DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Konfirmasi


__ADS_3

Kebanyakan orang tidak tahu alasan mereka mencintai pasangannya. Seperti halnya Alvaro yang tidak tahu kenapa dia bisa mencintai Tiara segitu besarnya. Tak hilang meski sekian lama tanpa balasan yang sama.


Mungkin karna Tiara cantik. Atau karna keceriaan gadis itu. Bisa jadi juga karena kebaikan dan keramahan Tiara pada siapa saja di sekolah dulu. Tapi sering kali cinta datang tanpa alasan. Tanpa memandang orang yang di cinta. Tanpa tahu sebabnya.


Alvaro semakin mengeratkan pelukannya. Pemuda itu sudah cukup tidur dari kemarin. Dan sekarang sebelum matahari menampakkan wujudnya, pemuda itu sudah tidak dapat memejamkan matanya lagi. Rasa kantuk pada matanya sudah sirna. Lebih memilih memandang wajah cantik dan lucu istrinya ketika tidur.


Tiara tidak terganggu akan aktifitas Alvaro. Gadis itu malah semakin menyurukan wajahnya pada dada bidang sang suami. Menikmati kehangatan yang suaminya suguhkan.


Samar gadis itu mendengar suara Alvaro saat dia menggesek-gesekan hidungnya pada dada sang suami. "Jangan menggoda kalo lo belum siap buat ngelakuinnya lagi."


Tak peduli dan tak ambil pusing dengan maksud perkataan suaminya. Tiara masih melakukan hal yang sama. Tanpa peduli dengan akibat yang di timbulkan dari apa yang dia perbuat.


"Raa.." rengek Alvaro dengan suara frustasi.


"Lo udah bangun Al? Tidur lagi aja, masih pagi banget." suara Tiara masih terdengar serak. Masih sangat jelas jika gadis itu masih mengantuk.


"Udah bangun dari tadi. Sekarang malah nambah yang bangun." gerutu Alvaro.


Tiara tidak merespon apa pun. Sepertinya gadis itu sudah kembali tidur.


"Ra.." panggil Alvaro dengan mendaratkan bertubi-tubi ciuman di kepala istrinya. "Lo yang berulah ya? jadi jangan salahin gue!"


Alvaro merubah posisinya dengan setengah menindih tubuh sang istri. Membenamkan wajahnya pada ceruk leher Tiara.


Tiara yang sudah kembali ke alam mimpi seketika membuka matanya lebar. "Al. Ngapain?!"


***


Alvaro duduk di meja rias dengan menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Tersenyum cerah melihat istrinya yang sedang mengeringkan rambut dengan cemberut.


"Udah dong yank. Kalo cemberut gitu tar cantiknya ilang."


"Bodo!" sahut Tiara ketus.


"Ya abis aku gak nahan. Makanya jangan di goda-godain gitu. Karena sekali kita nyoba udah bikin gue candu."


Tiara meletakkan hairdryer di atas meja dan merubah duduk menghadap tepat ke arah suaminya.

__ADS_1


"Gue aja masih sebel sama lo masalah kemarin! bisa-bisanya pagi-pagi ngajakin begituan." ucap Tiara dengan menghunuskan tatapan tajam tepat ke manik mata suaminya.


"Jadi maunya malem-malem aja?" goda Alvaro. "Ya udah deh, tar malem ya. Sekarang gue udah capek."


"Alvaro!!!" pekik Tiara. Bisa-bisanya suaminya malah menggodanya di saat marah seperti ini.


Pemuda itu malah terkekeh. "Iya sayang. Maaf ya, nanti gak lagi kalo lo gak ijinin." menangkup kedua sisi wajah Tiara, mendaratkan kecupan lembut di bibir istrinya.


"Ya udah." sahut Tiara singkat dan kembali melanjutkan kegiatan mengeringkan rambutnya.


"Jadi. Kenapa kemarin diemin gue gitu?"


"Sebel aja."


"Sebel kenapa? gue gak ngapa-ngapain lo yank. Cuma di tinggal masuk kelas doang bentar masa ketemu lagi udah di jutekin, di diemin."


"Sebel sama mantan tunangan lo!" melirik tajam.


"Jadi ini tentang Aulia? emang kenapa sih sayang. Masih ragu sama cinta gue buat lo?"


"Bukan gitu." sangakal Tiara dan menceritakan kenapa Aulia bisa merubah mood-nya kemarin.


Tiara berdecak. "Oke lah kalo itu gue juga gak bisa ngelarang buat cewek-cewek di luaran sana buat gak ngarep sama lo. Tapi lo bisa kan, gak ngasih mereka harapan?"


