
Tiara melotot mendengar Alvaro alergi dengan sapi dan turunannya. "Tapi puding itu pakai susu Al! lo gak papa?!" tanya Tiara khawatir. Takut gara-gara dia memberikan puding, pemuda itu menjadi alergi.
"Biasanya puding pakainya SKM kan? itu susunya gak seberapa, jadi gak masalah. Nyokap gue juga sering bikinin puding pake SKM kok." jawabnya tak ingin Tiara merasa bersalah.
"Bener lo gak papa?" Tiara masih dengan rasa khawatirnya. Melihat kotak bekal berisi puding yang untung saja lapisan puding yang ada susunya belum di makan oleh Alvaro. Pemuda itu hanya memakan lapisan atas yang berisi buah.
"Udah yang ada susunya gak usah lo makan! tar kalo lo kenapa-kenapa, gue lagi yang jadi tersangkanya!!"
Alvaro langsung menyentil dahi Tiara. "Alergi gak bikin gue mati, sialan!!" sungutnya kesal. "Paling cuma gatel-gatel doang."
Kedua gadis di depannya ber'oh ria.
"Cieee yang takut Aa Alvaro kenapa-kenapa." goda Pricilla mencolek lengan Tiara.
"Apaan sih lo? gaje tau gak?"
Pricilla malah semakin heboh tertawa ketika melihat muka bete sahabatnya.
***
Sedangkan di luar jendela kelas mereka. Tanpa mereka bertiga sadari, ada sepasang mata sendu yang melihat semua dari awal mereka makan bersama dalam satu meja.
Dika, pemuda yang mengawasi mereka, membawa bekal yang rencananya akan dia makan bersama dengan Tiara, tapi ternyata kalah start lagi dengan Alvaro.
Tadi dengan senyum merekah di bibir, dia membawa kotak bekal menuju kelas Tiara. Rela untuk di ledek teman sekelasnya, asal bisa memakannya bersama gadis pujaan.
Namun ketika mencoba melihat Tiara dari jendela, takut gadis itu sudah pergi ke kantin lebih dahulu, seketika senyumnya sirna saat melihat Tiara, Alvaro dan juga Pricilla sedang makan bersama. Belum lagi ia melihat betapa khawatir gadis itu saat mengetahui rivalnya memiliki alergi.
Menggenggam kotak bekalnya dengan erat. Menahan gejolak emosi yang saat ini ia rasakan. Rasa cemburu yang membakar hatinya ketika melihat Tiara tertawa di hadapan laki-laki lain.
"Makanya sama gue aja yang udah jelas-jelas suka sama lo!"
Dika berjingkat, saat suara itu mengagetkannya.
__ADS_1
"Ngapain lo disini?" tanya Dika dengan sinis kepada Sheril.
"Gak sengaja lewat aja! penasaran lo ngeliatin apaan!" jawab gadis itu dengan mengedikkan bahunya.
"Kenapa harus susah-susah ngejar cewek yang gak suka sama lo sih Dik? ketika ada yang dengan senang hati menyambut elo dengan pelukan?"
"Justru gue suka dapetin cewek yang perlu gue perjuangin! dari pada cewek murahan yang bisa datang kapan aja gue mau!!" jawab Dika, berlalu meninggalkan gadis yang sedang mengepalkan tangannya geram.
"Lo liat aja Dik! cewek yang lo bilang pantes buat lo perjuangin, akan lebih murahan dari pada gue yang lo bilang murahan!" gemertak gigi Sheril terdengar saat gadis itu mengumpat.
***
Ketika bell pulang berbunyi Dika langsung menuju kelas Tiara, berharap kali ini gadis itu mau pulng bersamanya.
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat Tiara yang sedang tertawa dengan Pricilla, duduk di koridor depan kelas. Itu memang salah satu kebiasaan gadis itu, menunggu sekolah sedikit sepi agar tidak perlu berdesakkan di koridor utama dan pintu gerbang sekolah.
Tawa Tiara membiusnya, mengambil alih dunianya yang kini hanya berisi tentang gadis itu. Terlalu lama di abaikan oleh kedua orang tuanya, membuat Dika berharap lebih untuk bisa di perdulikan dan diperhatikan oleh gadis pertama yang mengambil hatinya itu.
