DEMI DIA

DEMI DIA
Keberangkatan Alvin


__ADS_3

Esok paginya mereka semua ikut mengantar Alvin ke bandara. Shevi, Shera, Rasya bahkan bunda Karina dan Gio berdiri mengelilingi Alvin yang akan berangkat.


Alvin berangkat ditemani kedua orang tuanya. Karena mereka perlu mencarikan apartemen yang aman untuk anak laki - laki satu - satunya yang mereka miliki itu.


" Hati - hati ya Alvin. Belajar yang bener, Bunda tunggu kesuksesan kamu disini " Alvin mencium tangan Bunda Karina kemudi memeluk wanita paruh baya yang sudah seperti ibu kandungnya itu.


" Iya bunda. Jagain adek - adek bun, kalo mereka nakal telfon Alvin aja " Bunda karina hanya tersenyum dan mengusap kepala Alvin lembut.


Alvin berpindah ke Rasya menepuk kepalanya pelan dan memeluk bocah nakal yang sudah seperti saudara kandungnya tersebut.


" Jangan bandel, Dengerin kata bunda dan kakak - kakak kamu. Jagain mereka, kan kamu anak cowok. oke ? " ujar Alvin yang hanya diangguki oleh Rasya.


Gio menepuk bahu sahabatnya dan memeluknya erat.


" Sering - sering pulang atau gadis lo gue ambil " Alvin melepaskan pelukan Gio sambil menatapnya tajam dan membuat Gio terbahak.


Alvin menatap dua kembar itu dan memeluk Shera sekilas " Jangan berantem - berantem lagi sama adek kamu. Abang bangga kamu mau nurunin egomu untuk berbaikan sama Shevi " kemudian Alvin mencubit hidung Shera yang sudah memerah karena menangis itu.


Kini dia menatap gadisnya. Gadis yang dia cintai yang sedang menangis sesenggukan dan menariknya ke dalam pelukannya.


" Udah dong dek jang nangis gitu. Udah jelek jadi tambah jelek kan " Alvin terkekeh pelan saat satu pulukan melayang kecil kedadanya.


" Kalo lo nangis gini abang jadi gak tega buat berangkat. Abang janji bakalan lulus dengan baik dan bisa pantas untuk mimpin perusahaan papih. " Alvin mengusap lembut punggung Shevi.


" Dan abang akan memantaskan diri buat bisa bersanding dengan lo dek " Shevi membeku, dia tak tahu maksud perkataan Alvin yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.


" Gue akan berusaha jadi seperti ayah yang bertanggung jawab. Ayah yang menjaga, menyayangi dan memperlakukan lo kaya putri. Gue bakal berusaha buat jadi seperti itu. Menjadi seperti yang ayah lo mau untuk pantas buat jagain lo. "


Alvin melepas pelukannya dan mencium pipi Shevi sekilas bahkan tidak ada yang menyadari kalau Alvin mencium Shevi kecuali kedua manusia tersebut.


Shevi masih mematung ditempatnya mencoba mencerna baik - baik maksud Alvin. Apakah itu artinya Alvin menyukainya ? Tapi bagaimana dengan Shera ?


" Tunggu abang pulang " Tambahnya lirih dan menghapus air mata dipipi Shevi dengan kedua ibu jarinya. Kemudian mengusap kepala gadis itu lembut kudian melangkah pergi saat pengumuman pesawat yang dia naiki akan segera berangkat.


***


Alvin melihat pemandangan dibawahnya. Kota kelahiran dan dia dibesarkan kini terlihat semakin mengecil.


Dia pergi meninggalkan kenangan bersama keluarganya. Kenangan bersama gadis yang dia cintai selama bertahun - tahun dan dia belum berani mengungkapkan perasaanya.

__ADS_1


Alvin berjanji akan memantaskan dirinya menjadi lebih dewasa yang mencintai Shevi dengan segenap jiwanya. Dia takut kalau sekarang dia hanya cinta monyet yang mudah terganti yang malah hanya akan menyakiti Shevi, walaupun dia yakin cintanya begitu besar untuk gadis itu. Maka dia akan mengutarakan perasaannya kepada gadis itu nanti disaat yang tepat.


Saat dibandara dia sudah memberi kode pada Shevi. Tapi apakah gadis itu mengerti maksudnya, mengingat begitu tidak pekanya gadis itu.


Dia hanya berharap semoga sampai dia pulang nanti hati gadisnya belum terisi nama laki - laki lain. Dan dia akan memastika hanya namanya satu - satunya laki - laki yang ada dihati Shevi.


