DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Kuliah


__ADS_3

Alvaro bolak balik menatap jam di pergelangan tangannya dan ke arah istrinya yang sedang memoles wajahnya dengan bersenandung ria. Hanya polesan tipis dan natural sebenarnya, tapi entah kenapa bisa selama itu.


Bisa-bisa mereka telat masuk kelas di hari pertama kuliah. Minggu kemarin mereka dan calon mahasiswa lainnya sudah resmi di lantik menjadi mahasiswa di univeraitas tempat mereka akan menimba ilmu saat ini.


Berjuang untuk membuka jalan pada impian masa depan mereka. Berusaha menjadi orang yang dapat di banggakan di masa depan.


Kemarin Alvaro mengambil motor sport di rumah orang tuanya, motor yang biasa ia pakai sebelum menikah dengan Tiara. Istrinya itu ingin berangkat dan pulang kuliah dengan dibonceng motor katanya.


Dengan celana jeans, kaos putih polos yang di padu dengan jaket, istrinya menguncir semua rambutnya ekor kuda. Memperlihatkan leher jenjang dan putih yang gadis itu miliki. Dan itu mengusik perasaan Alvaro. Pemuda itu tidak ingin ada cowok lain yang melihat keindahan yang hanya boleh ia nikmati sendiri.


Mendekat dan menarik kuncir rambut istrinya yang sedang memakai sneakers. Membuat rambut yang awalnya sudah rapi menjadi terburai berantakan lagi.


"Alvaro!! lo apaan sih!" sungut Tiara kesal dengan ulah suaminya.


"Lo mau pamerin sama siapa leher lo?"


"Eh? maksudnya?" tanya Tiara bingung.


"Lo mau cowok-cowok di kampus lihat leher lo dan tertarik buat nikmatinnya!"


"Mana ada begitu! Kemarin juga pas SMA gue kuncir lo gak masalah."


Mungkin terdengar aneh bagi gadis itu.Tapi bagi Alvaro yang ingin menjaga miliknya, ini adalah hal yang wajar. Hal Kecil yang mungkin saja berakibat buruk pada istrinya. Anggaplah ia berlebihan, tapi Alvaro tidak peduli dengan anggapan itu.


Hal sekecil apapun akan ia lakukan untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang berharga untuknya saat ini.


Apalagi mereka tidak satu jurusan. Tidak satu kelas seperti saat SMA kemarin. Tidak bisa mengawasi dan menjaga istrinya 24 jam penuh.


"Udah lah, gak usah banyak protes. Tinggal jadi istri baik yang nurut sama suami aja udah."


Tiara mendengus saat mengikuti suaminya keluar. Selalu saja itu jadi alasan jika gadis itu sudah mulai melayangkan protes. Kan menyebalkan.


Tiara tidak mampu mencegah senyumnya untuk mengembang saat Alvaro mengulurkan tangannya untuk ia gandeng. Seberapa sering pun mereka berpegangan tangan, rasanya selalu sama. Menimbulkan getaran dalam jiwanya. Menghangatkan hatinya. Dan menimbulkan rona merah pada wajahnya. Rasa bahagia itu, rasa cinta itu, selalu sama bagi Tiara.


Masih dengan rasa malu, hati berdebar, masih dengan rasa jatuh cinta yang sama. Mungkin karena ini cinta pertama untuknya, atau karena Alvaro yang selalu bisa membuatnya jatuh cinta?


Dibalik sikap menyebalkan suaminya, ada sifat hangat dan menenangkan sekaligus. Kadang Tiara tidak mengerti dengan suaminya, tapi Tiara selalu menikmati memen yang mereka lalui bersama.


"Pokoknya di kampus lo gak boleh kecentilan! inget udah punya suami." sikap posesif mode satu mulai di layangkan. "Jaga diri lo baik-baik karena gue gak bisa jagain lo 24 jam lagi kaya dulu."


"Iish iya ah, bawel lo Al."

__ADS_1


"Ini demi kepentingan lo Ra."


"Iya. Iya. Tau gue. Lagian gue juga bukan anak kecil yang perlu lo jaga 24 jam juga." protes dengan sikap posesif suaminya yang semakin berlebihan. "Gue udah jaga diri gue sendiri sebelum kita menikah kalo lo lupa."


Menghela napasnya dan memasangkan helm untuk sang istri. "Pokoknya lo harus inget pesan gue tadi!"


"Iya sayang. Udah ayo berangkat sebelum telat."


