DEMI DIA

DEMI DIA
Ekstra Part 6 (Lifetime with you)


__ADS_3

Pesta pernikahan Dika selesai pukul sebelas malam. Anak-anak Tiara sudah di ajak pulang oleh daddy Alvin dan mommy Shevi jam sepuluh tadi. Selain tidak baik untuk anak-anak begadang. Juga karena acara selanjutnya memang di khususkan untuk para anak muda.


Suami Pricilla yang malas pulang karena jauh, memilih untuk mereservasi kamar di hotel tersebut.


Begitu juga dengan Alvaro yang tidak mau kalah. Ikut menginap di hotel meski rumah mereka bisa di tempuh dalam waktu tiga puluh menit.


"Ngapain sih yank, nginep segala?" protes Tiara. Padahal ia ingin pulang dan istirahat. Ingin bangun siang di rumah selagi tidak ada anak-anak yang memilih menginap di rumah orang tuanya.


"Biar gak kalah sama Dika, lah." jawab Alvaro dengan senyum terselubung.


Tiara mengerutkan dahi. "Kalah apaan?"


Alvaro merangkul bahu istrinya. Membimbing wanita itu menuju kamar yang sudah ia pesan khusus dari jauh hari.


"Kalah malam pertama." bisik Alvaro tepat di telinga Tiara. Membuat wanita itu bergidik geli.


Tangannya memukul dada suaminya pelan. "Ya ini kan memang malam pertama mereka. Kita mah sudah expired!"


"Ini juga bukan malam pertama buat pengantin baru itu. Mereka juga pasti udah tiap malam ngelakuinnya. Hanya karena mereka pengantin baru aja."


Tiara terkekeh dan menggeleng. Sejak kapan suaminya menjadi irian seperti ini.


Meskipun sedikit banyak ia paham keinginan suaminya. Dulu mereka memang tidak merasakan malam pengantin dengan semestinya. Mereka masih terlalu belia untuk melakukan hal seperti itu. Meskipun mungkin saat itu Alvaro ingin tapi tak berani mengungkapkan keinginannya.


Jadilah malam itu menjadi malam bergairah tak hanya untuk sepasang pengantin baru. Tapi juga untuk pasangan yang sudah satu dasawarsa menikah itu.


Di dalam kamar yang juga di hias cantik nan romantis seperti layaknya kamar pengantin baru, keduanya memadu kasih dalam bahasa tubuh. Saling memberi dan memuaskan. Tak jarang kata cinta terucap.


***


Dikamar lain, Pricilla berdiri termenung memandang kerlip lampu di bawah sana. Kota tempatnya lahir dan besar yang seakan tak pernah tidur.


Kota yang satu tahun kebelakang ia tinggalkan untuk mengikuti dan mengabdi pada sang suami. Menjadi istri dan menantu yang baik untuk suami dan mertuanya.


"Kenapa?" tanya Aldo yang baru selesai membersihkan diri. Memeluk istrinya yang tengah melamun di balkon dari belakang.

__ADS_1


"Eh. Mas sudah selesai?" Pricilla memiringkan kepalanya untuk bisa menatap sang suami. "Lho, masih pakai handuk." pekik Pricilla begitu mendapati sang suami yang ternyata belum mengenakan pakaian. Membuat pria itu terkekeh dan mengecup bahu sang istri.


"Masuk, mas. Disini dingin, masuk angin malah nanti."


Setelah selesai berganti baju, Aldo menarik istrinya untuk duduk di sebelahnya. Bersandar di kepala tempat tidur.


"Kenapa sedih? bukankah harusnya kamu bahagia melihat sahabatmu menikah?" merengkuh bahu sang istri. Membawa kepala Pricilla untuk bersandar di dadanya.


"Sahabatku satu persatu sudah mulai menikah." ucap Pricilla lirih. Terdiam cukup lama hingga sang suami kembali bertanya.


"Lalu kenapa? kita juga sudah menikah, jadi apa yang kamu khawatirkan?"


Aldo yang memang lebih dewasa, selalu bisa mengalah dengan segala sifatnya. Menenangkan di saat ia gelisah, takut, khawatir. Aldo selalu bisa menjadi suami terbaik untuk dirinya.


Tapi karena suaminya yang begitu sempurna dimatanya itu lah rasa khawatir selalu menghantuinya.


