
Dunia Pita serasa berhenti berputar. Apa ia tak salah dengar barusan?
Alvaro mengenalkan seorang wanita muda sebagai istrinya?
Lalu kedekatan mereka selama ini di anggap apa oleh pria itu?
Bahkan di usia semuda itu, mereka sudah memiliki dua anak yang sudah sebesar itu.
Lalu di usia berapa mereka menikah?
Dan sialnya lagi, istri Alvaro begitu cantik!
Meski tidak berdandan ala wanita-wanita anggun seperti dirinya. Tapi hanya dengan pakaian kasual saja istri Alvaro sudah terlihat menarik.
Begitu banyak pertanyaan dalam pikirannga. Hati Pita juga rasanya seperti di remas. Tertancap sebuah belati yang tak kasat mata. Yang begitu dalam menorehkan luka.
Pria idamannya. Pria yang ia coba dekati dan berharap suatu hari nanti mereka bisa bersama dalam ikatan cinta. Nyatanya sudah memiliki istri.
"Hahahaha.. hahahah.."
Pita tertawa bodoh. Menertawakan kebodohannya yang tidak tahu jika pria yang ia kejar telah beristri.
Tiara dan Alvaro bahkan saling pandang melihat keanehan Pita yang tiba-tiba tertawa. Padahal tidak ada yang lucu di sana.
Tiara bahkan takut gadis itu kesurupan atau apa. "Temen kamu sehat kan, Al?" bisik Tiara di telinga suaminya.
Alvaro yang masih menatap heran pada Pita mengangguk samar.
"Bodohnya gue.. hahaha.."
Alvaro menelan ludahnya kelat. Merasa bersalah sekaligus kasihan pada Pita.
Dia memang tidak pernah menceritakan tentang istri dan juga anak-anaknya. Bukan karena ia sengaja. Bukan! Itu karena ia kira Pita tahu tentang statusnya sebagai seorang suami seperti yang lainnya yang juga mengetahui hal tersebut.
Dan Alvaro juga tidak buta untuk tidak melihat Pita yang jelas-jelas menaruh rasa padanya. Bahkan hingga ia hampir terlena dan berpaling pada gadis itu.
"Ade sama abang turun dulu ya, main sama tante Nila sama Oom Dika dan lainnya dulu di bawah. Oke."
Alvaro takut akan ada hal buruk yang tak pantas di lihat kedua putranya. Untuk itu ia menyuruh kedua jagoannya untuk bermain di bawa.
__ADS_1
"Oke, papa!" jawab keduanya kompak. Sebelum pergi mereka melakukan tos dengan papanya bergantian.
Alvaro memanggil Nila untuk mengajak anak-anaknya bermain di bawah, kalau bisa di lur.
"Hati-hati! jangan lari!" seru Tiara ketika kedua bocah itu berebut untuk turun dalam gandengan Nila.
"Sukses di kibulin gue." gumam Pita dengan menggelengkan kepalanya.
Mulutnya mungkin bisa berbicara sinis bahkan mungkin memaki. Tapi hatinya begitu sakit dan tidak bisa menerima kenyataan ini. Dia sudah terlanjut mencintai Alvaro.
Matanya memanas. Bahkan jika dia bukan gadis yang pandai menahan diri, mungkin air matanya sudah mengalir sejak tadi.
"Ada apa sih, ini?" tanya Tiara bingung. Tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Jadi maksud lo deketin gue selama ini apa, Al?!" Pita mulai memuntahkan emosinya. Tak peduli dengan kebingungan istri prianga. "Apa artinya kedekatan kita selama ini, kalau ternyata lo udah punya istri?!"
Deg. Alvaro menatap istrinya takut. Istri yang tengah menatapnya tajam dengan muka merah padam menahan amarah.
Ia tahu istrinya marah. Tapi Tiara bukan tipe yang akan memakinya di depan umum-kecuali saat mereka SMA dulu. Apa lagi setelah memiliki anak. Wanitanya itu lebih menjaga pertengkaran entah soal salah paham atau masalah kecil seperti perbedaan pendapat untuk di selesaikan di dalam kamar.
Bukan. Bukan diselesaikan dengan adegan di atas ranjang seperti yang kalian bayangkan. Tapi di selesaikan di dalam kamar agar orang luar tidak ada yang tahu jika mereka sedang bertengkar. Terutama agar anak-anak tidak melihat dan mendengar.
