
Jadwal operasi sudah di pelupuk mata. Tinggal menghitung hari ia akan bertemu dua anak yang ia jaga dalam hangatnya rahim yang Tuhan berikan.
Tiara pasti akan sangat merindukan momen kehamilannya ini. Rindu setiap kali merasakan gerakan ringan sampai gerakan yang kadang membuatnya terlonjak kaget.
Kedua anaknya memang sangat aktif di dalam sana. Meski ia sering mendesis saat gerakan yang kadang membuatnya ngilu. Tapi setelahnya selalu ada senyum yang terkembang.
Prosesi tujuh bulanan hanya mengundang anak yatim dan ibu-ibu sekitar serta keluarga dekat untuk mendoakan, sama halnya dengan prosesi empat bulanan dulu. Sehingga tidak menyulitkannya jika harus mengikuti adat yang di anut keluarga Alvaro.
Keadaan perut yang sudah sangat besar membuatnya benar-benar harus duduk di atas kursi roda sejak usia kandungan tujuh bulan.
Tak akan kuat tubuh kecilnya membawa perut sebesar itu. Kata dokter berat baby-nya besar, makanya ukuran perutnya juga sangat besar.
Alvaro bahkan sempat bertanya pada dokter apa tidak ada bayi satu lagi dalam perutnya. Karena bagi Alvaro besar kehamilannya seperti tidak normal.
Tapi dokter meyakinkan dan menenangkan mereka kalau ukuran perutnya masih masuk batas normal.
Untung saat ini suaminya itu sudah bisa berjalan. Sehingga bisa membantunya yang kepayahan saat akan berpindah dari kursi roda ke atas tempat tidur atau sebaliknya.
Dia masih ingat jelas saat ia berjingkrak dengan perut besarnya saat Alvaro menunjukan kaki kokohnya yang sudah kembali pulih.
Alvaro yang panik melihatnya melompat-lompat kecil langsung menangkap tubuhnya untuk di rengkuh.
"Kamu tuh bisa gak pertimbangin dulu kalau mau apa-apa? kalau tadi jatoh gimana?" masih dengan raut panik dan sedikit menaikkan nada suaranya, yang ia balas dengan senyum gigi putihnya.
Kini suaminya bisa di andalkan untuk menemani proses melahirkannya nanti.
Ada perasaan takut, khawatir, juga bahagia yang bercampur menjadi satu.
Takut jika proses operasinya tidak berjalan lancar. Khawatir anak-anaknya ada yang tak terselamatkan. Tapi rasa yang paling besar jelas rasa bahagia. Bahagia akan segera bertatap muka dengan dua malaikat kecilnya. Dua makhluk kecil yang selalu mengganggu tidur nyenyaknya.
"Al.."
"Hmm."
Mereka sedang bersiap untuk tidur. Tiara masih setia dengan tidur setengah duduknya. Dengan Alvaro yang juga setia memeluk dan menyurukan wajahnya pada perut besarnya.
"Doain aku ya..." jeda beberapa saat sebelum Tiara kembali melanjutkan. "Biar operasinya berjalan lancar. Anak-anak kita selamat semua.."
Alvaro bisa menangkap dengan jelas kegundahan dan sendu dalam suara istrinya. Meski tangan dengan jemari lentik itu setia mengusap rambutnya lembut. Tapi Alvaro sangat yakin jika di atasnya, Tiara sedang menahan tangis.
__ADS_1
Laki-laki itu beringsut untuk duduk dan menyeimbangkan dengan sang istri. Menatap manik mata yang mulai berkabut. Manik mata milik perempuan yang tangan kecilnya kini sedang menangkup kedua sisi wajahnya.
"Kalaupun ada yang harus gak selamat... Biar aku saja."
Pupil mata Alvaro membesar saat istrinya mengucapkan kalimat itu. Apa apaan maksud istrinya berbicara seperti itu? tidak akan ada yang tidak selamat. Semua akan berjalan lancar. Mereka akan berkumpul berempat dan menjadi keluarga paling bahagia yang pernah ia lihat.
"Kamu harus janji untuk jadi papa terbaik untuk mereka... Menjaga dan menyayangi mereka sepenuh hati kamu.. Sama seperti kamu menjaga dan menyayangi aku selama ini."
"Walaupun aku juga ingin dan berharap bisa berkumpul bersama kalian.."
Menurunkan tangan dari wajahnya. Alvaro berganti menangkup sisi wajah istrinya. Berucap dengan suara yang bergetar. "Kamu tuh ngomong apa sih yank? kamu akan selamat. Anak-anak juga akan selamat."
