
Tiara berjengit kaget saat baru keluar dari toilet untuk berganti baju, ada Dika sedang menyandarkan punggungnya di dinding koridor depan toilet.
"Ngapain si lo disitu?! ngagetin aja!!" sungutnya, melangkah menuju loker untuk menaruh baju olahraganya.
"Nungguin kamu buat makan bareng." jawab Dika dengan percaya diri.
Tiara tidak suka dengan sikap Dika yang sok akrab seperti ini. Mereka baru saja kenal, tapi sudah mengajak makan bareng.
"Emang lo gak punya temen apa? gue mau makan bareng temen-temen gue, udah ditungguin." berharap Dika tidak lagi mengikutinya. Bukan berarti karena tadi cowok ini sudah membantunya dan dia bisa mengikuti kemana pun Tiara pergi kan.
"Aku boleh gabung kan? temen-temenku udah pada duluan soalnya." masih mencoba peruntungan.
"Lo gak malu gabung sama gue, disana cewek semua. " melipat kedua tangannya di depan dada menghadap Dika.
"Gak masalah kok." jawabnya dengan senyuman.
Tiara menghela napas dan berlalu, membiarkan saja Dika untuk mengikutinya.
***
Kehadiran Tiara yang diikuti Dika membuat Pricilla dan yang lain berbinar, karena biaa makan satu meja dengan idola sekolah.
Sedangkan siswi yang lain pun banyak yang berbisik-bisik bagaimana bisa Tiara secepat itu dekat dengan Dika, bahkan banyak gadis dari kelas yang sama mendekati Dika secara terang-terangan tapi di acuhkan, termasuk Sheril yang sedang menatap mereka berdua dengan geram.
"Eh ada Aa Dika.. Duduk sini.." Pricilla menarik kursi agar Dika duduk di sebelahnya.
Tiara tersenyum dan menggeleng, kemudian duduk di kursi yang berada persis di hadapan Dika, di sebelah teman yang lain.
"Mau pesen apa Aa Dika? disini yang paling di sukai anak-anak Mie ayam, bakso sama siomaynya. Tapi sotonya juga enak lho. Tapi pesen sendiri yaa. Gue cuma nanya doang, gak niat mesenin hehe," cerocos Pricilla.
Dika tersenyum dan pergi untuk memesan makanan yang menurutnya cepat dia dapat tanpa mengantri dan menunggu pembuatan yang lama.
Di kantin itu, banyak deretan stand-stand yang menjajakan makanan yang mereka jual. Setelah melihat-lihat pilihannya jatuh pada satu cup siomay.
__ADS_1
Waktu berbalik menuju meja dimana Tiara dan yang lain duduk, ternyata sudah ramai. Disana ada Sheril, yang dia tahu adalah teman satu kelasnya.
Mendekat dan mendengarkan akar permasalahan mereka.
"Pake mata dong. Lo pasti sengaja kan numpahin minuman lo ke baju gue!!" sebenarnya Tiara malas sekali ribut dengan Sheril. Baru juga dirinya masuk setelah kena skorsing gara-gara cewek itu. Masa sekarang ribut lagi.
"Gue kan udah minta maaf. Lagian kurang kerjaan banget gue numpahin minuman gue dengan sengaja. Enakan juga gue minum dari pada gue kasih ke baju lo!!" dengan gaya menyebalkannya Sheril berdiri menantang Tiara. Karena dia yakin, sebentar lagi pasti lawannya itu akan main fisik, dan pasti akan dihukum lagi.
Namun dugaannya salah. Dika yang baru saja datang, meletakkan makanannya di meja dan melepas jaket yang dia kenakan untuk ia pakaikan kepada Tiara.
"Jangan kamu pedulikan cewek itu!" katanya sembari memakaikan jaketnya untuk menutupi tubuh Tiara yang basah.
"Kamu ada baju ganti lagi gak di loker? Baju kami basah, daleman kamu keliatan." bisiknya di kalimat terakhir, yang membuat Tiara seketika membulatkan bola matanya dan mengeratkan jaketnya.
"Gue bakal bikin perhitungan sama lo nanti!!" ancam Tiara sebelum pergi, Pricilla mengikuti dibelakangnya.
