
Alvaro mengajak istrinya pulang selepas makan malam. Sebenarnya ibu meminta mereka untuk menginap, tapi melihat istrinya yang kurang nyaman berada di rumah orang tuanya, memilih untuk kembali ke apartemen.
"Maaf ya, kalo lo gak nyaman di rumah ibu." ucap Alvaro, sebelah tangannya menggenggam tangam istrinya. Sebelahnya lagi ia gunakan untuk mengendalikan kemudi mobil.
"Bukan gitu Al. Gue cuma belum terbiasa aja kok." kilah Tiara, tidak ingin menyinggung perasaan Alvaro.
Sebenarnya jika tadi Alvaro memutuskan untuk menginap di sana juga Tiara akan menurut saja meskipun rasanya kurang nyaman. Tapi suaminya sendiri yang memilih untuk pulang, dan kini dia yang merasa tidak enak.
"Harusnya kalo lo pengen nginep di sana gak papa Al nginep aja. Gue gak papa kok." imbunya.
"Gak papa. Gue udah tidur di rumah itu selama 17 tahun. Jadi gue lebih milih tidur di apartemen bareng lo. Mencetak lebih banyak lagi waktu yang kita lalui di tempat ternyaman kita."
Suaminya itu selalu saja bisa membuatnya tertawa dan tersipu dengan segala kata dan tingkahnya.
***
Sesampainya di apartemen, mereka bergantian untuk membersihkan diri. Alvaro yang sedang menunggu istrinya sembari memainkam game pada ponselnya merasa tak sabar juga. Hari sudah semakin malam, tapi dirinya belum juga mandi. Yang di tunggu jangan-jangan tertidur di dalam kamar mandi. Begitu pikirnya saat melangkah mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Ra.. Buruan dong. Gue kan juga mau mandi, udah malem banget ini.." serunya dengan kembali mengetuk pintu kamar mandi.
Pintu terbuka dan menampakkan wajah istrinya yang masih menyembunyikan badannya di belakang pintu.
"Kenapa? gak bawa baju?" tanya Alvaro saat istrinya hanya diam dan tersenyum salah tingkah.
"Bukan.." ucapnya masih ragu.
"Terus apa sayang. Gue mau mandi awas." Alvaro sudah akan mendorong pintu kamar mandi untuk terbuka lebar agar dirinya bisa masuk, tapi Tiara mempertahankan pintu agar tidak terbuka.
"Hmmm.. itu Al.. " Tiara ragu akan meminta bantuan suaminya atau tidak. Tapi jika tidak, bagaimana nasibnya malam ini.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya, menunggu istrinya meneruskan kalimatnya.
"Pembalut gue abis Al. Bisa tolong beliin gak di mini market bawah." cicit Tiara dengan menundukan pandangannya, takut suaminya marah dan menolak.
"Kenapa gak bilang dari tadi? lo bisa masuk angin lama-lama di dalem kamar mandi." Tiara mendongakkan kepalanya dan melihat senyum geli di wajah sang suami.
__ADS_1
"Lo gak marah Al? lo gak keberatan? malu lho anak cowok beli pembalut." rentetan pertanyaan Tiara lontarkan. Merasa heran suaminya yang biasa saja menanggapinya.
"Ya walaupun malu, mau bagaimana lagi? dari pada tempat tidur kita banjir darah kan? kecuali darah perawan mah gak papa." goda Alvaro dengan memainkan alisnya dan tersenyum lebar.
"Iiishh Alvaro!! nyebelin!! udah sana.. gue udah gak betah disini." mendorong dada suaminya agar menjauh.
"Iya. Iya. Ya udah keluar aja, jangan di dalem kamar mandi mulu. Tar masuk angin, lo mau gue kerokin dan bukan baju depan gue?" istrinya menggeleng tegas.
"Ya udah keluar, tunggunya di kamar aja yang gak dingin." menarik tangan istrinya supaya keluar dari kamar mandi. "Mau yang merk apa? terus yang jenis apa?" imbuhnya.
"Emang lo tau?" tanya Tiara semakin heran.
"Tau gue. Gue udah sering di suruh kakak sama adek gue kalo pas genting kaya lo gini."
Tiara manggut-manggut mengerti sekarang. Ini bukan kejadian pertama untuk suaminya.
Setelah istrinya menjelaskan merek dan jenis yang di mau, Alvaro pergi menuju mini market yang berada di bagian bawah gedung apartemennya.
Malu juga sebenarnya, apa lagi keadaan mini market yang malam itu cukup ramai. Tapi jika bukan dia yang di mintai tolong oleh istrinya siapa lagi.
