
Ada rasa kecewa di hati orang tua. Ada rasa takut dan khawatir tentang kedepannya akan seperti apa di hati anak-anak. Tiara sepanjang perjalanan pulang terus saja menangis, alih-alih membuat kedua orang tuanya bangga, ia malah selalu saja membuat mereka kecewa dengan kelakuannya.
"Maafin Ara mom.. Dad.. Ara di jebak.." ucapnya mencoba membela diri. Bahwa ini bukan kesalahannya, bahwa bukan keinginannya membuat orang tuanya kecewa.
"Sudah lah sayang. Mommy dan daddy tidak akan marah sama kamu. Kami memang salah di masa lalu, tapi bukan berarti kami ingin kalian mengulangi kesalahan yang sama! tapi mungkin ini karma untuk kami yang mengecewakan orang tua kami juga dulu. Terutama mommy."
Daddy Alvin menggenggam tangan istrinya yang menunduk sedih, dia tahu istrinya sedang berusaha untuk tidak menumpahkan tangisnya di depan Tiara. Sama halnya daddy Alvin yang tidak melampiasakan kemarahannya dengan membentak putri sulung mereka. Mereka tidak ingin anak mereka terpuruk dan berkecil hati karena hal ini. Apa pun akan daddy Alvin lakukan untuk kebahagiaan dan masa depan anak-anaknya.
"Maafin Ara mom.." Tiara menyentuh lengan sang mommy yang duduk di depan, di samping daddy-nya yang sedang menyetir. Menyandarkan kepanya di sana. Memohon pengampunan dari wanita yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya. Wanita yang kini ia torehkan luka.
"Mommy gak marah sayang. Mommy mungkin sedikit kecewa, tapi nanti juga membaik sendiri. Kamu jangan nangis begitu, jadi jelek ah." mengusap pipi anaknya yang masih saja berderai air mata.
"Tapi Ara takut mom.. Ara takut. Masa Ara harus menikah! Ara kan masih kecil. Masih sekolah." pikiran untuk menikah besok sangat mengganggunya.
"Menikah itu bukan hanya sekedar siap atau tidak siap. Jika keadaannya sudah seperti kakak sekarang, kakak mau gak mau harus siap." pikiran mommy Shevi menerawang jauh pada masa lalunya.
"Kamu pikir dulu mommy siap saat hamil kamu, bahkan dulu mommy baru aja lulus SMA. Tapi toh mommy menerimanya juga. Bahkan sangat menerima dengan bahagia begitu bisa merasakan gerakan pertama kamu dalam perut mommy." menggenggam tangan anaknya yang dulu sangat kecil waktu pertama kali melihatnya di dunia.
"Mommy juga kecewa. Apa lagi sama daddy kamu! mommy selalu menyalahkan daddy. karena kemarahan daddy-mu lah mommy mengalami hal itu. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, mommy bisa menerima semuanya." berganti mengusap pipi suaminya yang terlihat sedih dan merasa bersalah.
"Kehadiran kamu adalah anugerah terindah untuk mommy. Pelangi sehabis hujannya mommy. Segala kebahagiaan hadir setelah kamu lahir. Mommy bisa kembali kuliah dengan di temani kamu, yang tadinya mungkin jika kamu tidak hadir untuk mommy, mommy akan kuliah di negara asing itu sendirian. Menahan rindu kepada nenna dan keluarga tanpa ada pelipurnya, menangis juga akan sendirian. Tapi dengan hadirnya kamu, memberi kekuatan tambahan untuk mommy menjalani hidup mommy." mengusap rambut putrinya yang masih bersandar di lengannya.
"Jadi kakak gak perlu takut dengan pernikahan kakak besok. Meskipun belum siap, tapi kakak harus yakin kalau itu yang terbaik dan akan berakhir dengan baik. Percayalah pernikahan akan membawa kebahagiaan dalam hidup kakak." Tiara sudah berhenti menangis sekarang, menyiapkan diri untuk status barunya besok.
"Bukankah semua berawal dari pemikiran kita sendiri? kalau kakak berpikir pernikahan kakak tidak bahagia, maka itu yang akan terjadi. Pasrahkan saja, yang penting kakak berusaha jadi istri yang baik. Mommy yakin kalian bakalan bahagia."
