
Tiara bingung harus menjawab apa. Selama ini dia merasa nyaman dekat dengan Dika. Namun perasaannya hanya sebatas teman, tidak lebih. Sekarang gadis itu sedang memikirkan cara paling halus untuk menolak pemuda yang tersenyum penuh harap di hadapannya.
Tiara takut menyakiti dan membuat Dika malu. Tapi, Tiara juga tidak bisa memaksakan perasaannya untuk menerima Dika. Apalagi dengan statusnya yang sudah menjadi istri orang. Ketika Dika tahu, itu hanya akan menyakiti keduanya. Tiara tidak mau mendapatkan tatapan benci dari pemuda yang sudah ia anggap sahabat itu.
"Makasih untuk ketulusan dan perasaan lo buat gue. Tapi gue bukan cewek yang pantes buat cowok baik kaya lo Dika.." dapat Tiara lihat kekecewaan dan rasa malu di bola mata Dika. "Lo berhak dapetin yang lebih baik dari gue." imbuhnya.
"Tapi bagi aku, kamu yang terbaik dari semua pilihan yang ada di hadapan aku Ra!" sangkal Dika, tidak terima alasan tidak masuk akal dari Tiara. Alasan klise yang sering di gunakan wanita untuk menolak seorang pria.
"Sekali lagi sory.. gue cuma nganggep lo sebagai sahabat gue aja. Perasaan gue ke elo gak lebih dari itu." lirih Tiara. Sungguh ia tidak pernah berharap ada di posisinya saat ini. Dan kenapa juga Dika harus menyatakan perasaannya di depan umum seperti ini?
Bukannya terkesan dengan keberanian yang Dika tunjukan di hadapan seluruh siswa sekolah mereka. Tiara justru merasa kasihan, pasti Dika sangat malu mendapat penolakan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, perasaan memang tidak bisa di paksakan. Dan untuk saat ini hatinya hanya miliknya seorang. Belum ada lelaki mana pun yang bisa mengambil hatinya. Termasuk Dika yang sudah sangat bekerja keras memperjuangkan hati Tiara beberapa bulan ini.
"Apa karena Alvaro kamu nolak aku?" tanya Dika, ingin jawaban yang pasti.
"Bukan karena siapa pun gue nolak lo Dik. Itu murni karena gue emang gak punya perasaa lebih sama lo." sangkal Tiara mencoba semeyakinkan mungkin. Meskipun memang ada nama Alvaro sebagai alasan yang tidak bisa ia ungkapkan kepada Dika. Karena Alvaro suaminya, masa depan dan pemiliknya.
Meskipun Tiara belum sepenuhnya menerima pernikahan mereka, tapi bukan berarti gadis itu tidak menerima Alvaro sebagai suaminya. Apa lagi pemuda itu sangat bertanggung jawab terhadapnya. Sama sekali tidak pernah sedikit pun terlintas di pikirannya untuk bercerai dengan Alvaro. Dia hanya ingin membuka hati untuk sepenuhnya menerima pemuda itu dengan hati dan cintanya. Agar rumah tangga mereka bisa berjalan hingga maut memisahkan.
Oh ya ampun.. pikiran Tiara sekarang sudah seperti wanita matang yang ingin sehidup semati dengan suaminya.
"Jadi.. kamu tidak bisa memberikan sedikit kesempatan untuk aku berjuang sekali lagi agar bisa dapetin hati kamu?" tanya Dika, yang di jawab gelengan lemah dan wajah penuh penyesalan Tiara.
Siswa yang sedari tadi ikut tegang menunggu jawaban Tiara, kini mulai berdesas desus membicarakan mereka. Ada yang bersyukur idola mereka tidak di miliki gadis lain. Ada yang menghujat Tiara karena mempermalukan Dika di depan umun. Sedangkan para siswa laki-laki bersorak senang karena gadis nomor satu sekolah mereka tidak menerima Dika.
***
__ADS_1
Sheril yang mendengar Tiara menolak Dika dari salah satu temannya tersenyum puas. Merasa jika ancamannya pada gadis itu berhasil. Padahal bukan karena ancaman dari Sheril yang membuat Tiara menolak Dika, tapi karena statusnya sebagai seorang istri lah yang membuatnya menolak laki-laki manapun kecuali suaminya. Suami yang ia dapat dari ulah jahat Sheril, yang belum gadis jahat itu ketahui tentang pernikahan mereka.
