DEMI DIA

DEMI DIA
Pertolongan Gio


__ADS_3

Malam itu rencananya Gio akan menginap dirumah Alvin. Sore tadi Alvin menelfonnya dan mengajaknya begadang main PS.


Saat Gio sedang berguman bernyanyi mengikuti lagu yang sedang dia putar di audio mobilnya dia melihat seorang gadis sedang ditarik - tarik oleh pria berbadan besar dengan penampilan seperti preman.


Gio memajuka kepala dan menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Dia terkejut saat mengenali gadis itu adalah Shevi. Gadis yang disukai sahabatnya Alvin.


Gio langsung menepikan mobilnya dan berlari kearah preman yang sedang menarik - narik tangan Shevi tanpa peduli jika tadi dia lupa untuk menutup pintu mobilnya.


Saat sudah berada didepan preman tersebut Gio langsung menendang perut preman itu hingga terjatuh kebelakang dan melepaskan pegangannya.Karena preman itu sebelumnya tidak menyadari kehadiran Gio karena sedang fokus menarik mangsanya.


" Kak Gio ! " Shevi berguman dengan suara yang bergetar.


Gio langsung menarik Shevi kebelakang punggungnya saat preman itu mulai bangkit kembali.


" Dasar bocah sialan !! " Teriak preman itu murka saat merasakan sakit pada bagian perutnya.


Preman itu langsung melayangkan sebuah pukulan kerasas pada muka Gio. Tapi Gio juga berhasil membalas pukulan tersebut. Gio dan preman tersebut saling memukul tapi dapat dilihat kalau Gio lebih unggul.


Gio memang jago bela diri. Dia punya sabuk Hitam di olahraga karate dan taekwondo. Jadi bukan hal yang sulit untuk mengimbangi si preman walaupun badannya lebih besar.


Saat preman itu sudah terkapar tak berdaya, Gio menarik tangan Shevi untuk berlari kearah mobilnya. Tapi Shevi yang sudah sedari tadi gemetar rasanya sulit sekali untuk berlari disaat dia tidak merasakan tulangnya lagi akibat ketakutan.


Preman itu bangun dan mengambil batu yang tidak jauh dari posisinya. Niatnya dia ingin melempar Gio dengan betu itu. Akan tetapi sasarannya melesetdan mengenai pundak Shevi.


" AAKKKHH " Shevi merasakan sakit pada pundaknya dan jatuh pingsan.


" Shevi bangun !! " Gio menepuk - nepuk pelan pipi Shevi tapi tidak bangun juga.


" Akkhh sial !! " umpatnya saat melihat preman itu mulai berjalan ke arah mereka.


Gio menggendong tubuh Shevi dan mendudukannya di samping kemudi dan memakaikan sabuk pengaman lalu menutup pintu dan memutari mobil kearah kemudi untuk melajukan mobil kerumah sakit terdekat.


***


Sesampainya dirumah sakit Gio langsung menggendong Shevi dan suster yang sedang jaga di depan langsung berlari mengambilkan brangkar unuk membawa gadis yang sedang digendong oleh pemuda itu.


Gio mendorong brangkar sampai kedepan ruang UDG karena suster menyuruhnya untuk menunggu didepan sampai dokter selesai memeriksanya.

__ADS_1


DRRRTT DRRTT


Gio merasakan getaran pada saku celananya. Ternyata Alvin yang menelfon. Pas sekali dia memang harus memberi tahu sahabatnya tersebut.


" Dimana lo yo. Katanya mau kerumah gue ! " Belum sempat Gio mengucapkan hallo Alvin sudah lebih dahulu membrondong pertanyaan padanya.


" Gue dirumah sakit deket rumah lo. Lebih baik lo ajak keluarganya Shevi buat kesini deh." Gio menjawab lirih sambil menyandarkan punggungnya ke dinding sebelah pintu UGD.


" Maksud lo apa, gue suruh kesitu sama keluarga Shevi ?? " Perasaan Alvin mulai tak enak saat mendengar nama Shevi dan Rumah sakit.


" Udah kesini aja. Nanti gue jelasin disini. yang jelas Shevi butuh keluarganya sekarang." Tandas Gio yang langsung memutuskan telefon lebih dahulu.


***


Alvin yang sedang berada dikamarnya mengumpat tak jelas saat mendengar telefon dari sahabatnya Gio.


Berbagai pertanyaan muncul dipikirannya. Sebenarnya ada apa dengan Shevi ? Apa dia terluka? atau dia menabrak orang dan sekarang harus tanggung jawab ? atau dia dicelakai orang ?.


