
Alvaro sudah berada di rumah sejak sore. Ada rasa khawatir, mommy Shevi akan mengadukannya pada sang istri.
Namun yang ia takutkan tidak terbukti. Tiara baru pulang ke rumah jam 8 malam. Dengan wajah lelah dan kusut. Alasannya adalah sehabis praktikum langsung mengerjakan tugas kelompok juga laporan.
Wanita itu langsung membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.
"Yank, tadi aku-"
"Besok aja ya, Al. Aku cape banget." potong Tiara begitu Alvaro akan menceritakan kejadian siang tadi.
"Sebentar aja, yank.. kita ngobrol sebentar."
"Aku bener-bener cape, Al. Besok ya?" Tiara mengusap rahang suaminya. Diberikannya sebentuk senyum manis dan kecupan selamat malam.
Alvaro menghembuskan napas. Turun dari tempat tidur dan memilih untuk mengerjakan skripsi atau pekerjaan yang hari inibelum tersentuh, setelah Tiara benar-benar tertidur.
Selalu saja seperti itu. Semenjak Tiara semakin sibuk dengan kuliahnya. Mereka menjadi kurang waktu untuk mengobrol.
Jika ditanya apa pria itu bosan?
Iya. Alvaro merasa bosan dengan pernikahan yang dirinya jalani. Atau lebih tepatnya lelah dengan kondisi hubungan mereka saat ini. Hubungan mereka semakin terasa hampa dengan kesibukan mereka masing-masing.
Semenjak Tiara kembali melanjutkan kuliah. Perempuan itu sibuk dengan kuliah dan anak-anak.
Sedangkan Alvaro sibuk dengan segudang pekerjaan karena perkembangan kantornya yang melejit pesat. Bahkan ia sudah mulai merekrut tenaga profesional sebagai arsitektur andalannya.
Belum lagi kesibukan skripsi yang menguras waktunya untuk keluarga.
Tiara dan Alvaro hanya bertemu malam hari di atas tempat tidur. Mereka masih melakukan kewajiban mereka masing-masing untuk memberikan nafkah batin pada pasangan.
Tapi melupakan poin penting. Hubungan suami istri meski rutin di lakukan tidak membuat hubungan mereka kembali utuh seperti dulu.
Meski mereka masih saling mencintai. Tapi dengan komunikasi mereka yang kurang. Waktu untuk sekedar duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati, dari hal penting hingga remeh yang bahkan sangat tidak penting, itu sangat berpengaruh untuk kerenggangan hubungan mereka.
Karena kadang hal-hal remeh yang mereka bicarakan lebih penting dari hal terpenting sekalipun. Canda tawa yang hanya milik mereka itu lah perekat rumahtangga mereka. Hal yang orang lain tidak lihat.
Dan tanpa mereka sadari, mereka membuka celah untuk masuknya orang ketiga yang mungkin bisa memisahkan mereka jika saja mereka tidak saling intropeksi dan memperbaiki diri.
__ADS_1
***
Siang harinya, Alvaro di panggil ke kantor daddy Alvin untuk membicarakan proyek taman kanak-kanak milik yayasan sosial mommy Shevi dan ada proyek baru dari klien penting dan berpengaruh.
Setelah sebelumnya mampir ke kantor untuk mengambil berkas yang di butuhkan. Juga mengecek pekerjaan lainnya. Alvaro langsung meluncur ke gedung pencakar langit tempat ayah mertuanya memimpin perusahaan.
Disana. Seperti biasa, Alvaro langsung menuju ruangan daddy Alvin.
Karyawan disana sudah tahu siapa Alvaro dalam keluarga Mahesa.
"Masuk." sahut suara dari dalam ruangan begitu sekretaris daddy Alvin mengetuk pintu.
"Mas Alvaro sudah datang, Pak." lapor sekretaris daddy Alvin yang sedang hamil besar itu.
"Suruh dia masuk. Sekalian panggilkan Jodi kemari." peritah itu langsung di iya kan.
Tak lama Alvaro masuk di susul Jodi. Asisten setia daddy Alvin.
Sesuai janji, mereka membicarakan proyek kerjasama mereka yang tengah berjalan. Disambung beberapa proyek lain yang akan daddy Alvin percayakan pada perusahaan sang menantu.
