DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Pakai Otak bukan Otot


__ADS_3

Baru tiga hari terkurung di dalam rumah sudah membuat Tiara bosan. Padahal, masa hukumannya masih dua hari lagi.


Mungkin kalau hanya tidak dapat masuk sekolah tapi bisa berkomunikasi dengan teman-temannya, atau jalan dengan mereka, Tiara tidak akan sebosan ini. Tapi ibunya sungguh tega mengurungnya tidak boleh pergi kemanapun, bahkan hanya sekedar pergi ke rumah nenna-nya saja dia di larang.


Saat sedang menonton televisi sembari memakan cemilan yang di bawa dari dapur, tiba-tiba terdengar bunyi bell. Dengan malas Tiara bangun untuk membukakan pintu orang yang datang bertamu ke rumahnya.


"Aunty Nurin..." serunya riang saat melihat sahabat ibunya berdiri di depan pintu.


"Haii Princess.. Jam segini kok kamu di rumah. Bikin ulah lagi? Berantem lagi kamu?" tebak Nurin tepat sasaran, membuat Tiara tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya.


"Kamu tuh anak perempuan tapi hobi banget berantem!!" merangkul dan mengajak anak sahabatnya yang sudah seperti anaknya sendiri itu masuk.


"Mereka aja yang usil ngurusin masa lalu aku. Kan gak penting, dulu aku lahir ada ayah atau gak. Yang penting sekarang aku punya daddy!!"


"Orang cerdas itu melawan pakai otak bukan pakai otot ladies... " mencubit gemas pipi Tiara.


"Terus Ara harus gimana dong aunty?" tanyanya dengan mengusap pipinya yang dicubit Nurin.


"Kamu cari celah untuk membungkam itu mulut temen kamu yang rese. Gak perlu pake cara jambak-jambakan. Gak elegant banget sih cara kamu itu. Urakan tau gak!!" menatap sinis Tiara.


"Kalau kamu kaya gitu, kamu lebih cocok jadi anaknya Indah dari pada Shevi." imbuh Nurin dengan tertawa.


"Ya itu kan cara pertahanan diri aku yang pertama. Yang di ajarin sama Om Rasya." ucap Tiara membela diri.


"Rasya kamu dengerin! Dia kan cowok. Jelas aja dia nyaraninnya berantem!! Sekarang kamu ikutin cara aunty. Kalau kamu belum nemu cara yang tepat, kamu diemin aja saat cewek itu lagi berkoar-koar." Mereka sudah duduk di ruang keluarga yang sebelumnya Tiara sedang menonton televisi.


"Kalau kamu cuekin, lama-lama dia bakalan bosen sendiri. Merasa gak puas karena kamu gak kepancing. Tapi kalau kamu belum apa-apa udah emosi, makin giranglah mereka." Tiara ber-ooh senada dengan kepalanya yang mengangguk.


"Oke aunty aku coba deh caranya."


"Yang gangguin kamu kali ini si cewek apa si cowok?" Nurin juga tahu perihal itu. Tapi dia tidak tahu nama anak - anak usil itu.

__ADS_1


"Si Sheril. Dia tuh yang bilang aku anak haram mulu. Kalau Alvaro mah cuma sekali dulu pas SMP bilang begitunya." mengingat namanya saja sudah membuat Tiara kesal kepada cowok itu.


"Gak tau karena gak tega liat aku nangis atau merasa bersalah karena semakin banyak yang tau jadi dia gak pernah ngungkit masalah itu lagi. Tapi tetep aja gangguin aku sama hal lainnya yang bisa bikin aku kesel." bersandar di sofa dan melipat tangannya di depan dada.


"Ganteng gak anaknya?" tanya Nurin dengan usil.


"Dih cowok jelek begitu!!"


"Ganteng begitu kamu bilang jelek." sahut Shevi dari belakang mereka. Membuat wanita beda generasi itu menoleh dan mendapati wanita ber-anak tiga yang masih saja terlihat cantik dan muda.


"Oh ya.. Cocok dong di jadiin calon mantu Vii.." Nurin melirik Tiara yang sudah cemberut.


"Cocok sih.. Tukeran juga gak papa lah. Biar gue punya anaknya si Alvaro aja. Biar bandel juga dia juara umum di sekolah!!"


