DEMI DIA

DEMI DIA
Bangkit


__ADS_3

Akhirnya Alvin bekerja di salah satu hotel milik keluarga Gio sebagai staf biasa karena belum ada lowongan yang pas untuk Alvin. Menerima pekerjaan itu walaupun gajinya hanya UMR yang jauh dari gajinya dulu, tapi setidaknya ada penghasilan untuk dirinya dan Tania makan.


Alvin menghela nafas saat menerima gaji dimuka. Kemarin sepuluh juta saja sebulan habis. Lalu bagaimana dengan ini. Alvin tidak pernah hidup kekurangan sebelumnya. Mau apa saja tinggal beli tanpa memikirkan berapapun harganya. Tapi sekarang hanya ingin makan enak saja susah. Kendaraan satu - satunya hanyalah mobil jenis hatchback milik Tania. Ya setidaknya dia masih bersukur ada kendaraan untuk transportasinya.


Sebulan lebih tinggal dengan wanita itu membuat Alvin tidak terlalu membencinya lagi. Membuatnya sedikit lebih bisa menerima kehadiran wanita itu dan calon anak dalam kandungannya. Walaupun sikapnya masih dingin tapi setidaknya ia sudah tidak pernah lagi membentak Tania. Walaupun tetap saja pertengakaran setiap hari pasti terjadi. Entah karena hal sepele atau Tania yang selalu saja mengeluh tentang sikapnya yang acuh. Belum lagi saat wanita itu menggodanya untuk melayaninya diatas ranjang. Rasanya Alvin ingin meninggalkan Tania saat itu juga. Tapi kembali lagi Alvin tidak ingin menyesal kalau seandainya anak itu benar anaknya. Jadi saat Tania sudah mulai bertingkah Alvin akan langsung memasuki kamarnya dan mengunci pintu.


Ingat kata - kata Shevi kalau hamil tanpa suami itu berat. Sebisa mungkin Alvin memerankan sosok calon ayah untuk anak Tania walaupun dirinya masih belum tahu apakah anak dalam kandungan wanita itu adalah anaknya. Alvin selalu menganggap jika apa pun yang dia lakukan adalah untuk menebus ketiadaannya untuk Shevi saat hamil Tiara dulu. Jadi setiap Alvin membantu Tania saat pagi hari wanita itu muntah - muntah, Alvin membayangkan jika itu Shevi. Begitu juga saat Alvin menuruti keinginan Tania yang aneh - aneh yang katanya ngidampun Alvin tidak pernah protes, selalu dia belikan walau secape dan selelah apapun.


Seperti sore ini saat dirinya pulang kantor Tania menelfon memintanya untuk membeli asinan bogor yang langsung beli dibogor. Alvin hanya menghela nafas dan mulai melajukan mobilnya kearah bogor. Sebenarnya ingin membeli yang dia lewati saja. Tapi ingat saat beberapa hari yang lalu saat dirinya membeli makanan bukan di tempat yang Tania minta, wanita itu langsung muntah - muntah dan tahu kalau Alvin tidak beli ditempat yang dibilang. Akhirnya Alvin harus membeli lagi sesuai keinginan Tania.


" Sabar Alvin.. Tunggu sampai anak itu lahir dan tinggalkan dia.. Anggep aja ini Shevi yang minta saat dulu hamil Tiara." Selalu kata itu yang Alvin rapalkan sebagai bentuk penghiburan agar tidak emosi.


Alvin jadi berfikir dulu Shevi ngidam apa ya? siapa yang membelikan? merepotkankah saat Shevi dulu ngidam? pernahkah Shevi menginginkan dirinya yang mencari atau membuatkan sesuatu ?? Mengingat itu Alvin menjadi sedih dan merasa bersalah tidak bisa menemani istrinya saat hamil dulu.


Alvin menepikan mobilnya saat melewati tukang asinan diperbatasan kota bogor. Ini sudah masuk bogor kan ?


" Mang.. asinannya satu porsi dibungkus."


" oke den, sakedap enya " Alvin duduk sambil menunggu pesanannya dibuatkan. Disana masih ada dua pembeli lagi yang harus bapak itu layani terlebih dahulu.


Setengah jam kemudian akhirnya pesanannya jadi juga.


" Ieu den, buat istri anu ngidam enya ?? " Alvin tersenyum kikuk dan mengangguk.

__ADS_1


" Orang ngidam mah kitu den, suka bikin lieur. Aden sing sabar.. bogoh ka calon anak. " Nasihat dari bapak penjual asinan yang sudah sering melayani pembeli yang istrinya ngidam minta di belikan asinan asil dari bogor langsung seperti Alvin ini.