Pemuda itu harus menarik napas dan menghembuskannya kasar untuk menghilangkan rasa takut yang sempat singgah saat mendengar celotehan sialan yang terlontar dari mulut istrinya.
"Seberapa besar sih kematian yang terjadi saat operasi Caesar?! mungkin hanya dua atau tiga dari 100.000 penanganan operasi."
Memejamkan matanya erat sebelum kembali melembutkan tatapan matanya agar istrinya tidak takut dan stres.
"Kamu cukup berdoa yank.. Seberapa sukses sebuah hasil juga di tentukan dengan seberapa hebat doa yang kamu panjatkan."
"Agama kita mengajarkan kita untuk hanya memohon pada sang pencipta. Lakukan dulu semua kemampuanmu dalam berdoa. Lakukan dulu usaha yang kamu bisa. Baru kamu boleh berserah!"
Air mata Tiara sudah menganak sungai membasahi wajahnya. Ia memang sangat takut menghadapi persalinan nanti. Entah itu operasi sekalipun, ia tetap saja takut.
Karena setiap proses persalinan memiliki resiko yang sama. Yaitu kematian.
Bukankah perjuangan ibu untuk melahirkan anak-anaknya adalag bertaruh nyawa. Jadi bukan hanya ibu yang melahirkan secara normal saja yang mempertaruhkan nyawanya. Operasi juga memiliki resiko kematian yang sama. Dengan kemungkinan pendarahan atau kemungkinan lainnya.
"Kita bisa memperkecil resiko dengan menjaga kondisi kesehatan kamu dan anak-anak. Memperbanyak doa agar yang punya kehidupan bisa menyelamatkan kalian."
"Kita pasti bisa berkumpul sayang.. Kamu gak perlu takut."
Alvaro masih saja meneruskan jawaban untuk ucapannya yang tidak seberapa.
"Ada aku dan yang lain yang akan selalu mendoakan kalian. Jadi, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Itu hanya akan membuat kondisi kamu gak siap buat operasi nanti yank."
Tiara terisak dalam pelukan suaminya. Mengeluarkan semua sesak yang ia pendam. Semua rasa takut yang semakin mendekati hari H, justru semakin menghantuinya.
Ucapan Alvaro sedikit menanangkannya. Meski rasa takut itu tetap masih ada. Tapi dia akan mengikuti saran dari sang suami untuk berjuang semampunya. Berdoa semampunya. Dan menunggu hasil akhir yang Tuhan tetapkan untuknya dan keluarga.
__ADS_1
"Temenin aku ya Al pas operasi nanti.. Jangan tinggalin aku.. Aku takut.."
Alvaro mengusap punggungnya yang bergetar.
Bagian yang paling tidak ia sukai saat hamil besar adalah tidak dapat memeluk suaminya dengan benar.
Hanya bisa saling peluk dengan anak-anak mereka yang menjadi pembatas. Dan perutnya yang sangat besar, jelas bukan favoritnya saat berpelukan.
"Gak akan pernah sayang.." ciuman lembut terasa di ubun-ubun Tiara. "Aku gak akan ninggalin kamu seinci pun. Kalau perlu kamu borgol tangan aku biar percaya." imbuh Alvaro dengan kekehan kecil.
Tiara berdecak dan ikut tertawa.
"Aku takut gak bisa dampingi mereka untuk tumbuh di dunia ini.. Takut kamu cari mama baru yang salah buat mereka."
Alvaro kembali terkekeh dengan tingkah istrinya. Bisa-bisanya yang di takutkan malah dia menikah lagi.
"Kalau itu yang kamu takutin. Aku gak akan nikah lagi."
"Biar kamu jadi satu untuk selamanya.."
Bukan hal mudah membicarakan kematian di saat kondisi Tiara yang sebentar lagi akan melakukan operasi.
Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Dari yang paling berat adalah kematian. Atau yang lebih ringan seperti koma dan pendarahan.
Tapi, Alvaro berharap dan selalu berdoa untuk istri dan kedua anaknya agar sehat dan selamat.
Banyak orang yang sudah menantikan kelahiran si kembar. Berbagai perlengkapan hingga seisi kamar penuh dengan pemberian dari mereka yang menyayangi Tiara dan anaknya.
Baik dari keluarga besar. Sahabat. Hingga sahabat-sahabat orang tua mereka yang juga dekat dengan mereka berdua.
Kebahagiaan yang bukan hanya dirinya dan Tiara yang menantikan. Tapi juga banyak pihak yang sama mendoakan demi kelancaran saat operasi nanti.
*
*
*
Padahal udah di ketik dari semalem. Tapi baru bisa ngirim subuh 🤧
__ADS_1