DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Terkejut


__ADS_3

"Kakak kenapa?" tanya Reina yang hari ini tidak berangkat sekolah karena tidak enak badan. "Perutnya sakit juga? adik bayinya rewel?" cecar Reina lagi yang melihat Tiara pulang dengan menangis.


Tiara tersenyum dan menghapus air matanya. Duduk di sebelah adik perempuannya yang sedang menonton televisi.


"Kakak gak papa. Kamu udah sehat?" mengusap rambut panjang adiknya. Reina selalu ingin memanjangkan rambutnya. Katanya biar secantik mommy dan kakaknya. Padahal gadis itu sendiri memang sudah cantik. Turunan keluarga mereka.


"Aku cuma sakit perut aja kak. Mommy sama daddy aja yang lebay gak bolehin aku masuk sekolah." gerutu Reina yang kembali menonton dan memakan cemilan di pangkuannya.


"Wajar dong kalo mereka khawatir. Ini datang bulan pertama kamu kan?" adiknya ini sudah dapat menstruasi di kelas satu SMP. Dulu Tiara di kelas dua baru menstruasi. Entah pertumbuhan anak sekarang yang cepat, atau dirinya yang terlambat.


"Iya kak. Tapi udah gak sakit banget kok. Kan sakit bangetnya kemarin." kemarin anak itu juga pulang di antar pihak sekolah karena menangis di kelas karena perutnya sakit.


Reina memang cengeng. Lebih cengeng dari pada Tiara. Untung ada Raka yang menjaga Reina. Walau adik laki-lakinya itu sering menggerutu dan tidak suka dengan tugasnya. Tapi semua tahu jika Raka sangat menyayangi adik kembarnya.


"Jadi adik bayinya gak papa kak?" Reina bertanya lagi. Merasa belum puas dengan jawaban sebelumnya. "Emang hamil merepotkan ya kak? kata temen aku, mamanya tiap pagi muntah-muntah terus pusing. Makanya jadi jarang bawa bekal ke sekolah."


"Adik bayinya baik-baik aja sayangku... nih mau pegang?" Reina beringsut mendekat dan meletakan telapak tangannya di atas perut kakaknya.


"Mana kak? perutnya sama kaya aku." Reina membandingkan dengan perutnya.


Tiara terkekeh. Padahal adiknya ini pintar. Tapi kenapa polos banget seperti ini. Tiara jadi takut adiknya gampang di tipu cowok-cowok brengsek di luar sana kalau sudah remaja nanti. Dia harus mewanti-wanti Raka untuk ekstra menjaga adik kecilnya ini agar tidak salah memilih teman yang mungkin akan membawa pengaruh buruk dan merusak masa depan adiknya ini.


"Kan kakak hamil baru dua bulan. Jadi perutnya masih rata. Nanti tunggu satu atau dua bulan lagi, mungkin sudah sedikit besar."


"Nanti kalau lahir biar aku yang jagain ya kak." tawarnya dengan mata berbinar. "Aku juga mau punya adik bayi. Tapi kata mommy, mommy gak mau hamil lagi." gadis remaja itu cemberut ketika mengingat jawaban ibunya.


"Kenapa pengen punya adik bayi lagi? kan udah seneng jadi anak terakhir. Paling di sayang, paling di manja, paling di jagain." Tiara mentoel hidung adiknya.


"Aku juga pengen punya orang yang bisa aku jagain kak." protes Reina.


"Kan ada Rafa sama Rafi. Ada juga Bunga yang usianya gak jauh dari kamu."


"Tapi mereka gak bisa di bawa pulang. Kecuali Bunga. Itu juga kalo libur baru aunty Shera ijinin." hanya Shera yang tidak memiliki anak kembar. Tapi memiliki sepasang putra dan putri yang hanya berbeda dua tahun.

__ADS_1


"Udah. Mending belajar aja sana! mentang-mentang di rumah males-malesan gini." mengusak rambut adiknya. "Kakak mau tidur siang dulu. Cape." Tiara memang sering mengantuk dan gampang lelah meski tidak melakukan apa-apa.


***


Tiara menggeliat dalam tidurnya saat merasakan ada yang memeluknya. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu membuka matanya kaget. Karna seingatnya tadi dan untuk beberapa hari ini dia tidur sendiri.


Begitu matanya terbuka. Di depannya terdapat dada bidan seorang laki-laki. Tiara yang kaget langsung berteriak dan mendorongnya.


Namun karena posisinya yang berada di pinggir justru membuatnya terdorong dan hampir saja jatuh jika tangan kekar tidak menahan pinggulnya.


