
" Apa abang gak merasa kalau aku suka sama abang?? aku sayang sama abang !! aku cinta sama abang !! "
Deg.
Alvin tidak tahu harus merespon seperti apa. Dia bingung harus menjawab apa agar gadis disampingnya ini mengerti tanpa membuatnya sakit hati atau tersinggung.
" Apa abang tak punya perasaan sedikitpun sama aku ?? jawab bang ?? " Shera berucap lirih dengan deraian air mata.
" Abang sayang sama Shera. Sama seperti abang sayang sama Rasya dan Shevi. Kalian itu adik - adik abang yang abang sayangi " Tidak mungkin Alvin mengaku kalau dia menyukai Shevi. Alvin tidak ingin menambah hancur hubungan kedua kembar itu. Toh dia belum mengungkapkan perasaannya kepada Shevi.
" Abang gak bohong kan?? abang gak punya persaan lebih sama Shevi kan ?? " Shera masih memandang Alvin menunggu jawaban pemuda itu.
" iya abang gak bohong " Alvin menjawab dengan sedikit ter gagap.
" Sekarang kamu baikan ya sama Shevi. Gak baik sodaraan tapi berantem kaya gini. Apalagi ini udah enam bulan lho ra.. " Alvin berusaha membuju Shera.
" Kamu gak boleh iri sama apa yang udah tuhan takdirkan di hidup kamu. Mungkin tuhan gak ingin kamu capek biar kamu bisa bebas dirumah. Banyak lho ra anak yang sekolah pada cabut pas jam pelajaran cuma karena pingin pulang ke rumah. Harusnya kamu bisa bersyukur dengan nikmat yang kamu dapetin sekarang. " Alvin menghapus air mata Shera dengan kedua ibu jarinya.
" Soal perhatian dan kasih sayang bukannya bunda sama abang adil dalam menyayangi kalian bertiga. Bunda gak pernah memihak satu diantara kalian. Begitu juga abang, karena abang menyayangi kalian berdua. "
" Dan teman - teman Shevi bukannya mereka teman - teman kamu juga ?? Bukannya selama main kerumah mereka juga baik sama kamu ?? gak pernah ngebedain anatar kamu dan Shevi ?? "
" Sebentar lagi kalian lulus SMA dan Shevi bakalan ninggalin kamu ke New York kan? Kamu pasti bakal ngerasa kehilangan banget nanti. Apalagi kalo kamu belum baikan abang jamin kamu bakalan nyesel.
Makanya sekarang manfaatin waktu bersama kalian dengan baik. Ciptain kenangan indah yang kalian bagi berdua sebelum jarak memisahkan kalian.
Mungkin sekarang kamu ngerasa baik - baik aja gak ada komunikasi sama Shevi. Itu karena Shevi masih ada didepan mata kamu. Kamu masih melihat dia baik - baik aja meskipun kamu sok - sokan gak peduli tapi hati kamu masih bisa merasakan itu.
Kamu beruntung masih punya adek ra. Sedangkan abang gak punya saudara kandung kaya kamu yang tiap pagi dan malam kamu bisa melihatnya dan berbagi suka dan duka.
__ADS_1
Abang minta sama kamu jaga hububgan persaudaraan kalian dengan baik. jangan sampai hancur cuma gara - gara hal sepele kaya gini.
Bunda pasti sedih banget tiap hari liat anaknya gak pada saling sapa dan diem - dieman begitu." Alvin mencubit pipi Shera pelan sembari memberikan senyumannya.
Benar apa yang dikatakan Alvin. Bunda maupun Alvin memang tidak pernah menbedakan antara mereka berdua. Tidak pernah tidak adil dalam menyayangi.
Teman - teman Shevi juga kalau sedang bermain kerumah selalu mengajaknya bergabung dengan mereka. Bahkan sikap mereka sudah menganggap Shera seperti sahaabat mereka sendiri. Tapi kenapa dia masih saja iri??
Wajar jika saat itu Alvin dan Bunda sangat perhatian pada Shevi karena Shevi sedang sakit. Bukankah kalau dirinya yang sakit mereka semua juga akan perhatian padanya? Bahkan Shevi juga sangat perhatian dan bela - belain menungguinya tidur dirumah sakit yang hanya tidur disofa hanya untuk menjaganya. Tapi kenapa mata hatinya begitu tertutup dengan rasa cemburu. Sampai semua perhatian dan pengorbanan adiknya dia lupakan.