Bukan Sheril namanya jika di ancam begitu saja sudah takut. Dia mendengus dengan sebuah seringai di wajahnya.
***
Tapi kali ini, dia akan membalas dengan cara yang lebih elegant, seperti yang di sarankan sahabat mommy-nya, Nurin.
Namun sayangnya dia belum memiliki celah untuk menjatuhkan Sheril.
"Lo punya info bagus gak tentang si Sheril?" tanya Tiara pada Pricilla yang menemaninya membeli seragam baru di koperasi.
"Gue mana ada. Dia kan anak IPS." Tiara diam memikirkan cara yang tepat untuk membalas. Dia tak ingin pembalasannya kali ini berujung dengan dia yang lagi-lagi kena hukuman.
"Eh, tapi kayaknya Nina punya temen yang satu kelas deh sama tuh anak. Gue sering liat mereka berangkat bareng soalnya." Pricilla ingat pernah melihat beberapa kali teman mereka Nina berangkat dan pulang bareng dengan anak IPS1 yang juga kelas Sheril dan Dika.
"Cewek?" tanya Tiara, berharap bisa mengorek sesuatu dari anak tersebut.
"Cowok." jawab Pricilla cepat.
__ADS_1
"Itu mah mungkin gebetannya, bukan temennya. Lagian yang biasanya gosip kan cewek bukan cowok." Tiara mendesah lemas saat satu harapan pupus.
"Kenapa lo gak minta info dari Dika aja? dia kan juga sekelas sama Sheril. Dan lagi dia kayaknya suka sama lo." Pricil memang kadang lebih peka dari pada Tiara masalah cowok.
"Males gue sama tuh anak. Sok akrab banget!! Ya walaupun gue makasih banget sih, dia bantuin gue ngumpulin bola dan pinjemin jaket." tunjuk Tiara dengan jaket yang masih ia kenakan, karena sedari tadi sibuk berpikir hingga melupakan tujuan mereka ke toilet untuk Tiara berganti baju.
"Tapi gimana ya.. Rasanya tuh risi, tau gak sih lo? Baru juga kenal, udah ngintil aja kemana-mana!!"
"Ya dia kan lagi coba PDKT sama lo! kapan sih lo peka jadi cewe?!"
"Bukan masalah peka atau gak-nya. Kalau memang tujuan dia buat PDKT, harusnya kasih kenyamanan buat gue. Belum apa-apa aja udah di ikutin mulu, gimana kalo beneran jadi ceweknya?!! bisa-bisa gue di rante kali sama tuh cowok." Tiara bergidik ngeri sendiri dengan pemikirannya.
"Mikirnya kejauhan non. Namanya PDKT ya dia lagi mencoba buat kenal sama lo. Dan gimana caranya dia bisa kenal, kalo lo aja gak mau di deketin!!" Pricilla menggeleng, masih saja sahabatnya ini tidak mengerti tentang lelaki. Begini nih, kalau udah kelas dua SMA tapi masih belum pernah pacaran. Tidak pernah peka sama lawan jenis.
"Tetep aja, gak gitu caranya kalau mau deketin gue mah!" jawabnya ngeyel.
"Kalau gitu mulu mah ilfil gue lama-lama sama cowok kaya dia!!"
Setelah selesai dengan bajunya, Tiara dan Pricilla keluar. Lagi-lagi Tiara dikagetkan dengan keberadaan Dika di depan sana.
"Lo bisa gak sih Dik, gak ngikutin gue sampe ke toilet segala?" tanya Tiara sewot. Lama-lama bukan hanya ilfil, tapi takut juga.
Bagaimana tidak takut, jika ada laki-laki yang mengikutinya hingga ke toilet.
"Maaf ya Ra.. Kalau cara aku malah bikin kamu ilfil sama aku." ucapnya lirih, sarat akan kekecewaan.
"Eh, bukan begitu.." Tiara merasa bersalah saat melihat tatapan mata Dika yang memancarkan kesedihan.
"Apa dia denger omongan gue sama pricil di dalem tadi ya?" tanya Tiara dalam hati.
"Gak papa kok. Aku akan memperbaiki sikap aku lagi. Dan nanti aku coba cari tau tentang Sheril." jawab Dika dengan senyum getir sebelum pergi.
*
__ADS_1
*
*