DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Dunia Baru


__ADS_3

Malam yang Tiara dan Alvaro miliki kini berubah. Siang jadi malam. Malam jadi siang.


Abang setiap malam bangun dan enggan untuk terlelap kembali. Jika siang bayi itu justru sangat nyenyak dengan tidurnya. Bahkan jika tidak di bangunkan untuk menyusu, bayi yang baru berusia beberapa hari itu tidak akan bangun.


Acara aqiqah dan pemberian nama selesai sore tadi. Tiara rasanya lelah sekali. Jika malam begadang menemani abang. Siangnya ia akan ke rumah sakit menemani ade.


Meski jika malam ia selalu bergantian dengan sang suami. Tapi tetap saja lebih banyak Tiara yang menemani anak mereka.


Ibu muda itu tidak tega jika Alvaro begadang semalaman. Sedangkan suaminya pagi hari sudah harus kuliah di lanjut bekerja. Sedangkan anak mereka baru akan tertidur menjelang subuh dari tengah malam.


Cafe yang di miliki Alvaro akan membuka cabang (lagi) membuat pemuda itu lebih sibuk akhir-akhir ini. Belum lagi pembukaan kantor untuk jasa arsiteknya. Dengan mempekerjakan beberapa sahabat Alvaro yang juga dibidang yang sama. Berharap dengan kantor barunya, ia bisa memiliki lebih banyak lagi klien. Dan banyak tangan yang akan membantu untuk penggarapan gambar. Agar dia bisa memiliki waktu lebih dengan keluarga setelah kantornya berjalan.


Tengah malam seperti biasa abang akan terbangun. Biasanya hanya merengek dan setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan akan langsung diam dan bermain sendiri meski selalu dalam pengawasan. Kadang di bacakan cerita atau dinyanyikan untuk menemani bayi itu begadang.


Tapi malam ini berbeda. Abang menangis kencang seakan ada yang di rasakan. Padahal Tiara sudah mengecek popok yang masih kering. Juga suhu abang normal, menandakan anaknya sehat-sehat saja.


Tapi bayi kecilnya itu terus menangis dan menolak untuk menyusu. Membuat seisi rumah terbangun dan membantu menenangkan.


"Sayang.. Jangan nangis dong.. Cup cup cup.. anak mama pinter.." Tiara yang baru pertama kali mengalami hal seperti itu merasa takut dan khawatir. Ibu muda itu bahkan mencoba menyusui dengan berdiri dan menimang anaknya. Tapi abang Fari sama sekali tidak tertarik dan terus saja melengkingkan tangisannya.


Sebenarnya apa yang di rasakan anaknya hingga menangis kencang seperti itu membuat ia juga ikut meneteskan air mata.


"Sini coba sama mommy.. Kamu angetin ASIP aja, biar mommy susuin."


Tiara mengangguk dan baru akan beranjak menuju meja dimana perlengkapan ASIP anaknya berada, tubuhnya sudah di bimbing untuk duduk di tepi tempat tidur oleh suaminya.


"Kamu duduk aja. Biar aku yang ambil." ucap Alvaro lembut sembari mengusap bahu istrinya supaya rileks.


Jika Tiara stres, bisa-bisa anaknya akan semakin merasa tidak nyaman.


Disaat mommy masih mencoba menenangkan abang, ponsel di atas nakas berbunyi. Alvaro mengerutkan dahi saat nomor rumah sakit menghubunginya tengah malam seperti ini.


Ada rasa khawatir dan tidak nyaman saat memikirkan ade yang barada di sana. Dengan perasaan tak menentu Alvaro mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Halo selamat malam.." kedua mata Alvaro sempat membulat, tapi langsung berusaha mengontrol emosinya agar terlihat biasa saja.


Tiara mengernyit penasaran siapa yang menghubungi suaminya tengah malam seperti ini. Dan kenapa suaminya sempat terlihat khawatir meski langsung di tutupi.


"Aku ke rumah sakit sebentar ya yank. Ade juga rewel di sana. Mungkin tau abang lagi nangis kejer jadi ade ikutan."


Meski merasa curiga, namun Tiara mengizinkan. Karena anaknya memang punya satu plasenta, jadi tidak heran jika bisa merasakan perasaan kembarannya meski jarak memisahkan mereka.


"Bilang sama ade, kalau mama sayang sama dia. Maaf gak bisa nemenin ade karena disini abang juga rewel."


Alvaro mengangguk dan mencium dahi istrinya sebelum mengambil jaket dan kunci mobil.