"Tapi kan, lo yang minta di ajarin bikin skripsi. Bukan gue sengaja ngejar-ngejar lo." sanggah Alvaro dengan nada tetap tenang dan tidak menaikan nada bicaranya agar tidak semakin menyakiti hati Pita.
Hati Tiara sudah semakin panas. Wanita itu memejamkan matanya. Napasnya terasa berat. Terlihat dadanya yang naik turun untuk tak langsung memuntahkan amarahnya di tempat.
"HARUSNYA LO BILANG! Harusnya lo bilang kalau lo udah punya anak istri." pekik Pita histeris dan memukuli tubuh Alvaro di bagian mana saja yang ia jangkau.
Alvaro mencoba menahan tangan gadis yang sedang kalap itu. "Gue kira lo tau."
"Bagaimana gue tau kalau lo gak pernah bilang, hah?! bahkan lo gak pernah nolak setiap hari gue datang ke sini untuk ngerjain TA!"
Mulut Tiara ternganga. Menatap tak percaya pada suaminya.
Setiap hari ngerjain TA bersama? dan suaminya tidak pernah cerita?
Ini yang bodoh ia dan gadis itu, atau suaminya yang terlalu pandai berbohong?
"Lo pikir hati gue apaan, Al? lo lambungin gue tinggi-tinggi dengan sebuah harapan. Dan sekarang lo jatohin gue bahkan ke lubang terdalam!"
__ADS_1
Pita masih terus berteriak dan memukuli tubuh Alvaro dengan tangan gadis itu yang masih di cekal pria itu.
Sebenarnya Tiara sudah muak melihat drama kedua orang di hadapannya. Tangannya sangat gatal ingin menampar kedua orang tak tahu malu itu.
Tapi.. inhale.. exhale.. mencoba menarik napas dalam dan mengeluarkan agar ia tak berubah jadi monster di sana. Dia tidak boleh ikut kalap dan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan karyawan suaminya.
Meskipun tak ada orang lain selain mereka bertiga. Tapi Tiara yakin, mereka yang ada di bawah pasti mendengar semua pertengkaran mereka. Terutama gadis yang tengah berteriak-teriak itu.
"Gue gak ada maksud untuk ngasih harapan buat lo, Pit."
"Hahaha.." Pita kembali tertawa getir. "Kalau lo gak bermaksud. Seharusnya lo lebih bisa jaga jarak dari gue."
Alvaro merasa tertohok. Ujung matanya melirik istrinya yang sudah kembali memejamkan mata dengan mulut sedikit terbuka mengeluarkan napasnya keras-keras.
"Cewek mana yang dekat dengan cowok dan gak berharap lebih? apa lagi cowok itu welcome?!"
"Pegang aja terus! gak usah di lepasin tuh tangan!" cibir Tiara yang berdiri dan melipat tangannya.
Alvaro langsung melepaskan cekalan tangannya pada Pita yang sedari tadi tak berhenti untuk memukulnya.
"Selesaiin deh urusan lo berdua."
Alvaro langsung berdiri mensejajarkan dirinya dengan sang istri. Mencoba meraih namun di tepis.
"Setelah urusan kalian selesai. Pulang!" Tiara menaikkan alisnya ketika mengucap kata pulang. "Jelasin semuanya di rumah!"
Belum sempat Tiara berlalu, tangannya sudah dicekal.
"Mau kemana? dengerin dulu semua biar kamu gak salah paham!" ucap Alvaro tegas tak membiarkan istrinya untuk pergi.
Kini giliran Tiara yang mendengus dan tertawa sinis. "Salah paham? dimana letak salah paham, kalau seandainya lo yang denger gue tiap hari berdua cowok dan gak izin atau sekedar bilang ke elo?!" tantang Tiara.
Alvaro bingung harus menyanggah ucapan istrinya bagaimana. "Tapi aku gak berpaling, sayang?"
"Didepan gue lo bilang sayang. Di belakang, lo main api!" cibir Tiara yang langsung menghempaskan tangan suaminya dan berlalu turun.
Alvaro yang sudah akan menyusul di tarik paksa oleh Pita. "URUSAN KITA BELUM SELESAI!!"
*
__ADS_1
*
*