DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Saling Mengkhawatirkan


__ADS_3

"Lo gak papa?" Alvaro melepaskan pelukannya dan meneliti tubuh Tiara dengan lekat. Tidak mau satu inci-pun terlewat dari pengamatannya.


Tiara membiarkan apa pun yang suaminya lakukan. Bulir air matanya menetes. Hatinya teremas sekaligus bahagia.


Kondisi suaminya bisa di bilang tidak baik-baik saja. Banyak luka lebam di daerah wajahnya. Sudut bibir dan pelipisnya yang pecah masih menyisakan darah yang sudah mulai mengering. Tiara tahu suaminya pasti tidak mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan. Di saat kondisi dirinya sendiri saja seperti itu. Alvaro malah masih menghawatirkan Tiara.


Percayalah, hal paling mengerikan bagi Tiara adalah melihat kondisi suaminya yang seperti saat ini.


"Gue gak papa Al." ucap Tiara lirih dan memegang tangan suaminya untuk berhenti memutar-mutar tubuhnya.


Alvaro menatapnya lekat. Ada pancaran lega dalam mata yang terlihat lelah itu.


"Lain kali bisa gak, ngindarin bahaya kalo gak lagi sama gue?"


Tiara hanya mengangguk dan menggiring suaminya agar kembali duduk di sofa.


"Rasanya tuh jantung gue mau copot pas lo telfon minta tolong! kalo aja gue terlambat lo gimana Ra?"


Setengah bercanda Tiara menjawab "Kalo lo terlambat, mungkin gue udah gak virgin lagi. Dan lo bisa tinggalin gue, buat cari istri yang masih layak buat lo." padahal dalam hati gadis itu ngeri sendiri kalau sampai itu terjadi.


Alvaro sudah melotot tajam ke arahnya, seperti berkata 'omong kosong apa yang lo omongin di saat seperti ini.'


Tiara terkekeh kecil dan menyentuh luka di sudut bibir Alvaro, membuat pemuda itu meringis. "Tapi gue yakin lo bakal dateng dan gak bakal ngebiarin hal buruk nimpa gue. Dan buktinya... lo dateng kan?"


Alvaro menyentil dahi istrinya geram. "Untung gue gak terlambat! dan meskipun gue terlambat, gue gak akan pernah ninggalin lo."


Hati Tiara menghangat mendengarnya. Air mata tak mampu lagi di cegah. Semakin banyak dan semakin deras.


Alvaro langsung merengkuh tubuh istrinya "Heii.. Ssstt kenapa nangis?" mengusap rambut istrinya lembut. Mencium puncak kepalanya menenangkan.


"Gue takut Al.. Gue takut sama mereka.." tangis Tiara. "Dan sekarang gue lebih takut lagi liat lo babak belur begini."


"Gue gak papa." ucap Alvaro menenangkan.


Tiara melepaskan pelukan sang suami. Menatap pemuda itu tajam. "Jangan bilang gak papa cuma buat nenangin gue! gue tau lo sakit!"


"Gue cowok Ra. Sakit begini doang, gak bakal bikin gue lemah. Dan udah tugas gue buat lindungin lo. Gue gak akan biarin mereka nyakitin lo." ucapnya mantap. "Jangankan cuma babak belur begini. Cinta aja gue kasih semua buat lo." goda Alvaro dengan menjawil dagu istrinya.

__ADS_1


Tiara semakin terisak-isak. Seperti anak kecil yang mainannya di ambil oleh temannya.


"Hei.. Jangan nangis. Air mata lo terlalu berharga buat nangisin hal cemen begini. Mending buat nangis haru kehidupan bahagia kita selanjutnya."


Tiara berhenti menangis, menghapus air matanya dan bersandar di bahu Alvaro.


Tangan Alvaro secara otomatis mengusap dengan sayang pipi Tiara yang basah. Pemuda itu mengulum senyum. Istrinya ini kenapa bisa selalu meunggemaskan begini sih?


"Gitu kan cantik kalo gak nangis! nanti kalo lo jelek, kasian gue kan."


"Kasian kenapa?" tanya Tiara tertarik.


"Masa gue ganteng begini, istrinya jelek. Mana gue udah cinta mati dan gak mau berpaling lagi. Apa kata orang coba?"


