
Pagi harinya Shevi mulai membuka kelopak matanya. Dia mencoba menyesuaikan cahaya yang ada diruangan itu dengan menyipitkan matanya.
Dia mengamati sekeliling ruangan. Ada bunda yang sedang tidur disampingnya sambil menggenggam tangannya. Ada Alvin dan Gio juga sedang tidur disofa yang ada diruangan itu.
Setelah mengamati dia baru sadar jika sekarang dia ada dirumah sakit. Benar, semalam dia bertemu dengan orang jahat dan untung saja ada Gio yang menolongnya.
Shevi mencoba menggerakan tubuhnya karena rasanya sangat kaku. Berapa lama dia tertidur.
" Akkhh " Shevi mendesis merasakan sakit pada pundak sebelah kanannya.
Bunda yang mendengar Shevi mendesis langsung bangun.
" Kamu sudah sadar sayang. Mana yang sakit ?? Biar bunda panggil dokter buat periksa " Bunda langsung memencet tombol merah yang ada diatas brangkar tempat Shevi berbaring.
" Haus bunnn " Rengek Shevi manja.
Bunda tersenyum dan mengambil gelas yang ada diatas nakas dan membantu Shevi minum lalu mengembalikan kembali gelas tersebut keatas nakas.
Bunda mengusap pelan rambut Shevi dan memberikan kecupan sayang didahinya. Bunda senang Shevi sudah sadar dan baik - baik saja. Semalam Bunda sempat khawatir kalau bisa saja Shevi mengalami trauma atau apapun itu.
Pintu terbuka dan masuklah dokter beserta perawat yang akan memeriksa kondisi Shevi.
" Gimana keadaan putri saya dok ?? " Tanya bunda Karina saat dokter selesai memeriksa.
" Putri ibu kondisinya bagus tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Besok sudah boleh pulang " Dokter tersenyum kearah Bunda dan Shevi.
" Tapi Shevi maunya pulang sekarang bunnn.. Shevi ga betah disiniii " Shevi merengek menampilkan ekspresi sedihnya.
" Kalau pulang hari ini gimana dok?? " Bunda yang tak tega akhirnya meloloskan permintaan putrinya.
" Boleh. Asal jangan banyak gerak dulu. Takutnya tulangnya bergeser lagi " Perintah dokter
" Siap dok.. aku nggak akan banyak gerak, aku cuma mau pulang aja " Shevi menampilkan deretan Giginya yang rapi itu. Membuat yang ada disana tersenyum dan menggelngkan kepalanya.
" Ya sudah nanti saya kasih surat kepulangannya dan ingat untuk kontrol satu minggu lagi "
" Iya dok terimakasih banyak "
__ADS_1
Setelah dokter keluar bunda langsung membangunkan Alvin dan Gio untuk menjaga Shevi karena dia mau mengurus kepulangan Shevi dulu.
Sepeninggalnya bunda Alvin dan Gio mendekati brangkar Shevi. Alvin menatap tajam Shevi penuh amarah yang membuat hati gadis itu mengkerut takut.
" Abang apaan si mukanya serem tau " Shevi bersuara setelah lama terjadi keheningan.
" Lo kenapa si dek susah banget diatur?? udah tau malem kenapa naik sepeda !! Disini aja lo gak bisa jaga diri !! apa lagi di New York nanti !! lo mau bikin gue jantungan juga kaya Shera karena selalu khawatirin lo !! " Alvin memuntahkan semua yang ada didalam hatinya saat tahu Shevi hampir saja celaka.
" Maaf bang " Cicitnya takut sambil menundukan pandangannya.
" Emang dengan lo minta maaf lo bakal baik - baik aja !! "
" Udah lah Vin. Kasihan kan Shevi baru sadar masih sakit gitu " Gio mencoba menenangkan sahabatnya.
Alvin menghela nafasnya frustasi. " Gue cuma pengen lo tau dek kalo banyak orang yang sayang dan khawatir sama lo. Jadi lo harus bisa jaga diri lo baik - baik. Lo gak mikir apa bunda merasa bersalah sama ayah karena ga bisa jagain lo. Untung ada Gio, Kalo gak ada gimana nasib lo " Tambah Alvin dengan sedikit menurunkan emosinya.
Shevi menangis saat mendengar bunda menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaganya. Padahal ini salahnya sendiri bukan salah Bunda.
" Kak Gio makasih ya udah nolongin gue " ucap Shevi dengan suara lirih ditengah tangisnya.
