DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Gak Suka Makan Ati


__ADS_3

Mendengar ada gadis lain yang membicarakan suaminya. Mengharapkan berdiri di posisinya saat ini. Membuat Tiara terbakar cemburu. Wanita mana yang tidak marah jika ada wanita lain yang mengharapkan suaminya.


Jika hanya sekedar mengaggumi dia masih bisa menerima. Alvaro tampan, jadi wajar jika banyak yang suka.


Tapi jika mengharapkan dalam wujud nyata, bukan hanya kehaluan semata. Itu sudah lain lagi ceritanya. Dia tidak akan membiarkan Alvaro-nya tergoda wanita manapun. Selamanya Alvaro hanya akan menjadi miliknya.


Di tengah rasa cemburu itu. Rasanya ia justru marah kepada suaminya. Tidak mungkin seorang wanita berharap lebih jika si pria tidak memberikan harapan lebih juga.


"Gitu doang Ra. Banyak di kampus yang ngomongin laki lo juga." inginnya menikmati yang lebih dari ini. Tapi rasanya kasihan juga melihat sahabatnya marah seperti itu.


Tiara menarik napas dan menghembuskannya melalui mulut dan mengulanginya berkali-kali. Mencoba menenangkan hati.


"Itu mantan tunangannya?" bisik Pricilla tidak ingin ketiga gadis itu mendengar.


Tiara mengangkat bahu dan meminum minuman dinginnya sebelum menjawab. "Mungkin." karena dia sendiri juga belum pernah bertemu atau hanya melihat foto Aulia. Alvaro hanya sempat menceritakan tentang tunangannya yang bernama Aulia. Gadis manis turunan jawa asli yang anggun.


Tapi coba lihat. Anggun dari mana kalau tertawa terbahak-bahak seperti itu. Mungkin konsep anggunnya hanya di pakai jika di hadapan Alvaro dan keluarganya saja.


"Tenang Ra. Masih cantikan lo kemana-mana." tegas Pricilla menyakinkan sahabatnya.


"Emang lo liat mukanya?" yang dapat Tiara lihat dari posisinya hanya punggung yang tertutup rambut panjang lurus dengan warna hitam legam.


Pricilla meringis dan menggaruk ujung pelipisnya. "Enggak sih. Tapi buktinya Alvaro lebih milih lo dari pada cewek yang udah lima tahu jadi tunangannya."


Tiara tidak menanggapi ucapan Pricilla, karena pada saat yang bersamaan ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk dari suaminya.


"Dimana?" hanya kalimat singkat itu yang di kirimkan Alvaro padanya.


"Kantin anak Ekonomi." balasnya. Terlalu fokus mendengar gadis-gadis di depannya bergosip sampai ia tidak menyadari dua jam telah berlalu.


"Lo gak masuk kelas Sil?"


"Gue gak mau ketinggalan tontonan seru! kapan lagi kan gue liat lo cemburu." jawab Pricilla di akhiri dengan tawa kecil. Sebenarnya gadis itu tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian dalam keadaan emosi seperti itu. Banyak pengalaman mengajarinya untuk tidak membiarkan Tiara sendiri saat sedang emosi, jika ia tidak ingin gadis itu membuat ulah. Sudah banyak bukti Tiara di skorsing saat membalas Sheril dulu di masa menengah atas.


Tiara berdecak. "Gue gak cemburu!"

__ADS_1


"Masa?" terkekeh. "Mana ada sih Ra. Orang gak cemburu cuma ngaduk-aduk bubur jadi kaya muntahan gitu."


Tiara menatap mangkuk bubur dan merasa jijik sendiri dan menjauhkannya.


"Padahal tadi pas telfon gue katanya laper makanya nyuruh gue buru-buru. Sekarang dimakan aja gak."


Tidak peduli dengan celotehan sahabatnya. Memilih meminum minumannya hingga tandas.


Ketiga gadis itu berbisik-bisik dan menunjuk arah pintu masuk. Disana ada Alvaro yang tersenyum. Senyum yang memabukan setiap gadis yang melihatnya.


Aulia dan teman-temannya mengira itu senyuman untuk mereka. Karena siapa lagi yang Alvaro kenal di jurusan Ekonomi jika buka Aulia.


Dibelakang mereka bertiga Tiara menatap Alvaro tajam dan mencibir. "Terus aja tebar pesona!" menghentakan kakinya gemas. Tak tahukah suaminya itu jika hatinya panas.


