
Tiara membantu mengangkat Sheril hingga Alvaro bisa terduduk dan meletakkan gadis itu di pangkuan suaminya.
"Kamu jagain dulu ya Al. Biar aku panggil tenaga medis di bawah."
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya. Tiara berlari kecil masuk ke dalam rumah sakit dan mencari tenaga medis siapa saja yang dapat ia temukan secepatnya.
Untung ada dua orang perawat laki-laki yang baru keluar dari ruang lab.
"Kak. Tolong.. di atas ada pasien yang pingsan."
Dua perawat tersebut langsung menuju rooftop tempat Tiara meninggalkan suami dan mantan rivalnya.
Perawat langsung membawa Sheril yang di ikutin Tiara setelah membantu Alvaro berdiri.
"Kamu gak apa-apa kan Al? gak ada yang sakit? kaki kamu gimana? tadi gak pake tongkat lho nangkep Sheril-nya." serentetan pertayaan Tiara lontarkan.
Memeluk lengan suaminya yang mulai melangkah mengikuti kemana Sheril di bawa.
"Aku gak apa-apa. Cuma ngilu sedikit. Sheril kecil-kecil berat ternyata." selorohnya dengan kekehan kecil.
"Kamu tuh. Serius dikit kenapa! orang aku nanya serius juga." Tiara sudah pada mode memajukan bibir yang sulit untuk Alvaro tak mengecup bibir yang menggemaskan itu.
Tiara memukul dada suaminya pelan. "Nanti ada yang lihat!" serunya dengan suara tertahan.
Alvaro terkekeh dan mengacak rambut istrinya.
"Biar orang pada tau. Perempuan cantik yang lagi bawa anak-anaknya kemana-mana ini istri aku. Laki-laki paling beruntung bisa dapetin cewek cantik se-SMA Putra Bangsa."
Tiara berdecak, pipinya merona. Dua tahun menikah dengan Alvaro masih membuatnya tersipu tiap laki-laki itu memujinya.
Sesampainya mereka di depan UGD, tempat Sheril di bawa untuk mendapat penanganan. Disana sudah ada wanita yang mengaku sebagai ibu tiri Sheril.
"Apa yang kalian lakukan sampai anak itu pingsan lagi?!"
Tiara langsung berdecak sebal. Bukannya mengucapkan terimakasih malah menuduh mereka seperti itu.
__ADS_1
Alvaro mengusap lembut lengan istrinya. Menenangkan calon ibu anak-anaknya untuk tidak tersulut emosi.
"Maaf tante. Kami hanya membantu Sheril yang hampir saja jatuh tadi."
"Kalau sampai papinya tahu. Kalian yang harus tanggung jawab nanti! bilang jika kalian yang mengajaknya pergi saat saya sedang cari makan!"
Tiara dan Alvaro saling pandang dengan mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Laki-laki itu pasti akan marah besar jika tahu anak kesayangannya pingsan seperti ini." gumam wanita yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari mommy Shevi.
Alvaro semakin mengerutkan dahinya. Tadi Sheril cerita jika bokapnya tidak lagi peduli padanya. Lebih sibuk untuk bekerja dan berkumpul dengan anak dan istrinya yang baru.
Tapi jika mendengar gerutuan wanita yang tidak jauh di depannya. Bisa Alvaro tangkap jika sebenarnya ayah Sheril masih peduli dan mencintai anaknya itu. Hanya saja mungkin di sini terselip kesalah pahaman di antara anak dan ayah itu.
Tapi dia hanya pihak luar dan tak ingin ikut campur dengan masalah dalam keluarga mereka. Lebih memilih untuk pamit dan kembali dengan tujuan awal mereka datang ke rumah sakit.
"Maaf tante. Tapi kami tidak ada hubungannya dengan Sheril yang meninggalkan ruang perawatan. Dan kami kesini juga ada urusan lain. Jadi kami permisi." Alvaro menganggukan kepala dan mengajak istrinya untuk pergi dari sana.
***
Alvaro tersenyum dengan hati yang berdetak. Melihat dua janin yang di dalamnya mengalir DNA-nya. Anak-anaknya. Penerusnya. Kebanggaannya. Dan yang pasti buah cintanya.
"Lucu kan mereka Al.." Tiara yang sudah sering melihat interaksi anak-anaknya saja masih selalu merasa itu hal special dan membuatnya meneteskan air mata. Melambungkan hatinya dengan cinta yang begitu besar untuk kedua anaknya.
Alvaro mengangguk setuju. Mengusap tangan yang sedari tadi ia genggam dan membawanya ke depan bibir untuk ia kecup.