"Hai Ra.. sil?" sapanya kepada kedua gadis yang belum menyadari kehadirannya.
"Ra.. Kamu bisa kan hari ini ngajarin aku Matematika? besok nih jadwalnya. Sekalian belajar bareng deh." beberapa hari kemarin memang Tiara menyanggupi untuk mengajari Dika masalah pelajaran yang pemuda itu kurang paham.
"Boleh sih.. Gue juga udah sembuh. Tapi gue gak bisa kalo di luar. Di rumah gue aja gimana? sekalian sama lo Sil?" tawarnya kepada kedua orang di dekatnya itu. Menatap mereka secara bergantian.
"Gue sih ayo aja! sekalian kangen gue sama dedek gemesh gue, Raka." kelakarnya yang mendapat tabokan di lengan dari Tiara.
"Kalo lo gimana Dik?" tanya Tiara saat tidak mendapat jawaban dari Dika.
"Boleh deh.." sebenarnya Dika berharap bisa belajar di cafe sekalian makan siang. Inginnya hanya berdua biar Tiara semakin peka dengan perasaanya. Tapi dia juga tidak mungkin memaksakan hal tersebut.
Setelah semua setuju, Tiara langsung mengajak mereka pulang ke rumahnya-atau lebih tepat rumah keluarganya. Mereka berjalan bersisian menuju area parkir. Tiara dan Pricilla tidak hentinya bercanda sepanjang jalan, hingga membuat Tiara lengah dan tersandung satu anak tangga.
Saat tubuhnya akan terjatuh, Dika menarik tangannya dan membuat Tiara menabrak dada pemuda itu. Satu tangan Dika yang lain berada di belakang pinggang Tiara, membuat jarak mereka begitu dekat. Rasa gugup menyelimuti mereka berdua, Tiara baru kali ini pandangannya sedekat itu dengan seorang cowok. Jantungnya mulai berulah, menabuh genderang yang rasanya bisa di dengar oleh Dika.
__ADS_1
Ini juga pertama kalinya untuk Dika memeluk seorang gadis. Mata mereka saling pandang, seakan ada magnet yang menarik mereka dan susah untuk berpaling.
"Kalau mau mau mesum jangan di sekolah." celetukan santai dari Alvaro yang melewati mereka begitu saja, membuat dua insan yang masih dalam posisi pelukan itu tersadar dan saling melepaskan diri dan menjauh.
"Hati-hati Ra.."
"I-iya makasih Dik." jawab Tiara masih merasa malu dengan kejadian barusan.
"Udah yuk ah, bikin telenovela-nya nanti lagi aja." Pricilla menarik Tiara menuju mobilnya di parkir. Sedangkan Dika membuntuti mereka berdua dengan sepeda motor miliknya.
"Jangan patahin hati yang baru mulai tumbuh Ra."
Tiara mengernyit mendengar kata-kata Pricilla, yang sudah mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir.
"Maksud lo? hati siapa emang?"
"Hati cowok-cowok di deket lo lah!"
Tiara semakin tidak mengerti. "Dika, maksud lo?"
"Ya, salah satunya."
"Emang ada siapa lagi yang deketin gue?"
Pricilla tidak menjawab. Biar saja nanti sahabatnya sadar sendiri, jika selama ini ada yang diam-diam memperhatikan dan menolongnya.
Bukanya Pricilla tidak suka dengan Dika. Pemuda itu termasuk pemuda yang baik selama dia kenal. Hanya saja, Pricilla merasa Alvaro-lah orang yang lebih bisa menjaga dan mendampingi gadis seperti Tiara. Gerakan Alvaro meski tidak di umbar, tapi selalu cepat responnya untuk menolong Tiara di keadaan darurat apa pun. Seperti saat menolong dan membungkam mulut Sheril. Atau saat memberikan bekal makan siang dan mengambilkan Tiara obat. Meski sikapnya selalu terlihat menyebalkan, tapi di baliknya ada rasa perhatian yang sangat besar. Tak ada keraguan di hati Pricilla untuk mendukung Alvaro mendekati Tiara.
*
*
*
__ADS_1
Seperti aku yang butuh dukungan kalian dengan Like, komen, dan vote agar aku lebih semangat lagi 💕