandungannya tanpa ia bisa membantu apa pun.
Menangis saat Vindra tak kunjung membaik sedangkan tubuh kecil itu ditempeli banyak sekali alat medis.
"Aku seneng sekarang mereka tumbuh dengan baik. Bahkan gak ada bedanya antara Vindra dengan Fari. Gak keliatan kalau dulu Vindra lahir lebih kecil."
Alvaro mengusap lengan atas istrinya ketika suara wanita itu mulai bergetar.
"Aku cuma pengen lihat mereka bahagia. Tumbuh dengan baik tanpa kekurangan apa pun."
Alvaro mengangguk. Karena ia juga menginginkan hal yang sama.
"Aku juga masih pengen fokus menjalani peranku sebagai dokter." Tiara menatap suaminya lekat. "Gak pa-pa kan, pah. Kalau aku belum mau punya anak lagi. Lagian kita masih muda ini kan?"
Alvaro mengangguk dalam senyumannya. "Gak pa-pa. Kapan pun kamu siap, aku bersedia memprosesnya saat itu juga."
Tiara terkekeh dan berdecih. "Apaan sih Al. Ngerusak suasana serius tau gak?"
"Makasih ya. Makasih sudah mau memaafkan kesalahanku dan bertahan sampai sekarang. Makasih sudah merawat aku dan anak-anak dengan baik. Mencintai kami tiada henti. Mengerti apa yang kami mau dan butuhkan. Gak pernah ngeluh meski lelah."
Mata Tiara kembali memanas dan berkaca seketika.
"Maaf. Maaf jika hanya kecewa yang kamu dapat. Maaf jika aku belum bisa membahagiakan kamu. Tapi aku janji akan berusaha lebih keras lagi buat bahagiain kalian."
Alvaro menangkup kedua pipi istrinya. Menghapus bulir bening yang mengalir begitu saja. "Mama mau kan maafin papa?"
"Apa yang perlu di maafin. Papa sudah memberi yang terbaik untuk kami. Makasih pah."
Alvaro mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak dan menenggelamkan bibirnya di atas candunya. Di bingkai jingganya langit Brooklyn dan di warnai tawa anak-anak di kejauhan.
*
*
*
__ADS_1