
"Kenapa Ra?" tanya Alvaro yang keluar dari kamar, tangan kanannya mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.
Tiara yang masih membekap mulutnya dengan wajah memerah merasa gugup, padahal dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Tapi melihat ponsel yang masih menampilkan gambar dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang memadu kasih, rasanya Tiara malu sendiri.
Untuk pertama kalinya gadis itu melihat yang kata teman-temannya film biru. Hanya sekilas saja dirinya sudah bergidik ngeri dan malu. Kenapa bisa teman-temannya menonton film seperti itu sampai habis. Mendengar suara si perempuan saja sudah membuatnya merinding. Atau dirinya saja yang terlalu polos mengenai hal tersebut. Karena sekalipun dia sering bertindak urakan di sekolah dan sering mendapat hukuman. Itu hanyalah bentuk pertahanan diri dari orang-orang yang menghina kedua orang tuanya. Karena sebenarnya Tiara adalah anak manis dan penurut.
Alvaro yang samar mendengar suara, mendekat dan melihat ponselnya yang masih menyala dengan adegan panas di dalamnya. Temannya Bobi memang sudah dari jaman SMA mencoba memanasi Alvaro dengan mengirimkan film-film seperti itu. Berakhir dengan di hapus sebelum sempat ia lihat. Tidak ingin tergoda saat istrinya belum siap. Dan berakhir dengan dirinya yang tersiksa sendiri.
"Kenapa di buka?" dalam hati Alvaro tertawa melihat ekspresi istrinya yang antara malu dan kaget dengan wajah semerah kepiting rebus. Dia sendiri saja malu, Tiara mendapati film seperti itu dalam ponselnya.
"Eh? Emm.. itu.. Tadi Hp lo bunyi. Pas gue liat dari Bobi. Gue kira mau ngajakin reuni atau apa gitu.." akhirnya bisa menjawab dengan lancar setelah berdeham beberapa kali.
"Lo.. sering dikirimin film begitu sama Bobi?" tanya Tiara pelan. Menatap suaminya yang sedang mengutak utik ponselnya hingga suara laknat itu tidak terdengar lagi.
"Sering." jawab Alvaro pendek.
"Lo.. juga.. sering nonton?"
"Hmmm.. Gimana ya?" beringsut mendekat ingin menggoda istrinya lebih, menatap lekat istrinya. "Kalo gue jawab sering gimana?"
"Kok.. Kok lo nontonin begituan si Al?"
"Begituan apa si sayang?"
"Ya.. Itu. Film panas."
"Kalo tau panas, dinginin dong! gue kan juga panas cuma bisa liat sama denger tanpa bisa merasakan."
Tiara semakin tersipu. Bingung mau bagaimana menanggapi. Mungkin memang sudah waktunya di berbakti kepada suaminya dengan melaksanakan kewajibannya. Mereka bukan lagi anak di bawah umur. Pasti berat untuk Alvaro tidur dengannya tanpa bisa menyentuh.
Alvaro tergelak melihat keterdiaman istrinya yang biasanya langsung membantah dengan segala argumennya. Memeluk dan mengacak rambut istrinya yang masih diam saja.
__ADS_1
"Gak usah di pikirin Raaa. Gue becanda kok. Biasanya gak pernah gue buka kalo Bobi ngirimin link begituan."
"Tapi jujur deh Al. Lo juga sebenernya kepengen kan?" tanya Tiara yang memilih menyembunyikan wajahnya pada dada sang suami.
"Kita udah sama-sama dewasa Ra. Gue juga cowok normal. Tapi, gue gak akan pernah maksa lo. Gue akan nunggu lo siap dengan sepenuh hati lo. Kalo sekarang lo belum siap. Gak papa, gue gak akan ninggalin lo cuma karena hal itu kok."
Tiara merasa hatinya meledak mendengar kalimat suaminya. Betapa baiknya Alvaro sebagai seorang suami. Bahagia? jangan di tanya. Satu hal yang tidak ia sesali dengan pernikahan dininya adalah karena Alvaro yang menjadi suaminya. Dan gadis itu selalu bersyukur dengan hal itu.
"Gue.. Siap kok Al." cicitnya pelan.