" Iya mang makasih.. " Alvin membayar pesanannya.


" Nuhun den.. Sehat - sehat istri sareng calon anaknya " Alvin tersenyum mengangguk dan pergi memasuki mobilnya. Badannya sudah lelah dan sekarang harus menempuh perjalanan pulang yang cukup jauh.


***


Riuh tepuk tangan penonton mengahiri penampilan Shevi diatas panggung. Wanita satu anak yang tubuhnya masih seperti seorang gadis itu malam ini berhasil membawa grup orkesnya mengiringi pagelaran musik yang ditampilkan televisi swasta nasional. Biasanya hanya konser - konser off air yang dia dapatkan untuk grupnya. Tapi kali ini dirinya diundang untuk mengiringi konser besar di televisi tersebut. Bukan hanya timnya saja, tapi dirinya juga mengisi acara secara khusus sebagai pianis yang namanya sudah terkenal di New York sana.


Bunda Karina sebenarnya sudah sering menawari Shevi untuk mengisi di stasiun milik keluarga mereka. Tapi Shevi selalu menolaknya. Dia ingin terkenal dengan namanya sendiri. Dan dia ingin grupnya sukses dengan usahanya sendiri tanpa embel - embel nama sang Bunda dibelakangnya. Cukup dengan doa dan dukungan saja yang bunda Karina berikan itu sudah lebih dari cukup untuk Shevi.


Saat turun dari stage Shevi disambut pelukan dari sahabat - sahabatnya. " Kalian disini ?? "


" Lo mah gitu ndah.. Sedih tau gue.. Jadi istri cuma berapa bulan doag huuaaa " Shevi pura - pura menangis. Saat ini mereka sudah ada didalam ruangan khusus untuk Shevi.


" Uluh uluh tayangg.. Sini peyukkk " Indah langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


" Udah lah vii.. Ngapain juga lo mikirin Alvin yang gak jelas itu.. Mending sekarang cari yang ganteng aja disini.. Kan banyak artisnya " Nurin menaik turunkan alisnya dengan senyum sejuta watt'nya.


" Wahhh.. Gue bilangin Leon lo mau cari cowo lagi Rinn.. " Lidia menggelengkan kepalanya.


" Iya lo Riinn.. Udah punya cowok juga.. Biar Shevi sama gue aja cari cowoknya.. Gue kan masih available.. "

__ADS_1


" Kak Andrian mau lo kemanain ?? " Lidia menoyor kepa Indah membuat gadis itu melotot kearahnya.


Indah mencebik " Capek gue nungguin dia.. Ngomongnya doang mau nikahin gue.. Tapi sikapnya aja masih dingin gitu.. Ogah gue juga !! "


" Lho bukanya kata Ricky, kak Andrian udah siap banget buat niakhin lo.. Udah ngomong juga kan ke nyokap bokap lo kalo dia pengen nikah secepatnya ?? "


" Iya sih emang.. Tapi gue yang gak mau dan gak siap.. Udah lah panjang ceritanya gak bakalan abis kalo gue ceritain " Indah mengibaskan tangannya tak ingin lagi melanjutnya pembahasan tentang Andrian si manusia kulkas kesayangan sekaligus nyebelin itu.


" Gimana persiapan pernikahan lo Lid ?? " Nay bertanya saat mereka sudah berada didalam mobil setelah Shevi mengucapkan terimakasih, selamat dan rasa bangganya kepada anak asuh alias timnya.


" Udah hampir tujuh puluh lima persen lah.. Masih banyak juga yang musti diurus.. Pusing gue.. Harus nyelesain kerjaan dikantor. Dipusingin juga sama persiapan pernikahan. "


" Lo kan pake WO kok masih lo urusin sendiri sih ?? " Shevi bingung.


" Ya masalah tema, gedung, catering si emang udah clear ditanganin sama WO. Mereka cuma minta pendapat kita aja. Tapi untuk baju dan lain - lain kan kita urus sendiri. Untungnya baju udah pesen jauh - jauh hari sama sahabat terbaikku ini " Nurin sebenarnya bukan designer untuk bridal. Tapi dia membuat itu khusus untuk sahabat yang sedang memeluknya dari samping ini.


Yang lain hanya mengangguk - angguk. Mereka menyambut antusias pernikahan Lidia. Mereka juga siap membantu apa saja jika Lidia membutuhkan.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2