"Iiihhh Alvaro nyebelin!!" Tiara tersipu, mencubit perut suaminya. Yang di cubit hanya terkekeh dan kembali mendaratkan ciuman di dahi gadisnya.


"Dari pada nangis, mending sekarang bantuin obatin luka gue aja gimana? sakit semua nih yank." adunya dengan memegang bagian-bagian yang terasa sakit.


Tiara yang baru ingat langsung terkesiap dan kembali menatap prihatin wajah suaminya. Tanpa menjawab, gadis itu langsung berlalu ke dapur untuk mengambil air hangat serta handuk kecil dan tak lupa kotak P3K.


Mata Tiara masih tak tahan untuk tidak berkaca-kaca saat menatap wajah suaminya yang baru pertama kali ia lihat seberantakan ini.


Mata mereka bertumbukan, Alvaro tersenyum dan menghapus air mata yang baru saja jatuh di wajah cantik istrinya.


Cup.


Kecupan lembut Alvaro berikan di bibir Tiara. "Kan gue udah bilang. Jangan nangis, jadi jelek."


"Tapi gue gak tahan liat lo luka begini."


"Gue gak papa sayang. Lo selamat, itu udah jadi obat buat gue."


Tiara mengangguk dan kembali mengobati wajah suaminya dengan mengoleskan gel untuk luka lebam di wajah suaminya. Untung Alvaro pandai dalam menangkis saat berkelahi tadi, sehingga hanya wajahnya saja yang terkena pukulan cukup keras.


"Cepet sembuh." ucap Tiara membelai wajah pipi Alvaro dengan sebelah tangannya.


Alvaro tersenyum dan mengangguk, mendekatkan wajahnya mencoba mengikis jarak di antara mereka dengan memegang pinggang Tiara dan menariknya mendekat.

__ADS_1


Entah sudah keberapa kali dalam satu tahun pernikahan mereka, tapi rasanya Tiara masih saja berdebar-debar dan sulit untuk bernapas saat Alvaro melakukan hal seperti ini.


Jantungnya masih saja tidak terbiasa dengan kedekatan mereka. Masih saja meronta seakan minta di keluarkan.


Tiara meremas kain berlapis di dadanya. Mencoba meredakan rasa sesak yang justru menyenangkan baginya. Tapi jika ia biarkan saja jantungnya terus berulah, Tiara takut mati muda karena serangan jantung.


Disaat bibir mereka tinggal satu centi untuk bersatu, suara pekikan Pricilla membuat mereka mundur gelagapan.


"Sory, sory.. Gue gak liat sumpah." ucap Pricilla dengan menutup mata dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi mengacungkan jari telunjuk dan jari tengan menunjukan lambang peace.


"Pricillaaaaa!!!" teriak Tiara malu karena di pergoki oleh sahabatnya saat akan berciuman.


Pricilla terkekeh dan mendekat. "Udah nikah masih aja malu-malu lo Ra!" ledek Pricilla dengan melempar bantal sofa tepat ke wajah Tiara dan duduk di sofa tunggul di sana.


"Resek lo!" sungut Tiara. Rasa malunya tidak terkira. Menghadapi Alvaro saja dia pasti selalu menundukan wajahnya sehabis ciuman. Tidak perlu di tambah malu karena terpergok oleh Pricilla segala.


Pricilla masih saja terkekeh. "Lo marah karena malu? atau marah karena gak jadi ciuman Ra?"


Alvaro ikut terkekeh dan mengusak puncak kepala istrinya.


"Godain aja terus." wajah Tiara sudah berubah cemberut.


"Hahaha gue gak tau cewek urakan model lo, bisa malu-malu tai kucing menggelikan begini, cuma buat ciuman."


Tiara yang wajahnya semakin merah di goda Pricilla memilih menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Alvaro.


"Dia bukan menggelikan, tapi menggemaskan." bela Alvaro yang semakin membuat Tiara tersipu malu.


"Geli banget sih gue dengernya Al, hahaha."


*


*


*


Segini dulu ya.. Jangan lupa tinggalin jejak. Love you all 🤗💕

__ADS_1


__ADS_2