
Ruang operasi bukan lah ruang yang ingin di masukinya meski seumur hidup pun. Bayangan kematian di depan mata membuatnya tak ingin menyambangi ruangan itu.
Entah kematian akibat operasi besar karena penyakit atau pun kecelakaan. Semua sama mengerikan di matanya.
Meski ia mengambil jurusan kedokteran. Tapi untuk spesialisnya ia ingin ambil spesialis anak. Sebisa mungkin mencari yang tidak berhubungan dengan ruang operasi.
Terlebih semenjak tahu akan menjadi seorang ibu, membuatnya semakin mantap untuk melanjutkan pendidikannya ke arah sana.
Agar ia bisa merawat dan menjaga tumbuh kembang anak-anak yang ia lahirkan dengan baik. Menjadi generasi dengan bibit unggul yang di hasilkan dari cinta yang ia dan Alvaro miliki.
Kedua orang tua dan kedua mertuanya ikut hadir menunggu ia yang akan segera melakukan tindak operasi.
Bahkan nenna juga Omanya tak kalah ikut menyambut cicit mereka yang akan segera lahir ke dunia ini.
"Semua akan baik-baik aja.. Aku di sini.."
Tiara tersenyum mendengar kalimat sama yang suaminya bisikan entah untuk keberapa kalinya.
Sepertinya di sini justru yang tegang adalah Alvaro. Raut wajah yang di usahakan setenang mungkin untuk membuat istrinya tenang. Justru semakin jelas terlihat jika pemuda itu sedang menekan perasaannya sendiri.
"Aku tau Al.. it's okay.. Aku malah sekarang seneng karena bentar lagi bakal ketemu sama malaikat-malaikat kecil kita."
Meski masih ada rasa takut. Tapi Tiara tidak bohong saat mengatakan bahagia dengan alasan yang ia sebutkan tadi.
Fokusnya kini hanya bisa melihat kedua anaknya lahir dengan selamat. Bisa mendekap kedua buah hatinya dengan hangat.
Bergantian para orang tua mereka mencium dahi dan membisikan doa agar Tiara dan kedua anaknya selamat. Agar proses operasinya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti.
Dan yang membuat air mata calon ibu menetes adalah ketika melihat daddy Alvin yang selalu terlihat gagah meneteskan air mata saat mencium dahi dan mendoakannya.
"Kakak bisa. Bidadari kecil daddy anak yang kuat. Calon mama yang hebat. Kakak pasti bisa keluar dari ruangan itu dengan selamat dan menggendong dua cucu untuk daddy.."
Pria yang masih sangat gagah itu mengusap air matanya. Gadis kecil yang ia telat menyadari kehadirannya, kini sudah akan menjadi seorang ibu. Bertaruh antara hidup dan mati.
Jika bisa di tukar. Alvin ingin menukar posisi mereka. Menggantikan rasa sakit anaknya. Biar putri kecilnya tidak perlu mempertaruhkan nyawa.
"Kamu beruntung ada suami kamu yang setia menemani. Dulu mommy bahkan harus menjalani operasi tanpa kehadiran daddy.."
__ADS_1
Benar. Tiara tidak boleh cengeng dan lemah. Jika mommy-nya mampu memperjuangkan dirinya yang bahkan tanpa di dampingi daddy. Yang pasti dalam kondisi perasaan yang tidak baik karena harus melahirkan tanpa suami.
Maka ia harus lebih semangat dan bersyukur paling utama. Dia bisa memasuki ruang operasi dengan dampingan sang suami yang tidak pernah melepaskan genggaman tangannya.
Suami yang kerap memberikan ciuman lembut di semua sisi wajahnya. Yang selalu setia melantunkan doa dan kata penyemangat.
Mengajaknya berbicara dan bercerita tentang masa-masa yang sudah mereka lewati. Yang kadang membuatnya tersenyum. Tapi tak jarang pula membuatnya mencebik kesal dan mengerucutkan bibir saat Alvaro membahas masa SMA mereka dimana dia sering menjadi langganan ruang konseling.
Masa-masa yang tidak dapat mereka ulang lagi. Dimana ia masih berdiri dengan gagah dan berani menampar siapa saja yang mulutnya berani merendahkan kedua orang tuanya.
Menjadi siswi yang banyak di takuti para siswi adik kelas. Tapi tak kalah menjadi kesayangan guru di dalam kelas.