Selama ini tidak ada yang mengecewakan. Daddy Alvin selalu puas dengan proyek yang ia percayakan pada perusahaan rintisan Alvaro.
"Kamu bisa dulukan yang ini dulu dari proyek lain yang daddy kasih. Soalnya Tuan Haris orangnya perfeksionis. Kalau beliau ingin hari itu jadi, berarti kita harus sanggup."
Alvaro mengangguk mengerti. Dan sepertinya harus tangannya sendiri yang mengerjakan. Karena nama perusahaannya sebagai taruhan.
Jika ia bisa menyelesaikan proyek ini dan memuaskan Tuan Haris. Berarti jalannya di dunia bisnis semakin terbuka. Begitu pula sebaliknya. Jika ia mengecewakan klien pentingnya kali ini, akan banyak klien yang tidak percaya lagi pada perusahaannya.
"Akan Al usahakan, Dad. Kalau proyek yang lain bisa anak-anak yang pegang."
Daddy Alvin selalu suka dengan sikap Alvaro yang satu ini. Tanggung jawab dan kesiapan mentalnya tidak di ragukan lagi.
"Ya sudah. Kamu boleh keluar Jod. Urus surat kontrak kerjasamanya."
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi."
Setelah Jodi undur diri, Daddy Alvin mengajak Alvaro membicarakan hal yang lebih serius di bandingkan pekerjaan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan rumahtanggamu?" tanya daddy Alvin langsung pada intinya.
"Ma-maksud daddy?" perasaan Alvaro mulai tidak enak. Pria muda itu menelan ludahnya kelat.
Ditodong langsung oleh ayah dari wanita yang ia nikahi, serasa sedang disidang karena ketahuan mencuri.
Atau sama dengan melamar anak gadis yang ia hamili. Padahal ia sendiri belum pernah tahu bagaimana rasanya melamar anak gadis. Yang jelas ada rasa takut, khawatir dan tegang bercampur jadi satu.
"Ya.. Dengan kesibukan Tiara sebagai mahasiswa dan kamu yang sibuk kerja juga skripsi. Anak-anak tidak kalian abaikan, kan? mereka tidak kurang perhatian dan kasih sayang dari kalian, kan?"
"Anak-anak sering protes sih dad. Hanya setelah diberi penjelasan, anak-anak bisa mengerti." jawab Alvaro ragu. Karena ia sendiri tidak tahu pasti anak-anaknya memang mengerti atau mereka terpaksa mengerti dengan keadaan.
"Tapi kalian masih memiliki waktu untuk mereka, kan?" cecar daddy Alvin lagi.
Alvaro mengangguk. "Sebisa mungkin jika Tiara pulang terlambat, saya pulang lebih cepat dad. Begitu juga sebaliknya."
"Syukurlah jika seperti itu. Jangan sampai ambisi kalian mengesampingkan perasaan anak-anak. Apa lagi Fari dan Vindra masih sangat butuh perhatian dari kalian berdua." ucap daddy Alvin yang kini menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti kesibukan kalian. Jadi tolong sebisa mungkin luangkan waktu kalian untuk mengajak cucu-cucu daddy jalan-jalan. Atau setidaknya temani mereka bermain."
Alvaro mengangguk. Ada rasa bersalah terbesit dalam hatinya.
Jika daddy Alvin saja memikirkan perasaan kedua putranya, kenapa ia bisa abai?
Hanya karena kedua jagoannya tidak pernah protes dan merengek memintanya menemani bermain. Ia anggap anak-anaknya tidak membutuhkannya menemani mereka.
Entah jiwa mudanya yang belum memahami pola pikir anak-anaknya. Atau dirinya yang tidak mau belajar untuk mengerti. Belajar untuk menjadi ayah yang baik.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan istrimu?"
"Ba-baik dad." lagi-lagi jawaban Alvaro tidak yakin.
Daddy Alvin menaikkan kedua alisnya merasa tidak puas dan tidak yakin dengan jawaban anak menantunya.
"Sedikit... hampa mungkin." jawab Alvaro jujur. "Kadang Tiara pulang sudah dalam kondisi lelah. Kadang saya yang pulang terlalu larut hingga Tiara dan anak-anak sudah tertidur. Jadi kurang komunikasi."
*
__ADS_1
*
*