DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Perencanaan


__ADS_3

Selesai masalah ade Vindra yang gagal pernapasan. Seminggu kemudian giliran sang istri yang tumbang.


Tubuh Tiara yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi membuatnya tak bisa bertahan dengan aktifitas yang sangat melelahkan itu.


Mengurus dua bayi di tempat dan waktu yang berbeda sangat berat untuk mereka jalani. Bersyukur ade Vindra berangsur membaik dan lebih banyak perkembangan. Berat badannya juga berangsur stabil. Kini sudah menginjak 2 kg di usia dua minggu.


"Kamu istirahat aja. Biar aku yang jaga abang."


Tiara yang memang tubuhnya sudah tak karuan mengangguk. "Nanti kalau abang pengen nen, bangunin ya, Al."


"Kamu gak usah khawatir. Aku bisa jagain abang." Alvaro menyelimuti istrinya. Tak lupa ciuman di dahi sebelum Alvaro meletakan handuk basah di sana.


Tiara demam tinggi. Ketika dokter keluarga -aunty Nay- datang ke rumah untuk memeriksanya, dokter bilang itu hanya demam biasa karena kelelahan dan perlu banyak istirahat.


Jika Alvaro perempuan, ingin rasanya ia berteriak dengan segala beban pikirannya. Tugas kuliah yang menumpuk. Proyek yang ia tangani. Istri yang sakit. Anak-anak yang butuh perawatan dan pendampingan.


Rasanya bebannya begitu berat. Datang bertubi-tubi. Kini ia tahu arti dalam kalimat menjadi kepala rumah tangga itu punya tanggung jawab yang besar. Ia kira dulu hanya perlu mencari uang untuk menafkahi anak istrinya. Urusan anak ialah urusan istri.


Tapi ternyata ia harus siap ketika kondisi menuntutnya seperti saat ini. Harus bisa membagi waktu antara keluarga, pekerjaan juga pendidikan.


Pantas saja banyak yang menikah di usia yang benar-benar matang. Sudah menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi yang mereka ingin capai. Punya pekerjaan mapan, baru mereka memutuskan berumah tangga.


Karena Alvaro mengalaminya sendiri saat ini. Betapa repotnya mengurus keluarga saat ia masih menjadi seorang mahasiswa. Dimana keadaan ekonominya belum stabil sehingga harus banyak hal yang perlu ia lakukan untuk bisa melayakkan kehidupan anak dan istrinya.


Bukan hanya kenikmatan di atas ranjang dan bahagia melihat anak-anak mereka. Dibaliknya ia harus banting tulang membagi waktu yang ia miliki agar semua dapat berjalan tanpa harus ada yang terabaikan.


"Abang kenapa selalu bangun jam segini?" tanya Alvaro pada anaknya yang mulai merengek.


Ayah siaga itu mengangkat anaknya dari atas tempat tidur. Untuk saat ini abang memang masih tidur di tempat yang sama dengan dirinya dan sang istri. Agar memudahkan Tiara menyusui meski dalam keadaan mengantuk.


"Abang haus? iya?" menuju meja berisi peralatan ASIP dan menghangatkannya.


Semalaman itu Alvaro merawat istrinya yang masih demam. Dengan di temani anaknya yang masih setia membuka mata dan menggerakkan kaki serta kedua tangannya.

__ADS_1


Betapa mudahnya menjadi bayi. Tidak memikirkan beban apa pun. Lapar tinggal nangis. Ngompol, pup tinggal nangis. Sibuk bermain dengan dunianya sendiri.


"Nikmati masa bayimu bang. Sebelum kamu di pusingkan dengan urusan rumah tangga seperti papa." seloroh Alvaro yang mencium gemas pipi bulat anak bayinya.


Seperti biasa, menjelang subuh Alvaro baru bisa terlelap setelah memastikan anaknya kenyang menyusu sebelum tidur. Juga memastikan popok anaknya belum penuh.


***


Alvaro menguap berkali-kali saat di depan sana dosen tengah menjelaskan materi.


Harapannya untuk tidur selepas subuh ternyata hanya angan. Baru satu jam ia terlelap, sudah terbangun ketika mendengar istrinya yang muntah-muntah. Membuatnya tidak bisa lagi memejamkan mata karena panik.


