
Setelah Tiara berpindah kebelakang untuk memeluk anak-anaknya yang menangis, barulah mereka tenang dan tertidur.
Ada perasaan bersalah ketika ia tak bisa menahan emosinya di hadapan anak-anak. Padahal bukan salah mereka merengek. Biasanya pun Tiara masih bisa menangani anak-anaknya yang rewel dengan tenang.
Tapi emosi pada sang suami membuatnya mudah terpancing dan tanpa sengaja berseru dengan nada tinggi pada anak-anak.
Kini setelah anak-anak tenang, justru perempuan itu yang tak bisa menghentikan lanju bening dari matanya.
"Kenapa sesak sekali? beginikah rasanya patah hati?" batin Tiara. Meski dulu ia pernah melihat suaminya di peluk wanita lain, dan ia juga sakit.
Tapi kali ini rasa sakitnya lebih hebat lagi. Karena dulu amarahnya menguap karena rasa bersalah ketika suaminya kecelakaan. Juga sebelumnya mendengar penjelasan dari Alvaro jika itu hanya teman masa kecilnya.
Tapi sekarang? gadis itu bahkan sangat berharap pada suaminya. Dan wanita tidak akan begitu percaya dirinya untuk berharap jika si lelaki tidak memberi lampu kuning. Memberi harapan untuk jalannya terbuka.
"Lain kali, tolong jaga emosi kamu di depan anak-anak. Kasihan mereka takut." ucap Alvaro memecah keheningan. Juga setelah memastikan kedua buah hatinya telah terlelap.
Tiara mendengus. "Selama ini pun gue gak pernah lepas kontrol di depan anak-anak." menggerutu dalam hati. Malas menanggapi suaminya.
Alvaro bukannya tidak bisa melihat istrinya yang masih menangis meski tidak ada isak tangis yang terdengar. Dari spion tengah, pria itu melihat jelas istrinya yang duduk di tengah anak-anak, mengusap wajahnya berkali-kali.
Sungguh. Alvaro juga merasa teriris melihat istrinya seperti itu. Luka yang ia berikan pada istrinya juga menyakitinya lebih dalam.
"Maaf.. Aku memang salah. Tapi-"
"Bisa gak, dibahasnya nanti aja dirumah?"
"Tapi kamu perlu denger-"
"Tadi lo sendiri kan yang bilang, kalau gue jangan sampai lepas kontrol di depan anak-anak?! jadi ya udah sih, entar aja!" Tiara tidak mempedulikan sebutannya lagi yang kembali pada lo-gue. Masa bodoh dengan hal seperti itu. Hatinya sudah hancur berantakan. Padahal ia tak melihat suaminya tidur dengan wanita lain seperti sang mommy dulu. Tapi ini saja rasanya sudah meluluh lantakan.
Alvaro menghela napas dan mengalah.
***
Setelah menidurkan anak-anak dengan hati-hati dan menyuruh babbysitter untuk menjaga, Tiara lngsung menuju kamarnya sendiri.
Bukan untuk menemui suaminya yang sudah menunggu dan siap menjelaskan. Wanita itu masuk kedalam kamar mandi dan membanting pintunya keras. Jiwa mudanya masih jiwa pemberontak. Jiwa muda yang telah lama ditidurkan semenjak memiliki anak, kini serasa di bangkitkan dengan ulah suaminya.
__ADS_1
Alvaro mengelus dada kaget. Jika saja dirinya sedang tidak merasa bersalah, pasti ia sudah berdebat dengan sang istri yang ia rasa tidak sopan membanting pintu seperti itu.
Didalam, Tiara menenggelamkan dirinya pada bathup. Mencoba mendinginkan kepalanya yang mendidih.
Ketika cara itu tak berhasil, wanita itu berdiri di bawah kucuran air shower dan kembali menumpahkan tangisannya. Dengan mulut yang juga menumpahkan segala caci maki untuk sang suami.
"Dasar cowok brengseekk!! gue capek-capek ngurus anak dan dia seneng-seneng sama cewek lain!!"