***
Satu minggu sudah Shevi keluar dari rumah sakit. Kondisinya juga susah baik - baik saja. Bebat dipundaknya juga sudah dilepas saat kontrol kemarin.
Saat satu minggu dirumah Shevi tak pernah merasa bosan karen banyak yang menjenguknya. Dari orang tua Alvin yang sudah seperti orang tuanya sendiri, Om Julian dan tante serta sepupunya juga datang dan tak kalah khawatirnya. Dan yang paling membuatnya senang adalah kehadiran teman - temannya yang selalu membuat kegaduhan dirumahnya tapi membawa kebahagiaan untuknya.
Bunda juga sangat perhatian dan memanjakannya saat dia sakit. Yang biasanya sibuk bekerja dari pagi hingga sore, bunda tidak masuk kantor untuk lebih fokus mengurus Shevi.
Benar kata Alvin banyak orang yang sayang dan khawatir padanya. Jadi dia harus bisa menjaga diri baik - baik.
Alvin juga sudah tidak marah lagi padanya. Dia hampir setiap hari datang dan memberi perhatian lebih pada Shevi selama seminggu ini. Dan itu membuat Shera iri dan cemburu. Bagaimana tidak cemburu kalau orang yang dia cintai lebih sayang dan perhatian pada gadis lain. Apalagi gadis itu adiknya sendiri.
Seperti hari ini Alvin pagi - pagi datang membawa makanan masakan maminya dan menyuapi Shevi. Padahal tangannya sudah sembuh dan Shevi menolak tapi Alvin tetap kekeh ingin menyuapinya sambil bercanda.
Shera yang ada disebelah Shevi lama - lama tidak tahan juga dan memilih untuk pergi
" Mau kemana kak ? " Tanya Shevi yang melihat Shera akan bangun dari duduknya.
__ADS_1
" Aku mau kekamar aja mau istirahat " Jawab Shera dengan senyum yang dipaksakan.
" Kakak kenapa ? kakak sakit ? " Tanya Shevi cemas.
" Kan aku emang sakit dari lahir " katanya ketus dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
" Bukan gitu kak maksud aku " Shevi mengejar dan menarik tangan Shera agar mau berhenti.
" Iya aku tau kok. Aku aja yang sensi. Udah sana dihabisin sarapannya, aku mau Istirahat dulu " Shera melepaskan pelan pegangan Shevi dan berlalu menaiki tangga.
Setelah Shera tidak kelihatan Shevi balik lagi duduk di sebelah Alvin.
" Kak Shera kenapa ya bang?? " Tanyanya dan tak mau lagi memakan sarapannya.
" Udah gak usah dipikirin mungkin dia lagi capek " Alvin meletakan tempat makannya dimeja dan menenangkan Shevi.
***
Sementara dikamar Shera sedang menangis. menangisi keadaanya yang tidak seberuntung saudara kembarnya. Mungkin kalau kembarannya cowok dia tidak akan merasa iri seperti ini. Dan mungkin nasibnya tidak akan seperti ini.
Kenapa semua orang lebih sayang sama Shevi. Bahkan bang Alvin juga lebih peduli dan perhatian kepad Shevi. Bukankah Shevi sudah banyak yang perhatian. Dia punya banyak teman yang care sama dia. Kenapa kak Alvin juga harus memberikan perhatiannya lebih pada Shevi. Tak bisakah Alvin perhatian padanya sama dengan dia perhatian pada Shevi atau bisakah Alvin hanya perhatian padanya bukan pada gadis lainnya.
Sungguh bukannya Shera tidak sayang dengan Shevi. Dia amat menyayangi adik kembarnya itu. Sama halnya Shevi menyayanginya begitu juga dia menyayangi Shevi.
Shera hanya iri terhadap keadaan. Dia iri karena Shevi sehat sedangkan dia tidak. Dia iri Shevi bisa sekolah sedangkan dia home schooling. Dia iri Shevi punya banyak teman yang care sedangkan dia tidak punya teman sama sekali. Dia lebih iri lagi karena Alvin begitu perhatian terhadap Shevi.
Kenapa kehidupan ini tidak adil pada mereka berdua. Apa salahnya dimasa lalu sehingga dia mendapatkan hukuman seperti ini.
" Kenapa ayah gak ajak Shera pergi sama ayah aja " Lirih Shevi dianatara isak tangisnya.
*
*
*
Happy Reading 💕
__ADS_1