DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Basket


__ADS_3

Tiara berlari dengan kencang saat mendengar anak-anak sudah mulai berhitung untuk pemanasan. Mendekati lapangan dengan muka menunduk dia menyelinap pada barisan para siswi.


Gara-gara bajunya kotor tertabrak adik kelas yang sedang membawa satu cup siomay, dia harus balik lagi ke toilet untuk membersihkan noda bumbu pada bajunya. Alhasil, dia jadi terlambat, yang untung saja guru olahraganya tidak melihat saat dia menyelinap di barisan.


Guru olahraganya itu terkenal kejam. Telat sedikit saja bisa dihukum berlari mengelilingi lapangan sepuluh kali untuk pemanasan katanya. Dan ada juga yang pernah dihukum membereskan semua perlengkapan olahraga yang hari itu kelasnya pakai seorang diri.


Tiara tidak ingin hari ini terkena hukuman. Apa lagi hari ini hari pertama dapat tamu bulanan yang membuat perutnya terasa sakit. Tapi dia juga tidak ingin di suruh menyalin buku paket olahraga kedalam buku tulisnya. Itu kompensasi untuk siswi yang datang bulan sepertinya, yang tidak bisa mengikuti kelas olahraga. Lebih baik dia mengikuti kelas yang setidaknya saat yang lain sedang bermain, dia bisa duduk dipinggir lapangan untuk menonton saja.


"Dari mana aja lo baru dateng?" bisik Pricil yang berbaris di sebelahnya untuk pemanasan.


"Panjang. Nanti aja dari pada dihukum!!" Pricil diam seketik mengerti jika gurunya tidak suka ada yang mengobrol di jam pelajaran yang beluau ampuh.


"Maaf pak." seru Alvaro menginterupsi gurunya yang sedang menjelaskan kegiatan kelas hari ini yang akan diisi dengan permainan basket.


"Ada apa Alvaro?" tanya Pak Iwan guru olahraga mereka.


"Tadi Tiara telat pas pemanasan pak. Masa tidak dikasih hukuman. Curang dong pak, kasihan sama yang sudah pernah dihukum." Alvaro melirik dengan seringai kearah Tiara.


Tiara yang mendengar tertegun. Bukan hal aneh jika Alvaro mengganggunya. Tapi jangan di kondisi tidak tepat seperti ini. Dengan geram, Tiara mengeratkan rahang dan kepalan tangannya kuat.


"Benar Tiara?!" Pak Iwan menoleh ke arah Tiara.


"Benar pak." jawabnya tidak berdaya. Mau bagaimana lagi, dia memang terlambat tadi.


"Kalau begitu setelah selesai jam pelajaran, kamu bereskan dan simpan semua peralatan di gudang penyimpanan lagi!" Pak Iwan bukan guru yang suka memarahi anak muridnya panjang lebar, beliau lebih suka langsung memberikan hukuman.


"Tapiii pakkkk.. Tadi saya terlambat karena baju saya kotor kena tumpahan makanan, makanya saya bersihin dulu." mencoba mencari keringanan hukuman.


"Kamu tau saya tidak suka alsan Tiara!" Tiara menunduk pasrah. Biar nanti dia balas perbuatan Alvaro ini.

__ADS_1


***


Tiara mengerutkan dahi saat baru menyadari jika lapangan lebih ramai dari biasanya. Maklum saja minggu kemarin kan dia di skorsing, jadi baru tahu hari ini.


Setelah bertanya kepada salah satu teman sekelasnya, ternyata disemester ini kelas mereka mempunyai jam olahraga yang sama dengan kelas IPS. Kelas dimana anak baru bernama Dika berada.


Pantas saja wajah teman-teman perempuannya tumben sekali berbinar saat jam olahraga. Dia baru tahu jawabannya sekarang.


"Tiara!" giliran Tiara untuk belajar mendribel dan melempar bola ke ring.


Tiara bukan anak yang tidak bisa berolahraga. Dia sudah biasa bermain basket dengan daddy-nya atau Raka jika hari libur.


Tapi saat akan melemparkan bola ke dalam ring, dia limbung gara-gara bola yang entah dilempar oleh siapa yang mengenai punggungnya. Padahal pukulan bola itu tidak terlalu keras dan tidak menyakitinya, tapi karena posisi yang tidak siap membuat dia terdorong kedepan. Untung saja ada yang menangkap bahunya. Jika tidak pasti wajahnya sudah berbenturan dengan lantai lapangan yang keras.


