
Semua sudah berkumpul memenuhi meja makan. Tinggal menunggu Tiara dan Alvaro untuk bergabung.
Setelah mandi dan bersiap, Tiara membantu Alvaro untuk pindah ke kursi roda. Mendorongnya menuju meja makan yang ada di lantai yang sama dengan kamarnya ini. Tadi Shevi berbalik kembali untuk memberitahu mulai sekarang mereka makan di lantai atas.
Di meja makan sudah lengkap anggota keluarga Tiara. Ditambah kedua mertua juga.
Tiara mendorong kursi Alvaro kesamping kursi dimana dirinya akan duduk. Keduanya menunduk malu. Tidak berani menatap wajah Shevi yang memergoki mereka bercumbu tadi.
Shevi juga ikut canggung. Sebenarnya lebih ke tidak menyangka anaknya melakukan hal seperti itu. Meskipun Tiara hamil dan sudah jelas mereka sering melakukannya. Tapi melihat secara langsung rasanya tetap aneh. Dan Shevi tidak menyangka gadis kecilnya bisa melakukan adegan dewasa seperti itu. Baginya Tiara masih gadis kecil yang sering ia tinggal kuliah dulu. Sehingga rasanya Shevi syok melihat Tiara dan Alvaro yang bercumbu seperti itu.
"Kalian kenapa?" tanya Alvin membuka suara. Melihat anak dan menantunya yang menunduk seperti maling yang tertangkap basah.
"Ee.. Engak papa kok dad. Kita cuma canggung aja karena udah baikan." ucap Tiara yang mengangkat wajahnya dan melirik mommy-nya. "Iya kan Al?" tanya Tiara kepada suaminya, meminta persetujuan.
"I-iya dad."
Alvin dan kedua orang tua Alvaro hanya menggeleng melihat keanehan kedua anak mereka. Sedangkan Shevi mengulum bibirnya agar tidak tertawa.
Ayah mertua berdeham. "Jadi, ayah datang kemari untuk mengantarkan abang pulang kepada kamu Tiara." ucap ayah dengan penuh wibawanya.
"Maafkan sikap keras kepala anak ayah. Maafkan juga dia yang sudah banyak menyakiti kamu dan memperlakukan kamu tidak baik."
Alvaro menunduk malu. Seharusnya dia yang meminta maaf. Tapi justru ayahnya yang mewakili untuk meminta maaf kepada mertua dan istrinya.
"Mungkin ayah yang kurang baik dalam mendidik." imbuhnya lagi.
"Abang, ayo minta maaf." ucap ibu lembut.
"Mom, dad, Tiara. Alvaro minta maaf dengan keegoisan dan tindak buruk Al selama ini sama Tiara." Alvaro menunduk malu. "Selama ini Al jadi pecundang yang takut tidak bisa membahagiakan Tiara dan memilih terpuruk alih-alih berusaha untuk kembali sembuh."
Alvaro kini sudah menyadari kesalahannya. Selepas Tiara pergi dengan tangis tadi siang dari rumahnya. Ibu memasuki kamar dengan muka merah penuh amarah. Bahkan ibu sampai menghubungi ayah untuk pulang saat itu juga.
Alvaro dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya.
"Kamu apain menantu ibu, bang?! kalau sampai terjadi apa-apa dengan menantu dan calon cucu ibu. Ibu tidak akan pernah memaafkan kamu!" seru ibu saat berdiri di hadapan Alvaro dengan penuh amarah.
__ADS_1
Alvaro mematung di tempat. Mencoba mencerna maksud dari perkataan ibunya.
Tak lama ayah yang memang sedang berada tidak jauh dari rumah langsung memasuki kamar Alvaro. Disana Ibu terduduk di tepi tempat tidur. Menutup wajahnya dan terisak.
"Ibu tahu kamu sedang kecewa sama takdir. Ibu tahu kamu sedang merasa tidak pantas untuk berada disamping Tiara. Tapi bukan melampiaskan dengan cara melukai perempuan yang tidak bersalah itu, abang!"
Ayah menghampiri ibu dan mengusap punggungnya. Ibu menjatuhkan wajahnya di dada sang suami.
"Dimana anak ayah yang selalu punya semangat tinggi?! selalu berhasil jika punya suatu tujuan?" tanya ayah tak kalah kecewa.
"Selama ini ayah diam bukan berarti ayah membiarkan kamu menyakiti istri kamu. Ayah hanya memberi kamu sedikit waktu untuk bisa bangkit kembali. Tapi jika kamu lebih memilih menyerah, maka tinggalkan Tiara! jangan kau sakiti dia seperti ini. Malu ayah sama orangtuanya, bang!"
