DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Pisah Rumah


__ADS_3

Sore Hari. Dengan perasaan yang sudah stabil, Tiara kembali ke rumah sakit. Berharap perasaan suaminya juga lebih baik saat mereka bertemu nanti.


Beberapa kali gadis itu berhenti untuk duduk. Tubuhnya terasa kurang enak badan. Selama suaminya di rawat, tidak sekalipun gadis itu pulang. Membuat daya tahan tubuhnya sepertinya ikut menurun. Merasa lelah karena tidurnya tidak nyaman seperti di rumah. Gadis itu bisa tiga sampai empat kali bangun hanya untung memeriksa sang suami.


Baru hari ini Tiara memutuskan pulang. Itu pun karena kesal terus-terusan di bentak oleh Alvaro. Terlebih tadi suaminya lebih memilih Lala dari pada dirinya. Menyebalkan memang. Kalau saja tidak cinta. Sudah Tiara tinggal jauh-jauh si Alvaro itu.


Saat memasuki ruang rawat suaminya, sudah ada ibu mertua yang sedang membereskan barang-barang Alvaro.


"Lho bu, udah boleh pulang?" tanya Tiara ikut membantu membereskan barang milik mereka yang ada di ruangan itu.


"Iya sayang. Abang udah boleh pulang." jawab ibu tersenyum ke arah menantunya. "Tapi.. abang pengin pulang ke rumah ibu katanya." tambahnya dengan perasaan tidak enak. Takut menantunya tersinggung.


"Lho kenapa?" tanya Tiara menatap ibu mertua dan suaminya bergantian. Gadis itu berjalan mendekati sang suami yang sedang duduk di atas kursi roda. Bertumpu pada lutut agar sejajar dengan Alvaro. "Kamu gak mau pulang ke apartemen aja Al?"


Bukan apa-apa. Hanya saja Tiara belum terbiasa dengan sikap dingin ayah mertuanya. Rasanya takut untuk tinggal satu atap dengan beliau.


"Gue pengen pulang ke rumah. Biar ibu yang ngerawat gue." ucap Alvaro tidak membalas tatapan istrinya.


Tiara menghela napas. "Ya udah. Nanti kita mampir ke apartemen dulu ya. Biar aku beresin barang yang kita butuhin buat tinggal di rumah ibu." ucap Tiara mencoba tersenyum dengan mata sendunya.


"Lo gak usah ikut." ucap Alvaro tegas. Membuat gadis itu menatapnya dengan tidak percaya. "Kamu tinggal aja di rumah mommy atau di apartemen!"


"Tapi Al... Kemana pun kamu, aku mau ikut! kita suami istri. Sudah sewajarnya kita tinggal satu rumah. Pisah ranjang aja gak baik Al! apalagi pisah rumah."


Mana ada istri yang mau tinggal berjauhan dengan suaminya. Apa lagi mereka sudah terbiasa apa-apa berdua tanpa orang tua mereka.

__ADS_1


"Tapi gue bosan liat muka lo!"


Telinga Tiara rasanya seperti tersambar petir. Hatinya sakit mendengar kalimat suaminya barusan. Apa katanya tadi? bosan? apa Tiara gadis setidak menarik itu hingga membuat Alvaro bosan dengannya? atau karena sekarang sudah ada Lala, sehingga Tiara sudah tidak penting lagi untuk suaminya?


"Al.." entah. Tiara tidak dapat mengeluarkan kata-katanya lagi. Bahkan hanya untuk bertanya kenapa. Tenggorokannya terasa tercekat. Baru kali ini dirinya mengalami sebuah penolakan. Di tolak oleh orang yang amat di cintainya. Matanya sudah berkaca-kaca, tanpa ada kalimat pembelaan apa pun.


"Gue bosen liat lo! karena tiap gue liat lo, gue akan selalu ingat alasan kenapa kaki gue bisa cacat. Dan itu karena lo! perempuan egois yang cemburu buta!" maki Alvaro kepada gadis yang kini mematung dan bersimpuh di depannya.