***
Setelah matahari mulai pulang keperaduannya Alvin mengajak Shera untuk pulang. Sesampainya dirumh Shera langsung turun dari motor sedangkan Alvin masih duduk di atas motornya.
" Ya udah abang pulang dulu. Kamu baikan ya sama Shevi. Besok pagi abang jemput buat ikut nganterin abang dan abang harap kalian sudah baikan. oke !! " Alvin mengusap lembut kepala Shera yang hanya diangguki oleh Shera dan Alvin berlalu menggunakan motornya pulang.
Setelah Alvin tak terlihat Shera membalikkan tubuhnya dan masuk kedalam rumah. Dia mendengar Shevi sedang tertawa bersama bunda didapur memasak untuk makan malam.
Tok Tok Tok
Shera mengetuk pintu pelan tanpa mengeluarkan kata sapaan.
Tak lama pintu terbuka dengan Shevi yang sudah siap dengan baju tidur dan boneka ditangannya.
" Tumben kesini. Kenapa kak ?? " Shevi bertanya malas.
" Boleh masuk gak ?? " Shera sedikit gugup.
Shevi membuka pintunya lebar serta memberi kode dengan dagunya agar Shera masuk.
__ADS_1
Shera melangkah masuk dan mendudukan dirinya diatas tempat tidur Shevi. Shevi menutup pintu dan melangkah mendekati Shera. Shevi masih duduk diam menunggu Shera menjelaskan tujuannya datang ke kamarnya malam - malam begini.
Setelah tercipta keheningan yang cukup lama akhirnya Shera berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya sebelum mulai berbicara.
" Aku mau minta maaf sama semua sikap aku yang gak jelas ke kamu selama beberapa bulan ini dek. " Shevi menghela nafas setelah tahu tujuan kakaknya datang.
" Kenapa kakak tiba - tiba minta maaf ? " Nada bicara Shevi mulai melembut seperti dulu saat dia berbicara dengan Shera.
" Tadi abang udah nyadari aku kalau gak seharusnya aku iri sama kehidupan kamu. Maaf dek.. selama ini aku ngerasa hidup ini gak adil dan hanya baik sama kamu. Hidup ini terlalu jahat sama aku. Kamu bisa sekolah, bisa bebas berlari dan memiliki banyak teman sedangkan aku apa ?? " Shera mulai menangis lagi dihadapa Shevi.
Shevi ikut berkaca - kaca melihat kakaknya menangis dan merasa seperti itu dalam hidupnya.
" Maaf kalo kakak sempet benci sama kamu. aku sempet berandai - andai. andai kembaranku cowok pasti aku gak akan iri sama apa yang dia miliki. Andai aku gak punya kembaran pasti aku gak akan memiliki penyakit yang gak bisa sembuh begini. Andai kalian lebih ngerti perasaan aku. Tapi aku sadar dek. Kalau aku hanya cemburu karena bang Alvin deket sama kamu. "
" Tapi kan abang - " Kalimat Shevi terpotong dengan kata - katanya Shera.
" Iya, abang sama - sama menyayangi kita. Aku aja yang gelap mata karena saat kamu sakit semua orang peduli sama kamu dan aku dilupain. Padahal saat aku sakitpun kalian semua peduli bahkan kamu rela gak masuk sekolah demi jagain aku. Tapi mata aku gelap dek, aku sudah terbiasa diperhatikan saat sakit jadi tidak bisa menerima perhatian orang ke kamu saat kamu sakit. Maafin kakak dek " Shera memeluk eraf tubuh Shevi yang bergetar karena menangis sama seperti dirinya.
" Shevi maafin kok kak.. Maafin aku yang gak peka sama perasaan kak Shera ya. Maaf aku jadi adik gak tahu diri merebut semua perhatian orang dari kakak. " Shevi nangis sesenggukan.
" Kamu gak salah kok dek. Aku aja yang terlalu egois "
Malam itu mereka meluapkan semua perasaan mereka yang terpendam. Shera juga menceritakan bahwa dia sudah mengaku kepada Alvin jika dia mencintai pemuda itu. Ada sedikit rasa sakit terselip dihati Shevi saat mendengar itu. Tapi langsung tercipta rasa lega saat Shera bilang jawaban Alvin yang menganggap mereka adik tidak lebih. Entah perasaan apa itu Shevi tidak tahu.
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading 💕