"Kamu tuh bisa gak sih Ra, hati-hati? aku lagi gak bisa nolongin kamu. Kalau kamu jatuh bagaimana?" seru Alvaro dengan raut khawatir. Membawa kembali istrinya ke tengah ranjang dan kembali memeluknya.


Menghirup dalam aroma istrinya yang sangat ia rindukan setiap hari.


Tiara menelengkan kepalanya, masih berusaha berpikir keras. Mencoba percaya jika ini nyata. Suaminya ada di hadapannya? didalam kamarnya? mengajaknya bicara? dan apa tadi katanya, 'kamu'?


Tiara mendorong dada Alvaro pelan. Menjangkau mata suami untuk ia tatap.


"I-ini bener kamu Al?" tanya gadis itu tidak percaya. Tadi siang bahkan Alvaro masih mencoba mengusir dan membuatnya menjauh. Tapi bagaimana mungkin kini suaminya malah memeluknya seperti ini.


"Memang siapa lagi laki-laki lain yang berani masuk kamar kamu selain aku sama keluarga kamu?" ucap Alvaro mencium dahi istrinya.


"Ta-tapi kok.. kamu.. disini?" Tiara masih belum menemukan alasan yang tepat dan masuk akal untuk keberadaan suaminya saat ini.


"Memang kenapa? gak boleh suami di kamar istrinya sendiri?"


"Bu-bukan. Tapi bukannya kamu masih marah sama aku?"


"Aku gak pernah marah." sahut Alvaro cepat. Dia memang tidak pernah marah dengan istrinya. Alvaro hanya sedang tidak percaya diri dan mencoba membuat Tiara pergi dari sisinya dengan pura-pura marah dan jahat.


Tiara langsung melepaskan pelukan suaminya dan beranjak duduk. "Terus selama ini apa?" seru Tiara.


Gadis itu membantu Alvaro yang mencoba duduk dan berdandar pada kepala ranjang.

__ADS_1


"Bukan apa-apa." jawab Alvaro acuh. Menganggap kejadian kemarin-kemarin tidak pernah terjadi.


"Fix ini mah. Gue lagi mimpi." Tiara menggeleng pelan. Dan memilih menikmati mimpinya. Kapan lagi dia bermimpi bertemu suaminya senyata ini.


Alvaro terkekeh dan mencubit kedua pipi istrinya. "Kamu tuh gemesin banget sih yank.. Gimana aku gak makin sayang coba." Alvaro menghujani wajah istrinya dengan ciuman. Menyisakan bagian bibir untuk ia nikmati terakhir.


"Kok sakit sih? harusnya kalo mimpi kan gak sakit." gumam Tiara di tengah ciuman yang dia dapatkan.


"Aku akan buktiin sama kamu kalau ini bukan mimpi yank."


Alvaro langsung memakan habis bibir ranum istrinya. Bibir yang sudah beberapa hari ini tidak ia nikmati rasa manisnya.


Awalnya Tiara hanya diam, tapi lama kelamaan ikut membalas pagutan suaminya. Tidak melepaskan kesempatan yang ia miliki saat ini. Mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami.


Tangan Alvaro menyusuri punggung Tiara dan turun ke panggung. Meremasnya pelan dan mulai menyusup ke balik kaos yang tiara kenakan. Mengusap perut rata istrinya. Tempat dimana anaknya bersemayam saat ini. Anak yang beberapa kali ia inginkan kehadirannya dan Tiara menolaknya. Tapi kini istrinya justru menerima benih yang ia tanam dan sedang berkembang dengan sama bahagianya dengan dirinya. Alvaro menitikan air mata untuk kebahagiaannya.


Alvaro melepaskan ciuman mereka saat napas keduanya mulai terengah. "Sekarang sudah percaya kalau aku nyata?"


Tiara menggeleng. Alvaro terkekeh, mengecup bibir istrinya berkali-kali dan kembali mencium bibir itu dengan lebih menuntut. Tangannya naik ke atas untuk mencari bukit yang sudah lama tidak ia jamah.


Bertepatan dengan pintu yang terbuka.


Shevi mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum menutupnya dengan sebelah tangan. Tiara dan Alvaro yang gelagapan langsung menjauhkan diri masing-masing. Tiara juga merapikan baju dan rambutnya yang berantakan akibat ulang Alvaro.


"Sory mommy tidak sengaja. Mommy cuma mau panggil untuk makan malam. Tapi kalau kalian masih mau kangen-kangenan, di lanjut saja."


Shevi langsung keluar dan menutup pintu keras setelah mengatakannya.


*


*


*

__ADS_1


Gimana.. Gimana.. Puas buat chapter kali ini 😂


BTW kemarin Like-nya gak adil kan? Makanya suka kurang semangat kalau up-nya double 😭


__ADS_2