__ADS_1
"Tapi Ara takut di tinggalin kaya mommy.. Ara takut ngurus anak Ara sendiri seperti mommy ngerawat Ara tanpa daddy dulu.. Ara takut harus ninggalin rumah, karena Alvaro lebih memilih wanita lain seperti daddy dulu."
Kedua orang tua Tiara tertegun saat mendengarnya. Mereka tidak tahu pengalaman masa kecil anaknya akan menimbulkan trauma seperti ini. Dan mereka lebih tidak tahu jika dulu Tiara sudah mengerti dengan keadaan yang di alaminya.
"Maafin mommy sama daddy sayang.. Maafin kami yang memberikan pengalaman buruk di masa kecil kamu. Maaf.." air mata mommy Shevi akhirnya tumpah juga. Memeluk anaknya meski susah karena anaknya duduk di belakang.
"Ara hanya takut mom.. Ara tidak menyalahkan kalian." tangis Ara ketika mommy-nya menangis.
Melepaskan pelukan dan menghapus air mata di wajah putrinya. "Tapi kamu harus percaya, jika Alvaro tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan masa lalu yang kamu ingat itu. Percaya jika calon suami kamu adalah pemuda yang bertanggung jawab." Tiara mengangguk, dia memang harus bisa percaya kepada Alvaro. Percaya Alvaro bisa membawa masa depannya dengan baik.
"Buktinya dia tidak mengelak saat di suruh bertanggung jawab. Padahal dia gak salah apa-apa. Di juga korban, sama seperti kamu."
Ya. Tiara sadar akan hal itu. Cowok yang dia anggap menyebalkan di sekolah langsung menuruti permintaan orang tua Tiara untuk bertanggung jawab.
"Iya dad.. Ara tahu." lirih Tiara. Dan Tiara tidak ingin sampai Sheril menyebarkan foto-fotonya dengan Alvaro dan mencoreng nama baik keluarga. Setidaknya jika mereka sudah menikah, Tiara bisa beralasan foto itu di ambil setelah mereka resmi sebagai suami istri.
Sesampainya di rumah, Tiara kaget mendapati sahabatnya Pricilla duduk manis di ruang tamu.
"Lo ngapain disini?"
Yang di tanya hanya nyengir, memamerkan gigi putihnya.
"Kan gue udah bilang mau nginep di sini! katanya lo udah pulang, kok baru sampe sih? gue udah nunggu dari tadi tau gak?"
Tiara bingung harus menjawab apa. Tapi jika Pricilla menginap disini, pasti temannya itu akan tahu juga tentang pernikahannya besok. Karena acaranya di laksanakan di rumah mereka ini.
__ADS_1
Padahal niatnya akan merahasiakan pernikahan. Tadi Tiara sudah berjanji dengan Alvaro, jangan ada teman sekolah mereka yang mengetahui pernikahan mereka ini.
Tapi mungkin kalau hanya Pricilla tidak masalah kali ya. Lagi pula di bisa di percaya, dia sahabat sejati Tiara selama ini.
"Eh Ada pricilla.. Kapan datang?" sapa mommy Shevi yang baru masuk bersama daddy dengan ramah.
"Lumayan lama tante."
"Wah.. Maaf ya, kita malah baru pulang." mengajak tamu anaknya untuk kembali duduk, setelah sebelumnya juga menyapa daddy Alvin.
"Mau nemenin calon manten bobo ya, sebelum di temenin suaminya?" godaan dari mommy Shevi membuat Tiara mengerang frustasi dan Pricilla yang membulatkan mata dan membuka mulutnya lebar, kaget.
"Menikah tante?"
"Iya. Menikah sama calon mantu idaman mommy. Mommy sudah sering bilang kan kak, kalau Alvaro itu cocok sama kamu. Belagaknya berantem, tapi ujung-ujungnya menikah juga. Hahaha kesampaian juga mommy punya menantu dia." kekeh mommy Shevi, tidak peduli dengan wajah syok Pricilla.
"Alvaro Ra? Menikah?" mengedipkan matanya beberapa kali. Mimpi apa dia semalam, hingga mendengar kabar mengejutkan ini.
*
*
*
Hahaha Mommy Shevi berhasil dapet mantu idamannya nih 😂
__ADS_1