
Senyum Tiara mengembang saat mendapati wajah tampan sang suami berada tepat di hadapannya. Pemuda yang semalaman ia tunggu kepulangannya sampai gadis itu ketiduran di meja makan.
Alvaro masih tidur dengan pulas. Memeluk bantal guling, dan terlihat imut di mata Tiara. Merapikan surai rambut yang menutupi wajah suaminya dengan sangat hati-hati, berharap pergerakannya tidak membangunkan sang suami.
"Makasih ya Al." bisiknya lirih, berterimakasih walau suaminya marah tapi masih mau untuk memindahkannya ke kamar. Tidak terbayang jika Alvaro tidak peduli dan membiarkannya semalaman tidur dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya di meja makan. Pasti pagi ini badannya akan sakit-sakit semua.
Masih memandangi wajah yang entah sejak kapan gadis itu akui jika suaminya ini memang tampan. Sekarang bukan hanya daddy Alvin yang tampan untuknya, suaminya juga termasuk dalam daftar tampan di hatinya kini.
Beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menyiapkan sarapan untuknya dan sang suami pagi ini. Bersenandung dan mulai dengan ritual mandinya.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Alvaro membuka matanya dan tersenyum. Sebenarnya dia sudah bangun jauh sebelum Tiara bangun. Melakukan hal yang sama seperti yang istrinya tadi lakukan, hingga saat ada pergerakan dan tanda-tanda istrinya akan bangun, Alvaro langsung kembali menutup mata dan pura-pura tidur.
Tak berapa lama, Tiara sudah keluar dengan hanya memakai handuk. Ia kira suaminya masih tidur, tapi ketika sedang mengambil pakaian gadis itu di kejutkan dengan suara dehaman.
Berbalik dan mendapati Alvaro yang sudah duduk dan bersandar di kepala ranjang, menatapnya lekat dengan sebelah alis terangkat.
Tiara mematung sesaat. Ketika kesadarannya kembali, gadis itu langsung melempar kaos yang baru dia ambil dari dalam lemari, mengenai tepat wajah suaminya dan langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.
Tiara bersandar di balik pintu dan memegang dadanya yang berdegup tak karuan. Aahh malu sekali rasanya hanya memakai handuk di depan Alvaro. Meskipun mereka sudah sah sebagai suami istri, tapi rasanya masih enggan untuk Tiara memperlihatkan tubuhnya pada suaminya itu.
Alvaro malah tergelak sampai berguling-guling di atas tempat tidur. Melihat betapa lucunya ekspresi dan tingkah istrinya tadi. Pemuda itu membekap mulutnya dengan bantal agar Tiara tidak mendengarnya. Walau bagaimna pun dia masih belum mau memaafkan Tiara dengan mudah.
Setelah degup jantungnya kembali normal, Tiara buru-buru memakai pakaian agar bisa segera membuat sarapan. Perutnya sudah protes minta di isi. Semalam bahkan dia sampai melewatkan makan malam karena menunggu suaminya hingga ketiduran.
Tiara menepuk dahinya. "Kaos gue!" runtuknya ketika yang di pakai hanya dalaman dan celana pendek saja. Lupa jika tadi melempar kaosnya ke muka Alvaro.
Melongokkan kepalanya keluar pintu kamar mandi, berharap suaminya sudah tidak berada dalam kamar. Namun sialnya, Alvaro justru masih duduk santai di ranjang dengan memainkan ponsel di tangannya.
"Al... Tolong lemparin kaos gue dong." pinta Tiara dengan nada lembut, agar suaminya berbaik hati menolongnya.
__ADS_1
"Ambil aja sendiri!" acuh Alvaro, tetap fokus pada layar persegi di tangannya.
"Ayolah Al.. Masa gue keluar gak pake baju." rengek Tiara lagi.
"Kaya yang gak pernah telanjang di depan gue aja!" cibir Alvaro yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari sang istri.
"Itu ulah Sheril ya Al! jangan seakan-akan gue yang dengan segaja buka baju di depan lo deh!" protes Tiara tidak terima dengan ucapan Alvaro. "Lagian kaya lo liat tubuh gue aja waktu itu." cibir Tiara lagi.
"Kalo gue liat, lo udah gak perawan lagi sekarang!" jawab Alvaro tanpa dosa. Karena sekuat-kuatnya lelaki normal, jika di hadapannya terpampang tubuh indah wanita tanpa sehelai benang pun, apa lagi itu wanita yang ia cintai, siapa yang bisa tahan.
Tiara melongo dan mengedipkan matanya berkali-kali. Kenapa suaminya itu bisa sevulgar itu berbicaranya. Bahakan mereka masih di bawah umur.
"Alvaro!!" jerit Tiara dan langsung diam saat kaosnya kini kembali dan mendarat tepat mengenai wajahnya, setelah Alvaro melempar untuk menutup mulutnya yang pagi-pagi sudah bikin polusi suara.
