
"Gak papa Al. Besok kita bisa berusaha lagi." Tiara berdiri dengan lututnya di hadapan Alvaro. Mendongakan kepala yang menunduk itu dan mengecup bibirnya. "Mau lihat dedek bayi sekarang?"
Alvaro tersenyum dengan perlakuan manis istrinya. Dia mengangguk dan berpamitan kepada dokter.
Sesampainya di ruang tunggu. Tiara ijin ke belakang pada Alvaro.
"Kamu tunggu di sini bentar ya Al. Aku ke toilet dulu."
"Mau aku temenin?"
Tiara tersenyum dan mengecup dahi suaminya. "Gak usah. Kamu di sini aja."
Tiara berjalan cepat ke arah toilet yang untungnya tidak jauh. Saat akan memasuki toilet dia menabrak wanita paruh baya.
"Maaf.. Maaf tante. Saya beru-buru tadi."
"Makanya hati-hati dong!" seru wanita yang ia tabrak.
Tiara membantu wanita itu mengumpulkan berkas yang terjatuh. Disana ada foto Sheril. Membuatnya penasaran.
"Tante siapanya Sheril?" ketika mendongak dan menyerahkan berkas-berkas yang terjatuh. Tiara mengerutkan dahi merasa familiar dengan wajah wanita itu.
"Ada urusan apa kamu sama anak tiri saya?" tanya wanita itu dengan nada tidak ramah.
"Eemm saya teman masa sekolahnya dulu." Tiara yang mengulurkan tangan dan tidak di sambut akhirnya menurunkan tangannya lagi.
"Kalau kamu temannya, kasih dia semangat. Sebelum dia mati di makan penyakitnya!"
Tiara terkesiap. "Ma-maksud tante?"
"Aah sudah lah. Jika memang kalian berteman pasti kamu tahu." wanita itu sudah akan pergi. Tapi sekali lagi Tiara menahannya.
"Apa kita pernah bertemu tante?"
Ibu tiri Sheril menelengkan kepalanya. Menatap Tiara dari ujung kepala hingga ujung kaki. wanita itu mendengus "Untuk apa kita pernah bertemu?"
"Tapi sepertinya wajah tante tidak asing bagi saya."
"Maksud kamu wajah saya pasaran!" bentak wanita itu. Membuat Tiara panik karena banyak mata yang menatap mereka.
"Bukan tante. Maaf mungkin saya salah lihat." Tiara membungkukan tubuhnya meminta maaf.
"Sheril dan ibu tirinya gak jauh beda. Sama-sama kasar dan sombong." gerutu Tiara saat wanita itu pergi begitu saja.
__ADS_1
Tiara langsung pada tujuan awalnya. Namun saat akan memakai kembali celananya. Betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati flek pada celananya.
Tiara yang merasa takut langsung keluar dan menuju suaminya. Menelpon Om-nya Bayu untuk bisa mendulukan dirinya saat pemeriksaan.
"Kenapa sih yank?" tanya Alvaro yang melihat istrinya cemas dan meminta dimajukan untuknya dahulu. Tiara bukan orang yang malas mengantri. Pasti ada sesuatu yang membuat istrinya seperti itu. Terlebih mata istrinya sudah berkaca-kaca.
"Anak kita Al.." rengek Tiara.
"Anak kita?" Alvaro semakin bingung. Tapi istrinya malah menangis. Alvaro menarik Tiara mendekat untuk dapat memeluknya.
"Ssst.. Anak kita akan baik-baik aja. Kamu gak perlu khawatir."
Alvaro sendiri tidak tahu apa yang di khawatirkan. Sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Bahkan istrinya hanya mengeluh pusing dan sedikit mual saja tadi pagi. Dan Tiara bilang itu tidak bahaya karena memang wanita hamil seperti itu.
Lalu sekarang apa yang sedang istrinya ini khawatirkan?
Belum terjawab rasa penasaran Alvaro, karena Tiara masih menangis. Om Bayu datang dengan berlari.
"Ayo masuk Al. Ra.." ajak Om Bayu mendahulukan mereka untuk pemeriksaan.
Alvaro menurut saja. Dengan bantuan suster yang mendorong kursi rodanya, Alvaro menggenggam tangan Tiara erat. Memberikan kekuatan dan ketenangan. Bahwa apa yang istrinya takutkan tidak akan terjadi.
Dokter kandungan yang sudah di hubungi Om Bayu langsung memerintahkan Tiara untuk duduk.
