
..."Tak pernah ku sangka sebelumnya, jika kamu lah yang akan mendebarkan jantungku....
...Tak pernah ku sangka, aku akan merasa cemburu hanya mendengar namamu di sebut wanita lain."...
...👑...
Setelah dering yang entah keberapa, panggilan telfonnya baru di angkat oleh sahabatnya.
"Lagi ngapain sih lo, lama amat?" serang Tiara sebelum Pricilla sempat menyapa di seberang sana.
"Santai dong Ra.. Gue lagi di jalan. Kenapa sih? udah kangen banget sama gue?" dapat Tiara dengar tawa dalam suara sahabatnya.
"Gue tunggu di parkiran mobil."
"Eh lo udah masuk? laki lo udah sembuh emang?"
"Hm. Makanya buruan. Temenin gue sarapan."
"Keabisan beras lo di rumah sampai gak di kasih sarapan sama Alvaro?"
Tiara rasanya geram. Kenapa orang-orang di sekelilingnya suka sekali menggodanya.
"Bawel lo ah. Buruan!"
"Iya. Iya bagina ratu. Sabar napa! kaya kucing pengen kawin lo marah-marah gak sabaran." lagi. Pricilla tertawa di seberang sana.
"Sialan lo!" Tiara ikut tersenyum tipis.
Mengisi waktunya menunggu dengan menyalakan musik pada audio mobil. Memejamkan matanya sejenak, rasanya kedua matanya masih terasa berat dan mengantuk. Tapi lebih baik seperti ini dari pada di rumah sendiri. Sudah cukup tiga hari tanpa teman.
Saat gadis itu mulai terlelap dan memasuki alam mimpi. Jendela di sebelahnya di ketok dari luar dan mengagetkannya.
"Masih pagi udah tidur lagi aja lo!" seru Pricilla saat Tiara sudah membuka pintu mobil.
"Masih ngantuk gue." jawabnya dengan menutup mulut saat menguap lebar dan meregangkan ototnya.
"Ngapain sampe kurang tidur begitu? setau gue lo gak pernah suka yang namanya begadang."
Kini Tiara sudah berdiri di sebelah Pricilla dan menutup pintu di belakangnya. "Gue jelasin juga lo gak bakal ngerti."
"Eh eh eh.. Tunggu deh. Jangan bilang lo sama Alvaro......" pertanyaan Pricilla menggantung saat merasa curiga dengan cara berjalan sahabatnya, tapi Tiara tahu apa yang dimaksud oleh temannya itu.
Tiara mengangguk santai. Dan kembali melangkah dengan berusaha berjalan senormal mungkin meski pelan.
"Serius Ra? Lo serius udah..." enggan menyebutnya lebih jelas "...sama Alvaro?"
"Ya kali sama suami orang!"
__ADS_1
"Bukan. Maksud gue lo beneran udah?"
"Iya. Puas lo! ayo gue laper."
Senyum Pricilla mengembang lebar. Akhirnya sahabatnya ini sudah terikat lahir batin dengan suaminya. Awalnya gadis itu sempat khawatir Tiara akan berniat meninggalkan Alvaro. Tapi kini dia lega setelah mendengar sahabatnya sudah memberikan segalanya untuk Alvaro. Menurutnya, Alvaro adalah laki-laki paling tepat untuk mendampingi sahabatnya yang terpaksa urakan hanya untuk melindungi dirinya. Kini Tiara tidak perlu lagi pura-pura urakan dan berani karena sudah ada Alvaro yang siap pasang badan untuk membela dan menjaganya.
Pricilla menyusul dan merangkul bahu Tiara. Menggoda dengan menanyakan bagaimana rasanya malam pertamanya semalam. Pricilla tertawa kencang saat melihat sahabatnya tersipu dengan wajah memerah dan salah tingkah.
Ah ya ampun. Tiara yang malam pertama kenapa dirinya yang bahagia sih?
Tapi memang seperti itu kan jika sahabat sejati itu. Akan merasa lebih bahagia saat melihat sahabatnya bahagia. Dan akan jauh merasa lebih sedih saat sahabatnya sedih. Layaknya apa yang Pricilla dan Tiara rasakan untuk satu sama lain.
***
Keadaan kantin di pagi hari memang tidak terlalu ramai. Hanya orang-orang yang seperti Tiara saja yang datang ke kantin sepagi ini untuk sarapan.
Tiara dan Pricilla memilih kantin terdekat. Kantin anak ekonomi. Setelah memesan dan memilih tempat duduk, perhatian keduanya teralihkan oleh tiga gadis yang terlihat heboh membicarakan pria-pria tampan yang sedang menjadi buah bibir.
"Tadi gue liat idol-nya anak arsitektur udah berangkat lho." seru salah satu gadis berambut sebahu kepada dua teman di depannya. "Gila! cuma pakai celana jeans sana kemeja hitam gitu aja udah keren abis. Apa lagi tadi tuh lengannya digulung sampe siku gitu."
Tiara mengernyitkan dahinya. Anak arsitektur? kemeja hitam, celana jeans?
"Siapa sih?" tanya gadis yang duduk di depannya yang di kuncir kuda.