Tiara mendengus dan kembali masuk dan menutup pintu kamar mandi dengan keras, memakai kaosnya dan segera keluar.
***
Gadis yang kini menyandang status sebagai seorang istri dari Alvaro Kaisar, berulang kali melirik suaminya yang duduk tepat di sebelahnya. Berharap Alvaro mengucapkan sepatah atau dua patah kata saja untuk mencairkan keadaan yang terasa tidak hidup itu.
Tiara mengehela napas saat suaminya masih saja diam dan mengacuhkannya. Alvaro bahkan tidak protes seperti biasanya ketika masakannya sedikit asin seperti pagi ini.
"Al, nanti ke rumah daddy yuk. Liat hasil rapot kita." ajak Tiara, mencoba mengajak suaminya bicara.
Alvaro mengehentikan makannya, seperti sedang berpikir sebentar lalu menjawab dengan dingin. "Oke. Sore!"
Tiara kembali menghela napasnya. "Kemaren lo kemana sih Al? kok pulangnya malem banget?" tanya gadis itu lagi. "Ngurus kerjaan di luar?" imbuhnya saat sang suami masih diam saja.
"Hmm." jawab Alvaro kemudian, tidak tega juga melihat istrinya yang sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka.
__ADS_1
Alvaro yang sudah selesai dengan sarapannya, berjalan ke arah tempat cuci piring. Berniat mencuci bekas makannya sendiri. Karena di sini dia memang tidak memperkerjakan asisten rumah tangga. Jadi untuk membersihkan apartemen mereka berbagi tugas. Jika Tiara yang menyapu dan membersihkan debu, Alvaro yang akan mengepel. Jika Tiara yang memasak, Alvaro yang akan mencuci piring. Begitu pula sebaliknya. Tapi untuk urusan baju, mereka mempercayakan pada laundry yang tersedia di lantai bawah gedung apartemen mereka.
"Biarin aja Al. Biar gue aja yang nyuci." perintah Tiara pada Alvaro yang sudah akan menyalakan keran.
"Oke." jawab Alvaro yang langsung meninggalkan dapur. Dan sebelum pemuda itu masuk ke dalam ruang kerjanya dia kembali berbalik menghadap sang istri yang masih belum selesai dengan sarapannya. Tiara memang cenderung lama jika makan.
"Hari ini gue mau nyelesein kerjaan gue. jadi gue harap lo gak ganggu!" ucap Alvaro setelah memnggil nama istrinya. "Panggil gue buat makan siang aja. Sama ingetin buat ke rumah daddy jam tiga." imbuhnya lagi.
Tiara hanya mengangguk. "Mau gue bikinin teh gak?" tawar Tiara kepada suaminya yang akan berbalik.
"Boleh." jawab Alvaro masih acuh dan kembali meneruskan niatnya untuk masuk ruang kerja. Menyelesaikan pekerjaannya untuk desain rumah teman ibu sebelum dia menggarap proyek besar yang mertuanya berikan padanya.
Alvaro janji akan membuat perumahan yang daddy Alvin berikan dengan sepenuh hati. Membuat karya sebagus mungkin yang bisa menarik pembeli dan cepat terjual habis.
Ini proyek perumahan pertama untuknya, apa lagi ini perumahan untuk kalangan elit yang model antara rumah satu dan lainnya harus berbeda. Bahkan sudah ada salah satu calon pembeli yang menginginkan rumahnya bisa di buat seperti apa yang orang itu mau, dan Alvaro juga sudah di buatkan jadwal untuk bertemu dengan calon pembeli itu oleh asisten daddy Alvin.
Jika untuk mendesain mall, cafe bahkan hotel dia sudah pernah dan hasilnya cukup memuaskan. Dia yakin kali ini dia juga bisa memberikan hasil terbaiknya, terlebih ini kerjasama pertama dengan mertuanya. Malu lah jika kinerjanya kali ini tidak bagus.
Alvaro akan menunjukan kepada daddy Alvin, bahwa menantunya ini bisa di banggakan meski usianya masih belia. Dia berjanji tidak hanya akan bertanggung jawab dengan proyek yang ia tangani, tapi juga tanggung jawab untuk kebahagiaan istrinya.
Setelah dia mendapatkan bayaran atas proyek besar ini, Alvaro akan mengajak istrinya jalan-jalan ke manapun yang istrinya inginkan. Anggap saja sebagai bulan madu, meskipun tidak akan dia manfaatkan seperti bulan madu pada umumnya.
*
*
*
Maaf ya kalau ceritanya kadang bosenin. Mohon di maklumi dan di beri masukan dengan bahasa yang menyemangati jangan malah menjatuhkan mental.
__ADS_1
Aku tuh masih pemula dan perlu dukungan kalian 😠kalau dapet komen yang gak enak suka bikin drop dan gak ada semangat nulis 😢
Tapi makasih buat yang masih sayang sama Tiara&Alvaro. Aku juga sayang kalian 🤗💕