"Tadi saat saya buang air kecil, di celana dalam saya ada bercak darah dok." ucap Tiara masih dengan isak tangisnya.
Alvaro yang baru tahu langsung kaget. Kenapa masalah seperti ini istrinya tidak cerita. Pemuda itu hanya bisa menghela napas. Mencoba memahami kekhawatiran istrinya. Terlebih kata ibu, wanita hamil itu sangat sensitif.
"Jangan takut. Kita periksa dulu ya?"
Tiara di suruh berbaring. Suster membantu menutup bagian bawah Tiara dan membuka baju yang menutupi begian perut. Di olesi gel dan di lakukan USG untuk kedua kalianya.
"Sepertinya kemarin ada kekeliruan." ucap dokter.
Alvaro dan Tiara yang belum tahu maksudnya hanya menunggu penjelasan lebih lanjut. Sedangkan Om Bayu sudah melebarkan matanya.
"Kemarin mungkin yang satu sedang bersembunyi." ucap dokter lagi, semakin membuat pasangan muda itu bingung.
"Ternyata ada dua embrio. Dan untungnya sudah membelah sempurna." seketika itu mata keduanya melebar.
"Ke-kembar dok?" tanya Alvaro tergagap.
Dokter mengangguk. Mengarahkan agar kedua bakal anak mereka terlihat jelas. Disana terlihat dua embrio yang sudah membentuk kepala serta tangan dan kaki yang lebih kecil saling berhadapan.
__ADS_1
Tiara menitikan air matanya. Begitu juga dengan Alvaro yang sedari tadi tak melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Di kecupinya berkali-kali tangan itu. Beralih untuk mengecup pipi sang istri. Karena Alvaro tidak dapat mencapai dahi Tiara.
"Tapi flek tadi?" tanya Tiara yang belum puas dengan jawaban dokter. Dokter juga belum mengatakan jika anak-anaknya sehat.
"Itu biasa terjadi pada ibu hamil dengan anak kembar. Terutama di trimester pertama. Asal hanya bercak darah bukan pendarahan, itu tidak masalah. Dan dari hasil pemeriksaan semuanya sehat kok." baik Tiara maupun Alvaro merasa lega mengetahui semuanya sehat. "Hanya perbanyak lagi porsi makannya mulai sekarang. Kebutuhan kalori dan gizinya sekarang bertambah. Kerena tambah satu bayi lagi. Apa lagi tekanana darah kamu masih rendah."
Tiara mengangguk. Dia akan menuruti semua saran dokter.
"Tapi itu.." Bayu merasa tidak tega menghancurkan kebahagiaan kedua pasangan muda itu.
Dokter yang paham maksud Bayu mengangguk. Ini memang harus di beritahukan sejak awal. Agar baik si ibu atau keluarganya bisa menjaga dan bersiap dengan segala kemungkinannya.
"Kenapa Om?" tanya Tiara yang sudah kembali duduk di kursi yang bersebrangan dengan dokter.
"Jadi begini.." dokter mencoba menjelaskan. "Calon anak kalian hidup dari satu plasenta yang sama. Mereka juga kembar MoMo."
"Kembar MoMo?"
"Kembar MoMo merupakan kembar yang kedua janinnya tumbuh dalam satu kantung ketuban dan satu korion (membran yang menutupi kantung ketuban). Dan mereka hanya memiliki satu plasenta (ari-ari)."
Tiara terkesiap. Dia sedikit banyak tahu tentang hal itu. Meski tidak secara detail dan keseluruhan.
"Artinya mereka berebut oksigen dan makanan dok?" tanya Tiara dengan nada suara yang bergetar.
Dokter mengangguk lemah. "Untuk itu mulai sekarang harus di tangani oleh dokter yang biasa menangani kehamilan beresiko. Kondisi hamil MoMo ini sangat langka dan jarang terjadi. Tapi bukan berarti tidak ada dan tidak dapat di tangani. Rumah sakit ini sudah dua kali menangani kasus yang sama."
Alvaro sedikit lega saat rumah sakit ini pernah menangani kasus seperti istrinya.
"Hanya saja, usia kamu masih begitu belia Tiara. Apa kamu yakin bisa melanjutkan kehamilan ini?"
"Ma-maksud dokter apa?"
*
*
*
Aku gak bilang kalau cobaan mereka berakhir kan?
Meski mereka udah bersatu lagi. Tapi Alvaro masih lumpuh. Dan sekarang cobaan datang lagi..
Semoga mereka kuat diterjang badai ini 😎
__ADS_1
Jangan lupa jejak kawan 🤗💕