Alvin duduk dibangku frist class. Disebelahnya ada seorang gadis yang mungkin seumuran dengan dirinya. Tapi dia tak peduli dan tak berkenalan atau hanya sekedar menyapa. Kedua orang tuanya duduk di bangku dibelakangnya.


Alvin memejamkan matanya karena perjalanan masih akan sangat lama. Dia memasang headphone dan mendengarkan permainan piano Shevi yang selalu membuatnya jatuh hati sampai akhirnya dia benar - benar tertidur.


***


Shevi dan yang lain langsung pulang begitu Alvin tenggelam di pintu keberangkatan. Gio berpisah di tempat parkir karena dia membawa mobil sendiri.


Shevi yang duduk didepan disamping mang udin hanya diam saja sejak tadi. Dia memandang keluar jendela tanpa fokus apa yang sebenarnya dia lihat.


Gadis itu melamun, dia merasa kehilangan dengan perginya Alvin. Cowok yang selalu mengusilinnya tapi selalu perduli dan perhatian terhadapnya.


Mungkin diantara yang lain hanya dia yang menangis sampai sesenggukan. Bahkan sampai dibilang lebay sama Rasya. Padahal Alvin hanya pergi untuk menuntut ilmu tapi dia sudah menangis seperti ditinggal untuk selamanya oleh Alvin.


Dan apa maksud dari perkataan Alvin barusan yang bilang dia akan berusaha pantas untuk bersanding dengannya dan menyuruhnya untuk menunggunya.


" Mau mampir sarapan dulu nggak ? " Suara bunda memecah keheningan yang tercipta dan melihat satu persatu anak - anaknya.


" Rasya mau bun, Laper " Eluh anak laki - laki yang umurnya hampir sembilan tahun itu.


" Kakak - kakak gimana? "


" Shera mau aja bun "


" Shevi " Bunda menepuk pelan lengan putrinya yang sedari tadi melamun.


" Eh kenapa bun ? " Shevi yang tersadar dari lamunannya kemudian menoleh kearah bundanya.


" Kamu tuh ngelamunin apa si sayang ? Bunda tadi tanya mau mampir sarapan?? " Bunda mengusap - usap lengan putrinya yang tidak seceria biasanya.


" Gak ngelamunin apa - apa kok bun.. Mau, Shevi mau sarapan. Laper juga kayaknya nih " Shevi menampilkan deretan giginya yang berjejer rapi.


Akhirnya mereka mampir kesalah satu restoran untuk sarapan karena sudah bilang ke bibi dirumah supaya tidak memasak.

__ADS_1


***


Empat belas jam kemudian Alvin sudah sampai di bandara Schipol. Alvin melangkah keluar dengan tangan satu menarik kopernya dan satu lagi dia masukan kesakunya.


Alvin melangkah mengikuti kedua orang tuanya yang katanya sudah dijemput supir didepan.


Dari belakang dia titabrak seorang gadis yang terlihat buru - buru.


" Sory.. sory.. " Gadis itu membungkuk mengucapkan kata maaf.


Alvin mengernyitkan kedua alisnya saat mengenali bahwa gadis itu adalah gadis yang duduk disebelahnya tadi didalam pesawat.


" Gak papa. Lo gadis yang duduk disebelah gue kan tadi ? Penerbangan Indonesia ? "


Gadis itu menoleh dan memandang wajah Alvin. Ganteng juga batinnya.


" Iya, Gue Sisil. Gue buru - buru tadi, Sory ya udah nabrak lo "


" Iya gak masalah kok. Lagian gue gak cedera. Gue cabut dulu udah ditungguin ortu gue " Tunjuk Alvin kearah orang tuanya yang sudah melambaikan tangan agar Alvin cepat menyusul.


Sisil baru ingat tadi tidak sempat tahu namanya dan dia berteriak menanyakan nama saat Alvin sudah mulai menjauh.


Alvin berbalik saat mendengar teriakan Sisil dan menyebutkan namanya.


Sisil senang untuk hari pertamanya dia sudah mendapat kenalan. Walaupun entah mereka akan bertemu lagi atau tidak. Jodoh tidak ada yang tahu. Siapa tahu mereka masih di takdirkan untuk bisa berjumpa kembali. Sisil tersenyum saat memikirkan hal itu.



Alvin saat di Bandara Schipol


*


*


*


Happy Reading 💕


Beri aku semangat dengan Like , Komen, Rate dan Votenya 😍

__ADS_1


__ADS_2