Sebenarnya tadi dia bohong saat bilang sering membeli untuk kakak serta adiknya. Di rumah kan banyak pelayan yang bisa di suruh. Kurang kerjaan sekali jika Alvaro benar-benar membelikan benada keramat milik perempuan itu.
Berjalan sembari bersiul, menunggu lift terbuka hingga terdengar suara gadis yang amat ia kenali.
"Alvaro." sapanya dengan nada lemah lembut. Nada yang sangat keibuan.
"Aulia? ngapain kamu disini?" tanya Alvaro heran. Karena seingatnya rumah gadis itu jauh dari tempat tinggalnya ini. Dan setahunya, mantan tunangannya ini sangat jarang di perbolehkan keluar rumah di malam hari, kecuali dengannya atau jika ada acara-acara penting.
"Temen aku tinggal di sini juga." jawab Aulia masih dengan nada ramah.
Alvaro hanya ber-oh dan kembali menunggu lift. Dengan mantan tunangannya ini, dia selalu kehabisan kata-kata. Tidak tahu akan mengobrol apa. Karena Aulia sendiri memang lebih banyak diam dan jarang berkata.
"Kata Ayah, kamu batalin pertunangan kita ya Al?" ucap Aulia, memecah keheningan di antara mereka.
"I-iya. Maaf ya Lia." jawab Alvaro lirih.
__ADS_1
Alvaro tahu gadis di sebelahnya pasti kecewa. Karena gadis itu pernah bercerita padanya, tentang betapa teman-teman laki-lakinya tidak ada yang pernah berani mendekatinya. Karena kemanapun Aulia melangkah, akan ada bodyguard di belakangnya. Jadi, jika ada lelaki yang menyukainya, lebih memilih balik badan dari pada berurusan dengan para pria berbadan besar di belakang Aulia.
Aulia juga pernah bilang, jika dia tidak menyesal dan malah senang di jodohkan dengan Alvaro. Pemuda yang mau menerima segala aturan keluarganya meskipun mereka masih sama-sama tidak mencintai.
"Kenapa Al? apa karena keluarga aku?" tanya Aulia dengan menunduk sedih. Rasanya lebih sedih mendengar langsung dari Alvaro dari pada saat ayahnya yang memberitahu.
"Bukan. Bukan karena itu. Aku punya gadis yang aku cintai sendiri Lia. Dan sekarang kami sudah menikah." jelas Alvaro dengan menunjukan plastik yang berisi pembalut pesanan istrinya.
Pandangan Aulia menurun pada kantong plastik yang Alvaro bawa. Dia tersenyum getir saat melihat isinya. Betapa beruntungnya gadis itu mendapatkan suami seperti Alvaro.
"Beruntung sekali yang menjadi istri kamu itu. Padahal aku berharap, aku yang jadi gadis beruntung itu." ucap Aulia masih dengan menundukan kepalanya. Aulia memang gadis yang sangat pemalu. Mungkin karena dia jarang bersosialisasi dengan orang luar.
"Aku yakin, kamu akan dapat laki-laki yang jauh lebih baik dari aku. Kamu gadis baik, jadi pasti akan mendapat jodoh yang baik. Dan aku bukan yang terbaik untuk gadis seperti kamu." merasa kasihan sebenarnya. Tapi Alvaro tidak bisa memaksakan perasaannya kepada Aulia. Meskipun mungkin saja dia akan tetap menikahi gadis itu setelah lulus kuliah, jika saja kejadian bersama Tiara tidak pernah terjadi.
"Mungkin aku masih berharap kamu pemuda baik itu Al. Tapi aku menghargai keputusan kamu ini, semoga kamu bahagia."
Mengurungkan niatnya untuk menemui teman masa kecilnya dan memilih untuk pulang saja. Rasanya sakit, orang yang kita harap akan menjadi masa depan kita, ternyata sudah menikah dengan gadis yang pemuda itu cintai.
Bahkan dia yang menjadi tunangannya sekian lama tidak bisa membuka hati Alvaro. Dia hanya bisa mencintai dalam diam, dan tidak berani mengungkapkan.
*
Ini Mbak Aulia sama Alvaro
*
*
*
Aku udah bikin instagram untuk karyaku lho.. di follow ya.. Cari aja Virgoanz.
Tapi belum ada foto profilenya. dari kemarin di unggah gak bisa juga 😁
__ADS_1
Tenang, tidak akan ada pelakor apa lagi pebinor dalam rumah tangga mereka. Konflik mereka disini bukan tentang orang ketiga nantinya. Jadi ikutin terus ya gaes 💕