"Ketinggalan jaman banget sih lo! masa lo gak tau!" gadis satunya terlihat tidak menanggapi kehebohan kedua temannya. "Itu lho Alvaro Mahesa."
"Ooh. Yang suka berangkat bareng anak kedokteran yang juga ramai di omongin sama anak angkatan kita itu?"
Tiara dan Pricilla saling pandang. Pasalnya mereka tidak tahu jika Tiara sedang jadi bahan perbincangan angkatan manapun. Tiara hanya mengangkat bahunya menanggapi tatapan Pricilla. Untung posisi mereka terhalang sama meja lain yang juga isi dua orang mahasiswa lain.
"Diem aja dari tadi lo Li! gak tertarik lo sama Alvaro?"
"Mana ada orang yang gak tertarik sama tunangannya sendiri?" jawab gadis yang di panggi Li tadi dengan santai.
"Apa!" seru kedua temannya kaget. Percayalah Tiara dan Pricilla juga kaget mendengarnya.
Tiara bahkan sudah meremas jarinya di atas meja kuat. Maksudnya apa coba? tunangan? siapa yang tunangan siapa? Alvaro miliknya! suaminya! bukan tunangan siapa pun!
Pricilla mengusap bahu Tiara menenangkan. Wajah sahabatnya sudah memerah dengan mata setajam laser.
"Maksud lo Alvaro tunangan lo?" tanya gadis yang duduk sendirian mencoba meluruskan maksud yang dia tangkap.
"Iya." jawabnya singkat. Semakin membuat amarah Tiara naik ke ubun-ubun. Untuk pertama kalinya dia merasa tidak suka ada gadis yang menyebut nama suaminya. Apa lagi ini mengaku-ngaku sebagai tunangan.
Yang benar saja. Dia yang istrinya saja tidak pernah mengaku-ngaku dan tidak ada yang tahu.
"Tapi berakhir satu tahun lalu." imbuh gadis yang kini Tiara yakin bernama Aulia. Karena setahunya mantan tunangan suaminya hanya Aulia.
__ADS_1
"Maksud lo?"
"Ya, jadi gue sama dia itu di jodohin gitu. Kita tunangan pas gue kelas dua SMP. Tapi tahun kemaren dia mutusin pertunangan kita."
Dari penjelasan yang Tiara dengar. Berarti Aulia itu satu tingkat di atasnya. Karena Alvaro cerita dulu mereka bertunangan saat baru masuk SMP.
"Kenapa di batalin?"
Aulia hanya mengangkat bahunya. "Gue kalah cantik mungkin."
"Maksud lo. Dia mutusin pertunangan kalian demi cewek lain?"
Aulia hanya mengangguk. "Padahal gue udah suka sama dia saat pandangan pertama di malam pertunangan kita. Siapa sih cewek yang gak tertarik sama cowok sekeren Alvaro. Bahkan saat dia baru lulus SD dulu aja udah sekeren itu."
"Gue. Gue yang gak tertarik sama cowo menyebalkan itu dulu!" teriak Tiara dalam hati. Hatinya rasanya panas mendengar ada gadis lain yang menaruh hati dan perasaan untuk suaminya.
"Kalo kalian di jodohin masa bisa dibatalin gitu aja! biasanya orang kaya kalian bakal rugi kan kalo batalin perjodohan bisnis begitu?"
"Orang tuanya rela ganti rugi kalau seandainya ada kerugian. Mereka lebih memilih kebahagiaan anak mereka dari pada bisnis."
Ada rasa bangga dan terimakasih untuk kedua mertuanya yang lebih memilih kebahagiaan suaminya dari pada bisnis. Sehingga kini yang memiliki Alvaro adalah dirinya bukan gadis di depan sana.
"Berarti cewek anak kedokteran itu yang udah ngerebut Alvaro dari lo?"
"Mungkin. Gue gak pernah tau dan ketemu juga sama siapa pun gadis yang bisa bikin Alvaro jatuh cinta itu."
"Kenapa lo gak ambil balik?"
"Buat apa? buat mempermalukan diri gue sendiri atas penolakannya?"
"Emang selama kalian tunangan, Alvaro gak tertarik sama lo?"
"Alvaro ngomong aja irit banget. Dan kalian tau sendiri gue juga begitu kalo sama cowok. Apa lagi cowok yang gue suka. Mau ngomong aja udah deg degan dulu."
"Cupu sih lo! aturan ajak aja ke hotel. Sekuat apa pun cowok kalo di kasih yang polos-polos pasti tergoda juga." seru salah satu teman Aulia yang duduk di sebelah gadis itu dengan menggebu.
"Gila lo! gue kan selalu di kawal." mereka bertiga tertawa bersama dan melanjutkan obrolannya.
Sedangkan di meja Tiara. Bubur yang dia pesan hanya di aduk-aduk tanpa di coba sedikit pun. Padahal tadi perutnya lapar. Tapi sekarang mendadak kenyang makan cemburu.
Pricilla hanya melihat temannya dengan senyum yang di tahan. Menikmati pemandangan langka itu. Baru kali ini dia melihat sahabatnya cemburu. Membuatnya semakin yakin Tiara sudah benar-benar jatuh cinta kepada Alvaro.
*
*
*
__ADS_1
Lebih panjang dari biasanya ya 😁 jangan lupa jejak kakak 💕