
Keadaan Tiara pagi ini sudah benar-benar sembuh. Semalam aunty Nay-teman mommy Shevi datang berkunjung. Mommy Shevi sekalian meminta sahabatnya itu untuk memeriksa Tiara. Untungnya hanya demam karena flu biasa, sehingga setelah minum obat dan cukup tidur semalam, kini kondisinya benar-benar fit.
Gadis enam belas tahun yang sudah rapi dengan seragam sekolah dan tas di punggung itu menuruni tangga, menuju meja makan berbentuk bulat. Dimana posisi keluarganya sudah lengkap, tinggal menunggu dirinya saja untuk memulai sarapan. Mommy Shevi tidak akan memulai sarapan kecuali formasi sudah lengkap, kecuali jika ada yang berhalangan atau harus berangkat lebih pagi.
"Morning mom, dad, adek." sapa gadis itu kepada semua penghuni meja makan yang di jawab sapaan yang sama.
"Ini bekal buat teman kamu. Dan ini bekal untuk kamu." mommy Shevi menyerahkan dua bekal di dekat putri sulungnya.
Tiara berbinar saat mendapati pesanannya sudah siap sesuai permintaannya. "Kok yang satu isinya bukan puding mom?" protesnya saat mendapati isi bekal satunya adalah gimbab, tak ada pudingnya juga.
"Berbagi aja pudingnya. Gimbabnya juga. Di makan bareng-bareng lebih enak lho kak!" goda mommy Shevi, yang sebenarnya sudah membuatkan satu cup besar puding buah juga untuk Tiara.
"Mommm.. kita gak sedekat itu ya! masa udah di kasih, tapi aku bilang minta pudingnya! gak banget sih mom." rengek Tiara dengan wajah di tekuk. Bayangan memakan puding buah kesukaannya saat istirahat nanti sirna seketika.
"Makanya berbagi bekal biar dekat." ibu tiga anak itu terkikik geli, menyerahkan satu cup puding kesukaan putrinya. Setiap hari memang selalu saja ada bahan untuk menggoda putri sulungnya itu.
Sedangkan satu pria dewasa dan dua anak sekolah dasar mengamati perdebatan antara ibu dan anak itu dengan bingung. Tidak mengerti maksud pembicaraan mereka. Tumben sekali Tiara meminta di buatkan bekal. Dan kenapa juga Tiara tidak mau berbagi bekal dengan temannya.
"Bekal Reina kok bukan gimbab mom?" seperti biasa, putri kecil mereka selalu cemburu jika di kasih atau di buatkan sesuatu yang berbeda dengan kedua kakaknya.
"Adek kan biasanya bento. Jadi mommy bikinin bento sayang." merasa bersalah melihat ekspresi anak bungsunya yang cemberut.
"Ya udah. Tapi besok Reina mau gimbab juga kaya kakak!" jawab anak itu kemudian.
"Oke. Besok mommy bikinin gimbab buat semuanya." mengusap rambut putri kecilnya dengan sayang.
"Jangan apa-apa di turutin mom. Tambah manja dia. Nyusahin tau di sekolah!" protes Raka di samping daddy-nya. Di sekolah adik kembarnya itu cengeng, gampang di ledekin dan selalu menyusahkannya.
"Abang kan laki-laki. Jadi tugas abang jagain adek pas daddy gak ada." daddy Alvin menepuk bahu anak laki-lakinya pelan.
Raka hanya berdecak dan memutar bola matanya.
***
__ADS_1
Ulangan hari kedua bisa Tiara lewati dengan lancar. Dalam keadaan dan semangat yang baik seperti itu, Tiara bisa lebih cepat mengerjakan semua soal di hadapannya. Hanya beberapa nomor yang dia ragukan jawabannya. Tapi tidak masalah jika nilainya tidak sempurna. Setidaknya dia yakin bisa mendapatkan nilai 9.
Di dalam kelas unggulan itu tidak ada keributan saat mengerjakan ulangan. Mereka serius dengan lembar soal masing-masing. Tidak ada yang bersiul atau melirik kanan dan kiri untuk mencari jawaban dari temannya. Mereka percaya dengan kemampuan mereka masing-masing. Para guru yang menjadi pengawas, paling suka mengawasi kelas IPA1. Tugasnya tidak terlalu berat untuk berkeliling.
Pun saat bel tanda waktu berakhir. Mereka semua mengumpulkan lembar jawab dengan tertib. Tidak ada yang protes meminta waktu tambahan.