"Jahatnya anda Ibu Shevi..." seru Tiara dengan dramatis mengundang tawa kedua ibu di dekatnya.


"Jahatan mana sama kamu yang sering bikin mommy dateng ke sekolah bukan karena prestasi tapi karena bikin onar?" Shevi menaikkan alis dan dagunya.


"Sendirian Rin.. Leona gak di ajak?" Nurin juga sudah menikah dengan Leon dan memiliki satu orang putri berusia delapan tahun yang diberi nama Leona.


"Anak gue sekolah kali jam segini. Emang anak lo, yang lain lagi pada belajar, dia malah enak-enakan ngemil sambil nonton tv."


"Terusin aja terus nyinggungnya!! Yang disinggung gak ada disini tenang aja!!" Shevi dan Nurin lebih cocok menjadi teman bertengkar dari pada orang tua bagi Tiara.


***


Jika pagi hingga siang hari Tiara mati karena bosan. Menjelang sore kepalanya dibikin pusing oleh guru privat yang di undang Ibunya untuk tetap mengajarinya belajar selama masa skorsing.


Dan kali ini niatnya dia akan menyelinap untuk menghindari kelas yang gurunya membosankan itu. Selagi ibunya sedang asik membuat kue kering di dapur bersama sahabatnya.


Tiara mengambil kunci mobil milik ibunya dan mengambil tas serta dompetnya di kamar lalu mengendap-endap keluar rumah.

__ADS_1


Saat di pintu depan dia berpapasan dengan kedua adik kembarnya yang baru pulang sekolah.


"Mau kemana kak? Bukannya lagi dihukum sama mommy?" tanya Reina kepada kakak pertamanya.


"Ssstt.. Jangan kasih tau mommy. Kakak cuma mau ke rumah nenna sebentar. Nanti pulangnya kakak beliin kamu boneka yang waktu itu kamu pengen di mall. Oke." Reina mengangguk setuju.


Tapi baru saja Tiara berada dibelakang kemudi, Raka sudah berteriak. "Mommy!!! Kakak pergi bawa mobil!!" Ibunya langsung berlari kedepan saat mendengar anak keduanya berteriak.


"Aahh sial!! Lupa gue si Raka gak di kasih sogokan juga!!" Tiara mengumpat dan buru - buru menyalakan mesin mobilnya.


"TIARA!! MAU KEMANA KAMU??!!" teriak ibunya sembari berkacak pinggang di depan pintu utama.


"Pinjem mobil sebentar mom.. Cuma mau ke rumah nenna kok, gak jauh - jauh!! Guru hari ini ngebosenin, Ara gak suka!! " Tiara balas berteriak dengan mulai melajukan mobilnya melewari pintu gerbang rumahnya yang sudah terbuka. Karena tepat saat itu daddy-nya pulang dari luar kota.


"Kenapa lagi anakmu yang satu itu?" tanya Alvin yang baru turun dan mencium puncak kepala anak kembarnya satu persatu, kemudian memeluk istrinya dan mencium dahi kemudian mengecup sekilas bibir yang beberapa hari ini sudah ia rindukan.


"Anak kamu tuh lagi di skors dari sekolah, masih ada hukuman dua hari lagi. Aku udah sita Hp nya biar dia belajar sama guru privat di rumah. Eh malah kabur di hari ketiga." Shevi cemberut, pusing menghadapi anak pertamanya itu yang selalu bikin ulah, tidak seperti kedua adiknya.


Bukannya marah, Alvin malah terkekeh. "Biarin aja sih. Namanya juga masa remaja, lagi bandel-bandelnya. Asalkan bukan bandel dengan laki-laki gak masalah buat aku yank."


"Kamu mah selalu gitu. Selalu aja manjain Tiara. Jadi ngelunjak kan dia!!" seru Shevi yang sudah mengambil tas dan jas kerja milik suaminya dan mengajak keluarganya masuk kedalam rumah.


"Daddy bawa oleh - oleh gak buat Reina..?" tanya anak bungsunya dengan manja merangkul lengan ayahnya.


"Bawa dong. Daddy bawa oleh-oleh buat semua."


Anak bungsunya itu bersorak senang. Sedangkan Raka sekarang sudah menjadi anak yang cool tidak heboh seperti anak kecil katanya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2