DEMI DIA

DEMI DIA
Nyinyir


__ADS_3

Setelah mengantar kepergian Alvin, Shevi beranjak ke kamar untuk berganti pakaian dan mengganti pakaian Tiara. Shevi mengendarai mobil hadiah dari Om Julian atas pernikahannya. Entah kenapa Omnya yang satu itu hobi sekali menghadiahi dirinya sebuah mobil.


Mobil sport Porsche boxster warna putih sesuai dengan warna mobil kesukaan Shevi. Sedangkan untuk Shera dibelikan sebuah apartemen.


Shevi bingung harus memilih sekolah yang mana dari sekian banyak sekolah yang direkomendasikan oleh Alvin.


Sekarang banyak pra sekolah atau Taman kanak - kanak yang sudah memiliki kulitas dan fasilitas bagus di Jakarta. Tapi ada beberapa tips dari bunda Karina dalam memilih sekolah yang bagus saat tempo hari dirinya main kerumah.


Pertama yang harus dia perhatikan adalah kualitas guru pengajarnya. Menelisik tentang pendidikan terakhir sang guru, apakah ia bisa sabar dalam menghadapi anak-anak, dan cari tahu pengalaman bekerja si guru.


Yang kedua sarana dan fasilitas dari sekolah tersebut. Apakah sekolah itu bersih, aman serta tersedianya sarana prasarana sesuai dengan kebutuhan anak untuk menunjang perkembangan baik dari segi motorik, kognitif sosial ataupun emosi anak.


Yang ketiga jarak sekolah jangan terlalu jauh agar ada yang bisa menggantikan Shevi jika tidak bisa mengantar atau menjemput Tiara.


Keempat biaya sekolah. Mahal bukan berarti kualitasnya paling bagus meskipun Shevi tidak memikirkan biaya tapi kita perlu bandingkan juga biaya sekolah dengan kurikulum, program serta fasilitas yang akan diperoleh.


Lima perhatikan kurikulum sekolah agar sikecil bisa mudah mencerna setiap pelajaran. Dan Shevi mencari yang kurikulumnya bertaraf Internasional agar Tiara bisa nyambung dengan sekolahnya sebelumnya.


Enam metode dan program sekolah anak harus sesuai dengan kemampuan anak. pilihlah sekolah yang menekankan pada proses pembelajaran, bukan hanya pada nilai atau hasil akhir pada proses pembelajaran.


***


Shevi hanya melihat tiga sekolah dari lima yang Alvin rekomendasikan dan Shevi memilih sekolah Leonis kindergarten. Sekolah taman kanak - kanak Internasional yang jaraknya dari rumah Alvin hanya lima belas menit menggunakan mobil.


Shevi suka dengan lingkungan yang ramah anak, bersih dan aman meskipun nantinya dia telat menjemput Tiara. Dan guru - gurunya juga ramah dan sabar dalam menghadapi kenakalan anak. Shevi melihat sendiri bagaimana mereka mengajar dan menghendel anak - anak didalam dan diluar kelas. Tiara juga suka dengan sekolah barunya. Semoga Tiara betah sekolah disini.


Setelah selesai dengan pendaftaran dan mendapatkan seragam serta perlengkapan lainnya Shevi mengajak Tiara ke kantor papi Dion sesuai janjinya tadi pagi kepada Alvin. Jam sudah menunjukan angka sebelas dan jarak dari sekolah Tiara ke kantor hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit jadi mereka masih bisa makan siang bersama dengan Alvin.


Shevi tersenyum melihat kesamping dimana Tiara duduk disamping kemudi dengan ceria bercerita tentang dirinya yang sudah tidak sabar lagi untuk sekolah.

__ADS_1


" Tapi nanti kalau kita sudah di New York kita pamit dulu sama Mrs dan teman - eman tiara disana ya. Tiara beli oleh - oleh disini untuk kenang - kenangan untuk mereka "


" Oke mommy " Setidaknya disekolah itu nanti tidak ada yang mempermasalahkan setatus Tiara. Shevi paling khawatir jika sekolah akan ada yang menjauhi Tiara karena statusnya yang lahir tanpa ikatan pernikahan. Dia memilih sekolah internasional juga salah satunya untuk menghindari hal tersebut. Orang tua maupun guru Tiara dulu di New York tidak ada yang mempermasalahkan Tiara yang tidak mempunyai ayah dan menerima dia seperti anak - anak lainnya. Semoga disekolah ini pun seperti itu. Jangan sampai kesalahannya dengan Alvin melukai Tiara juga. Shevi menghembuskan nafasnya berat saat memikirkan hal tersebut.