Gadis itu sudah lebih dulu menaiki motor suaminya sebelum ada larangan lain yang suaminya berikan padanya.


Alvaro menyalakan motornya dan menarik tangan Tiara untuk memeluknya, sebelum mereka melaju membelah jalan ibu kota di pagi yang penuh dengan kemacetan.


***


Alvaro mengantar Tiara sampai di depan kelas, mengusap kepala istrinya sebelum berlalu menuju kelasnya sendiri.


Perlakuan manis Alvaro pada Tiara membuat para gadis yang melihat iri di buatnya.


Mahasiswa lainnya mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Baik Alvaro maupun Tiara tidak ada yang berniat untuk mengklarifikasinya.


Bagi mereka tidak penting orang menganggap hubungan mereka seperti apa. Mereka hanya ingin belajar dan lulus dengan baik tanpa ada maslah.


"Cieee.. Masih akur aja nih." celetuk Pricilla yang juga mengambil jurusan yang sama dengan Tiara. Mereka juga mendapat jadwal yang sama.


"Duileh.. Sensi amat lo Ra. Kurang cium lo ya pagi ini."


"Pertanyaan lo yang kurang belaian, jadinya kurang ajar."


Pricilla tertawa terbahak. "Ngerti gue yang udah biasa di belai."


Menoyor kepala sahabatnya gemas, "Sialan emang lo." seiring dengan umatan yang keluar dari mulutnya.


"Percuma Ra, sering di belai tapi gak menghasilkan anak."


"Bodo amat."


Dari pada mendengar ocehan sahabatnya yang semakin tak terkontrol, Tiara lebih memilih mengeluarkan alat tulis dan laptopnya.


Hubungannya dengan Alvaro memang masih jalan di tempat. Tapi dia menyukainya, menikmati setiap proses yang mereka jalani.


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, cowok yang amat dia benci kini begitu berarti. Tidak pernah terbayang hanya dengan menggenggam tangan Alvaro akan terasa begitu nyaman.

__ADS_1


Alvaro benar-benar mengambil alih dunianya. Di matanya kini hanya dipenuhi dengan suami menyebalkan yang selalu bisa membuat hatinya berbunga itu.


Berbeda dengan Alvaro yang sudah sejak lama mencintai dan menganggapnya dunia dari pemuda itu. Dan akan memperjuangkan kebahagiaan serta masa depan mereka apa pun yang terjadi.


Tiara yang baru merasakan apa itu cinta, hanya berharap dunianya tidak pernah berubah. Alvaro-nya akan tetap sama. Akan tetap memandang dengan cinta yang sama. Akan selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi apa pun yang terjadi.


"Temenin gue cari buku ya Ra abis kelar kuliah."


Tiara yang sedang membereskan perlengkapan belajarnya ke dalam tas hanya menoleh sebentar sebelum menjawab. "Nyari buku apaan emang."


"Penulis idola gue baru ngeluarin novel setelah sekian lama hiatsu. Gue harus dapetin tuh buku sebelum ke abisan."


Koridor terlihat ramai siang itu. Dua gadis itu melewati koridor tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Mereka terlalu asik membicarakan penulis idola mereka dan membanggakan penulis idola masing-masing.


"Tapi gue ijin dulu ke Al, baru tar kita langsung cabut aja abis jam terakhir klo gue udah di ijinin."


"Ribet dah ngajak jalan lo sekarang. Apa-apa mesti ijin dulu. Ribetnya punya laki."


"Gue cuma mau jadi istri yang baik aja."


"Tapi tar kalo di ijinin sekalian nonton gimana?"


"Dih. Ngelunjak. Bisa ngamuk Alvaro kalo gue balik kemaleman."


"Ah elah. Nimbang jalan sama gue bukan sama cowo lain."


Benar juga sih apa yang Pricilla bilang. Toh dia jalan bersama sesama perempuan, bukan jalan dengan laki-laki lain.


Lagian juga, sudah lama dia tidak jalan dengan sahabatnya itu.


"Oke deh. Kita ijin dulu."


Pricilla bersorak senang. Sebenarnya bisa saja dia mengajak cowoknya untuk jalan. Tapi rasanya ia rindu untuk jalan dengan sesama perempuan.


*


*


*


Maaf ya kalo makin gak jelas ceritanya. Makin gak ngefeel.

__ADS_1


Butuh libur dulu kayaknya nih, nunggu dapet ide lagi.


Lagi banyak-banyakin baca dulu buat referensi 😁


__ADS_2