Meski sering membuat mommy Shevi naik darah karena terlalu seringnya di panggil ke sekolah. Tapi ia membalas dengan hal setimpal dengan prestasi yang ia berikan.
Cara Alvaro mengalihkan perhatiannya dari perasaan takut menunggu saat-saat kelahiran anaknya dengan flashback ke masa silam sangat membantu. Membuatnya benar-benar merasa santai tanpa merasa takut apa pun.
Hingga suara tangis bayi yang menggetarkan hatinya mengalihkan pandangannya dari wajah tampan sang suami yang duduk di belakangnya. Tepat di atas kepalanya.
"Al.." bisiknya parau.
Alvaro tersenyum dan mengangguk.
"Baby boy.." Alvaro berbisik ketika sebelumnya sempat berdiri untuk melihat bayi pertama mereka yang berhasil di keluarkan.
Mereka memang sengaja tidak ingin tahu jenis kelamin anak-anak mereka saat dalam kandungan. Biar menjadi surprise saat lahir.
Ciuman lembut kembali mendarat di dahi dan bibirnya. "Terimakasih sudah mau mengandung dan melahirkan anak-anak kita.. Terimakasih mau bertahan dalam kondisi yang tidak mudah untuk kamu jalani."
Suara Alvaro terdengar dalam dan parau. Ia tahu jika sang suami juga sedang menahan tangisnya. Tangis bahagia dengan hati membuncah sama seperti yang ia rasakan saat ini.
Hanya selang waktu tidak sampai lima menit. Bayi kedua dapat keluar dengan selamat. Kembali membuat air matanya menderas.
Tapi Tiara merasa ada yang janggal. Tangis bayi kedua tidak sekuat abangnya. Bayi keduanya menangis dengan suara lirih yang terdengar memilukan baginya.
Jika tadi ia bisa terkekeh saat sang abang menangis. Kini justru hatinya merasa terluka mendengar tangis anak keduanya.
Tangis yang terdengar memilukan itu membuatnya khawatir.
__ADS_1
Dicengkeramnya kuat tangan sang suami untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Kenapa Al?"
Ada raut khawatir yang sempat ia tangkap sebelum Alvaro mengendalikan ekspresinya senormal mungkin.
"It's okay.. Kamu ingat kan, kalau ade beratnya lebih rendah dari abang?" ia mengangguk dan menunggu kelanjutannya. "Mungkin karena dia kecil jadi nangisnya gak kenceng." gurauan Alvaro yang mencoba menenangkannya tidak serta merta membuatnya tenang.
Entah apa yang dokter lakukan di bawah sana, ia tidak dapat melihatnya.
Hingga bidan-yang sigap berada di belakang dokter yang menangani operasinya-membawa kedua anaknya ke sebuah ruangan yang terhubung dengan ruang operasi.
"Aku ke anak-anak dulu.. Biar aku adzanin mereka dulu.."
Tiara mengangguk meski masih ingin bertanya tentang kondisi kedua anaknya yang belum ia dapatkan jawaban yang memuaskan.
Matanya tak lepas dari pintu penghubung ruangan dimana Alvaro dan kedua anaknya menghilang.
Cukup lama Alvaro di dalam sana. Sedangkan tim dokter masih melakukan tindakan di atas perutnya.
Ia hanya berdoa. Semoga anak keduanya juga sehat seperti abangnya. Semoga benar apa yang di katakan Alvaro jika tadi menangisnya pelan hanya karena berat badannya yang kecil. Bukan karena masalah yang berarti.
Hingga Alvaro kembali muncul dengan menggendong salah satu anaknya. Sedangkan anak yang lain di gendong oleh seorang bidan.
Mereka mendekatkan kedua anaknya di sisi wajahnya kiri dan kanan. Membuatnya bisa mencium kedua anaknya yang mulutnya menggapai-gapai seolah mencari sesuatu.
"Anak mama lapar ya.. Nanti ya sayang.." ucapnya antara terkekeh dan menangis.
Rasanya lega bisa melihat kedua anaknya. Walau hanya sebentar dan kembali di bawa pergi oleh tim medis.
*
*
*
Takut kalian bosen aku tuh.. Di tamatin aja apa gimana 🤧
__ADS_1
Kita beralih sama kisah yang lain 🤓