Satu persatu siswa meninggalkan kelas setelah guru mengucapkan salam.
"Kantin yuk Ra! lo udah sehat kan?" ajak Pricilla.
"Makan disini aja gimana?" jawab Tiara sembari mengeluarkan paperbag di bawah meja.
"Makan apa disini?"
"Gue udah di bawain bekal." tersenyum dan mengacungkan kotak bekal untuknya sendiri.
"Hahaha sejak kapan lo bawa bekal!!" Pricilla tergelak dengan sikap tidak biasa sahabatnya itu.
Tiara berdecak sebal. "Ck. Mau gak lo? gak usah Banyak tanya!" bagaimana Alvaro bisa membawa bekal setiap hari. Dia yang baru kali ini saja sebal di tertawakan seperti itu oleh Pricilla.
"Ya udah. Gue mau balikin kotak bekal cowok rese itu dulu. Makanan gue jangan di abisin!" Pricilla tersenyum, satu potong gimbab sudah mendarat di dalam mulutnya, saat mendengar peringatan dari sahabatnya.
Tiara berjalan menuju meja Alvaro yang ada di depannya. Menyerahkan kotak milik pemuda itu. "Nih kotak bekal lo. Kata nyokap gue, makasih." padahal yang ingin bilang terimakasih dia sendiri, tapi terlalu gengsi mengucapkan kata itu kepada musuhnya selama ini.
"Isi apaan nih, kok berat?" tanya Alvaro saat mendapati kotak makannya berat Tidak seperti kotak bekal kosong.
Saat di buka, pemuda itu tersenyum tipis mendapati puding buah dan susu kemasan di dalamnya.
"Gue tau lo pasti di bawain bekal lagi sama ibu lo. Jadi nyokap gue gantiin bekal lo kemaren sama puding."
"Tolong sampein ke nyokap lo. Makasih pudingnya. Tapi lain kali gak usah di ganti, apa yang udah gue kasih. Emang kita emak-emak, yang kalo ngasih rantangan ke tetangga, pas di balikin ada isi makanan lain!" Alvaro sering melihat ibunya melakukan hal tersebut.
"Nyokap gue kan emang emak-emak!"
__ADS_1
Pricilla yang terlalu lama menunggu Tiara kembali, akhirnya memutuskan membawa bekal makanan gadis itu ke meja di hadapan Alvaro.
"Lama lo ah, ngobrolnya! tar gue abisin marah!" serunya kesal. "Makan di sini aja lah bareng-bareng! Kasian kan Aa Alvaro makan sendirian." imbuhnya yang kembali memakan gimbab milik Tiara.
Tiara berdecak kesal, walau pun enggan tapi dia tetap menarik kursi untuk dirinya duduki dan memakan makan siangnya sebelum bel untuk ulangan ke dua berbunyi.
"Lo gak bawa bekal?" tanya Pricilla saat Alvaro diam saja melihat kedua gadis di hadapannya makan sambil bercerita. Khas wanita, yang tidak lepas dari gosip atau obrolan receh.
Tanpa menjawab, Alvaro mengeluarkan kotak bekal dari dalam laci. Kali ini pemuda itu hanya membawa sandwich isi telur lengkap dengan sayur pelengkapnya.
Pemuda itu menghabiskan dengan cepat makan siangnya dan langsung beralih pada puding yang di berikan oleh Tiara.
"Lo laper banget ya Al?" tanya Pricilla heran, melihat kecepatan pemuda itu makan.
"Bentar lagi bell. Tar gak ke makan semua." jawabnya santai. Masih setia menyendok puding dengan topping buah kiwi, strawberry, jeruk, dan anggur itu.
"Pelan-pelan kali Al. Kita gak minta kok!" Tiara ngeri Alvaro akan tersedak jika makan terburu-buru seperti itu.
"Nih susunya buat lo aja!" menyodorkan susu kemasan yang Tiara berikan kepada gadis itu lagi.
"Gue udah ada!" tunjuk Tiara pada susu kemasan miliknya.
"Kalo gitu buat lo aja Cil." sahutnya lagi.
"Emang kenapa sih? lo gak suka susu?" tanya Pricilla, mengambil susu pemberian Alvaro.
"Gue alergi sapi dan turunannya."
Tiara melotot mendengarnya.
*
*
__ADS_1
*
Yang bacanya banyak, kenapa like-nya menurun 😠sedih aku tuh 😔