DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Acuh


__ADS_3

Apalah arti setia, jika ia berdusta.


Apa arti berkorban, jika tak di hargai.


Apa arti berjuang, jika sebelah saja.


Apa arti bahagia, jika hanya sandiwara.


Tiara kira, selama ini rumah tangganya baik-baik saja. Semua berjalan baik dan bahagia.


Tak pernah ia kira, jika suaminya menganggap rumah tangga mereka membosankan.


Ia tak pernah tahu, jika kesibukannya membuat sang suami berpaling.


Jika ada yang bertanya, apa sakit?


Semua pasti tahu jawabannya. Ditusuk oleh orang yang paling kita percaya itu sakitnya berkali-kali lipat.


Apa lagi tak ada yang mendukungnya. Semua orang seakan menutupi kesalahan suaminya. Membuatnya buta akan keadaan yang sesungguhnya.


Lantas, apakah ia akan memaafkan Alvaro setelah ayah dari anak-anaknya itu mengaku?


Jelas saja tidak!


Atau setidaknya, tidak akan semudah itu mendapat maaf darinya. Terlebih sakit hatinya tak akan hilang hanya dengan satu dua hari berlalu.


Alvaro harus bisa menebus sebanyak apa air mata yang sudah ia tumpahkan hari ini, demi sakit hatinya.


Tapi jika ada yang bertanya, dengan apa Alvaro mampu menebus kesalahannya?


Entahlah. Ia sendiri tidak tahu.


Hari ini terlalu melelahkan. Terlalu menguras emosi juga air matanya. Terlalu banyak rasa sakit dengan definisi baru yang ia rasakan.


Jika ketika taman kanak-kanak dulu ia sakit hati karena di ejek tak punya ayah.


Ketika ia sudah memiliki ayah dan masih sakit hati karena pertengkaran orang tuanya yang hampir berpisah.


Ketika ia sakit hati begitu melihat putra keduanya-Vindra-ditempeli begitu banyak alat medis pada tubuhnya.


Kini sakit hati itu berbeda. Sakit hati yang di torehkan belahan jiwanya yang membuatnya sesak seakan mati.


Dengan hati tercabik mengetahui suaminya sempat tergoda oleh wanita itu, Tiara berdiri dan bertepuk tangan.


"Akhirnya ngaku juga! dan akhirnya gue tau maksud dibalik lo ngelakuin surprise itu." padahal kaki Tiara sudah seperti agar-agar. Kenyataan suaminya tergoda wanita lain memukulnya telak. Menghancurkannya hingga lebur.


"Harusnya lo bilang, Al. Gue bisa kok ngelepasin lo, biar lo bebas."

__ADS_1


Mata Alvaro membelalak mendengar istrinya akan melepasnya. Jantungnya bergemuruh hebat.


"Yaaa.. walaupun gue sayang banget sama lo. Tapi kalo lo gak betah dan ngerasa bosen sama hubungan kita," Tiara mengedikan bahu. "Gue bisa apa?" tersenyum tipis dan menaikkan kedua alisnya.


Mata Tiara sudah memanas. Ia tak akan sanggup jika terlalu lama berada dalam satu ruangan dengan sang suami. Bisa-bisa ia akan terlihat menyedihkan jika air matanya tumpah di depan Alvaro.


"Kamu ngomong apa sih sayang. Aku gak akan pernah ngelepasin kamu!" Alvaro mendekat dan mencengkeram erat bahu sang istri.


"Aku udah bilang, kalau aku sudah sadar dan gak mungkin begitu lagi!"


Tiara menepis tangan Alvaro dari bahunya. Menatap mata yang biasanya selalu bisa membuatnya merasa aman dan nyaman. Tapi kini menatap manik mata hitam itu terasa menyakitkan.


"Nggak akan ada yang bisa menjamin, Al! bahkan gue bakalan lebih sibuk lagi nanti. Terlebih saat gue coas. Dan lo bakal ngerasa lebih bosan lagi dari sekarang. Jadi lebih baik lo pikirin lagi aja dulu mau gimana."


Sungguh Tiara sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya. Jadi yang wanita itu lakukan berjalan menjauh dari Alvaro dan merebahkan dirinya di tempat tidur.


"Gue, capek! gue mau tidur. Tolong jangan ganggu. Termasuk anak-anak." setelah berujar demikian, Tiara langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.


Untung Tiara bukan tipe perempuan yang jika menangis meraung-raung. Hanya lelehan air mata sebagai bukti seberapa perih hatinya kini.