***


Mendengar kabar anaknya drop dan demam, membuat Alvaro berlari kalang kabut sepanjang koridor rumah sakit.


Pantas saja abang tiba-tiba rewel. Ternyata anak itu merasakan jika saudara kembarnya sedang dalam kondisi kritis.


Sampai di ruang NICU, ada beberapa tim medis yang mengelilingi inkubator anaknya.


Salah satu dokter menjelaskan jika anaknya sempat gagal pernapasaan. Beberapa saat anaknya berhenti bernapas sebelum kemudian demam. Untung dokter langsung menangani dan menyelamatkan anaknya dari kematian. Dan saat ini Dokter sedang mencari tahu penyebabnya.


Untuk pertama kalinya ia di perbolehkan menggendong Vindra selama anak itu masuk ruang NICU setelah beberapa saat di lahirkan.


Dan ajaibnya, anak yang masih menangis dengan suara menyayat itu langsung terdiam dan tertidur di atas dadanya yang tanpa di balut pakaian.


Dokter menyarankan proses kanguru untuk menjaga suhu tubuh bayinya agar tidak kedinginan.


"Anak papa kuat. Ade Vindra kuat. Mama tadi titip salam buat ade. Katanya mama sayang banget sama ade. Abang juga sayang. Abang lagi nangisin ade lho di rumah. Abang pengen ade cepat pulang. Jadi ade Vindra harus cepat sehat. Gak boleh sakit seperti ini ya.. Biar kita cepat pulang bareng mama dan abang."


Alvaro terus saja berbicara dan bercerita apa saja untuk anak keduanya itu. Menyampaikan harapan dan doa juga untuk anaknya supaya cepat sehat.


Dua jam ia menggendong anaknya hingga ia bisa merasakan suhu tubuh anaknya berangsur turun. Dokter mengambil alih untuk sang anak kembali di letakan di dalam inkubator.

__ADS_1


Alat medisnya memang sudah beberapa di lepas. Hanya beberapa yang masih di pertahankan. Untuk ASIP Vindra juga sudah bia menghisap langsung dari botol susu.


Semalaman Alvaro menunggu Vindra. Menjelang subuh, saat kondisi Vindra mulai stabil ia beranjak pulang. Berharap bisa memejamkan matanya barang sebentar sebelum jam sepuluh nanti ia sudah harus berangkat kuliah.


Sampai di rumah, papa muda itu melangkahkan kaki dengan lunglai ke lantai dua dimana kamar sang istri berada. Rumah masih sepi, hanya beberapa pelayan yang sedang membereskan rumah.


Alvaro tersenyum mendapati Tiara yang tertidur pulas di samping Fari yang juga terlelap dengan dua tangan di samping kepala.


Mendaratkan ciuman hangat di dahi istri dan anaknya sebelum ikut bergabung merebahkan diri di sisi lain anaknya.


"Jagoan papa. Kebanggaan papa." bisik Alvaro saat mencium pipi bulat anaknya.


Dalam hati ia berharap kehidupan rumah tangganya akan kembali normal. Anaknya cepat keluar dari rumah sakit dan tumbuh dengan baik.


Agar istrinya juga tidak lelah jiwa raga memikirkan dan merawat kedua buah hati mereka yang baru lahir ke dunia.


"Maafkan aku sayang.. Kalau aja aku gak ceroboh dan bikin kamu hamil di usia muda. Mungkin kejadiannya gak bakal kaya gini."


Ada sedikit rasa sesal di hati Alvaro. Jika dia menghitung dengan cermat masa subur istrinya. Atau jika ia bisa menahan untuk tidak menumpahkan benihnya dalam rahim sang istri. Pasti Tiara tidak akan hamil muda. Disaat kondisi tubuhnya yang belum siap menerima proses kehamilan. Karena memang hamil di usia dibawah 19 tahun terlalu beresiko. Baik untuk anak atau untuk sang ibu.


Tapi di balik rasa sesalnya. Ada begitu besar rasa bahagia bisa melihat kedua putra yang di dalamnya mengalir darah yang sama dengan dirinya. Menampung DNA yang ia miliki.


Pemuda itu bahkan tak pernah lupa mengucapkan terimakasih setiap hari untuk sang istri yang telah mengahdirkan dua makhluk lucu itu dalam hidupnya.


*


*


*


Maaf ya masih kurang dialognya. Kita lagi cerita kehidupan baru mereka dulu.


Dan maaf udah telat up-nya 🤗

__ADS_1


__ADS_2