Kalau benar Shevi yang masuk rumah sakit bagai mana keadaan gadis itu? Apakah lukanya parah ? dan kenapa bisa gadis itu bersama Gio.


Dari pada berperang dengan pertanyaannya yang tidak akan dia temukan jawabannya sebelum dia datang sendiri kerumah sakit akhirnya dia mengambil kunci mobil dan jaketnya.


Bunda Karina yang bingung kenapa Alvin panik seperti itu dan mengajaknya kerumah sakit tanpa penjelasan apapun hanya menurut saja. Tapi ada rasa khawatir dihatinya.


Sebenarnya ada apa ini ? - Bunda Karina


Sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ruang UGD dimana mereka melihat Gio sedang duduk di ruang tunggu depan UGD dengan menutup wajahnya dengan tangan dan bertumpu di kedua kakinya.


Alvin menepuk bahu Gio pelan. " Yo ! Sebenarnya ada apa ini ? " Alvin langsung bertanya saat sahabatnya mendongakkan kepalanya.


Kemudian Gio menceritakan semuanya saat dia tak sengaja melihat Shevi ditarik - tarik oleh preman sampai kenapa bisa sampai masuk rumah sakit seperti ini.


Bunda Karina syok dan terduduk lemas sambil menangis. Alvin menggeram marah, kedua tangannya terkepal erat. Ingin rasanya Alvin menghajar orang yang berani menyakiti Shevi sampai habis ditangannya.


Alvin mendekati bunda Karina dan mengusap bahu ibu tiga anak itu supaya tenang.


***

__ADS_1


Setelah lama mereka bertiga menunggu dengan cemas akhirnya dokter keluar dari ruangan tersebut.


Bunda Karina beserta Alvin dan Gio langsung berjalan mendekati dokter.


" Bagaimana keadaan putri saya dok ?? " Dokter dapat melihat kekhawatiran diraut wajah ketiganya.


" Apakah anda ibunya ?? " Bunda Karina hanya mengangguk sebagai jawaban.


" Putri anda baik - baik saja. Lukanya tidak terlalu parah. Hanya saja tulang belikatnya sempat bergeser tapi sudah kami tangani dengan baik. Pingsannya anak anda juga bukan karena rasa sakitnya namun saya rasa karena syok atau ketakutan " Tutur dokter yang menangani Shevi menjelaskan.


" Apakah saya sudah boleh menjenguknya dok "


" Sebentar lagi anak anda akan dipindahkan keruang perawatan, Setelah itu anda bisa menjenguknya. Namun anak anda masih dalam pengaruh obat bius jadi mungkin besok baru sadar. Lebih baik ibu mengurus administrasi terlebih dahulu sambil menunggu putri ibu dipindahkan. Kalau begutu saya permisi dulu"


" Baik dok terimakasih " Bunda Karina menjabat tangan dokter kemudian dokter tersebut pergi meninggalkan mereka bertiga.


***


Setelah selesai membayar biaya administrasi bunda Karina langsung menuju ruang perawatan Shevi yang telah Alvin kasih tahu sebelumnya lewat telefon kepadanya.


Bunda membuka knop pintu ruangan tersebut kemudian melangkah perlahan mendekati brangkar dimana putrinya terbaring belum sadarkan diri.


Bunda duduk di bangku sebelah brangkar kemudian menggenggam tangan Shevi dan mengelus rambut putrinya tersebut.


Hatinya teriris melihat lebam pada pipi Shevi. Belum lagi pundak sebelah kanan yang dibebat akibat pergeseran tulang yang dia alami.


" Maafin bunda sayang hiks.. Bunda nggak bisa jagain kamu.. kalau ayah masih ada pasti ayah marah besar putri kesayangannya terluka begini hiks " Diciumnya lembut kening Shevi sebagai permintaan maafnya karena lalai dalam mengawasinya.


" Bunda tenang aja, kan tadi dokter bilang kalau Shevi pingsan cuma karena takut. Dan bunda gak boleh nyalahin diri bunda sendiri. Ini bukan salah bunda, tapi salah anak nakal ini yang pergi gak pamit udah gitu naik sepeda lagi malem - malem " Seru Alvin seakan sedang memarahi Shevi. Padahal gadis itu masih belum sadarkan diri.


Hatinya Alvin sendiripun marah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menjaga gadisnya. Untung Gio lewat, kalau tidak entah apa yang akan terjadi.


*


*


*

__ADS_1


Happy Reading 💕


__ADS_2