
Sampai beberapa bulan kemudian, Tiara masih belum mendapatkan celah apa pun tentang Sheril. Sebisa mungkin Tiara memilih untuk tidak bertemu dengan musuh bebuyutannya di SMA itu. Bukan karena dia takut, tapi dia sedang berusaha menjadi anak yang baik untuk orang tuanya.
Sedangkan gadis itu selalu saja memancing amarahnya, yang untung saja masih bisa ia kendalikan, paling hanya dia balas dengan kata-kata, dan lebih sering lagi mendapat pembelaan dari Dika.
Ah, mengenai cowok itu, dia benar-benar merubah caranya mendekati Tiara. Tidak lagi selalu membuntuti kemana gadis itu pergi. Hanya sesekali bergabung untuk makan bersama saat istirahat, atau menawarkan untuk pulang bersama yang sayangnya tidak pernah Tiara terima, karena Tiara selalu di antar jemput supir pribadi. Daddy-nya sangat menjaga ketat kedua putri mereka, hingga sulit untuk mendapat celah laki-laki yang ingin mendekati.
Hubungannya dengan Dika bisa dikatakan ada perkembangan. Tiara mulai menerima dengan baik kehadiran cowok idola sekolah itu, yang semakin membuat Sheril membenci dan mencari keributan dengannya.
"Lo tuh kenapa sih Sher? gak ada bosennya apa, gangguin hidup gue mulu??" dua gadis itu seperti biasa sedang ribut. Dan hari ini keributan terjadi di jam olahraga, yang kebetulan pak Iwan sedang berhalangan untuk hadir.
Teman-teman mereka tidak ada yang mencoba melerai. Mereka sudah terlalu bosan memisahkan mereka berdua. Hanya Pricillia yang berlari mencoba mencari bantuan. Yang kebetulan bertemu dengan Dika dan Alvaro di koridor yang sedang membawa peralatan olahraga yang akan digunakan hari ini.
" Al, Dik, Tiara berantem sama Sheril!!" seru Pricilla dengan napas tersengal.
Hanya Dika dan Alvaro yang dapat dia andalkan saat ini. Kedua pemuda itu langsung berlari menuju lapangan meninggalkan Pricilla.
Sedangkan di lapangan, kondisi semakin memanas.
"Dari awal kenal di sekolah ini, perasaan sedikitpun gue gak pernah ngusik lo!! bahkan kenal aja gak! kenapa lo dendam banget si sama gue?!" imbuh Tiara dengan berkacak pinggang.
"Salah lo banyak!! terutama lo yang sok kecakepan tebar pesona dari awal masuk!!"
Tiara memicing. Sikapnya yang mana yang masuk kategori tebar pesona? gara-gara dia ramah sama anak-anak? tapi dia di lahirkan dari keluarga yang menanamkan sikap ramah kepada orang lain. Atau gara-gara banyak cowok yang mendekatinya? itu kan bukan salahnya banyak yang suka. Perasaan kan tumbuh alami, meskipun mungkin banyak yang tidak tulus dari hati, yang hanya memandang harta dan rupa.
__ADS_1
"Gue gak ngerti sikap gue yang mana yang lo maksud tebar pesona. Tapi kalau banyak yang suka sama gue. Itu bukan salah gue." jawabnya santai.
"Perbaiki diri lo sendiri kalo lo pengen di sukai sama anak-anak! jangan malah nyalahin orang lain." imbuhnya sembari menunjuk dada Sheril.
Niatnya akan meninggalkan lapangan, tapi seketika rambutnya yang dikuncir rapi ditarik dari belakang. Tiara hanya meringis dan berbalik menghadap Sheril.
"Gak usah main kekerasan. Karena gue gak akan ngikutin lagi cara lo yang urakan!!" geram Tiara disela rasa sakitnya, karena Sheril masih belum juga melepas cekalan tanganya.
"Gue gak akan ganggu lo lagi, asal lo jauhi Dika!!" desis Sheril dengan pelan dan penuh penekanan, agar siapa pun tidak ada yang mendengar kecuali mereka berdua.