Setelah setengah jam perjalanan sampailah Shevi di kantor Alvin. Shevi turun sambil menggandeng Tiara memasuki gedung kantor yang menjulang tinggi didepannya.


Para karyawan kantor tersebut tau siapa Shevi karena banyak dari mereka yang diundang ke resepsi pernikahannya dengan Alvin. Mobil yang dikendarainya dibawa oleh security untuk diparkirkan.


Semua karyawan yang berpapasan dengannya tersenyum ramah tapi dibelakang Shevi mereka berbisik - bisik membicarakan tentang dirinya.


Didalam lift saat menuju ruangan Alvin Shevi menghela nafas saat mendengar beberapa karyawan wanita yang ada dibelakangnya membicarakan dirinya dan Tiara.


" Eh bukanya dia Shavina istrinya pak Alvin direktur eksekutif baru kita ?? " Alvin memang saat ini menjabat sebagai direktur sampai papi Dion melihat kemampuannya sebelum menggantikan posisi CEO yang saat ini didudukinya saat dia pensiun nanti.


" Kasihan ya direktur kita nikah sama janda beranak satu " Mereka menatap sinis Shevi dan Tiara dari belakang.


" Apa ?? Pantes aja masih muda dan cantik begitu anaknya udah segede itu " Shevi hanya bisa menghela nafas menahan emosinya sambil tersenyum kearah Tiara yang mendongak kearahnya. Baru saja dia merasa khawatir akan ada yang menyinggung Tiara sekarang dia harus mendengarnya langsung.


"Kok pak Alvin mau ya ?? Padahal yang masih gadis juga banyak " Shevi ingin sekali teriak jika orang yang membuatnya hamil diusia mudah adalah atasan yang sedang mereka bela. Tapi Shevi menahannya karena tidak ingin membuat ribut dihari pertamanya berkunjung ke kantor Alvin.


" Tapi kalian lihat gak si kalo pak Alvin tuh deket banget sama anak itu. Gue lihat di TV kemarin. Gue juga denger katanya istrinya pak Alvin pianis terkenal di Amerika "


" Alah percuma cantik, hebat, sukses kalo kelakuannya gak bermoral " Dadanan Shevi memang masih seperti anak muda seusianya. Hari ini dia memakai kaos putih dan rok biru dongker polkadot selutut dan sling bag kecil senada dengan rok.


Ting.


Lift terbuka dilantai dimana ruangan Alvin berada. Akhirnya Shevi bisa bernafas lega, telinganya tidak lagi panas dengan mulut nyinyir karyawan Alvin itu.


" Mommy yang mereka omongin itu daddy ya ?? daddy Tiara namanya Alvin kan mom ?? " Tiara bertanya saat mereka tengah berjalan kearah ruangan Alvin setelah bertanya kepada salah satu karyawan disana.

__ADS_1


" Ngomongin apa ?? " Shevi langsung menoleh kebelakang saat mendengar suara yang dia kenali.


Alvin kebetulan baru saja selesai rapat saat melihat Shevi dan Tiara keluar dari lift.


" Saya permisi dulu pak " Alvin hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


Sekertaris Alvin tinggi, dengan muka manis khas orang jawa yang untungnya tidak kecentilan sehingga membuat Shevi tenang melepas Alvin bekerja. Dan lagi sekertarisnya itu ramah.


" Bukan apa - apa mas.. Kamu dari mana mas ?? "


" Aku baru selesai rapat.. Yuk ke ruangan daddy " Alvin menggendong Tiara disebelah tangannya dan menghadiahinya ciuman dipipi lalu tangan satu lagi menggandeng tangan Shevi. Membuat para karyawan yang melihatnya iri atas kemesraan yang Alvin berikan.


Belum pernah mereka melihat Alvin selembut itu. Selama bekerja Alvin adalah orang yang tegas. Dia tak segan memarahi karyawannya jika membuat kesalahan. Tak jarang karyawan perempuan dibuat nya menangis karena kesalahan dalam laporannya.


Dan hari ini mereka melihat sisi lain dari Alvin. Sisi lembut dan penuh kasih sayang kepada keluaraga barunya.


Daddy Al



*


*


*


Happy Reading 💕


Hari ini bagi tips milih sekolah ya gaes.. Kaya author yang lagi bingung mau nyekolahin jagoan kemana nih 😁

__ADS_1


__ADS_2