DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Tak Bercahaya


__ADS_3

Tiara bukanya tidak melihat bagaimana tatapan Alvaro yang sendu.


Terlihat jelas penyesalan di sana. Juga ada rindu yang mendalam.


Dia bukannya tidak merindu suaminya. Hanya sakit hatinya masih sangat terasa perih.


Jika di rumah ia bisa bersikap seolah biasa saja dan mengacuhkan sang suami. Menganggap pria itu tak ada meski hatinya berdesir ketika sang suami berada di dekatnya.


Atau ketika ia tidur dan memunggungi suaminya dan menaruh dua bantal guling sebagai batas agar suaminya tidak berharap lebih.


Dan tak pernah lupa memakai baju tidur seksi kurang bahan setiap malam.


Tapi ketika di luar rumah. Sedihnya kembali terasa. Sakitnya kian bernanah. Rindunya menggelora. Beberapa kali mendapat teguran dari dosen karena kedapatan melamun.


"Kenapa sih lo, Ra? berapa hari ini kelihatannya lesu banget. Gak lo banget tau gak?" Ika yang bisa melihat sahabatnya begitu ceria dan bersemangat merasa heran dengan perubahan Tiara beberapa hati terakhir.


"Kurang jatah bulanan, lo?"


Tiara tertawa. Tawa yang hanya di mulut. Karena tawa itu sama sekali tak menyentuh matanya. Mata yang beberapa hari ini kehilangan cahayanya. Kehilangan semangat dan hanya ada kesenduan di dalamnya. Kadang bahkan hanya ada tatapan kosong.


"Jatah bulanan buat apaan coba? gue sibuk kuliah sama ngurusin anak. Gak sempet jalan buat sekedar shoping ngilangin penat."


"Terus kenapa dong?" Ika satu tahun lebih muda dari Tiara. Hanya gadis itu sangat polos dan sering membuat Tiara gemas.


"Ada dimana lo gak akan ngerti masalah yang lo gak akan paham."


"Contohnya?"


"Contohnya hangatnya pelukan suami." Tiara tergelak mendengar Ika mendengus dengan wajah bete.


"Gue lagi mikir. Seneng kali ya, bisa kaya lo. Gak ada masalah lain selain tugas kuliah yang numpuk. Atau di marahin nyokap pas pulang terlambat."


Mereka berhenti dan duduk di taman kampus. Ika tak berani menyela, karena sepertinya Tiara sedang serius.


"Tapi gue mikir lagi. Gue juga seneng kok hidup begini. Di sambut anak-anak yang menggemaskan saat pulang kuliah. Dapat pelukan juga ciuman hangat sebelum tidur dari suami."


Mana Ika tahu semua itu. Jangankan kehidupan rumah tangga. Pacaran saja ia belum pernah. Karena fokusnya mengejar cita-cita.

__ADS_1


"Dan gue gak bisa bayangin hidup tanpa mereka." Tiara menatap sahabatnya dengan senyum tipis yang sayangnya terasa getir.


"Bukan hanya anak-anak." Tiara menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi gue juga gak bisa hidup tanpa suami gue, Ka."


Ika yang bingung melihat Tiara menangis langsung memeluk sahabatnya itu. "Lo kenapa sih, Ra? kalau ada apa-apa lo bisa cerita ke gue!"


Dua tahun berteman dengan gadis itu, baru kali ini Ika melihat Tiara menangis. Gadis seceria Tiara yang seperti tidak ada beban sama sekali dan hidup dilimpahi kebahagiaan, ternyata juga bisa ada masalah yang membuatnya terpuruk seperti ini.


"Emang gue gak cantik lagi, ya Ka?" tanya Tiara dengan sesenggukan.


"Kata siapa lo gak cantik. Lo masih cakep gini. Semua cowok di kampus juga pasti bakal ngejar-ngejar lo kalau mereka gak tau lo udah nikah." seru Ika sembari tangannya mengusap lembut punggung Tiara. "Jangankan cowok. Gue aja kalau belok pasti udah naksir sama lo."


Tiara tertawa dan memukul punggung Ika pelan. "Najiss lo, Ka!"


"Gitu dong ketawa." Ika melepas pelukan mereka. "Apa perlu gue cium nih, biar lo gak sedih lagi."