Sakit istrinya semakin parah. Tubuhnya semakin drop dan harus istirahat total. Aunty Nay-sahabat sang mommy- yang langsung datang ketika di hubungi mertuanya langsung memasang infus setelah selesai pemeriksaan.


Inginnya Alvaro tinggal di rumah untuk menjaga sang istri. Tapi ada tugas yang minggu lalu dosen berikan dan harus di kumpulkan hari ini.


Tiara juga memaksanya untuk berangkat kuliah dan bekerja seperti biasa. Di rumah banyak yang menjaga katanya.


"Kenapa lo lesu banget? gak dapet jatah semalem?" sebuah tepukan di bahu mengagetkan Alvaro yang hampir terlelap di kantin setelah mata kuliah pertama selesai.


"Boro-boro jatah. Masih harus puasa gue sampai 25 hari kedepan."


Sahabatnya Bobby terbahak mendengar penuturan Alvaro. "Makanya masih muda tuh nikamati dulu lah. Jangan buru-buru punya anak. Repot sendiri kan lo."


Alvaro berdecak. Punya sahabat bukannya mensuport malah mengoloknya.


"Tiara sakit. Anak gue yang di rumah sakit belum bisa di bawa pulang. Tugas kuliah, kerjaan. Rasanya kepala gue mau meledak."


Siapa bilang pria tidak bisa mengeluh. Nyatanya mereka sama-sama manusia yang butuh berbagi.


Meski dirumah harus terlihat kuat demi anak istri. Tapi Alvaro jiga butuh teman seperti Bobby yang mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Cafe gimana, udah selesai masalah buka cabangnya?"

__ADS_1


Alvaro mengangguk. Sepupunya selalu bisa di andalkan. Segala urusan Cafe memang dia jarang ikut campur meski masih full ia pantau. Dan sejauh ini sepupunya bisa mengelola dengan baik.


Segala perijinan sudah selesai di urus. Tinggal peresmian cabang bulan depan sekaligus peresmian kantor yang ia buka untuk jasa arsiteknya.


Ia sengaja memilih kantor dan cafe bersebelahan. Sehingga ia bisa dengan mudah memantau semuanya.


"Lo udah rektut anak-anak yang mau gabung di kantor kan?" Bobby memang partnernya untuk usaha jasa arsiteknya nanti.


"Udah siap semua. Tinggal lo seleksi aja. Gue udah pilih masing-masing tiga di tiap bidang. Buat resepsionis, admin dan yang lain. Tinggal lo cocok atau gak aja."


"Semua mahasiswa sini juga?"


Bobby mengangguk. "Semua mahasiswa sini. Rata-rata yang lagi cari kerja sampingan. Jadi kita bisa gaji mereka gak sebesar yang udah profesional. Kita juga kan baru mau mulai."


"Lo urus aja deh. Pilih aja yang bisa kita percaya. Yang orangnya juga bertanggung jawab sama cekatan." Alvaro masih menggarap beberapa proyek yang daddy Alvin berikan. Waktu untuk dirinya istirahat saja belum ada. Jadi ia tidak ingin menambah beban dengan pemilihan karyawan seperti itu. "Gue percaya sama pilihan lo."


"Dika ikut gabung."


Berapa banyak Dika yang Alvaro kenal? apa tidak salah jika pemuda yang kini dalam pikirannya yang ikut bergabung dalam usahanya.


"Dika mana nih?" memastikan tebakannya salah.


"Mana lagi kalau bukan saingan lo buat dapetin Tiara pas SMA dulu."


"Yang bener aja lo!" seru Alvaro. Bukan ia tidak mau mempekerjakan laki-laki itu. Tapi apa nanti tidak terasa canggung bagi Dika yang ia rasa masih menyimpan perasaan pada istrinya. Menyimpan perasaan pada wanita yang menjadi istri calon atasannya.


"Bener lah. Dia sendiri yang nawarin diri. Gue tempatin dia di bagian lobi klien. Alias asisten lo buat merekrut klien-klien yang akan menambah pundi-pundi uang kita." ucap Bobby dengan senyum merekah dan alis yang naik turun.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2