
Shevi tak pernah berpikir akan kembali bertemu dengan orang yang pernah memberinya luka di masa lalu. Orang yang amat sangat ia hindari kehadirannya.
Bukan karena ia takut. Bukan karena ia masih tidak percaya pada suaminya. Hanya saja, bertemu dengan Tania mengingatkan betapa sakitnya saat ia kehilangan adik Tiara dulu.
Janin yang ia belum ketahui keberadaannya kecuali saat kepergiannya. Buah hati yang tak bisa ia jaga dengan baik. Hingga menyisakan rasa penyesalan yang mendalam. Rasa bersalah yang tak berkesudahan.
Dan saat kini ia harus pura-pura tersenyum saat memberi selamat kepada ayah dari Sheril, teman anaknya. Ia tak sanggup untuk berpura-pura baik di depan Tania. Terlebih wanita itu memulai konfrontasi dengan dirinya.
"Wah.. Anda memilih kembali pada istri pertama ternyata pak, setelah terusir dari istri kedua?" tanya Tania dengan senyum mengejek di saat Alvin ada di hadapannya.
"Bagi saya, tidak pernah ada yang ke dua. Dari dulu sampai saat ini, istri saya hanya satu. Shavina Almahyra Mahesa."
Tania tertawa cukup keras. Tawa mengejek yang ketara.
Shevi sudah mengepalkan tangannya kuat. Menahan amarah. Tak ingin merusak hari bahagia sahabat menantunya.
"Jangan lupakan beberapa bulan bapak tinggal di rumah wanita lain sebagai suami sah-nya."
Shevi menggeleng. "Heran saya sama kamu. Bisa-bisanya menceritakan masa lalu kamu yang bobrok itu di hadapan suami kamu sendiri."
Alvin menggenggam tangan Shevi agar tak berbuat lebih. Apa lagi pasti mereka akan menjadi bahan tontonan tamu undangan yang hadir.
"Kasihan sekali anda tuan. Harusnya pengusaha sukses seperti anda, bisa mendapatkan ibu yang lebih baik untuk Sheril." ucap Shevi pada suami Tania.
"Pantas saja Sheril lebih memilih tinggal di apartemen. Saya kira karena ingin mandiri. Taunya karena ada nenek sihir di dalam rumahnya." ucap Shevi sambil mendengus.
"Kamu!" Tania sudah akan bergerak maju memberikan tamparan atau apa saja yang bisa ia lakukan kalau saja suaminya tidak menahanya.
"Jangan permalukan diri kamu sendiri di sini! dan jangan berani-beraninya kamu merusak acara spesial putriku!" gertakan ayah Sheri berhasil menghentikan niat Tania untuk berbuat lebih.
Alvin langsung mengajak istrinya turun sebelum orang-orang mengetahui apa yang terjadi di atas pelaminan tadi.
"Mas ngapain sih narik-narik aku. Aku tuh belum selesai ngomong sama tuh nenek sihir!" Alvin menggeleng dengan sikap berapi-api istrinya.
"Nanti mommy malu sendiri kalau sampai orang-orang lihat dan jadi bahan tontonan. Kasihan istrinya Dika. Di hari bahagianya ini, dia pasti gak mau orang lain mengetahui sifat ibu tirinya yang gak ada akhlak itu."
Meski mencebik kesal, tapi Shevi menurut untuk duduk di salah satu meja yang sudah berisi rekan kerja suaminya yang juga di undang di acara tersebut.
__ADS_1
***
Tiara dan anak-anak di ajak duduk di meja yang sudah berisi Bobby yang datang lebih dulu dari mereka.
"Lama amat sih kalian berdua. Gue udah kaya apaan dah sendirian di sini."
Alvaro dan Tiara tergelak melihat wajah Bobby yang sangat terlihat bete entah sejak kapan.
"Makanya cari pasangan. Biar ada yang di gandeng pas kondangan." ledek Alvaro.
"Percuma wajah ganteng kalau gak ada yang mau Bob. Meski masih gantengan suami gue sih." imbuh Tiara
"Enaknya aja gak laku! gue jomblo terhormat. Memilih yang terbaik dari yang baik!" seru Bobby. Tangannya sudah akan menoyor kepala Tiara kalau saja tidak melihat tatapan tajam Alvaro.