Alvaro menatap kaget kepada ayahnya yang menyuruh dirinya meninggalkan istrinya. Dia memang ingin Tiara pergi. Tapi dengan sendirinya. Dengan kesadaran gadis itu bahwa Alvaro sudah tidak pantas lagi untuknya. Bukan berarti Alvaro ingin menceraikan dan meninggalkan Tiara.
"Al gak bisa ninggalin Tiara, yah. Aku sayang sama dia." cicit Alvaro yang menunduk menyesali segalanya.
"Kalau kamu sayang sama dia. Seharusnya kamu jaga dan pertahankan dia di samping kamu! jadikan dia semangat dan alasan untuk kamus sembuh! bukan malah menjadikannya kambing hitam untuk kamu memaki atas musibah yang menimpa kamu!"
Ayah memang selalu telak jika berbicara. Langsung pada inti dan sangat menohok bagi Alvaro.
Benar kata ayah. Seharusnya jika dia mencintai istrinya. Dia bisa menjadikan Tiara sebagai satu alasan untuk membuatnya semangat untuk sembuh. Membuatnya lebih berusaha lagi saat terapi. Bukan malah menyakiti dan menghindarinya terus-menerus seperti ini.
"Tapi Al malu bu. Apa daddy sama mommy masih mau menerima aku? apa Tiara masih mengharapkan aku setelah apa yang aku lakukan selama ini." Alvaro menyesal. Sungguh menyesal. Dia terlalu lama larut dalam keterpurukan dan melampiaskan semuanya kepada sang istri. Harusnya dia bisa berbagi beban dengan cara saling menguatkan. Bukan saling menyakiti seperti ini.
"Kalau kita tidak mencoba. Kita tidak akan tahu hasilnya. Apa lagi, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah."
Alvaro tercekat. Menatap ibunya meminta penjelasan lebih. "Ma-maksud ibu?"
"Tiara hamil. Kemarin waktu di rumah sakit dia sedang cek kandungan. Cucu ibu sudah dua bulan ternyata." mata ibu berkaca-kaca melihat anaknya menangis memeluknya.
"Aku akan jadi ayah, bu?" tanya Alvaro sekali lagi. Mendongak menatap sang ibu. Ibu mengangguk dan membelai rambut anaknya.
Alvaro kembali memeluk ibu dan menangis meraung-raung. Tangis haru dan bahagia. Sekaligus tangis menyesal memperlakukan istrinya tidak baik di awal kehamilan.
Alvaro mengangguk dan siap untuk meminta maaf, atau bahkan memohon jika perlu. Memohon agar istrinya kembali, dan mertuanya mau menerimanya lagi.
__ADS_1
Dan disinilah dia sekarang. Di tengah-tengah keluarga istrinya untuk meminta maaf.
"Kita semua tahu posisi Alvaro seperti apa saat ini. Jadi, kita tidak ada yang menyalahkannya. Mungkin saya sebagai ayah sempat sedih melihat putri yang saya cintai sedih berhari-hari. Tapi kita tidak pernah menyalahkan kamu Al. Kita hanya berdoa dan berharap kamu lekas pulih." Alvin tidak pernah menyimpan dendam dengan menantu maupun besannya. Dia mungkin akan melakukan hal yang sama jika di posisi Alvaro.
"Makasih Dad.. Kamu mau maafin aku kan yank?" tanya Alvaro beralih dari ayah mertuanya ke arah istrinya.
Tiara yang sudah berkaca-kaca mengangguk dan langsung di peluk oleh Alvaro. Mencium dahi istrinya dan mengucapkan terimakasih berkali-kali.
Semua senang, keadaan sudah kembali seperti semula. Mereka makan malam dengan di selingi obrolan dan canda.
*
Calon papa&mama muda
Aku ganti visualnya Tiara hihihi. Biar gampang cari fotonya yang bareng papa Al. Eh ternyata di drama mereka, karakter jung da bin pas meranin baek ho rang cocok buat jadi Tiara.
Aku juga sisipin visual mereka di beberapa episode. Cari aja wkwkwk... Biar tau ke uwuan mereka.
Salah satunya ada di...
*Mahkota Kekaisaran
*Perhatian Alvaro
*Sekolah
*Apartemen
*Gangguan malam
*Kecupan Pertama
*Aulia
__ADS_1
*Rindu
*Antara gengsi dan lapar