"Kamu gak papa?" tanya pemuda yang menangkapnya yang ternyata anak baru yang sedang membuat histeris siswi Putra Bangsa.


Tiara langsung menegakkan tubuhnya. "Gak papa. Makasih." jawab Tiara sekenanya. Dia langsung berbalik badan untuk melihat siapa yang melempar bola. Semua teman perempuannya menunjuk arah Alvaro yang sudah mulai memainkan lagi bolanya bersama teman-teman sekelas yang lain.


Tiara mengamati sekeliling lapangan ternyata pak Iwan sudah meninggalkan lapangan yang sebentar lagi jam pelajaran akan habis. "Alvaroo!!" teriakan Tiara memenuhi lapangan membuat para anak laki-laki yang sedang bermain basket dengan Alvaro minggir menyisakan Alvaro yang sedang memutar bola di atas jarinya, menunggu ikan yang sudah memakan umpannya.


Lemparan bola yang cukup keras mengenai perut Alvaro, membuat pemuda itu sedikit meringis. "Dasar banciiii... Beraninya dari belakang!!"


Tidak butuh waktu lama pukulan dari tangan mungil Tiara melayang berkali-kali mengenai bagian tubuh Alvaro mana saja yang dapat ia jangkau. " Aaww Aaww sakit Ra.. Lo apa-apaan sih!! " seru Alvaro mencekal kedua pergelangan tangan gadis yang sedang memukulinya secara brutal.


"Lo yang apa-apaan !! " Teriaknya didepan Alvaro. Pundaknya naik turun seiring dengan emosinya yang hari ini sudah kali ketiga cowok didepannya ini mengganggunya. "Kalo gue jatoh terus luka gimana? Lo mau tanggung jawab?!" masih dengan emosi yang menggebu - gebu.


"Tanggung jawab apa sih? Emang gue ngehamilin lo? Lo mau gue nikahin?" jawaban Alvaro semakain menguras kesabaran Tiara.


Menghempaskan tangannya supaya terlepas saat suara bell tanda pelajaran berakhir bebunyi. Tiara berbalik dan mulai mengumpulkan peralatan olahraga. Tanpa di sangka ada sepasang tangan yang membantu mengumpulkan bola - bola basket.

__ADS_1


"Eh? Gak papa gue bisa sendiri kok." ucapnya kikuk saat tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Dika saat akan mengambil bola yang sama.


"Gak papa aku bantuin. Pak Iwan gak bilang kamu di hukumnya gak boleh di bantuin kan?" tanyanya dengan senyum dan alis yang terangkat.


Tiara hanya tersenyum canggung. Meskipun pak Iwan tidak berkata seperti itu, tapi seluruh siswa sekolah ini juga tahu peraturannya.


Tiara membiarkan saja Dika membantunya. Banyak juga kan bola yang harus dia kumpukan dari dua kelas. Jika dia kerjakan sendiri yang ada jam istirahatnya habis hanya untuk mengumpulkan bola dan membawanya ke gudang.


"Huft selesai juga." Helanya lega saat bola terakhir masuk ke trolly besar yang diperuntukkan untuk menyimpan dan membawa bola.


"Thanks ya. Nama lo Radika kan? anak baru itu. Gue Tiara." Tiara mengulurkan tangannya. Tidak ada salahnya juga berkenalan dengan orang yang sudah membantunya.


"Panggil Dika aja." ralatnya dengan menyambut uluran tangan Tiara dan tersenyum hangat.


"Tiara!! gue tunggu di kantin ya!!" teriak Pricil dengan beberapa teman sekelas mereka yang sudah berganti pakaian.


Tiara mengacungkan jempol dan balas berteriak. "Pesenin gue bakso jangan lupa!!"


"Yuk aku bantu." Dika sudah mendorong trolly menuju gudang.


"Eh gak usah. Mending lo ganti baju aja. Tar malah waktu istirahat lo habis. Gue bisa kalo masalah naro doang mah." Tiara sudah akan mengambil alih trolly tapi ditepis pelan oleh Dika.


"Udah gak papa. Tanggung. Lagian kamu sama trolly gedean trolly-nya."


"Sialan lo." mereka tertawa bersama dan berjalan bersisian menuju gudang.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2