DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Rindu


__ADS_3

Tiara selalu datang mengunjungi Alvaro setiap hari meski suaminya tak pernah mau menemui dirinya. Tiara tak pernah mengeluh meski jawaban ibu mertuanya tetap sama. "Alvaro masih butuh waktu untuk sendiri."


Cukup mendengar kabar suaminya baik dan mau mengikuti terapi, sudah membuat gadis itu senang. Setidaknya bisa pulang tanpa beban pikiran yang terlalu berat.


Tapi kemarin setelah dua hari dirinya merasa tidak enak badan dan tidak datang mengunjungi rumah mertuanya, ibu mertuanya memberi kabar jika kondisi Alvaro juga drop bahkan sampai muntah-muntah. Kata dokter kemungkinan Alvaro tidak cocok dengan obat baru yang di sarankan oleh dokter.


Jadi pagi ini, meski kesehatannya belum membaik, Tiara berusaha kuat untuk memasak makanan kesukaan sang suami dan akan memastikan suaminya untuk memakannya. Kata ibu, karena sering muntah membuat Alvaro enggan untuk makan.


"Kamu yakin mau ke rumah mertua kamu? mukamu masih pucat banget begitu lho kak."


Sebelum berangkat, Tiara menyempatkan untuk sarapan bersama keluarganya di rumah. Biar siap menerima segala kemungkinan. Mungkin saja dirinya masih tidak di harapkan kehadirannya. Alvaro masih tidak mau bertemu dengannya. Jadi dia harus menyiapkan tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan menyakitkan itu.


"Aku udah mendingan kok mom. Alvaro yang lagi sakit kata ibu. Kasian, aku mau jenguk."


Mommy Shevi menghela napas. Jika anaknya tidak sedang sakit, dia senang-senang saja Tiara pergi memperjuangkan kebahagiaannya. Tapi melihat kondisi anaknya yang masih lemah begitu wanita itu tidak tega.


Sehat saja setiap pulang menangis. Apa lagi sedang sakit. Mommy Shevi takut ketika mendapat penolakan lagi anaknya bisa pingsan.


"Daddy antar ya?" tawar daddy Alavin yang tahu kekhawatiran yang di rasakan istrinya.


"Gak papa dad. Aku sama mamang aja. Biar pulangnya ada yang anter. Kalo sama daddy entar aku pulangnya sama siapa? daddy kan kerja?" tolak Tiara seriang mungkin. Gadis itu tahu jika kesedihannya juga kesedihan keluarganya. Bahkan kedua adiknya yang kadang usil sekarang sangat baik padanya.


Tapi mau bagaimana pun Tiara menutupi kesedihannya tetap saja keluarganya tahu. Apa lagi gadis itu lebih sering tidak bisa menahan laju air matanya.


"Ya sudah. Kalau ada apa-apa telfon daddy."


"Siap dad. Aku berangkat dulu." setelah mencium pipi kedua orang tua dan adiknya, Tiara langsung pergi. Gadis itu terkekeh saat Raka mencebik dan mengelap bekas bibirnya di pipi adik laki-lakinya itu.


Adiknya itu memang sok cool. Jangankan di cium dirinya, di cium mommy saja dia tidak mau. Lebih memilih dia yang mencium mommy-nya. Untuk itu Tiara sangat suka menggoda adiknya dengan menciumnya juga.


Dalam perjalanan Tiara termenung. Memikirkan bagaimana nasib rumah tangganya kedepan. Dia sudah berusaha tapi bahkan Alvaro tidak pernah mau keluar kamar untuk menemuinya.

__ADS_1


"Tidak mungkin kan hubungan kita terus seperti ini? Aku kangen kamu Al.."


Tiara menepis air matanya yang belum apa-apa sudah berguguran. Dalam hati, gadis itu terus menyemangati dan menguatkan dirinya sendiri.


Rumah mertuanya sudah sepi. Seperti biasa, ayah mertua sudah berangkat kerja. Adik Alvaro juga sudah berangkat sekolah. Hanya ada ibu yang menemani Alvaro.


"Ibu sedang menemani aden berjemur di belakang non." ucap asisten rumah tangga di rumah itu setelah mempersilahkan dirinya untuk masuk.


"Aku boleh ke belakang bi?" hati Tiara serasa berbunga. Mendengar Alvaro tidak di dalam kamar membuatnya senang. Setidaknya ada kemungkinan untuknya bisa bertemu dengan suami yang selalu saja menghindarinya.


"Sebentar ya non, biar bibi tanyakan sama ibu. Bibi takut aden marah." bisa Tiara lihat jika asisten rumahtangga itu merasa tidak enak saat mengucapkannya.