"Dika bukan milik gue. Jadi kalo lo mau ambil, ambil aja. Gak perlu lo ngancem-ngancem gue!!" sentakan kasar dari Dika berhasil membebaskan rambut Tiara. Gadis itu langsung memijit kulit kepalanya yang berdenyut nyeri.
Alvaro berdecak dramatis. "Ck ck ck.. Heran gue sama lo Sher. Masih aja cara lo buat narik perhatian orang kaya gini." Alvaro tahu sifat Sheril sejak SMP. Pacar Sheril sebelumnya adalah sahabat dekat Alvaro dari kecil.
"Lo gak usah ikut campur!! lo juga sama aja kan. Suka gangguin nih cewek!!" sela Sheril dengan menunjuk ke arah Tiara yang berdiri diapit Dika dan Pricilla.
Senyum mengejek tercetak di bibir Alvaro. "Gue gak pernah tuh nganggep Tiara musuh gue. Kalo dia nganggepnya gue musuh si ya terserah."
Mengutak-utik ponselnya mencari sesuatu. "Bagi gue, Tiara itu mainan yang gue punya. Gue suka saat gue denger dia teriak-teriak, gue juga suka liat muka dia kalo lagi marah dan natap gue dengan benci." Alvaro terkekeh kecil dengan kata-katanya sendiri. Tawa yang terdengar lucu di telinga yang lain, tapi miris di telinga Sheril.
Sedangkan Tiara, wanita yang sedang mereka bicarakan tercengang mendengarnya. Bingung antara membela, atau mengejek. Begitu juga dengan banyak teman mereka yang tidak mengerti maksud Alvaro.
Banyak yang menduga jika Alvaro sebenarnya suka kepada Tiara. Tapi banyak juga yang ngeri dengan sikap Alvaro yang seperti seorang psikopat.
__ADS_1
"Dan lo tau kan. Kalo anak kecil punya mainan, mereka gak ada yang suka kalo mainannya di mainin sama orang lain." senyumnya mengembang saat apa yang dia cari akhirnya ketemu.
"Gue juga sama. Gue gak suka lo main sama mainan gue!!" tekannya dengan tatapan membunuh.
"Jadi gue saranin sama lo. Mulai hari ini, jangan lagi lo ganggu mainan gue, atau..." Maju mendekat mengikis jarak di anatar mereka berdua.
"Sebenarnya gue gak mau bawa-bawa ini. Karena ini juga menyangkut sahabat kecil gue. Tapi kalo keadaan memaksa, apa boleh buat kan." memberikan ponsel yang sudah menyala dengan senjata di dalamnya kepada Sheril.
Seketika cewek itu menegang melihat isi ponsel Alvaro. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. "Da-dari mana lo da-dapet ini?" tanyanya dengan tergagap. Rasa takut yang tiba-tiba menyeranganya membuat tenggorokannya tercekat.
"Gak penting gue dapet dari mana. Asal lo gak ganggu mainan gue, rahasia lo aman!!" tekannya dengan nada tegas.
"Lo ngancem gue!!" dengan sisa-sisa keberania Sheril berseru. Tangannya sudah akan memencet tombol delete, saat suara Alvaro menginterupsinya.
"Gue gak ngancem. Cuma memperingatkan. Dan kalo lo mau hapus, hapus aja. Gue masih punya banyak kok di rumah." saat Sheril diam saja tidak mencoba menghapus senjatanya, dengan sekali gerakan ponsel itu sudah berpindah ke tangannya lagi.
"Makasih lho hiburannya hari ini. Tapi kurang berkesan buat gue. Kurang seru!!" beralih berdiri di hadapan Tiara.
"Jangan mau kalah lo kalo berantem sama tu lampir. Sama gue aja, gak mau ngalah!!" menyentil dahi Tiara pelan, dan berlalu meninggalkan lapangan.
Tiara mematung, masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa Alvaro membelanya hari ini. Dan apa yang Alvaro punya untuk membungkam mulut Sheril. Kenapa Alvaro bisa mendapatkannya, sedangkan dirinya yang sudah berbulan-bulan mencari celah Sheril saja tidak pernah dapat.
*
__ADS_1
*
*