Sheril yang awalnya akan menuju kantin bersama dua dayangnya, berbalik arah kembali menuju lapangan. Di ujung koridor dia bisa melihat Tiara yang berjalan dengan tertunduk. Mungkin mendengar gunjingan di sekitarnya yang menyudutkan gadis itu. Sheril semakin tersenyum bahagia melihat penderitaan rivalnya itu.
Menghadang langkah Tiara di tengah koridor, melipat kedua tangan di depan dada. Dengan tatapan dan senyum mengejek, Sheril berujuar. "Baguslah, gadis rendahan kaya lo emang harus nyadari diri, kalo lo gak pantes buat Dika!"
Tiara menghela napas, belum selesai drama paginya yang di buat Dika. Kini giliran fans fanatik pemuda itu yang akan menambah drama paginya.
"Cewek yang udah tidur sama cowok lain tuh gak pantes dampingin Dika!" imbuh Sheril tambah memanasi Tiara yang masih diam saja.
Tiara membelalakan matanya saat Sheril mengucapkan kalimat itu dengan santainya, tanpa peduli teman di sekitar mereka dapat mendengarnya.
Geram? jangan di tanya. Dada Tiara sudah kembang kempis menahan emosi terhadap gadis di depannya. Dan...
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Sheril. Gadis itu membelakak tak percaya dengan perbuatan Tiara. Bukankah beberapa bulan ini, setiap Sheril mengganggu Tiara, gadis itu tidak pernah lagi menggunakan kekerasan fisik lagi.
"BERANI-BERANINYA LO!" teriak Sheril. Dan saat gadis itu akan membalas perbuatan Tiara, lengannya di cekal dan langsung di hempaskan dengan kasar oleh lawannya itu.
"Jangan pernah lo sentuh gue! dan jangan pernah lo sebarin berita palsu lo! karena itu ulah perbuatan lo sendiri!" ucap Tiara dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
"Tergantung seberapa nurutnya lo sama gue! dan perlu lo tau, mereka gak akan peduli itu jebakan gue atau bukan! yang mereka tau lo udah tidur dan mungkin bahkan lebih sama Alvaro!" ujar Sheril tak gentar dengan gadis yang sedang menggertakan giginya, wajah penuh emosi itu menghibur paginya yang sempat jelek.
"Selama ini gue diem aja gak bales ulah lo itu, bukan karena gue takut sama lo! gue cuma lagi nunggu waktu yang tepat aja buat hancurin lo sampai ke akar-akarnya!" emosi Tiara rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Kepalanya sudah sangat panas dan berasap. "Jamur kaya lo emang harus di basmi biar gak berkembang biak!"
Sheril yang sudah akan kembali menampar Tiara langsung Tiara tarik rambutnya. "Gue bilang jangan sentuh gue!" tekannya lagi.
__ADS_1
"TIARA LEPAS!" seru Alvaro yang berlari ke arah mereka. Pricilla mengabari Alvaro jika istrinya sedang bertengkar lagi dengan Sheril.
Tiara hanya menatap suaminya tanpa melepas cekalan tangannya pada rambut gadis yang sedang meronta kesakitan.
"Lepas Ra! lo mau kena hukum lagi!" seru Alvaro dengan suara sedikit meninggi.
"Kok lo belain nih mahluk jadi-jadian sih Al! dia tuh yang udah ngejebak kita sampai hubungan kita seperti sekarang ini!" sungut Tiara seraya menghempaskan rambut Sheril. Beberapa helai rambut Sheril yang tidak terhitung bersarang di sela jemari Tiara.
"Jadi lo nyesel sama hubungan kita sekarang!" seru Alvaro lagi, merasa sedikit terluka. Pemuda itu tidak pernah marah dengan ulah Sheril yang menjebaknya dan Tiara. Karena berkat Sheril, dia kini bisa mendapatkan Tiara dan tidak perlu lagi berusaha membenci gadisnya itu.
Tapi Alvaro tidak menyangka jika istrinya merasa keberatan dan menyesal telah menikah dengannya.
"Maaf kalo lo nyesel sama semua ini! biar nanti gue ngomong ke daddy untuk mengakhiri semuanya!" tekan Alvaro lalu pergi membawa luka di hatinya.
Jika pada umumnya wanita yang lebih sensitif, tapi kini Alvaro tak kalah sensitif. Karen baginya Tiara begitu berharga, tapi kalimat Tiara justru melukainya.
*
*
*
Sabar ya, udah ada alurnya kok 😁
Kasih semangat aja biar authornya semangat up 💕
__ADS_1