Alvaro tidak bereaksi. Sedang mencoba mencerna dan menyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan sekedar halusinasi mengingat dirinya yang tidak sedang tidur, jadi jelas ini bukan mimpi.
"Al?" panggil Tiara saat suaminya hanya diam saja dalam waktu yang cukup lama.
"Lo serius Ra? lo gak akan nyesel kan?"
"Kenapa harus nyesel. Kan gue ngelakuinnya sama suami gue sendiri. Kata temen gue, nolak suami itu dosa. Apa lagi nyiksa suami satu tahun lebih kan Al?"
"Ya udah yuk makan. Biar kita punya tenaga." ajak Alvaro dengan semangat meraih jemari istrinya dan mengajak ke meja makan.
Mereka makan dengan tenang. Saking tenangnya tidak ada suara selain sendok yang beradu di atas piring masing-masing.
Larut dalam pikiran masing-masing. Bertanya-tanya apa yang harus mereka lakukan nanti. Ini yang pertama untuk keduanya. Tanpa pengetahuan apa pun yang bisa mereka pegang untuk mereka melakukannya.
"Tolong cuci piringnya ya Al. Gue mandi dulu." ucap Tiara memecah suasana yang masih terasa canggung.
Tanpa berani menatap Alvaro, Tiara berlalu menuju kamar.
Alvaro tahu, istrinya pasti tegang. Sama seperti apa yang dirinya rasakan saat ini. Pemuda itu akan memberi waktu untuk istrinya mempersiapkan diri.
Membereskan piring bekas makan malam dan mencucinya. Menuju ruang kerja agar tidak mengganggu atau mengagetkan istrinya yang mungkin akan berakibat dengan gagalnya malam pertama mereka setelah satu tahun pernikahan.
__ADS_1
Satu hal baru yang Alvaro lakukan. Membuka kembali link yang sudah sempat istrinya buka. Untuk pertama kali setelah berkali-kali Bobi mengirimkan link, Alvaro menonton untuk referensi agar dirinya tidak memalukan di depan Tiara nanti karena tidak tau apa yang harus di lakukan.
Mencari artikel tentang malam pertama agar tidak menyakiti istrinya. Seperti yang teman-temannya bilang tentang malam pertama, sakit dan berdarah.
Alvaro tidak ingin menyakiti istrinya karena ketidak tahuannya.
Sedangkan di dalam kamar mandi. Tiara sedang berendam dengan degup jantung yang semakin tidak terkendali. Semakain waktu berlalu, jantungnya justru semakin menggila.
"Kenapa sih lo? bisa diem gak?" makinya menepuk jantungnya yang tidak berhenti menabuh genderang.
Semakin merasakan degup jantungnya, semakin keringat dingin membanjiri. Padahal dia sedang berada di dalam air. Tapi wajahnya tetap di banjiri keringat dingin.
"Jangan malu-maluin deh Ra! itu hal naluriah Ikutin aja insting lo dan percayakan semua sama suami lo! Semua akan berjalan lancar. Ya. semua akan lancar." mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Membilas dirinya di bawah shower. Melilitkan handuk di tubuhnya dan keluar kamar mandi untuk kembali berpakaian dan mempersiapkan diri.
Tidak ingin terlihat terlalu mempersiapkan diri. Tiara hanya melakukan rutinitas malamnya seperti biasa. Mengoleskan beberapa skincare malamnya. Menyemprotkan parfume seperti biasa dan mengolesi bibirnya dengan lipbalm rasa stroberi agar tidak kering.
Menunggu Alvaro, duduk di atas tempat tidur dan membaca novel yang belum lama ia beli. Mencoba mengalihkan rasa nervous pada dirinya dengan membaca.
Sepuluh menit berlalu, Alvaro baru memasuki kamar mereka. Tanpa memandang dan berkata apa pun, pemuda itu menuju kamar mandi. Setiap gerakan Alvaro, Tiara amati lewat sudut matanya yang masih berusaha fokus pada bacaannya.
Hingga Alvaro naik ke tempat tidur dan bertanya apakah dirinya siap. Tiara hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.
*
*
*
Jangan lupa jejaknya kakak 🤗💕
__ADS_1