"Bini lo tuh ngeselin! kalau gue mau, gue tinggal tunjuk terus ajak dah ke KUA!"
Tawa Tiara semakin pecah melihat sahabat suaminya marah-marah.
"Mah!" teguran dari kedua putranya membuat Tiara seketika membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
"Mama tuh kebiasaan kalau ketawa gak ke kontrol." Fari kembali berkomentar dengan mulut penuh makanan.
"Haii.. Para jagoan udah pada datang aja nih." Pricilla yang baru datang langsung mencium pipi Fari dan Vindra. Membuat kedua kembar itu bersungut-sungut.
"Tante iih! kita sudah besar, jangan cium-cium!"
"Jangan panggil tante dong. Aku belum tante-tante. Panggil aunty." bisik Pricilla pada keduanya. Suara yang hanya terdengar pada telinga yang ada di meja itu saja.
"Itu sama saja! hanya beda bahasa. Tapi artinya tetap sama. Kalau yang lokal saja ada. Kenapa harus menggunakan yang lain."
Pricilla cengo sendiri. Mengedipkan mata berkali-kali sebelum mencubit gemas pipi anak kedua sahabatnya. "Kaku banget sih kamu, Vindraa!!"
"Nanti besar bakal jadi kaya daddy Alvin pasti!" Pricilla dapat melihat kemiripan antara Vindra dan ayah sahabatnya yang menolak di panggil kakek itu.
"Kata siapa daddy kaku. Slengekan begitu."
"Itu kan kalau di rumah. Aku pernah ketemu kok sama si Om pas rapat renovasi rumah sakit." kini Pricilla memang menyandang sebagai direktur keuangan di rumah sakit milik seorang pria yang baru satu tahun menikahinya. Pria mapan yang berbeda tiga tahun di atasnya.
__ADS_1
"Ya itu kan masalah pekerjaan. Alvaro juga gitu kalau kerja."
"Suami lo sih emang kaku dari dulu." cibir Pricilla yang kemudian duduk setelah sang suami menarik kursi untuknya duduk.
Rumah tangganya yang belum di karuniakan momongan. Membuat Pricilla sangat dekat dengan anak-anak. Merindukan sosok kecil untuk hadir dalam mahligai pernikahannya.
"Udah ngucapin selamat sama yang nikah?" tanya Tiara setelah sebelumnya memeluk sahabatnya.
"Udah dong. Kan kesini emang mau ngucapin selamat bukan buat ketemu sama lo."
Tiara mencibir. Mereka memang jarang bertemu karena saat ini Pricilla menetap di Bogor. Di rumah suaminya yang lebih dekat untuk ke rumah sakit.
"Lo kalau tiap lihat anak gue terus sedih, mending gak usah di lihatin."
Meski tak pernah berkata apa pun, Tiara tahu jika sahabatnya sedih.
"Kalian sama-sama dokter. Ilmu kedokteran sekarang udah canggih-canggih. Apa sih yang lo khawatirin?"
"Gue cuma takut ngecewain suami sama keluarga aja". Obrolan mereka hanya mereka yang bisa mendengar. Para lelaki tenggelam dalam obrolan mereka sendiri.
"Lo udah periksa?" Pricilla menggeleng.
"Lagian lo baru nikah satu tahun. Gue juga dulu hampir dua tahun nikah malah baru hamil."
"Itu kan karena lo aja yang gak mau diajak berhubungan."
Tiara merenges dan menggaruk pelipisnya. "Tapi kan bukan indikator kalau lo gak bisa hamil. Cuma masalah kepercayaan Tuhan sama kita aja. Apa lagi Tuhan tau kalau lo itu lagi sibuk-sibuknya. Sekalian buat kalian lebih menikmati masa pacaran lebih lama."
Tiara menggenggam tangan sahabatnya. "Lo gak bakal tau gimana keselnya udah kepalang tanggung tapi tiba-tiba anak lo bangun terus nangis."
Pricilla yang belum paham maksud kalimat sahabatnya pun mengerutkan dahi. Membuat Tiara tergelak yang lagi-lagi mendapat lirikan tajam putra-putranya.
*
*
*
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Maafkan author yang satu ini yang sering bikin kesel karena jarang up. Belum bisa kasih cerita yang menghibur untuk kalian semua. Doakan saja kedepannya semakin rajin update 🤗🤗