"Kalau memang gak ngijinin buat kuliah, harusnya bilang! jangan malah ujung-ujungnya main belakang saat gue sibuk!!"
"Kenapa nasib gue gak pernah beruntung... Apa lo ngerasa gue masih kurang menderita, Al?" mama muda itu jatuh terduduk menangis pilu. Menangisi nasibnya yang sedari kecil tidak seberuntung kebanyakan orang.
Lahir tanpa ayah. Di cap anak haram dan sering mendapat hinaan sedari kecil. Menikah muda karena jebakan. Hamil kembar di usia muda yang sangat sangat sangat tidak mudah untuk ia jalani. Dan sekarang apa? diselingkuhin?
Apa nasib beruntung enggan mendekati wanita yang lahir di luar nikah sepertinya?
Apa dosa kedua orang tuanya, harus ia yang menanggung seperti ini?
Apa ini karma, karena dulu daddy Alvin pernah menyakiti mommy-nya?
Dan, apa harus ia yang mendapat ini semua?
Beberapa jam Tiara habiskan di kamar mandi hanya untuk menangis.
Biarlah. Biar ia habiskan stok air mata, agar nanti ia bisa berdiri tegak menghadapi Alvaro tanpa drama air mata.
Ia tak ingin terlihat lemah. Ia tak ingin terlihat menyedihkan dihadapan suaminya. Ia tak ingin suaminya merasa menang dan paling di butuhkan.
Ia akan tunjukan, jika ia adalah Tiara. Si gadis kuat yang mampu menghadapi segala caci maki. Mampu melawan Alvaro sama ketika mereka sekolah dulu. Berdiri tegak demi membela harga dirinya.
Suara ketukan pintu terdengar. Bersahutan dengan suara sang suami yang terdengar khawatir.
"Yank.. Kamu baik-baik aja kan di dalam?"
Tiara mendengus. "Emang lo pikir gue ngapain di sini? bunuh diri?" cibir Tiara yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri.
"Yank.. Nanti kamu sakit. Jangan lama-lama mandinya."
__ADS_1
"Huh. sok peduli. Padahal seneng kalau gue sakit terus mati. Biar bisa cepet nikah sama tuh cewek." lagi-lagi bergumam hanya untuknya sendiri. Sambil mencari dan memakai baju di ruang ganti. Padahal suaminya masih menggedor-gedor pintu kamar mandi. Yang semakin lama gedoran semakin keras.
"Kalau kamu gak keluar juga, aku dobrak pintunya!" ancam Alvaro yang semakin panik karena sedari tadi istrinya tidak menyahut.
Berulang kali ia tempelkan telinganya di daun pintu dan tidak terdengar apa pun. Hanya suara gemericik air yang hingga saat ini masih terdengar.
Tiara memang sengaja tetap menyalakan shower agar suaminya tidak tahu ia sudah selesai dengan urusan mandinya.
"Aku hitung sampai tiga, kalau kamu belum keluar, pintu ini benar-benar aku dobrak!"
Alvaro semakin kalang kabut ketika masih tak ada sahutan dari dalam.
"Satu!"
"Dua!"
"Ti-"
"Dobrak aja!" sahut Tiara keluar dari pintu ruang ganti sebelum suaminya benar-benar merusak pintu kamar mandi mereka.
Alvaro menelan ludahnya kelat. Menatap istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Benarkah ini istrinya?
Tiara mengenakan lingerie. Baju yang selalu wanita itu anggap menjijikan karena sama saja seperti tidak memakai baju. Dan bukan Tiara banget.
Tapi kali ini Tiara kenakan justru di saat yang tidak tepat. Disaat suaminya tidak dapat menyentuhnya.
Jangankan menyentuh. Mendekat saja Alvaro yakin ia akan langsung di usir.
Alvaro masih belum percaya dengan apa yang ia lihat. Apa lagi dengan rambut basah yang tergerai semakin membuat istrinya terlihat menggoda.
Sedang Tiara dengan santai melenggang melewatinya menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Juga melakukan ritual lain yang biasa wanita itu lakukan.
*
*
__ADS_1
*