"Harapan apa sih yank? gue gak pernah ngasih harapan sama siapa pun lho. Bahkan sama lo sekali pun dari dulu, meskipun gue udah cinta mati." memasukan tangannya kedalam saku celana. Manatap istrinya yang juga menatapnya intens.


"Terus itu Aulia? pake segala aku-kamu ngomongnya. Sama gue aja lo-gue." cibir Tiara.


Alvaro mengulum senyumnya. Istrinya lucu sekali jika sedang cemburu seperti ini. Rasanya Alvaro ingin selalu membuat istrinya cemburu. Merasa cintanya sungguh terbalaskan.


"Kan lo yang minta kita buat lo-gue'an aja. Katanya lo geli kalo harus pake aku-kamu." bela Alvaro. Tiara langsung terdiam merasa tertohok. Memang dulu dia sendiri yang menolak usul Alvaro untuk aku-kamu. Karena dulu rasanya aneh jika harus bicara dengan Alvaro dengan aku-kamu seperti itu.


"Ya.. Ya itu kan dulu Al. Dulu saat kita masih SMA. Masih belum menganggap hubungan ini benar-benar pernikahan."


"Jadi sekarang lo udah nganggep hubungan kita ini pernikahan? bukan pacaran lagi?"


"Gimana gak nganggep pernikahan, kalo lo aja udah njamah gue kaya tadi pagi." gerutu Tiara lirih, namun masih terdengar di telinga Alvaro. Membuat senyumnya semakin lebar.

__ADS_1


"Ya udah. Mau aku-kamu aja mulai sekarang?"


"Gak mau. Lo aja sana sama Aulia." sahut Tiara sembari mengoleskan krim pada wajahnya.


"Ciee yang cemburu." kalau tahu istrinya ngambek karena cemburu dari kemarin, mungkin sakitnya akan lebih cepat sembuh. Sekarang Alvaro tidak meragukan lagi cinta Tiara pada dirinya. Bukan keterpaksaan untuk mencintai karena status mereka sebagai suami istri. Tapi cinta tulus yang lahir dari hati karena kebersamaan mereka selama ini.


"Gue gak cembur!" sangkal gadis itu tegas.


"Iya deh gak cemburu." mengusap sisi wajah Tiara dengan sebelah tangannya. "Aku cinta kamu sayang. Sampai kapan pun akan selalu begitu. Kamu harus percaya hanya kamu satu-satunya cewek yang bisa bikin hati aku berbunga-bunga."


Tiara diam mendengarkan. Membalas tatapan suaminya.


"Kalo aku milih Aulia. Ngapain aku mau nikah sama kamu. Toh kita gak ngapa-ngapain. Aku juga gak liat kamu telanjang kok. Orang aku sadar aja setelah kamu sadar." memnggenggam kedua tangan istrnya dan menariknya untuk berdiri tepat di hadapannya. Menarik pinggang sang istri hingga lutut mereka saling bersentuhan.


"Aku rela mutusin pertunangan yang udah lama terjalin cuma demi kamu Ra. Demi gadis nyebelin, tukang bikin onar, yang sayangnya aku cinta banget dari jaman ABG labil. Jadi apa yang kamu raguin. hmm?"


Tiara menunduk. Benar, apa yang dia ragukan dari Alvaro. Selama mereka menikah, suaminya sudah menunjukan banyak cinta untuk dirinya. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Alvaro juga membuatnya jatuh hati. Menjadi satu-satunya laki-laki yang dia rela menjatuhkan masa depannya di tangan suaminya itu.


"Tapi lo pake aku-kamu sama Aulia." Tiara masih belum bisa menerima satu hal itu.


"Aku ketemu Aulia itu pas baru masuk SMP. Bahasa yang aku pake, masih bahasa kaku Ra. Dan karena kebiasaan pake aku-kamu makanya kebawa sampe sekarang. Bukan karena dia lebih special atau gimana kok."


Tiara mendongak mencari kejujuran dalam mata suaminya. "Lo jujur kan Al."


"Buat apa aku bohong. Emang selama ini kamu pernah liat aku sekedar chat sama dia? atau kamu denger pas dia lagi ngomongin aku ke temen-temennya kalo kami pernah ketemu lagi?"


Tiara menggeleng sebagai jawaban.


"Jadi?"


"Iya aku percaya."


Alvaro tersenyum saat istrinya juga memakai 'Aku' dalam kalimatnya. Menegakkan tubuhnya untuk berdiri. Mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, membenamkan biburnya di atas bibir sang istri. Memberi ciuman untuk menambah energi mereka sebelum pusing dengan aktifitas dan mata kuliah di kampus nanti.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2