"Anak kita.." bisik Alvaro dengan suara bergetar. Rasanya sesak oleh cinta yang ia rasakan saat ini. Rasa sesak yang menyenangkan.
"Baby-nya sehat dua-duanya yaa.. Mungkin yang satu beratnya lebih besar. Tapi sejauh ini masih dalam kondisi bagus. Mereka mampu melewati trimester ke dua dengan baik. Plasenta, air ketuban semua bagus. Tinggal mama harus tetap menjaga kesehatan seperti biasa agar sampai hari H bisa berjalan baik."
Kedua pasangan itu merasa lega bisa melewati masa yang selalu membawa mimpi buruk dalam tidur mereka beberapa bulan ini. Membuat mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak mengkhawatirkan anak-anak mereka yang masih dalam kandungan.
Rasa mual yang Tiara dan Alvaro alami juga mulai menurun di usia empat bulan kehamilan. Alvaro tidak lagi mual dan muntah setiap pagi. Begitu juga Tiara yang bisa makan apa saja tanpa ada keluhan mual dan muntah.
Suatu keuntungan sehingga Alvaro bisa kembali kuliah setelah libur semester habis dan membatalkan cuti kuliahnya dulu.
__ADS_1
"Sepertinya kekhawatiran untuk prematur tidak akan terjadi selama kondisinya tetap stabil seperti ini. Kita berdoa biar bisa lahir di usia yang matang. Dimana paru-paru mereka berdua siap untuk menunjang kehidupan mereka di dunia."
"Kita lakukan operasi di minggu ke 38 atau 39 nanti. Masih banyak waktu untuk melihat perkembangannya. Syukur-syukur masih bisa untuk lahir normal kan?"
Kedua pasangan itu mengangguk dengan senyum lebar. Wajah Tiara dibalut air mata yang tidak bisa ia bendung tiap kali melihat anak-anaknya bergerak di dalam perutnya.
Rasanya masih tidak menyangka di dalam rahimnya ada kehidupan. Bahkan untuk dua janin sekaligus.
"Masih ada keluahan Tiara? mungkin masalah tidur?"
"Iya dok. Sekarang saya jadi sulit untuk tidur. Selain rasa gerah. Perut juga sulit untuk di ajak miring kanan dan kiri. Pasti baru sebentar sudah ngerasa cape. Jadi saya lebih sering tidur dengan posisi setengah duduk."
Kehamilan yang baru menginjak usia enam bulan itu sudah sebesar orang hamil usia sembilan bulan. Apa lagi dengan tubuh Tiara yang masih saja kecil. Hanya naik beberapa kilo. Sehingga terlihat kurang seimbang antara ibu dan bayi.
"Di bikin senyamannya saja. Asal tidak tidur terlentang itu tidak masalah. Papanya juga di bantu ya mamanya biar bisa nyaman saat tidur."
"Mungkin di usap punggungnya yang sering terasa pegal. Atau di bantu dengan bantal maternity untuk membuat mama dan si janin sama-sama nyaman. Apa lagi pasti baby-nya aktif yang menambah mama sulit tidur."
Alvaro mengangguk dan mendengarkan semua yang dokter sarankan. Dari makanan, vitamin, Istirahat cukup, hingga menyiapkan kursi roda untuk berjaga-jaga di kehamilan yang semakin membesar. Melihat tubuh Tiara yang kecil, dokter khawatir tubuh Tiara tidak mampu menopang kehamilan yang semakin membesar.
Menyarankan untuk membeli korset hamil. Untuk membantu menopang perut yang semakin membesar.
Kehamilan memang tidak ada yang mudah. Terlebih kehamilan yang Tiara alami ini.
Selain umur Tiara yang masih belia. Tubuh yang kecil. Kehamilan kembar dengan satu kantung dan plasenta.
Alvaro bersyukur istrinya tidak banyak mengeluh atau menyalahkannya. Tiara melewati masa kehamilan dengan sangat baik.
Mereka sering bergantian membacakan dongeng untuk anak-anak mereka. Karena kata dokter mengajak anak berbicara dan membacakan dongen atau mendengarkan musik bisa merangsang pendengaran si kecil, menstimulasi perkembangan otak dan menciptakan suasana yang nyaman untuk janin.
*
*
*
__ADS_1
Terinspirasi dari banyak artikel. Juga lihat pengalaman yang di bagikan oleh Marrisa Nasution dalam chenel youtube-nya yang kehilangan salah satu baby-nya di usia kandungan 4 bulan yang juga hamil MoMo.