Tiara menatap horor sahabatnya. Menutup dadanya dengan kedua tangan. "Lo gak beneran belok, kan Ka?"


Keadaan serupa juga di alami sang suami. Alvaro sangat tak bisa di andalkan beberapa hari ini.


Banyak pekerjaan yang sudah mendekati deadline tapi belum selesai.


Beberapa kali hampir kehilangan klien saat presentasi karena salah ucap.


Dika dan Bobby yang menjadi kaki tangan Alvaro di kantor, sudah mencapai batas kesabaran.


"Gue tau lo lagi ada masalah sama bini lo di rumah. Tapi tolong, Al. Jangan bawa masalah lo ke kantor, kalo lo gak mau kantor yang udah lo rintis dari nol, hancur dalam beberapa hari!"


Dika mengangguk. Setuju dengan Bobby. Karena Dika juga menyaksikan sendiri bagaimana Alvaro membangun usahanya ini. Ia juga termasuk dalam karyawan pertama yang di miliki Alvaro.


"Kita bahkan hampir beberapa kali kehilangan klien, bro.." timpal Dika.


Sedangkan orang yang tengah mereka nasehati, sedang terlentang di atas sofa dengan lengan yang menutup kedua matanya.


"Masa lo gak bisa sih, ngerayu Tiara?! lo udah kenal dia berapa lama? harusnya lo tau apa yang sering buat istri lo luluh." Bobby masih gak habis pikir. Bagaimana bisa rumah tangga yang sudah beberapa tahun di jalin, tak membuat Alvaro mengerti bagaimana menaklukan istrinya.

__ADS_1


Alvaro tertawa sumbang. "Lo pada gak bakal bisa ngerti gimana rasanya gak di anggap sama istri lo sendiri! gimana rasanya rindu, padahal orangnya di depan mata." gak tau gimana rasanya gak bisa nyentuh istri lo yang terlihat menggoda. imbuhnya dalam hati tapi tak mau teman-temannya tahu.


"Lo cowok, kan? seberapa besar sih, tenaga Tiara? pengen peluk, tinggal peluk lah gampang."


"Gak segampang itu Bob! mungkin iya gue bisa meluk dia kalo gue paksa. Tapi gak bisa lihat dia lagi esok harinya. Mampus gue."


"Makanya, jangan pernah main api! untung Tiara gak langsung ngajuin cerai!"


Kalau tau begini juga gue gak bakal berani main api. Di diamkan seperti ini saja ia sudah amat menderita. Tak bisa di bayangin dan tak ingin membayangkan bagaimana rasanya kehilangan Tiara.


"Denger-denger si Pita pulang kampung." Bobby melihat story WA gadis itu yang tengah berada di bandara. Dengan chapter "lagi-lagi terbang untuk meninggalkan hati yang tak teraih."


Alvaro tak menanggapi. Masa bodo dengan gadis itu. Masalahnya sendiri sudah cukup membuat kepala dan hatinya serasa meledak.


"Kasihan sebenarnya tuh cewek. Kacau banget pas gue anter pulang. Mana tinggal sendirian lagi. Gue sempet khawatir kalo dia bisa aja bundir."


"Kenapa lo gak temenin?" tanya Bobby.


"Kalo gue temenin. Bisa-bisa gue yang gak dapet jatah." Dika tergelak, Bobby melotot, sedangkan Alvaro tersenyum tipis.


"Gila lo! sama cewek yang sering ke sini?"


"Yoi. Cakep gak cewek gue?" tanya Dika dengan jumawa dan menaikan alisnya. "Cewek kesepian tuh lebih gampang buat menyerahkan diri."


Bobby berdecak. Tak mengira Dika sebrengseek itu.


"Tapi bener sih." timpal Bobby. "Contohnya si Pita tuh. Tanpa bertanya dan mencari tau, langsung aja nemplok sama bos lo."


"Untung gak berakhir di ranjang. Bisa-bisa di potong tuh alat tempur." keduanya tergelak, menertawakan Alvaro. Meski merasa tak tega juga melihatnya.


Sedang Alvaro tak peduli dengan ejekan mereka. Dia lebih memilih mencari ide untuk kembali meraih istrinya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2