***


Jika di rumah, Alvaro masih di pusingkan dengan sang istri yang masih marah.


Dikantor orang-orang di buat pusing dengan Pita yang mengamuk.


"Bantuin woy!" teriak Dika yang berusaha mematahkan usaha Pita untuk memukulinya.


"SEMUA COWOK TUH BRENGSEK!! GAK ADA YANG BISA DIPERCAYA!!"


Pita memiliki kenangan pahit tentang seorang pria. Mereka bahkan sudah bertunangan ketika gadis itu mendapati tunangannya bercumbu di apartemen pria itu.


Sakit hati membuatnya meninggalkan orang tua dan lebih memilih untuk pindah ke ibu kota seorang diri.


Selama satu tahun, Pita yang memang sulit untuk bergaul bisa begitu percaya dan merasa nyaman jika dekat dengan Alvaro.


Tapi kini, pria itu juga sama saja.


Menipunya. Meski sejak awal mereka memang tidak pernah membicarakan status.


Hanya karena pria itu tak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita pun, membuat Pita menganggap Alvaro masih available.


Dika baru berhasil mengantar gadis itu pulang ketika sudah kelelahan dan tertidur.


Untung Dika pernah mengantar Pita pulang ke sebuah apartemen ketika mobil gadis itu mogok dan Alvaro ada meeting.


Jika Dika tidak tahu. Mungkin gadis itu terpaksa menginap di kantor, karena bahkan Alvaro saja tidak tahu dimana gadis itu tinggal.

__ADS_1


"Cewek tuh gak bisa ya, kalo gak ngerepotin!" gerutu Dika dalam mobil meninggalkan gedung apartemen milik Lupita.


***


Entah jam berapa Tiara terlelap dalam mimpi. Ia hanya ingat saat menangis dalam selimut dan tertidur.


Ketika bangun, hari sudah gelap. Lampu sudah berganti lampu tidur yang sepertinya Alvaro yang menyalakan. Tapi sang suami tak ada di sampingnya.


Mencoba duduk. Kepalanya terasa sakit. Bahkan hidungnya ternyata flu karena terlalu banyak menangis.


Tenggorokan yang terasa kering kerontang membuatnya terpaksa menyeret kaki keluar kamar setelah sebelumnya membalut tubuhnya dengan jubah tidur.


Pandangannya bahkan terlihat buram saat menuruni tangga.


Tiara yang turun lewat tangga di ruang keluarga di sambut gelak tawa anak-anak bersama ayahnya.


Ternyata baru jam tujuh malam. Padahal Tiara sudah tertidur begitu lama.


"Mama!" teriak Fari yang pertama kali menyadari kehadiran ibunya.


Tiara mengulas senyum dan mengusap kepala anak yang kini memeluk kakinya.


"Mama napa? mata mama besaaaalll sepelti bola." tanya Fari yang tengah mendongakkan kepala untuk membalas senyum ibunya.


Tiara meraba kelopak matanya. Benar saja. Matanya bengkak. Pantas terasa berat. Ia kira karena pusing jadi berat.


"Abang sama ade kenapa belum bobo?" Tiara mengalihkan pertanyaan anaknya yang tidak bisa ia jawab. Otaknya sedang tidak bisa di ajak berpikir untuk memberi penjelasan yang tepat untuk anaknya yang sedang dalam masa kritis. Banyak bertanya dan ingin tahu.


"Belum antuk. Temani papa ain gem." tunjuk Fari ke arah ayahnya yang tengah mendekat ke arah mereka. Dengan Vindra dalam tuntunan.


"Kamu sudah bangun? mau aku suruh bibi angetin makan malam?" tanya Alvaro dengan mengulas senyuman. Ia kira istrinya akan bersikap hangat di depan anak-anak. Seperti biasa jika mereka tengah bertengkar kecil.


Tapi kali ini wanitanya tidak menanggapi. Justru terkesan menganggapnya tidak ada.


"Ya sudah. Nanti bobonya jangan kemalaman ya.. mama mau ambil minum terus bobo lagi. Kepala mama sakit."


Setelah kedua anaknya menyetujui perintahnya. Mama muda itu mengecup pipi juga dahi kedua putranya kemudian berlalu.


Meninggalkan Alvaro yang menatapnya nanar.


*


*


*


Makasih untuk Like-nya yang bagi aku luar biasa. Lope banyak-banyak buat kalian readerku tersayang 💕💕💕🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2