"Abang! kamu tuh ngomong apa sih? ini bukan salah siapa pun. Ini semua sudah jalan Tuhan." seru ibu tidak percaya dengan apa yang di ucapkan anaknya. Ini bukan Alvaro putranya. Alvaro putranya tidak mungkin tega menyakiti hati perempuan.


Tiara menunduk. Menjatuhkan air mata di atas tangan yang memegang lutuntnya.


"Emang bener karena Tiara bu! kalau aja gadis ini gak langsung pergi sebelum aku jelasin semuanya, aku gak bakal ngejar dia tanpa ngeliat di depan aku ada apa! karena saat itu pikiran aku penuh sama dia!" seru Alvaro dengan nada suara yang ditinggikan.


Alvaro menjalankan kursi rodanya keluar dari ruangan. Ibu menyusul anaknya, takut terjadi apa-apa.


Setelah kepergian ibu dan anak itu, mommy Shevi yang melihat semuanya dari balik pintu mendekati anaknya yang masih bersimpuh dan semakin menundukan tubuhnya. Tubuh gadis itu bergetar. Terisak menerima caki maki dari suaminya. Merasa bersalah yang teramat besar.


"Sayang.." mommy Shevi membawa tubuh putri sulungnya kedalam dekapan. "yang sabar ya.. Mommy yakin, abang hanya butuh waktu untuk menerima keadaannya." ibu mana yang tidak bersedih melihat anaknya seperti ini. Diusapnya dengan lembut tubuh kecil anaknya itu.


"Tapi apa yang di bilang Al bener mom. Aku cuma gadis bodoh yang termakan cemburu buta hingga membuat aku jadi egois dan menyebabkan semua ini terjadi." ucap Tiara di sela isak tangisnya. Membalas pelukan sang ibu dan menenggelamkan wajahnya pada dada ibunya. "Ini semua salah aku mom.. Aku yang salah! memang sebaiknya Al membenci gadis bodoh seperti aku! sudah sewajarnya aku di hukum atas perbuatanku!"


"Sstt kakak gak salah. Ini semua sudah ketentuan Tuhan. Kalian hanya harus saling mengerti dan mensuport." ucap mommy Shevi menenangkan. "Apa pun yang terjadi, kamu gak boleh ninggalin suami kamu."


"Tapi aku gak di ijinin buat ikut dia ke rumah ibu mom. Dia benci liat muka aku."

__ADS_1


"Apa hanya karena kakak gak di ijinin ikut terus kamu gak mau nemuin suami kakak lagi?" Tiara menggeleng.


"Kakak bisa tinggal di rumah kita lagi. Tapi kakak bisa temuin dia tiap hari kan? mencoba meluluhkan hati abang lagi." Tiara mengangguk.


"Sekarang, kakak gak boleh sedih. Abang cuma butuh waktu. Dan selama waktu yang abang butuhin, kakak bisa belajar untuk menjadi istri yang lebih baik lagi."


Mommy Shevi menghela napas dalam hati. Meragukan keputusannya mengijinkan anak sulungnya ini menikah.


Mereka masih sama-sama muda dan egois. Masih susah untuk mengatur mereka agar saling melengkapi dan mengisi.


Emosi mereka masih sama-sama labil. Alvaro yang belakangan menjadi gampang emosi. Sedangkan Tiara yang menjadi cengeng.


Dulu memang dia punya anak di usia belia. Di umur Tiara sekarang, dirinya sudah merawat anak itu seorang diri dulu. Tapi mommy Shevi belum di hadapkan dengan rumitnya permasalahan rumahtangga seperti anaknya kini.


Mental anaknya belum siap menerima masalah dalam hubungan keduanya. Tiara hanya bisa menikmati kebersamaan dan kebahagiaan dalam rumahtangga saja. Gadis itu belum siap jika di hadapkan dengan situasi seperti saat ini.


Sebagai ibu, dia hanya bisa menasehati. Berharap dengan masalah ini, anaknya bisa menjadi lebih dewasa. Percaya bahwa ini adalah proses pendewasaan anaknya.


Berbeda dengannya yang berproses menjadi dewasa karena tanggungjawab memiliki seorang anak.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2