Ia takut mengecewakan suaminya. Takut tidak bisa memberikan keturunan untuk Aldo. Dan takut di tinggalkan.


"Mereka pasti satu persatu akan menyusul Tiara untuk memiliki buah hati. Tapi aku..." kalimat Pricilla menggantung.


"Kamu ingin kita berusaha secara medis?" Aldo tidak pernah mempermaslahkan tentang keturunan. Begitu juga keluarganya.


Dia yang terlahir menjadi anak bungsu dari dua bersaudara tidak memiliki kewajiban untuk memberikan orang tuanya cucu.


Sang kakak perempuannya sudah memberikan kedua orangtuanya tiga orang cucu yang lucu-lucu. Sehingga orangtuanya tidak pernah mendesak mereka untuk segera memiliki anak.


Pricilla menggeleng. "Aku hanya takut akan mengecewakanmu, mas. Aku takut kau memilih wanita lain karena ketidak mampuanku memberimu keturunan."


Usapan lembut sepanjang punggung Aldo berikan pada sang istri. "Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kalau kamu mau, kita bisa cek kesehatan reproduksi kita. Biar kamu yakin kalau kamu sehat. Begitu juga denganku."


Pricilla mendongak. "Tapi aku takut hasilnya justru mengatakan kalau aku memang tidak sempurna sebagai seorang wanita, mas."


"Selama itu belum di lakukan. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha, bukan?" mengusap pipi istrinya lembut. "Berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mewujudkan mimpimu menjadi seorang ibu. Berdoa agar kita berdua di beri kesehatan dan bisa secepatnya ada kehidupan di dalam rahimmu."


"Tapi kalau aku memang tidak sempurna bagaiman? apa kamu akan meninggalkan-" kalimat Pricilla terputus saat suaminya menyatukan bibir mereka.

__ADS_1


"Kenapa selalu itu yang kamu ucapkan, hem? Kamu sehat. Kita sehat. Dan kita akan segera memiliki anak."


"Tapi kamu belum jawab, mas."


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi. Meski kita harus hidup berdua hingga kita menua, aku akan memilih hal itu di banding harus menikah dengan wanita lain." ucap Aldo dengan lugas. Mantap dan jujur.


"Janji ya, mas." pinta Pricilla lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Siap menumpahkan cairan bening dari kedua sudutnya.


"Aku janji." ucap Aldo dengan menyatukan dahi mereka. "Mana mungkin aku mau kehilangan wanita yang sangat sulit aku dapatkan ini. Wanita terbaik yang pernah aku temui."


Pricilla tersenyum dengan wajah merona di puji seperti itu.


"Lagi pula tidak ada yang merongrong kita untuk segera memiliki anak. Untuk apa kita buru-buru. Aku masih suka seperti ini. Bisa memakanmu kapanpun aku mau. Tanpa takut mencederai kandunganmu, atau tanpa takut anak kita terbangun di tengah aktifitas kita."


"Iish. Kamu tuh. Pikirannya itu terus!" cebik Pricilla memukul dada suaminya.


"Kalau tidak memikirkan hal itu. Bagaimana mungkin kamu bisa hamil sayang."


Pricilla tidak mampu lagi menyembunyikan senyum dan rona merah di wajahnya. Wanita itu memejamkan matanya saat sang suami mulai memiringkan kepalanya dan mengikis jarak di atara mereka.


Segala kegelisahan, segala rasa khawatir lebur dalam penyatuan yang mereka lakukan malam itu. Pricilla pasrahkan semua pada yang di atas. Berharap setiap doa yang ia panjatkan di setiap sujudnya bisa cepat terkabul.


Ia berharap Tuhan menjawab doanya dengan menitipkan calon buah hati dalam rahimnya. Buah hati hasil cintanya dengan sang suami. Makhluk kecil yang mirip dirinya atau Aldo. Duplikat mereka versi kecil.


*


*


*


Wahhh setengah bulan terabaikan. Adakah yang kangen? wkwkwk


Aku tuh puasa malah bingung mau bikin cerita gimana buat Tiara sama Alvaro. Habisnya mereka tuh sudah bahagia.


Kalau kalian maunya bikin boncap yang gimana sih? hihihi

__ADS_1


#malahnanya kehabisan ide gaes muehehehehe


__ADS_2