Alvaro yang tidak mengerti kenapa tatapan istrinya tidak bersahabat seperti itu padahal tadi saat ia tinggalkan baik-baik saja. Terus mendekat masih mempertahankan senyumannya.


Tidak menyadari jika Aulia duduk di sana sampai gadis itu menyapanya. "Hai Al. Cari siapa?"


Langkah Alvaro terhenti. Menatap ketiga gadis itu. "Eh. Hai Lia. Kamu di sini juga?"


Mulut Tiara sudah menganga saat mendengar kata 'Kamu' keluar dari mulut suaminya.


"Terus, kamu kesini cari siapa? ada kenal anak Ekonomi juga?"


"Oh enggak. Aku mau jemput..... permaisuriku." jawab Alvaro menatap tepat ke bola mata istrinya yang sedang membeku di tempat.


Ketiga gadis di meja itu mengikuti arah pandangan Alvaro dan menemukan Tiara di sana. Duduk dengan sahabatnya yang sedang tersenyum cerah dan melambaikan tangan dan mengucapkan sapaan "Hai."


Aulia dan kedua temannya menelan ludahnya kelat. Pasalnya sedari tadi mereka membicarakan Alvaro tanpa tahu di tempat itu ada Tiara. Setahu mereka, Tiara itu anak kedokteran. Dan kecil kemungkinan akan singgah di kanting anak Ekonomi yang gedungnya cukup jauh dari Fakultas Kedokteran. Mereka bertiga tidak pernah memikirkan kemungkinan itu malah.


"Aku kesana dulu." ucap Alvaro dan memberikan senyum terakhir untuk pamit.


"Kok gak di makan? Kan belum sarapan, nanti laper!" ucap Alvaro yang melihat mangkuk Tiara masih penuh setelah mengecup dahi istrinya dan duduk di tempat Pricilla yang sudah berpindah tepat di depan Tiara.


"Udah kenyang makan ati tadi." Pricilla yang menjawab.

__ADS_1


"Lo beli sate ati yank? bukannya gak suka jeroan?"


Pricilla tertawa mendengar pertanyaan Alvaro.


"Iya. Dia gak suka. Sampe empet katanya tadi."


"Lagi udah tau gak suka ngapain maksa makan ati sih? tar kalo lo sakit gimana?" mengusap rambut istrinya. Tiara memutar bola matanya.


"Lo cerdas lho Al. Tapi kok bego ya!" Pricilla lagi-lagi tertawa. Membuat Alvaro mengerutkan keningnya dan menatap istrinya bingung.


"Pricilla lo dengerin."


Alvaro tersenyum. Sebelah tangan yang tadi mengusap rambut istrinya kini di letakkan di atas sandaran Tiara. Sebelah lagi di tumpukan pada meja di depan gadisnya itu. Mendekatkan mulutnya ke arah telinga istrinya dan berbisik. "Masih sakit?"


Mata Tiara membulat sekejap dan kembali normal saat tangannya menyerang paha suaminya dengan cubitan keran.


"Ampun! Ampun yank. Gue kan cuma tanya." protes Alvaro mengusap pahanya yang ia yakin akan meninggalkan bekas keunguan besok pagi.


"Plis deh. Cukup di rumah aja kalo mau pada mesra-mesraan! pulang sono lo pada!"


Tiara dan Alvaro terkekeh melihat wajah Pricilla yang Bete. Interaksi ketiganya tidak lepas dari pengawasan tiga gadis di depan sana.


"Udah Ah. Gue mau masuk kelas aja! dari pada panas ngeliat kalian sok romantis begitu." saat mengucap kata 'panas' mata Pricilla melirik ke arah Aulia dan teman-temannya berada.


"Hamba mohon undur diri yang mulia permaisuri.. yang mulia kaisar.." Pricilla menumpuk kedua telapak tangannya di depan perut dan menunduk hormat ke arah Tiara dan Alvaro bergantian. Ketiganya terkekeh geli sendiri.


"Gih sana pergi. Cari panglima perang biar lo gak kesepian di tengah pasangan yang lagi kasmaran." timpal Alvaro menggerakan tangannya mengusir Pricilla.


Pricilla mencebik dan benar-benar meninggalkan mereka berdua.


"Mau pulang?" tawar Alvaro dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda.


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa jejak 💕🤗


__ADS_2