"Ya udah bi. Aku tunggu disini aja."


Tiara mendudukan tubunya di sofa ruang tamu. Terlalu lama berdiri membuat kepalanya berdenyut nyeri. Padahal tadi saat masak saja dia bisa. Apa karena terlalu bersemangat membuatkan makanan untuk suaminya?


Tak lama bibi kembali dan memberitahu jika Tiara boleh ke belakang. Tadi asisten rumahtangga itu menyampaikannya dengan berbisik kepada nyonyanya. Agar Alvaro tidak mendengar. Wanita paruh baya itu juga tidak tega melihat istri anak majikannya setiap datang tidak membuahkan hasil dan hanya bersedih.


"Non Tiara kenapa non?" tanya bibi panik melihat Tiara memejamkan matanya erat dengan tangan yang memegang kepala.


"Gak papa bi. Ya udah, aku ke belakang dulu ya?" Tiara kembali membuka mata dan tersenyum saat rasa nyeri di kepalanya mulai mereda.


"Non Tiara benar tidak apa-apa. Wajah non Tiara pucat."


"Aku gak papa. Bibi gak perlu khawatir."


Bibi memandang sendu wajah pucat yang terlihat bahagia itu menjauh.


Tiara tersenyum melihat suaminya yang sedang berjemur. Menadahkan wajahnya, menikmati belaian hangat mentari pagi yang menyehatkan.


"Bu. Aku mau minum." ucap Alvaro tetap dengan setia memejamkan matanya.

__ADS_1


"Sebentar ibu ambil." saat ibu berbalik, wanita itu tersenyum mendapati menantunya yang sudah berada di ambang pintu. Menatap anaknya dengan tatapan penuh kerinduan. Bahkan mata gadis itu sudah berkaca-kaca.


Ibu memeluk Tiara. Menghapus air mata yang menetes. "Sana temuin suamimu. Dia belum tau kamu disini."


"Makasih bu." ucap Tiara tanpa suara yang di jawab anggukan oleh mertuanya. Ibu meninggalkan mereka untuk memiliki waktu berdua.


Tiara mendekat. berusaha tidak membuat suara dengan langkah kakinya. Tidak ingin kehadirannya mengganggu sang suami.


Air matanya kembali menetes dan segera ia tepis. Itu wajah yang ia rindukan. Bibir yang ia rindukan senyum dan kata manisnya. Tangan yang juga ia rindu pelukan hangatnya. Tubuh yang ia rindukan aromanya. Bahkan sampai hari ini, Tiara masih tidur dengan memeluk baju Alvaro yang ia semprot parfum milik suaminya. Membayangkan yang ia peluk adalah laki-laki yang ada di depannya sekarang.


Tiara meletakan papperbag yang berisi masakannya di rumput sebelah kursi roda. Bertumpu dengan kedua lututnya menatap wajah suaminya dari dekat.


Ingin sekali ia memeluk tubuh suaminya ini. Bolehkan ia egois dan langsung memeluknya tanpa ijin?


Tapi sebelum Tiara melakukannya, Alvaro sudah lebih dulu membuka matanya. Pemuda itu hafal bau istrinya. Meski sudah lama mereka tidak bertemu, itu tidak membuat Alvaro lupa dengan wangi yang selalu ia cium setiap hari.


Tatapan mereka beradu. Dengan sorot kerinduan yang sama. Tapi Alvaro langsung merubah tatapannya menjadi tatapan benci. Meskipun hatinya juga sangat merindukan istrinya ini.


Alvaro menilai wajah istrinya yang terlihat pucat. Ada lingkaran hitam dibawah mata yang semakin mempertegas jika istrinya sedang sakit. Tubuh Tiara juga semakin kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Tapi Alvaro menguatkan hatinya agar tidak goyah. Ini semua demi kebaikan dan kebahagiaan Tiara kedepannya.


"Nagapin lo di sini?" ucap Alvaro ketus.


"Aku kangen Al.." Tiara tidak tahan untuk tidak memeluk suaminya. Dia tidak akan melewatkan kesempatan yang sangat langka ini. Meski mungkin Alvaro akan mendorongnya menjauh, biar saja. Yang penting saat ini dia bisa memeluk suaminya untuk mengurangi rasa rindu yang bersemayam di hatinya.



*


*


*

__ADS_1


Makasih yang masih setia baca cerita ini. Meski mungkin tidak seperti yang kalian harapkan. Lop Lop buat kalian semua 🤗💕


__ADS_2